Melanjutkan Pendidikan Tinggi

1385 Words
Siapa yang tak bangga mempunyai anak secerdas Mumtaz, bahkan melebihi orang-orang yang di sekitar nya, setelah lulus dari sekolah aku mendapatkan beasiswa ke Cairo, Mesir, turki, dan Madinah. Banyak relawan untuk memberikan beasiswa kepadaku, tak hanya itu sekolah pun memberikan penghargaan kepadaku dan juga beasiswa. (Wow Mumtaz! Kau anak yang luar biasa dengan umur yang sangat belia, kau bisa mendapatkan beberapa beasiswa ke luar negeri yang aku inginkan, itu adalah salah satu impianku dari dulu Mumtaz, kata author.) Dengan bangganya umi memelukku dan mencium ku mulai dari pucuk kepalaku dan kedua pipi ku setelah itu kedua punggung tanganku, umi meneteskan air matanya dan berkata, “ Kau anak yang luar biasa Mumtaz yang Allah SWT kirim untukku, aku bahagia telah melahirkanmu dari rahimku sendiri dan menyayangimu dengan sepenuh hatiku, jadilah anak yang berbakti dan sholeha yah putriku ya Jamilah! “ Umi langsung menarikku dalam dekapannya, menyalurkan kasih sayangnya kepadaku dengan hangatnya. “ Na’am umi, in Syaa Allah Mumtaz akan menjadi anak yang umi inginkan, Mumtaz tak ingin yang lain, Mumtaz hanya ingin melihat umi bahagia, itu sudah cukup untuk Mumtaz umi “ kata yang begitu menyejukkan untuk umi, langsung umi memeluk Mumtaz kembali dan perlahan meneteskan air mata kebahagiaan. “ Mumtaz anakku! Apakah kau sudah memikirkan beasiswa mana yang akan Mumtaz ambil ?” Tanya umi. “Entahlah umi, Mumtaz juga bingung beasiswa mana yang harus Mumtaz ambil “ jawab umi dengan lesu. “ Kenapa anak umi yang cantik lesu seperti ini, ayo ceritalah Ama umi biar umi bantu selesaikan masalahnya !” Tanya umi sekali lagi. “ Baiklah umi Mumtaz akan bercerita dan jujur dengan keinginan Mumtaz” jawab Mumtaz. “ Umi, Mumtaz tak ingin meninggalkan umi sendirian lagi di sini, Mumtaz ingin di sini nemanin umi saja di rumah, Mumtaz gak ingin umi sendirian lagi, apa mungkin umi tak sayang lagi sama Mumtaz sehingga umi ingin Mumtaz bersekolah jauh lagi. “ ucap Mumtaz. “Baiklah hanya itu saja kah Mumtaz anakku, apakah ada yang lain” tanya umi sekali lagi, umi tersenyum mendengar Mumtaz mencurahkan kegelisahannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tak hanya itu umi, begitu banyak beasiswa yang Mumtaz terima, yang membuat Mumtaz bingung harus mengambil yang mana, sedangkan Mumtaz menginginkan sekolah ke Amerika, Jerman, China, Jepang dan Korea umi “ jawab mumtaz. “Dengar umi baik-baik anakku, semoga apa yang kau dengar bisa menyelesaikan kegelisahanmu. “Iya umi, Mumtaz dengarkan” ucap Mumtaz. Lalu mulailah umi menjawab semua kegelisahan sang anak, “Mumtaz anakku! Jika kau tak ingin melihat umi mu ini bahagia maka janganlah kau pergi, tapi jika kau ingin melihat umi mu ini bahagia maka ambillah beasiswa itu, banggakan umi dengan prestasi dan kesuksesan mu, maka umi akan bahagia melihatmu sukses nak, orang tua mana yang tak ingin jauh dari anaknya, semuanya juga berat harus berpisah dari anaknya, akan tetapi kau harus tahu Mumtaz dengan begitu kau akan mengerti tentang hidup yang mandiri, bagaimana indahnya kehidupan di luar, dan pengetahuan yang akan kau dapatkan dari sana. Ingat anakku! Jika ada orang tua mereka yang ingin anaknya sekolah jauh bukan berarti mereka tak sayang Melainkan mereka hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, dan jika ada orang tua yang tak melangkahkan anaknya untuk menuntut ilmu maka ia adalah orang-orang bodoh yang tak tahu bagaimana mengindahkan firman Allah SWT dan perkataan Rasulullah Saw. Karena nikmatnya ilmu itu akan bermanfaat untuk di dunia maupun di akhirat kelak. Harusnya Mumtaz bersyukur karena bisa mendapatkan banyak beasiswa ke luar negeri, lihatlah mereka yang bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan nya ke tempat yang mereka impikan, tapi mereka tak bisa mendapatkannya, anakku! Kau adalah orang yang paling beruntung bisa mendapatkannya!” Penjelasan umi panjang lebar. “Dan buat keinginan Mumtaz yang ingin bersekolah di Amerika, Jerman dan yang lainnya, umi tak menginginkan dengan keinginan yang satu ini, karena yang umi mau Mumtaz memperdalam ilmu agama terlebih dahulu sebelum Mumtaz terjun kedunia bebas, karena di Amerika maupun yang lainnya itu pengetahuannya sangatlah Minim tentang agama, karena itu umi ingin Mumtaz pergi ke Cairo atau Madinah, umi ingin Mumtaz di sana masuk pesantren kembali, kuliah sambil mesantren, karena mengingat umur Mumtaz yang sangat belia umi khawatir pada Mumtaz di sana nantinya, setelah itu umi serahkan semua keputusannya kepada