Melepas Rindu

974 Words
Selesai sudah perjuangan ku di negeri orang, menjalani hari-hari dengan kesendirian dan di sibukkan beberapa tugas yang harus di pelajari, tapi sekarang Alhamdulillah aku tinggal merasakan hasil nya saja. Dari beberapa pelajaran yang aku dapatkan sekarang membuat ku optimis bisa menjadi orang yang tak di anggap remah lagi dan bisa membanggakan umi. Yah umi! Aku rindu dengannya, bagaimana keadaan umi sekarang?. Aku langsung bergegas pergi menuju ke bandara untuk pulang, setelah aku membereskan semua barang-barang, aku langsung berpamitan dengan teman-teman yang ada di rumah pamlet lalu setelah itu aku pergi menuju bandara. Dalam perjalanan aku mengingat umi dan bi Laras, akan aku bawakan oleh-oleh apa yah untuk mereka? Aku mengedarkan pandanganku ke luar jendela mobil melihat-lihat lihat apa yang cocok buat mereka, selain makanan dan pakaian, aku ingin memberikan mereka hal yang istimewa, tapi apa yah? Tiba-tiba aku teringat sesuatu yaitu hadiah untuk mereka umrah, nanti setelah aku pulang aku ingin mengumrahkan umi dan bi laras, pasti mereka suka. Beberapa jam kemudian, aku sudah datang di Indonesia, negeri tercinta dan tanah airku, aku tak memberitahu umi jika hari ini aku pulang, biarlah semuanya menjadi surprise, aku akan senang melihat umi lagi, memeluk nya dan menciumnya. Setelah aku menyetop taksi, aku langsung memasukkan semua koperku kedalam bagasi di bantu pak supir, karena aku tak mungkin bisa memasukkannya kedalam, dalam perjalan aku hanya bisa berdiam memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan aku ambil? Berbagai planning sudah aku siapkan tinggal aku melakukan nya untuk membangun yayasannya pendidikan Islam dan pesantren. Selain itu aku ingin membantu umi mengajarkan anak-anak mengaji dan ibu-ibu pengajian. Supaya ilmu ku bermanfaat dan barokah. Sesampainya di depan rumah, aku langsung keluar dengan rasa rindu, rindu rumah, rindu umi, masakannya dan semuanya, yah aku rindu semuanya. Aku bergegas masuk sambil membawa beberapa koper ku, mengucapkan salam ketika aku di depan pintu dan mengetuknya. Tok tok tok “Assalamualaikum! Umi, bi Laras! “ Ucapku dengan lantang. “Wa alaikumussalam wa rahmatullahi wa barokatuh, siapa yah? “ Tanya dari dalam. Aku hanya berdiri, tak menjawabnya, biarlah aku mengagetkan semuanya. Saat pintu di buka.....ceklek. “Ya Allah! Anakku sudah kembali! Kapan kamu nak kembali ke Indonesia? Dan kenapa tidak memberi tahu kami? Kalau kami tahu kami bisa jemput dan memasak makanan kesukaanmu “ pertanyaan yang beruntun membuatku tersenyum bahagia, pasalnya aku rindu dengan bawelnya bi Laras, sambil berpelukan dan mencium keningku, lalu aku mencium punggung tangan bi laras. “Kak! Kemarilah, coba lihat siapa yang datang! Pasti kau akan terkejut sama halnya denganku “ bi laras memanggil umi. Yah kenapa bi Laras memanggil umi dengan sebutan kakak dan kepadaku nak, bi laras sudah ku anggap seperti ibuku sendiri begitu juga beliau menganggap ku seperti anaknya sendiri, dan umi telah menganggap bi laras sepeti adiknya sendiri. Ketika umi keluar, umi langsung menangis memelukku dengan sangat erat begitu juga denganku, melepas rindu yang sangat berat, beberapa tahun