“Bisa simpan ponsel itu sebentar, Kal?”
Suara Elara memecah kesunyian di dalam kabin mobil yang kedap suara. Ia menatap profil samping wajah Kalandra yang hanya diterangi cahaya pucat dari layar perangkat di tangannya. Kalandra tidak bergeming, jempolnya masih lincah mengusap layar tanpa memedulikan kehadiran Elara di sampingnya. Hanya deru mesin mobil yang terdengar konsisten mengisi ruang di antara mereka.
Elara memberanikan diri menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan pria itu. Ia bisa mencium aroma parfum maskulin Kalandra yang terasa asing malam ini. Jari-jemari Elara bergerak ragu, mencoba mencari celah untuk menyentuh tangan Kalandra yang sedang bebas. Ia membutuhkan sedikit kehangatan untuk mengusir rasa gigil akibat keputusan sepihak Aruna tadi.
“Apa lagi?” jawab Kalandra singkat tanpa menoleh sedikit pun.
“Soal pernikahan itu, dua bulan terasa terlalu cepat untukku.”
Kalandra menghentikan gerakan jarinya di atas layar sejenak lalu menghela napas panjang. Ia mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas paha dengan gerakan yang kentara akan rasa bosan. Matanya tetap lurus menatap jalanan di depan, seolah aspal hitam itu jauh lebih menarik daripada tunangannya. Ia tidak memberikan reaksi emosional apa pun terhadap kegelisahan yang Elara ungkapkan.
“Jalani saja,” sahut Kalandra lagi.
Hanya dua kata itu yang keluar dari bibirnya yang tipis dan pucat. Elara merasakan hatinya mencelos, seolah baru saja dijatuhkan dari ketinggian yang luar biasa. Ia berharap Kalandra akan menggenggam tangannya atau setidaknya menatap matanya untuk memberikan sedikit kekuatan. Kalandra tetap diam dengan tubuh yang kaku seperti patung di sampingnya.
“Hanya itu tanggapanmu? Apa kamu tidak keberatan kita diperlakukan seperti pion oleh ibumu?” suara Elara mulai bergetar.
Kalandra akhirnya menoleh, tatapannya begitu dingin hingga sanggup membekukan aliran darah Elara. Tidak ada kemarahan di sana, hanya ada kekosongan yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah bentakan keras. Ia seolah sedang menatap orang asing yang mengganggu ketenangannya di tengah perjalanan pulang yang melelahkan. Elara menarik kembali tangannya sebelum sempat menyentuh kulit Kalandra.
“Semua sudah diatur, Elara. Jangan mempersulit keadaan yang sudah berjalan rapi,” ucap Kalandra datar.
Ia kembali menyalakan ponselnya, memberikan tanda bahwa percakapan mereka telah berakhir di detik itu juga. Elara memalingkan wajah ke arah jendela, menatap lampu kota yang tampak kabur karena air mata yang mulai menggenang. Ia menyadari bahwa pernikahan ini memang bukan tentang kebahagiaan mereka berdua sejak awal. Kalandra hanya sedang menjalankan kewajiban sebagai putra mahkota keluarga Altamis yang patuh.
“Apa kamu memang menginginkan pernikahan ini, Kal?” tanya Elara dengan nada yang sangat lirih.
Kalandra tidak menjawab, ia justru menaikkan volume musik di dalam mobil hingga memenuhi seluruh kabin. Melodi klasik yang megah namun dingin itu seolah menjadi dinding pemisah yang semakin tebal di antara mereka. Elara memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh melewati pipinya yang pucat. Ia merasa sangat sendirian di dalam kendaraan mewah yang terus melaju menembus gelapnya malam.
Mobil melambat saat memasuki kawasan perumahan tempat Elara tinggal selama ini. Kalandra masih tidak bergerak dari posisinya, bahkan tidak berniat untuk sekadar merapikan jasnya yang sedikit kusut. Ia hanya menatap gerbang rumah Elara dengan pandangan tidak sabar agar urusan malam ini segera berakhir. Jarak di antara mereka tidak lagi hanya soal ruang, melainkan jurang emosional yang dalam.
“Kita sudah sampai,” kata Kalandra tanpa ada nada perpisahan yang hangat.
Elara tertegun, menunggu apakah Kalandra akan turun untuk mengantarnya sampai ke pintu depan rumah. Biasanya seorang pria akan menunjukkan sikap sopan di depan rumah calon istrinya sebagai bentuk penghormatan. Kalandra tetap duduk diam di kursinya sambil kembali sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya. Pria itu benar-benar menunjukkan bahwa kehadirannya di sini hanyalah sebuah formalitas yang menjemukan.
“Kamu tidak turun sebentar?” Elara mencoba memastikan sekali lagi.
“Banyak berkas yang harus aku tanda tangani di rumah. Cepat masuk,” jawab Kalandra dingin.
Elara menarik napas panjang untuk menahan sesak yang kembali menghantam dadanya dengan kuat. Ia membuka pintu mobil sendiri dan melangkah keluar menuju aspal yang terasa dingin di bawah kakinya. Angin malam langsung menerpa wajahnya, memberikan sensasi perih pada kulitnya yang sedang sensitif. Ia berdiri diam, berharap Kalandra setidaknya akan menurunkan kaca jendela untuk mengucapkan selamat malam.
Suara mesin mobil justru menderu lebih keras sesaat setelah pintu mobil ditutup dengan rapat. Kalandra tidak menunggu Elara masuk ke dalam gerbang atau sekadar memastikan tunangannya aman di rumah. Mobil mewah itu langsung melaju pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan keheningan yang menyesakkan di jalanan. Elara mematung di pinggir jalan, menatap lampu belakang mobil yang semakin lama semakin mengecil.
Kesunyian malam itu terasa sangat menekan, membuat detak jantung Elara terdengar begitu jelas di telinganya. Ia berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang berpijar kuning pucat dengan rasa hampa yang luar biasa. Tidak ada pelukan, tidak ada genggaman tangan, bahkan tidak ada tatapan mata yang berarti dari Kalandra. Tunangannya baru saja meninggalkan Elara di tengah ketidakpastian yang diciptakan oleh keluarga mereka sendiri.
Jari-jemari Elara meraba saku gaunnya, menyentuh sudut tajam kartu nama hitam yang ia temukan di restoran tadi. Ia teringat akan pesan misterius yang memintanya datang ke sebuah kamar hotel besok malam. Di tengah kedinginan yang diberikan Kalandra, rasa penasaran yang berbahaya mulai tumbuh subur di benak Elara. Ia menoleh ke arah jalanan kosong yang baru saja dilewati Kalandra dengan perasaan ragu.
Elara melangkah masuk melewati gerbang yang terasa seperti pintu menuju penjara pribadinya selama ini. Ia tahu bahwa mulai saat ini ia tidak bisa lagi mengandalkan Kalandra untuk melindunginya dari apa pun. Sosok pria dingin itu telah menegaskan posisinya sebagai orang asing yang kebetulan akan menikahinya. Di dalam tasnya, ponsel Elara kembali bergetar pelan, seolah sedang menagih jawaban atas pesan yang masuk.
Lampu di dalam rumahnya masih padam, menunjukkan kesunyian yang sama persis dengan hatinya saat ini. Elara berhenti di depan pintu kayu besar dan menoleh ke arah jalan raya sekali lagi dengan getir. Ia teringat akan bayangan tegap Arlo Danendra dan aroma sandalwood yang sempat mengusik indra penciumannya. Kehancuran mungkin sedang menantinya di hotel itu, tetapi kedinginan Kalandra malam ini terasa jauh lebih mematikan.
Ia melangkah masuk ke ruang tamu yang gelap, hanya dibantu oleh cahaya bulan yang menyusup lewat jendela. Elara duduk di sofa, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam keheningan yang panjang tanpa niat menyalakan lampu. Pikirannya terus berputar pada tanggal pernikahan yang ditentukan Aruna tanpa pernah meminta persetujuannya sebagai mempelai wanita. Rasa muak mulai menggerogoti sisa-sisa kesabaran yang selama ini ia bangun demi menjaga nama baik keluarga.
Setiap detik yang berlalu di rumah itu terasa seperti siksaan yang mempertegas ketidakberdayaannya sebagai seorang tunangan. Elara mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menampilkan pesan singkat dari nomor asing yang sangat mencurigakan. Ia tahu bahwa melangkah ke kamar itu berarti mengkhianati komitmen yang sudah ia jaga selama bertahun-tahun. Namun, bayangan pernikahan tanpa cinta dengan pria sekaku Kalandra membuatnya merasa tidak memiliki pilihan lain.
Ia meraih kartu nama hitam itu lagi, meraba permukaan kertasnya yang mewah dengan ujung ibu jarinya. Nama Arlo Danendra seolah memanggilnya untuk melepaskan diri dari belenggu yang diciptakan oleh Aruna Maheswari. Elara menyadari bahwa ia sedang berdiri di tepi jurang yang sangat curam dan berbahaya bagi masa depannya. Keinginan untuk membalas kedinginan Kalandra dengan sebuah api yang membara mulai menguasai logika sehatnya malam itu.
“Besok malam akan menjadi akhir atau awal yang baru,” gumam Elara pada kegelapan ruang tamu.
Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang kini terlihat jauh lebih mantap dari sebelumnya. Ketakutan itu masih ada, namun kemarahan yang tenang mulai mengambil alih kendali atas seluruh kesadarannya. Elara tidak akan membiarkan dirinya menjadi pion yang diam saat papan permainan mulai bergerak menghancurkannya. Ia akan mengambil risiko terbesar dalam hidupnya, meskipun harus berhadapan dengan musuh paling berbahaya bagi keluarga Altamis.
Ponselnya bergetar sekali lagi, menampilkan deretan angka yang sama dengan pesan singkat yang masuk sebelumnya. Kali ini Elara tidak hanya menatapnya, ia mengetikkan sebuah jawaban singkat dengan jemari yang tidak lagi gemetar. Ia menekan tombol kirim, menyadari bahwa satu klik itu telah mengunci nasibnya ke dalam sebuah permainan gelap. Pesan itu terkirim, meninggalkan jejak digital yang tidak akan pernah bisa ia hapus sampai kapan pun.
“Apa yang kamu ketahui?”