Mumtaz, jika ada rejeki lagi, kalau Mumtaz ingin melanjutkan pendidikan S2 dan S3 nya di tempat yang Mumtaz inginkan, maka umi akan izinkan” penjelasan umi. “Baiklah jika itu keinginan umi yang terbaik buat Mumtaz, maka Mumtaz hanya bisa menuruti nya, tapi umi Mumtaz di bingungkan lagi dengan pilihan universitas mana yang harus Mumtaz ambil? “ Tanya Mumtaz sekali lagi. “Nah, kalau yang ini umi tak bisa menyarankan yang terbaik, hanya bisa menyarankan ikuti kata hatimu dan mintalah bantuan kepada Allah SWT untuk memberikan jalan yang yang terbaik untukmu, nanti malam bangunlah, bermunajat lah kepada Allah SWT, memintakan kepadanya, In Syaa Allah, Allah pasti akan di berikan jalan dan kemudahan untukmu “ Jawab umi. “Baiklah umi, Mumtaz mengerti dan in syaa Allah saran umi akan Mumtaz laksanakan! “ Ucap Mumtaz. Setelah malam tiba, Mumtaz bangun dari tidurnya untuk melaksanakan sholat tahajjud dan istikharah untuk memohon kepada Allah SWT agar memberikan Pilihan yang terbaik untuknya, setelah beres Mumtaz kembali tertidur sambil menunggu azan subuh, dalam nyenyak nya Mumtaz bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw, bahwa beliau menjawab semua pertanyaan nya dalam istikharah nya, Mumtaz mencium punggung tangan Nabi Muhammad saw dan berbincang-bincang sebentar, dalam beberapa kilatan Mumtaz mempelajari apa yang Nabi Muhammad saw katakan hanya dengan memasukkannya dalam hati dan mencernanya Mumtaz langsung mengerti jalan apa yang harus Mumtaz ambil, dan saat itu juga azan subuh berkumandang membangunkan Mumtaz dari mimpi indahnya, setelah bangun, berwudhu dan melaksanakan sholat subuh, berdzikir dan mengaji, Mumtaz langsung keluar kamar menuju dapur untuk membantu bi Laras dan umi menyiapkan sarapan, setalah beres, Mumtaz mengahmpiri umi yang sedang duduk di ruang keluarga bersama bi laras. Mumtaz bergegas duduk di samping umi dan berkata, “Umii, tadi malam Mumtaz bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw, dan beliau menjawab semua pertanyaan Mumtaz umi, dan harumnya tak hilang umi di tangan Mumtaz setelah Mumtaz berwudhu” kata Mumtaz dengan bahagia. Umi dan bi Laras tercengang tak percaya dengan ucapan Mumtaz tapi umi langsung mencium tangan Mumtaz, umi menangis, seraya berkata, “Mumtaz anakku, betapa beruntungnya dirimu bisa mencium punggung tangan Nabi Muhammad saw, kau memang anak yang Sholeh a “ucap umi lalu mencium kembali punggung tangan ku. “Maa Syaa Allah, nak Mumtaz memang anak yang beruntung dan sholeha” timpal bi laras. Lalu umi bertanya kembali, “ Lalu jawaban apa yang Nabi Muhammad saw berikan kepadamu nak? “ Tanya umi. “ Beliau sangatlah bijaksana, ketika ada pilihan yang harus Mumtaz pilih tapi Mumtaz tak bisa memilih, lalu beliau lah yang menjawab dan menjelaskannya, jika Mumtaz bingung dengan pilihannya maka ambillah semuanya dan laksanakan dengan baik, jika memang tak bisa ambil satu yang sangat Mumtaz inginkan, jika tak bisa juga maka lihatlah di mana para Nabi dahulu berada dan di situlah Mumtaz harus mengambilnya” jawab Mumtaz dengan antusias. “ Berarti Madinah? Yang akan Mumtaz pilih, apakah betul nak?” Tebak umi. “ Benar umi, Madinah tempat utama Mumtaz dan selanjutnya Cairo dan Mesir yang akan Mumtaz singgahi, karena mumtaz tak ingin pergi ke Amerika, Jerman, China ataupun yang lainnya, Mumtaz sudah mantap dengan pilihan Mumtaz umi” ucap Mumtaz. “ Maa Syaa Allah, Maa annajah yah anakku, semoga kelak kau akan berhasil “ ucap umi. “ Aamiin allahumma aamiin, syukran umi “ langsung Mumtaz memeluk umi dan bi Laras bergantian. Hari telah berlalu berganti dengan hari di mana Mumtaz akan pergi ke Madinah, meninggalkan umi dan bi laras lagi, haru dan kesedihan yang sedang aku rasakan, jauh dari umi untuk yang kedua kalinya. Setelah umi menyiapkan semua persiapan ku untuk berada di Madinah, kemudian umi mengantarkanku ke bandara, tapi hal baik berteman denganku, ternyata aku tak sendirian di dalam pesawat, ada beberapa orang Indonesia juga yang akan melanjutkan pendidikannya ke Madinah walaupun tak satu sekolah dengan ku, tapi setidaknya aku punya teman nanti di sana. Dalam perjalanan di dalam pesawat aku hanya melihat pemandangan alam dan awan laku tertidur, setelah itu aku terbangun di saat pasawat mendarat di tujuan dengan selamat. {Kesempatan tidak datang dua kali karena itu jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, karena suatu saat nanti hanya ada penyesalan yang akan kau temui di saat kau tahu begitu berharganya kesempatan yang Allah SWT berikan untuk kita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD