Setelah sampai di bandara aku bersama temanku yang aku baru kenal di pesawat yah walaupun umurnya jauh banget dari aku tapi ia tetap menghargai aku seperti yang lainnya, memanggil aku dengan sebutan nama bukan adek, katanya biar lebih akrab dan bisa menjadi saudara.
Namanya Nazwa qawiyyu Fattah tapi sering di panggil ‘wawa’ ia dari Aceh sedangkan aku dari Banten yang sekarang bisa berada di ibu kota karena aku dan umi mengadu nasib di jakarta.
Aku dan Wawa pergi ke universitas yang akan jadi tempat kami belajar, setelah tahu lokasi dan seluruh ruangan, kami pergi keluar mencari pesantren yang akan kami singgahi untuk menuntut ilmu agama dan menjadi tempat tinggal kami, ke sana kemari mencari tapi tak bisa kami temukan, sampai hampir malam pun tiba, hanya putus asa yang menghampiri kami, lelah dan lelah yang kami rasakan akan tetapi kami selalu inget bahwa tak ada yang tidak mungkin jika kita lebih berusaha lagi dan berdoa, kami memasuki masjid terbesar di Madinah untuk menunaikan sholat Maghrib, setelah selesai kami berdoa agar di berikan kemudahan dan petunjuk agar kami bisa mendapatkan pesantren yang bisa menerima mahasiswa untuk belajar dan mungkin mengajar karena kami juga ingin mengamalkan ilmu yang kami miliki.
Kami beranjak untuk keluar tiba-tiba ada seorang kakek tua miskin yang membutuhkan uang untuk membeli makanan untuk anak nya, aku bergeming melihat kakek tua tersebut, ingin sekali aku membantunya hatiku bergetar untuk jalan menuju kakek tua tersebut, setelah aku tepat di hadapannya, aku pun bertanya apa yang Kakek tua itu butuhkan?,
“ Permisi kakek, ada yang bisa saya bantu? Jika kakek berkenan saya akan membantu kakek semampu saya! “ Ucapku pada kakek.
“ Iya anak yang sholeha, anakku dan cucunya sedang sakit dan kelaparan, tapi aku tak mempunyai sepeserpun uang untuk membelikan membawa mereka berobat dan membelikan makanan untuk cucuku! “ Kata si kakek tua.
“ Subhanallah! Saya sangat Prihatin kek, baiklah saya akan membantu kakek sebisa saya jika hanya uang saya ada kek untuk anak dan cucu kakek, nanti saya ambil dulu uangnya “ lalu aku langsung ke tempat tas koper ku di tinggalkan, dan Wawa pun merasa heran apa yang akan aku lakukan, lalu Wawa bertanya kepadaku,
“ Mumtaz, kau akan memberikan uang jajan mu untuk kakek tua itu? Tanyanya.
“ Iya benar, memangnya kenapa? “ Tanyaku kepadanya.
“Lalu, jika kau kasih semua uangmu, maka gimana kau akan bertahan hidup di sini? “ Tanyanya kembali.
Aku tersenyum, lalu berkata, “In Syaa Allah, aku akan cukup dengan tabungan ku ini, yang akan ku kasih kepada kakek itu uang dari umiku dan aku hidup di sini dengan uang tabunganku, dan ingat! Allah SWT saja maha baik apalagi kita hanya seorang hamba-nya, yah kita juga harus baik dengan cara saling menolong, dan aku yakin Allah akan memberikan pahala yang aku lakukan ini, yang penting aku membantu nya dengan ikhlas dan kakek itu bisa menyelamatkan anak dan cucunya “ ucapku panjang lebar.
“ Maa Syaa Allah! Kau benar-benar mulia Mumtaz, aku bangga bisa kenal denganmu, aku malu karena aku ini Bakhil dengan rejeki yang aku punya, tak mau membagi dengan orang yang sedang membutuhkan “ katanya.
“ Alhamdulillah, kau menyadari nya! Ayo kita temui kakek tua tadi “ajakku ke Wawa dan langsung di anggukki olehnya.
Setelah di hadapan kakek tadi aku berkata sambil menyodorkan lembaran uang seratusan ke kakek tua tersebut.
“ Kek, ini saya ada sedikit uang untuk kakek membantu anak dan cucu kakek, walaupun tak seberapa, saya harap kakek bisa menerimanya! “ Ucapku, berharap kakek menerimanya.
Lalu di timpal Wawa, “ Ini kek, dari saya semoga bisa bermanfaat yah kek! “ Ucap Wawa.
“ Terima kasih banyak, kalian memang anak-anak yang baik, semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian “ kata sang kakek
Kami hanya bisa mengamininya.
Tiba-tiba entah dari mana aku memberanikan diri untuk bertanya kepada kakek tua itu untuk mencari pesantren yang bisa menerima mahasiswa untuk tinggal.
“ Maaf kek, kami dari tadi mencari pesantren yang bisa menerima mahasiswa untuk tinggal di sana, apa ada yah kek di daerah sini, kami mencari tapi tak bisa menemukan nya! “ Tanyaku pada kakek.
“ Di pesantren Al- Huda Hijaiyah, di sana mereka menerima mahasiswa untuk tinggal sambil menuntut ilmu dan mengajar “ jawab sang kakek.
“ Terima kasih kakek untuk informasi nya, ini sangat membantu kami sekali lagi kami ucapkan terima kasih! “ Ucap kami.
Lalu kami mencari pesantren yang Kakek bilang tadi, dan Alhamdulillah kami bisa menemukannya, menjadi Santi sana sekaligus mengajarkan mereka adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kami.
Aku dan Wawa kuliah di Universitas At-taubah dengan jurusan yang berbeda, aku mengambil dua jurusan yaitu akidah dan filsafat Islam dan tafsir Al-Qur’an, sedangkan Wawa mengambil penyiar agama Islam.
Tak membutuhkan waktu lama untukku bisa lulus dari sana, hanya dengan 2 tahun 6 bulan aku langsung di wisuda dengan nilai ‘coumlude’ dan Wawa masih dalam semester 5, jadi aku harus meninggalkannya untuk meneruskan ke Cairo dan Mesir, setalah beberapa hari setelah wisuda aku berpamitan kepada Wawa untuk meneruskan pendidikan ku ke Cairo, tapi aku selalu menyemangatinya bahwa Wawa juga bisa menyusul ku ke Cairo.
Sampai nya di Cairo seperti biasa, tidak jauh beda dengan Madinah, kegiatanku hanya mempelajari, menganalisis dan menghafal semua pelajaran yang ada di setiap jurusan, menghabiskan waktu hanya untuk belajar.
Sama, lulus dari jurusan sastra dan seni di Cairo dan bisnis di Mesir, tak hanya membutuhkan waktu aku pun langsung di wisuda dengan cepat dan mungkin masiswa termuda dan tercerdas di sana dengan nilai yang bagus, langsung menyandang S3 dengan usia 22 tahun, siapa uang sangka, karunia Allah tak ada yang tak mungkin semuanya ‘kun fayakun’ jika Allah berkehendak maka terjadilah.
Sungguh luar biasa ciptaaan Allah SWT, memberikan ilhamnya kepada Mumtaz sehingga ia menjadi anak yang cerdas, dengan ridho-nya Mumtaz bisa menyelesaikan S3 nya dalam waktu singkat.
Setelah pendidikan nya selesai, Mumtaz pulang ke tanah airnya, dan yang pasti kepada uminya yang ia rindukan. Dari sana Mumtaz mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang luar biasa yang belum tentu semua orang bisa dapatkan. Bisa menjadi anak yang cerdas, baik dan membanggakan uminya, Mumtaz selalu bersyukur atas keberhasilan nya.
{Berbagi itu indah, karenanya bisa mengerti bahwa sedikit dari rejeki kita adalah hak milik fakir miskin, dan menjadikan untuk kita ladang pahala, selain itu mengajarkan kita untuk ikhlas}.