Bab 34. Rumah yang Diidamkan

1291 Words

Hujan masih turun ketika mobil Dokter Aditya berhenti di halaman sebuah rumah dua lantai yang tenang. Tidak terlalu besar, tapi rapi, dengan lampu teras yang menyala temaram dan taman kecil di samping garasi. Suasananya berbeda jauh dari rumah Sora. Tidak megah, tidak mengintimidasi. Justru terasa … manusiawi. Aditya turun lebih dulu, membuka payung, lalu berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu Jelita. “Pelan-pelan,” katanya lembut saat Jelita turun sambil tetap memeluk Arka erat di dadanya. Begitu kaki Jelita menginjak lantai teras, ada rasa asing yang mengalir di dadanya. Bukan takut. Lebih seperti… lega yang tertahan. Ia melangkah masuk setelah Aditya membuka pintu. “Masuk saja. Sepatunya boleh dilepas,” ujar Aditya sambil menutup pintu. Aroma rumah itu langsung menyambut J

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD