Setelah menyelesaikan pembicaraan melalui telepon dengan Greg, Jared kemudian menoleh sekilas ke arah Jeff dan melihat wajahnya terlihat menegang.
"Apa yang dikatakan Inspektur Greg, Tuan?" tanyanya.
"Pemakaman diundur karena mereka baru saja selesai melakukan otopsi pada jenazah Denvor," jawab Jared.
"Apa ada yang mencurigakan hingga dilakukan otopsi?" tanya Jeff terlihat penasaran.
"Aku juga tidak mengerti, Jeff. Katanya ini permintaan dari ibu kandung Denvor," jawab Jared.
"Apa ayah dan ibunya sudah tidak bersama lagi?" tanya Jared dan seketika membuat Jeff memicingkan mata. Lagi-lagi Jared menyesal tidak bisa mengendalikan pembicaraannya, dia terlalu sering bertanya hal sepele yang tidak seharusnya ditanyakan dengan perannya sebagai Jerome Anderson.
"Bukankan kedua orang tuanya memang sudah lama bercerai?" Jeff malah balik bertanya.
"Oiya, aku baru mengingatnya," sahut Jared salah tingkah. Dalam hatinya terus memperingatkan dirinya untuk berhati-hati saat berbicara. Rasa penasarannya kadang malah membuatnya celaka. Dia harus pandai berperan sebagai sosok Jerome Anderson jika masih ingin semua kemewahan yang dirasakannya ini.
Apa selama ini Denvor memang tidak dekat dengan keluarganya hingga di saat kematiannya tidak ada satu pun yang peduli padanya? Malang sekali nasibnya.
"Inspektur Greg juga mengatakan ada kejanggalan pada kematiannya," ujar Jared mengingat apa yang dikatakan Greg padanya tadi.
"Apa ada hal penting yang mereka temukan setelah dilakukan otopsi?"
"Hasil otopsi menunjukkan jika Denvor telah tak bernyawa sebelum dia tenggelam di bawah jembatan. Jadi besar kemungkinan dia dibunuh sebelum akhirnya ditenggelamkan. Tapi semua ini masih perkiraan karena harus menunggu hasil observasinya," jawab Jared.
"Hebat sekali kepolisan bisa mengetahuinya," timpal Jeff.
"Itu gunanya mereka melakukan otopsi," balas Jared. Padangan Jared kemudian mengarah ke luar mobilnya, memandang kendaraan yang lalu lalang. Baru dua hari dia berada di dunia aneh yang tidak dimengertinya, tapi entah kenapa dia merasa sudah sangat dekat sekali dengan dunia barunya. Walaupun terasa aneh dan tidak masuk akal, tapi semuanya terasa menyenangkan dibanding kehidupannya sebagai Jared Adam. Di sini dia memiliki segalanya, mobil mewah, rumah yang bagus, pelayan yang setia, pekerjaan yang menghasilkan banyak pundi-pundi uang, dan semuanya yang tidak bisa disebutkannya lagi karena terlalu banyak hal yang menyenangkan.
"Tuan benar-benar akan langsung pulang ke rumah?" tanya Jeff sekali lagi.
"Tentu saja. Apa ada aku memiliki jadwal lainnya?" tanya Jared bingung.
"Tidak ada, Tuan. Aku hanya bingung karena tidak seperti biasanya Tuan langsung pulang ke rumah setelah syuting, tidak bersenang-senang di luar dulu," jawab Jeff. Mendengar apa yang dikatakan oleh Jeff, Jared hanya bisa terkekeh. Jared tertawa karena dia sendiri bingung akan ke mana setelah syuting selesai. Biasanya sebagai Jared Adam, setelah syuting selesai dia akan segera pulang ke apartemennya usangnya sambil berharap jika besok ada pekerjaan baru yang menunggu.
"Aku sedang berduka karena kematian Denvor, Jeff," jawab Jared sekenanya. Memang itulah kalimat yang tepat, sedang berduka. Padahal sebenarnya dia malah ingin tertawa senang karena Denvor seolah mendapat karma karena perbuatan buruknya selama ini. Seketika Jared menegang, tidak pernah sekali pun dia berharap Denvor mengalami hal buruk hingga membuatnya meregang nyawa, tapi kenapa kali ini dia malah senang karena apa yang terjadi pada Denvor?
Ponsel Jared kembali berdering dan ada nama Sharon berkedap-kedip di layarnya. Jared tidak ingat kapan dia menyimpan nomor Sharon di ponselnya atau mungkin memang telah ada sejak dia belum menjadi sosok Jerome.
"Kau ke mana saja? Aku telah menunggumu dari tadi," ucap suara di seberang sana dengan nada yang sangat aneh seolah diucapkan sambil mendesah.
"Aku...sudah pulang," jawab Jared kebingungan dengan apa yang harus dijawabnya. Sementara dalam hatinya dia masih tidak percaya jika Sharon serius dengan ucapannya tadi.
"Aku menunggu di apartemenmu," ujar Sharon lagi dengan suara manja. Jared tidak menanggapi ucapan Sharon karena dia bingung dengan ucapan wanita itu.
"Cepatlah, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," katanya dan kemudian telepon pun berakhir.
"Antarkan aku ke apartemenku saja. Aku ingin tidur di sana malam ini," ucap Jared. Walaupun dia sendiri tidak yakin di mana keberadaan apartemen milik Jerome itu, setidaknya dia mencoba bersikap seolah dia tahu semuanya.
"Baik, Tuan," balas Jeff patuh dan tanpa bertanya apa pun lagi. Jika tanggapan Jeff seperti itu, artinya memang benar ada jika Jerome memiliki apartemen.
"Hubungi aku jika Tuan ingin dijemput besok," ujar Jeff saat menurunkannya di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Jared sendiri masih setengah tidak percaya jika sebagai Jerome Anderson, dia memiliki apartemen mewah ini.
Setelah Jeff berlalu, Jared baru memikirkan di lantai berapa apartemen miliknya. Dia mendesah kesal dan kemudian me.gambil ponsel untuk menghubungi Sharon. Ini mungkin akan terdengar aneh, tapi Jared berharap Sharon tidak curiga padanya.
"Aku sudah berada di lantai bawah. Bisakah kau menjemputku, kurasa kepalaku sedikit pusing dan kesulitan untuk berjalan," kilah Jared saat menghubungi Sharon. Terdengar tawa renyah Sharon sampai akhirnya dia menyanggupi permintaan Jared.
Jared sendiri merasa berdebar karena bersama dengan Sharon, hal yang jarang dilakukannya saat masih sebagai Jared Adam. Dulu wanita saja enggan menghabiskan waktu dengannya. Jared membuang napas kesal karena mengingat hal seharusnya tidak perlu diingatnya lagi.
"Kau sungguh manja sekali," ucap Sharon saat berada di lantai bawah untuk menjemputnya. Tangan wanita itu kemudian terulur dan memeluk lengan Jared dengan sangat erat. Jared terus berpikir, apa wanita ini adalah kekasih Jerome, lalu siapa wanita-wanita yang pernah disebutkan Jeff? Sepertinya Jerome adalah sosok lelaki yang banyak digilai oleh wanita, bisa jadi karena kekayaan yang dimiliknya.
Sharon membawa Jared memasuki lift dan menekan tombol menuju lantai lima. Jared kemudian mengingat di mana letak apartemennya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Bahkan saat tangan Sharon menekan angka-angka yang merupakan kode rahasia untuk memasuki kamar, Jared mengingat semuanya dengan sebaik mungkin.
Melihat Sharon yang sampai mengetahui kode rahasia apartemen, sepertinya hubungannya dengan Jerome bukan hubungan sekadar teman biasa. Jared merasa sangat beruntung dalam hitungan singkat bisa berhubungan dengan wanita yang begitu menggoda seperti Sharon. Tangannya pun mulai berani merangkul tubuh Sharon dari belakang saat wanita itu selesai menekan kode rahasia dan membuka pintu kamarnya. Bukankah selagi ada kesempatan, dia harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin?
Sharon kemudian menariknya hingga keduanya terduduk di sofa. Dia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Jared tanpa ragu. Mendapat godaan yang seperti itu membuat Jared membalas ciuman Sharon dengan liar. Sudah lama rasanya dia tidak mendapat godaan seperti ini. Keduanya saling berpagutan dan tangan Jared berusaha meloloskan pakaian yang sedang digunakan oleh Sharon.
"Kau sungguh tidak sabar sekali, Jerry," ucap Sharon sambil tersenyum menggoda. Tangannya kemudian terulur dan berusaha membuka pakaian yang sedang dikenakan Jared. Setelah bagian atas tubuh Jared tidak mengenakan pakaian lagi, tangannya kemudian mengusap tubuh Jared hingga lelaki itu mengerang karenanya. Sharon benar-benar pandai menggoda Jared, beberapa kali tangannya sengaja menyentuh bagian tubuh Jared dan kemudian mengecupnya dengan lembut. Jared hampir meledak karena perlakuan Sharon. Beberapa kali Jared berusaha menahan diri tapi tetap saja godaan yang didapatnya lebih berat dari usahanya.
Tidak bisa menahan hasratnya lagi, Jared kemudian mendorong tubuh Sharon sehingga dia berbaring terlentang di atas sofa. Hanya suara desahan dan napas yang semakin menderu terdengar jelas memenuhi ruangan. Keduanya tenggelam dalam hasrat yang semakin membara.
"Mulai sekarang kita tidak perlu bertemu diam-diam lagi," bisik Sharon sambil sebelah tangannya memeluk tubuh kekar Jared. Keduanya sedang berada di tempat tidur dengan hanya ditutupi oleh sehelai selimut, sementara tidak ada sehelai pakaian pun yang mereka kenakan.
"Kenapa seperti itu?" tanya Jared bingung. Apa sebenarnya Jerome sendiri telah memiliki kekasih sedangkan Sharon adalah wanita yang berhubungan dengannya secara diam-diam?
"Bukankah Denvor telah tiada?" kening Jared berkerut saat mendengar jawaban Sharon. Apa hubungannya semua ini dengan Denvor.
"Aku tidak perlu berselingkuh dari Denvor lagi," sambungnya dan akhirnya membuat Jared mengerti jika wanita yang sedang bersamanya ini adalah kekasih Denvor. Persahabatan seperti apa antara Denvor dan Jerome sebenarnya. Bagaimana bisa kekasihnya bersenang-senang dengannya di hari kematian Denvor? Ini sungguh tidak masuk akal.
"Apa kau tidak merasa sedih?" tanya Jared ragu.
"Tidak, aku merasa biasa saja," sahut Sharon terdengar tidak peduli. Dia kemudian mendekat ke arah Jared dan memberikan ciuman panasnya lagi. Keduanya saling berciuman selama beberapa saat dan baru berhenti saat Jared mendorong tubuh Sharon dengan perlahan.
"Aku justru merasa senang karena dengan begitu kita bisa bersama tanpa perlu merasa ketakutan karena kemarahan Denvor," sambungnya lagi sambil tersenyum dan membuat kening Jared berkerut. Wanita ini benar-benar menyeramkan dan membuat Jared tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya.
"Kau harus mengutamakan aku di antara wanita-wanitamu," bisik ya lagi. Mendengar ucapan Sharon, Jared berpikir di dalam hatinya, ada berapa orang wanita sebenarnya yang ada di kehidupan seorang Jerome Anderson. Apa satu saja tidak cukup?
"Tentu saja," balas Jared dan dia kembali tidak kuasa menahan hasratnya saat Sharon sengaja menyingkap selimut hingga sebagian dari tubuhnya terlihat dengan jelas. Tangan Jared kemudian mengusap leher Sharon dan membuat wanita itu mendesah kegelian.
"Selama ini hubunganku dengan Denvor juga tidak diketahui oleh publik, jadi kurasa tidak akan ada peduli dengan kedekatan kita,” ucapnya.
“Kecuali wanita-wanitamu,” sambungnya sambil terkekeh. Jared menahan napas saat Sharon tiba-tiba saja telah duduk di atas perutnya. Pandangannya terasa berkabut dan apa yang terlihat di hadapannya sungguh membuat napasnya terasa berat.
“Itu artinya kau senang dengan kematian Denvor?” tanya Jared.
“Kurasa kau juga begitu. Bukankah semua orang yang berada di dekat Denvor ibarat serigala berbulu domba buatnya?” tanya Sharon dengan wajah serius. Jared berusaha memikirkan ucapan Sharon, jika memang seperti itu kenyataannya, artinya sebenarnya hubungan persahabatan Jerome Anderson dan Denvor hanya palsu. Buktinya saja Sharon bisa menyimpulkan seperti itu.
“Kau tahu bukan jika Denvor adalah orang yang paling menyebalkan se-Los Angeles ini. Semua orang yang dekat dengannya hanya menginginkan harta dan juga kekuasaan yang dimiliknya. Kurasa tidak ada orang yang menangisi kepergiannya, bahkan kurasa keluarganya juga begitu,” ucap Sharon lagi.
“Tapi kudengar ibu kandungnya meminta dilakukan otopsi pada mayat Denvor karena dia begitu curiga dengan kematian putranya,” potongku saat memikirkan sesuatu.
“Aku juga curiga jika kematian Denvor bukan karena tenggelam, apalagi dia memiliki musuh yang bersikap seperti seorang teman,” ujar Sharon.
“Jika tahu seperti itu, kenapa kau mau mau menjadi kekasihnya?” tanya Jared penasaran.
“Dia yang memaksaku. Tentu kau sudah tahu cerita ini. Dia mengancam akan menghambat karirku jika aku tidak bersedia menjadi kekasihnya. Dan mendengar kematiannya, tentu saja aku merasa sangat lega,” sahut Sharon.
Perlahan Jared mulai mengerti bagaimana hubungan Denvor dengan Sharon dan kenapa wanita ini sampai bisa tertarik pada Jerome Anderson. Wajar saja jika ibu kandungnya curiga dengan kematian Denvor, sosok yang memiliki banyak musuh.
“Aku tidak terlalu peduli dengan kematian Denvor. Bagiku kematiannya berarti kebebasanku. Biasanya kita harus berhati-hati agar Denvor tidak mengetahui pertemuan kita berdua, tapi kali ini tentu semuanya sudah berbeda.” Sharon kemudian menggerakkan tubuhnya perlahan seperti sedang menggoda Jared hingga membuat lelaki itu mengerang.
“Kau yang dianggapnya sebagai sahabat dekat kurasa juga tidak begitu sedih dengan kematiannya.” Kalimat yang diucapkan oleh Sharon seperti sindiran buatnya. Jared ingin mengangguk mengiyakan ucapan Sharon tapi tidak jadi dilakukannya sehingga dia hanya membuang napas panjang.
“Siapa yang kau curigai sudah membunuh Denvor?” tanya Jared tiba-tiba.
“Ah! Kau mengganggu perasaanku saja dengan pertanyaanmu itu,” kata Sharon terlihat kesal.
”Semua teman dekat Denvor bisa dicurigai, juga keluarganya, bahkan musuhnya sendiri. Buat apa kau memikirkan hal yang bukan urusanmu itu? Biarkan para polisi yang bekerja keras,” balas Sharon.
“Membahas tentang Denvor terlalu berat untuk pembicaraan kita malam ini. Yang kubutuhkan malam ini hanya kelembutan dan juga perasaan senang,” bisik Sharon dan tangannya kemudian mengusap perut Jared yang mengeras. Lagi-lagi Jared mengerang. Wanita ini sungguh pandai sekali menggodanya, wajar saja sampai keduanya berhubungan di belakang Denvor. Sungguh malang sekali yang dialami oleh Denvor, bahkan di hari kematiannya sahabat dan kekasihnya merayakannya dengan bercinta.
“Biasanya kau tidak seliar ini, Jerry? Apa karena kita sudah lama tidak bertemu?” tanya Sharon sambil mengigit telinganya dengan gerakan yang erotis. Beberapa saat yang lalu keduanya mengulang percintaan mereka setelah Jared tidak bisa menahan hasratnya yang seolah bisa membuatnya meledak.
“Atau karena ungkapan rasa bahagiamu?” tanyanya lagi.
“Karena kau begitu menggoda, Sharon,” jawab Jared setengah berbisik dan tangannya kemudian meremas b****g Sharon dengan penuh hasrat.
“Kurasa jika polisi tahu hubungan kita dan bagaimana hubunganku dengan Denvor, mereka akan mencurigai jika kita berdualah yang bekerja sama membunuh Denvor,” ucap Sharon dengan terkekeh. Walaupun diucapkan Sharon dengan nada setengah bercanda, tapi entah kenapa membuat Jared menegang. Sepertinya yang diucapkan Sharon ada benarnya juga.