Pagi itu terasa berbeda di kediaman Dokter Aditya. Tidak ada suara bentakan. Tidak ada desahan napas berat penuh ketegangan. Yang terdengar hanya dengusan kecil bayi yang baru bangun tidur, diselingi langkah kaki pelan seorang perempuan yang berusaha tidak mengganggu ketenangan rumah itu. Jelita berdiri di depan jendela kamar tamu, menggendong Arka yang sudah bersih dan wangi. Rambut bayi itu masih sedikit lembap, kulitnya halus, dan aroma sabun bayi melekat manis di udara. Arka menguap kecil, lalu menempelkan pipinya ke d**a Jelita, seolah mencari detak yang paling dikenalnya. Hati Jelita menghangat. Ia tersenyum tanpa sadar, menunduk, mengecup pelan dahi putranya. “Kamu wangi sekali, Nak,” bisiknya lirih. Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Dokter Aditya tur

