Beberapa hari berlalu, semua yang telah aku konsep untuk mendirikan yayasan pendidikan Islam dan pesantren nya telah ada di otakku, aku telah mengumpulkan banyak uang untuk mencapai semua konsep ku, di daerahku tidak terlalu banyak yayasan melainkan sekolah negeri berbasis umum, aku ingin apa yang aku dapatkan bisa tersalurkan kepada mereka, berbagi ilmu adalah tujuan utama ku.
Hari ini telah tiba, dimana aku harus mengurus semua keperluan bahan bangunan dan yang lainnya. Setalah itu aku membantu umi untuk mengajarkan anak-anak untuk mengaji dan ibu-ibu pengajian, sedangkan umi membangun beberapa bisnis dengan itu kehidupan kami tercukupi, umi membuka toko fashion muslimah lengkap dengan aksesoris dan toko kue.
Kami berdua merintis karier dengan keinginan dan kemampuan kami, aku mempunyai yayasan pendidikan Islam dan pesantren, sedangkan umi membuka toko fashion dan kue.
Dengan gelar S3, S1 sarjana hukum keluarga islam, S1 ilmu hadits dan Qur’an, S2 sarjana
Sastra dan bahasa Arab dan Inggris dan yang terakhir S3 sarjana ekonomi syari’ah. Sekarang dengan umur muda ku, mendapatkan gelar seperti itu sangatlah susah, hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan nya, tapi itu tak membuatku bangga diri maupun sombong aku hanya manusia biasa sama seperti yang lainnya.
Beberapa bulan kami berjuang untuk mencapai tujuan utama kami yaitu menjadi orang yang bisa tercukupi, setelah umi mendapatkan rejeki, umi selalu berbagi kepada fakir miskin dan panti asuhan, mensedekahkan sebagian rejeki yang kami dapatkan, tak lupa kami selalu mengadakan syukuran bersama tetangga untuk makan bersama.
Pernah aku menawarkan diri untuk meminta umi supaya tidak bekerja, tapi umi kekeh dengan pendiriannya, umi senang katanya dapat bekerja dan kalau umi berdiam saja di rumah itu mengingat umi dengan ayah, karena kenangan indah bersama ayah selalu hadir di saat umi melamun.
“ Umi mau kemana? Pagi pagi gini sudah rapih? “ Tanyaku pada umi sambil berjalan menuju meja makan.
“ Ini umi mau ikut rapat bisnis untuk pembukaan cabang baru di Bekasi, perusahaan Adi jaya mengundang umi untuk hadir ke sana “ jawab umi.
“ Emmm gitu yah, tapi mi, kalau umi kesana mau Mumtaz Anyer gak? Sekalian Mumtaz ingin belajar bisnis juga dan biar beradaptasi “ kataku sambil mengoleskan selai di roti.
“ Haah! Sejak kapan anak umi mau terjun di dunia bisnis? Bukannya dulu gak mau yah? Dan sekarang ada apa? “ Tanya umi, kaget mendengar ke sedianku untuk belajar bisnis.
“ Tidak ada apa- apa umi, aku hanya ingin seperti umi yang bisa berbisnis juga “ ucapku dengan santai.
“Baiklah kalau Mumtaz mau, ayo sudah siapkan? Mari kita berangkat takut macet di jalan nanti kita telat “ ajak umi.
“Siap umi, yuk kita jalan “
Umi hanya tersenyum melihat tingkah ku, katanya bahagia aku mau belajar semuanya.
[ karena jika kita hanya bisa di satu keahlian saja maka kita tidak akan merasakan kemajuan dalam diri kita, selagi bisa kenapa tidak untuk mencobanya...].
Setelah sampai di tujuan, aku dan umi langsung masuk, di sana banyak orang-orang kaya yang hadir di acaranya, dengan berbagai makanan, tempat, style, maupun acaranya benar- benar mengagumkan. Aku di kenalkan dengan beberapa rekan bisnis umi dari yang tua sampai yang muda, mereka begitu keren, sampai aku tak bisa aku tak bisa berpaling untuk tidak melihatnya, tiba-tiba aku ingat bahwa aku tidak boleh seperti itu, aku mengucapkan ‘ astaghfirullah’ sambil melangkah menjauh. Acaranya berlangsung sampai malam, tapi aku dan umi langsung pulang setelah acara inti selesai.
لست بسحص حام،،،،،
من زرع حصد،،،،،،