aku tak bersama umi, kini aku bisa memeluk nya dan menciumnya. “Terima kasih banyak ya Allah! Kau telah membawa anakku pulang kembali dengan selamat! “ Ucap umi lirih di telingaku. Setelah melepas rindu, umi langsung membawa ku masuk mendudukkan ku di ruang keluarga, setelah itu umi ke dapur entah mau apa tapi setelah membawanya ke hadapanku, aku langsung bahagia kegirangan, pasalnya umi membawakan kue brownies coklat kesukaan ku. Selain itu, umi juga membawakan segelas s**u coklat hangat, umi duduk di sampingku, memegang tanganku lalu umi menyuapkanku kuenya, aku hanya bisa memegang cadar, karena umi tak mengizinkan aku untuk makan sendiri. Makan kue brownies bersama sambil berbincang- bincang, bi laras selasai membereskan barang bawaan, lalu bi laras duduk di sebelah kiri ku, bi laras ingin aku menceritakan semua aktivitas selama di Madinah, Cairo dan Mesir. Bahagia yang aku alami sekarang, bisa bersama-sama umi lagi, dengan cerita, bercanda dan tertawa sampai lupa aku dengan oleh-oleh yang aku bawa dan aku siapkan, langsung saja aku mengambil koper yang berisi oleh-oleh dan memberikan nya pada umi dan bi laras. Terlihat mereka sangat senang dengan pemberian ku, terlihat dari raut wajah mereka, seketika aku pun membuka percakapan. “ Umi, Mumtaz masih punya hadiah lagi buat umi dan bi laras, semoga umi suka yah! “ Lalu aku langsung mengeluarkan tiket umrah dua lembar, karena dulu selama ku di Madinah aku pun juga sambil ‘naik haji’ jadi gak harus lagi ikut umi umrah. “ Maa Syaa Allah! Alhamdulillah, nak kau benar-benar anak yang hebat, kau masih bisa mengambil waktu untuk kau naik haji dan ini Mumtaz sekarang menghadiahkan umi dan bi laras tiket umrah! “ Ucap umi dengan terharu, umi langsung memelukku dan mencium keningku. “ Nak Mumtaz, bibi boleh bertanya? “ Tanya sang bibi. “ Boleh bi “jawabku. “ Maaf bibi lancang, tapi nak, dari mana kau mempunyai uang untuk membelikan kami tiket umrah ini sedangkan selama kau di sana, kak syaidha jarang untuk mengirimkan Uang untukmu, dan bibi yakin selama Mumtaz di sana pasti membutuhkan biaya yang banyak! “ Tanya bi laras. Aku hanya tersenyum, terlihat dari p mataku yang menyipit. “ Iya gak papah bi, malah Mumtaz senang ada yang bertanya!, Nih yah Mumtaz bakal jujur biar umi dan bi laras tidak heran. Alhamdulillah mumtaz dapet rejeki dari Mumtaz mengajar di pesantren, kadang Mumtaz sering ikut lomba Tahfiz, murattal, Qoriah, kaligrafi dan yang lainnya, nah hadiahnya Mumtaz kumpulkan kadang Mumtaz berbagi kepada anak-anak yang membutuhkan, kadang Mumtaz juga membantu ibu- ibu di sana berjualan jadi Mumtaz dapet uang dari jualan itu, nah kalau soal biaya kuliah, kan Mumtaz dapet beasiswa dan keperluannya baru pakai uang dari umi “. Jawabku dengan panjang lebar. “ Maa Syaa Allah, nak Mumtaz memang anak yang hebat, membantu orang-orang di sana dan berjualan tapi tak mengganggu kuliahnya, Mumtaz kuliah dengan waktu yang cepat dan nilai yang bagus, bibi bangga ama Mumtaz “. “ Yah, Alhamdulillah kalau Mumtaz bisa membuat umi dan bibi bangga, Mumtaz juga bersyukur sama Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya untuk Mumtaz “
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD