Bab 8. Meluluhkan Hatinya

1419 Words
d**a Liam berdebar dengan keras. Ia bahkan merasa khawatir jika Jelita akan mendengarnya. Jantungnya berdetak kencang, sama seperti ketika ia hampir mencapai puncak. Namun, bedanya kali ini hanya berdekatan saja dengan Jelita. Sekali lagi, pria itu menunduk. Entah apa yang ia pikirkan ketika marah ataupun meluapkan kekesalannya pada Jelita. Padahal gadis itu sama sekali tidak punya salah. Tidak sama sekali, sebab itu semua adalah takdir yang kemudian menjerat keduanya. Jika dipikir-pikir, apa yang bisa Jelita lakukan jika melawan titah sang mama? Sama seperti dirinya yang sejak lama hanya bisa menuruti perintah Sora. Liam bahkan tidak bisa berkutik jika Sora telah memberikan perintah. Liam kembali menunduk saat tiba-tiba ia menyadari jika adik angkatnya ternyata memiliki paras yang cantik. Hidung bangir, kulit putih, bahkan mata yang sangat indah dengan bingkai bulu mata lentik walaupun tanpa make up. Jelita juga selalu berpakaian sopan. Dia ramah dan selalu tersenyum. Nyatanya, semesta membuat takdirnya harus menjadi penampung benih yang … yang bahkan Liam saja tak yakin mengenai hal itu. Masa depannya telah hancur hanya untuk mewujudkan keinginan sang mama. Lantas, bagaimana setelah ia berhasil mengandung anaknya dan melahirkan pewaris bagi keluarga Hadiningrat? Liam tak bisa membayangkannya. Tangan pria itu terulur demi menyibak rambut yang ada di kening Jelita perlahan. Sisi melankolisnya muncul saat menatap wajah istri keduanya itu. Mendadak Liam jadi merasa iba, aah … entahlah. Apakah ini hanya iba atau ada perasaan lain. Nyatanya, ia merasa sangat nyaman saat ini. Lantas, apakah ia mulai merasakan perasaan lain terhadap Jelita. Walaupun berusaha menyangkal, tapi ada satu sisi dalam hatinya yang kemudian membuat Liam makin menggila. Pria itu mendaratkan ciuman di kening Jelita, lalu turun ke pipi dan berakhir di bibirnya. Untung saja, gadis itu hanya bergerak sesaat dan kembali terlelap. Saat itu, sudut bibir Liam berkedut pelan. Namun, kemudian ia menunduk. Rasa bersalahnya terhadap sang istri kembali muncul. Ia ingat jika semalam Bella hendak menghubunginya. Jadi, ia mencoba menggeser kepala Jelita ke bantal, lalu berlalu dari sana dengan perlahan. Liam memakai pakaiannya dan bergegas kembali ke kamarnya. Pria itu mengecek ponselnya yang kemarin ia tinggalkan di ranjang. Ada beberapa panggilan dari sang istri. Jadi, ia buru-buru meneleponnya balik. Sialnya, Bella tidak mengangkatnya. Liam akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap bekerja. Sementara Jelita akhirnya membuka mata. Seperti sebuah mimpi, tadi ia merasa Liam begitu lembut menciumi wajahnya. Atau benar itu hanya mimpi, sebab pria itu sudah tidak ada di sana saat ini. Jelita hanya seorang diri dengan keadaan yang sama seperti semalam. “Apa aku hanya mimpi tadi? Tapi kenapa rasanya kayak nyata banget?” bisiknya. Jelita membuang napasnya dengan kasar, lalu menggeleng lemah. Tidak. Itu pasti mimpi, sebab Liam sangat membencinya. Mana mungkin ia jadi manis dan memperlakukannya dengan baik. Jelita akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lantas, turun ke dapur setelah selesai. Gadis itu menyapa Mbok Jum yang terkejut melihat wajah Jelita yang tampak berseri. “Pagi, Mbak Jelita. Wah, segar banget wajahnya,” ucap Mbok Jum. “Hah? Iya? Ini karena aku habis mandi, Mbok Jum.” “Masak? Bukan karena yang lain? Masih ada bekasnya, Mbak,” ucap Mbok Jum kemudian. Jelita terdiam. Saat itu, Liam juga mendengar penuturan sang ART ketika menuruni anak tangga. Ia juga mendadak jadi jengah walaupun yang diajak bicara adalah Jelita. Saat itu, Jelita menyadari sesuatu. Buru-buru ia menutupi lehernya dengan rambutnya yang hari ini digerai bebas karena masih sedikit basah. “Pagi, Mas Liam.” Tiba-tiba Mbok Jum menyapa Liam yang pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka. Pria itu duduk dan mengangguk lemah. “Mbok Jum, mana kopiku?” tanya Liam kemudian. “Astaga, maaf Mas. Mbok Jum lupa. Sebentar, Mbok Jum tak cuci tangan dulu,” kata wanita itu bergegas meninggalkan masakannya. Namun, Liam langsung mencegahnya. “Enggak usah. Aku langsung berangkat aja,” ucap Liam. “Tunggu. Biar aku yang buatkan,” kata Jelita kemudian. Gadis itu menoleh ke arah Liam. Ia pikir, pria itu akan menolaknya, tapi ketika melihat Liam kembali duduk setelah berdiri, Jelita bergegas melakukannya. Gadis itu sudah memperhatikan takaran ketika kemarin Mbok Jum membuatkan Liam kopi, jadi semoga saja sang suami menyukainya. “Silakan.” Dengan gemetar, Jelita meletakkan kopi di meja. Sementara Liam memperhatikan bekas merah di leher gadis itu. Sudut bibirnya berkedut pelan. Itu adalah ulahnya. Namun, kemudian ia seolah-olah tidak terganggu dan meminum kopi buatan Jelita. Lagi-lagi, senyumnya terbit diam-diam. Rasanya seperti buatan Mbok Jum dan ia menyukainya. Usai menghabiskan kopinya, pria itu membersihkan mulut dan beranjak. “Aku berangkat,” katanya seraya meninggalkan meja makan. Jelita tak menyahut. Ia pikir Liam pamit kepada Mbok Jum, tapi gadis itu tersentak ketika wanita yang sudah bekerja lama dengan Liam itu menyenggol lengannya dengan sedikit kasar. “Suaminya pamit, kok, diam aja, Mbak? Sahutin dong,” katanya. “Hah? Jadi, Liam tadi ….” Jelita menunduk demi memegangi dadanya yang berdebar. Apakah ia bermimpi lagi, atau apa ini? *** Dokter Aditya terdiam di ruangannya mengingat apa yang ia temukan kemarin. Fakta bahwa Jelita telah menikah bahkan menjadi istri kedua tidak bisa ia terima begitu saja. Ia tak percaya jika gadis itu akan dengan mudah memupuskan mimpinya menjadi dokter spesialis hanya untuk menjadi istri seorang kaya raya. Aditya kenal dengan Jelita dan gadis itu tidak pernah memandang semuanya dengan harta. Jadi, apa ini? Apakah satpam kemarin salah memberikan informasi. “Aku harus cari tahu kebenarannya,” ucap Aditya saat itu. Pria itu kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. Ini sudah waktunya ia pulang. Jadi, pria itu bersiap untuk kemudian keluar dari ruangannya. Aditya pergi ke parkiran dan mengendarai mobil menuju ke kediaman Liam. Kali ini, ia harus mengetahui apa yang terjadi dengan Jelita. Ia harus memastikan semuanya hari itu juga. Saat itu, Liam juga baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengecek ponsel, lantas membuang napas dengan kasar karena pesannya tidak dibalas oleh Bella. Panggilannya juga tidak diangkat. Entah apa yang terjadi dengan wanita itu saat ini. Liam kemudian memutuskan untuk pulang. Hari ini, ia sangat lelah. Nyatanya, pikirannya malah teralihkan pada kejadian pagi tadi. Senyum pria itu tiba-tiba terbit. Lalu bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah, Liam yang baru turun dari mobil dihampiri oleh Aditya yang sudah menunggunya. Ketika pertama kali Aditya menyapa, Liam mengernyit. Ia tahu pria itu. Itu adalah pria yang kemarin mengikuti Jelita kemarin. Jadi, apa yang ia lakukan di sini? “Maaf, Anda siapa?” tanya Liam. “Saya Aditya. Saya dokter di rumah sakit tempat Jelita bekerja.” “Oh, jadi apa yang bisa saya bantu?” “Saya hanya mau memastikan, apa benar kalau Jelita itu … istri kedua Anda?” tanya Aditya. Liam tak langsung menjawab. Ia menelisik penampilan Aditya dan sikap pria itu. Liam yakin, Aditya tidak hanya sekadar penasaran. Namun, juga punya maksud lain. Asumsi itu diperkuat dengan apa yang dilakukan oleh pria itu tempo hari. “Iya, dia istri kedua saya. Apa ada masalah?” tanya Liam. Jawaban pria itu benar-benar membuat Aditya terkejut. Ia tak menyangka jika semua itu adalah benar. Hatinya memanas karena tahu bahwa gadis kesayangannya ternyata telah dimiliki oleh pria lain. “Kenapa harus Jelita? Kenapa harus gadis itu? Apa Anda tahu jika Jelita memiliki mimpi yang besar? Dia mau menjadi dokter spesialis menggantikan mimpi seseorang yang tidak bisa terwujud. Egois sekali Anda. Anda sudah punya istri dan memilih menikahi gadis yang begitu kompeten seperti Jelita,” ucap Aditya. “Itu urusan saya. Siapa Anda mengatur hidup saya? Jelita mau, kenapa Anda yang sibuk?” tanya Liam. “Saya hanya menyayangkan sikap egois Anda. Jelita punya masa depan yang cerah. Namun, terpaksa kandas karena pernikahan ini. Apa salah gadis itu? Apa dia punya utang? Katakan, biar saya yang membayarnya,” jelas Aditya. Liam terdiam. Obrolan ini sudah tidak sehat. Aditya terus menekannya. Jadi, ia perlu bertanya pada Jelita, apa hubungannya dengan pria di depannya ini. “Maaf, tapi itu urusan saya. Lebih baik Anda pulang. Pak satpam, tolong bawa pria ini keluar,” titah Liam. Aditya masih mencoba bicara pada Liam. Namun, ia sudah ditarik paksa oleh satpam untuk keluar. Sementara Liam masuk ke rumah utama dan mencari Jelita. Namun, gadis itu tidak ada di sana. Jadi, ia menuju ke paviliun dan masuk ke kamar gadis itu tanpa permisi. Jelita sedang terlelap di ranjang. Wajah teduhnya segera melindapkan amarah yang mampir di hati Liam. Pria itu pun masuk dan melihat Jelita lebih dekat. Aah … mana bisa begini? Kini setiap kali ia melihat Jelita, semuanya terasa berbeda bagi Liam. Pria itu pun berniat untuk tidak mengganggu gadis itu. Namun, pandangannya malah tertuju pada sesuatu yang ada di nakas sebelah ranjang. Liam mengernyit, lalu mengambil benda itu dan membukanya. “Buku ini, kan ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD