Bab 7. Dengan Pengaman

1117 Words
“Maaf, Bella. Tapi tempatmu sudah digantikan oleh model lain. Ini keputusan dari atasan,” ucap salah satu staff di sana. “Apa? Enggak mungkin begitu. Agensi bilang aku akan dipakai oleh brand ini, tapi kenapa model lain yang digunakan? Aku enggak terima. Aku mau bicara pada bos.” Gadis itu tidak mau menunggu lagi walaupun staff bilang jika bos ada tamu. Bella hendak menekan kenop ketika ponselnya berdering. Sang suami yang menghubungi. Ia hendak menemui atasannya saat ini, jadi ia mengangkat telepon itu segera. “Halo, Sayang. Aku ka–” “Liam, nanti aku telepon balik, ya. Aku harus ketemu sama atasan dulu. Oke, bye, Sayang.” Bella langsung menutup sambungan telepon. Ia tak menunggu Liam bicara dan masuk ke ruangan sang bos dengan segera. Ternyata, di dalam ruangan itu ada pemilik brand yang tiba-tiba membatalkan Bella sebagai model. Kedua pria itu terkesiap saat Bella masuk. Namun, wanita itu tak mau membuang waktu, ia segera melempar tanya mengapa ia tidak jadi dipakai dalam pemotretan brand pakaian dalam itu pekan depan. “Jadi, apa alasan saya digantikan dengan tiba-tiba, Pak Anderson?” tanya Bella. “Maaf, Bella. Kami mempertimbangkan banyak hal. Dan Pak Smith memilih model lain,” jelas sang bos. Bella lantas menoleh ke arah Smith yang sejak tadi seolah-olah menelanjanginya. Pria berbadan tegap itu memperhatikan Bella dari atas sampai bawah dan menunggu apa yang hendak wanita itu ucapkan. “Jadi, Tuan. Apa saya tidak memenuhi kriteria sampai harus diganti dengan model lain?” tanya Bella. Smith tersenyum, lalu mendekati Bella dengan perlahan. Paras Asia yang dimiliki oleh Bella ternyata menarik perhatian pria itu. Smith lantas mendekat dan berbisik pada wanita itu. “Kamu sempurna, tapi saya butuh satu malam untuk memberikan pekerjaan itu kepadamu. Temani saya malam ini,” katanya. Bella terkesiap. Ia sudah sering mendapatkan tawaran seperti ini. Bahkan hampir semua model pernah melakoninya. Selama ini, Bella menahan diri untuk tidak tergoda karena memilih jalan yang lurus-lurus saja. Nyatanya, brand pakaian ini sangat terkenal dan pasti bisa langsung melejitkan namanya. Namun, apakah ia harus tidur dengan pria ini? “Apa itu sangat berat? Kamu bisa melepaskannya,” ucap Smith lagi. “Tidak. Saya akan ambil. Ke mana saya harus pergi?” tanya Bella kemudian. “Saya akan mendatangimu setelah ini. Saya harus bicara dulu dengan atasanmu,” ucap Smith. Bella mengangguk lemah. Ia lantas keluar dari ruangan Anderson dengan langkah gontai. Bella melempar tubuhnya di ranjang kamarnya, lalu membuang napasnya dengan gusar. Ini jalan yang harus ia ambil. Toh, ini hanya semalam. Liam pasti tidak akan curiga. “Aku akan meneleponnya,” ucap Bella saat itu. Namun, setelah panggilan ketiga, pria itu tetap tak menjawab. Jadi, apakah suaminya sedang bersama istri keduanya. Mata Bella memanas. Wanita itu mulai gusar dan membuang ponsel ke ranjang. “Liam pasti sedang bersama wanita jalang itu! Sialan!” umpatnya penuh amarah. Bella tak bisa membendung rasa marahnya ketika tiba-tiba pintunya diketuk pelan. Buru-buru ia melindapkan amarah dan menghapus sudut matanya yang berembun. Bella membuka pintu dan tampak smith tersenyum di depan pintu. “Tuan Smith,” sapanya. “Bella. Saya sudah bilang pada Anderson bahwa saya akan memakaimu sebagai model. Jadi, apakah saya bisa menagih janjimu sekarang?” tanya Smith. Dengan berdebar, Bella mengangguk lemah. Wanita itu lantas tersenyum dan mendekati Smith yang sudah tampak sangat bernafsu. Lantas, berbisik di telinga pria itu lembut. “Saya akan memuaskan Anda, Tuan,” katanya. “Bagus. Kita mulai sekarang,” ucap Smith. Keduanya pun berlalu dari sana dan mencari sebuah hotel. Saat itu, Bella juga membeli pengaman untuk jaga-jaga. Siapa tahu, Smith tidak menyiapkannya. Saat sampai di hotel yang dimaksud, Smith tanpa permisi langsung memeluk Bella dari belakang. Wanita itu sangat menggoda dengan kulit putih dan parah ayu khas Asia yang dia miliki. “Slow, Baby. Kita masih punya banyak waktu,” ucap Bella. Walaupun merasa bersalah pada Liam, tapi semuanya ini ia lakukan demi karirnya ke depan. Smith mulai melepas satu per satu yang Bella kenakan. Wanita itu juga mulai terbawa suasana karena perlakukan pria itu. Smith sendiri adalah seorang pria lajang tanpa istri. Jadi, tidak akan masalah jika mereka berdua terlibat skandal. Ketika di badan Bella hanya menyisakan underwear saja, Smith memutar tubuh wanita itu untuk menghadapnya. Kekagumannya terhadap Bella memuncak ketika sadar bahwa wanita itu benar-benar memiliki tubuh yang sangat indah. Khas Asia yang begitu menawan. “Aku menyukai tubuhmu,” ucap Smith kemudian. Wajah Bella memerah. Wanita itu tersenyum kecil dan menunduk dalam. Ia berharap pengorbanannya ini akan dibayar dengan mahal. Namun, saat Smith membuka pakaiannya, Bella yang kemudian dibuat terkejut. Pria itu memintanya menunduk dan melakukan apa yang pria itu mau. Sampai akhirnya, Smith merasa puas. Bella ditarik ke ranjang dan pria itu segera beraksi. Saat tadi memutuskan untuk menyanggupi syarat dari Smith, ia pikir Bella akan profesional mengerjakannya. Namun, ternyata ia salah. Wanita itu benar-benar hanyut dan terbuai dengan apa yang dilakukan pria itu padanya. Sampai akhirnya, penyatuan itu terjadi. Ternyata Smith telah mempersiapkan semuanya dan membuat Bella merasa aman. Keduanya saling memberi kehangatan satu sama lain. Sampai pada titik puncak masing-masing. *** Jelita mengubah posisi tidurnya ketika merasa hawa dingin mulai menyergap. Gadis itu meringkuk demi mencari kehangatan yang ia butuhkan. Saat itu, ia belum menyadari sesuatu. Ketika kemudian ia merasakan tubuh hangat Liam ada di hadapannya. Jelita melebarkan matanya. Dadanya berdebar dengan kencang ketika pria yang begitu membencinya itu malah mendekapnya dengan erat. Bahkan Liam seakan-akan enggan melepaskan Jelita yang tadi baru saja ia gauli. Gadis itu mendadak ingat dengan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Pria itu begitu gusar ketika menghunjamnya. Walaupun kali ini diselingi dengan mencium Jelita lembut atau mengusap kulitnya perlahan. Nyatanya, ini hanya formalitas demi mendapatkan keturunan saja. Lantas, apakah saat ini Liam juga tidak sadar dengan apa yang ia lakukan? Jelita sama sekali tidak berani bergerak. Ia bahkan mencoba untuk kembali memejam. Namun, kenyataan yang ia hadapi tak sesepele itu. Entah sejak kapan ia jadi berdebar-debar begini, bahkan hanya karena mendengar dengkuran halus Liam saja. “Sadarkan dirimu, Jelita,” bisik gadis itu pada dirinya sendiri. Sampai akhirnya Jelita kembali terlelap. Pagi menyapa beberapa jam kemudian. Kali ini, Liam yang bangun lebih dulu. Pria itu membuka mata dan terkejut ketika melihat tubuh Jelita dalam dekapannya. Aah … ia baru ingat. Semalam, karena terlalu lelah Liam langsung terlelap. Namun, dengan posisi ini … pria itu masih belum percaya. Liam menunduk. Ia memperhatikan paras Jelita yang terlelap. Wajah teduh gadis itu hampir menghipnotis Liam untuk kembali mencumbunya. Ya, semalam ia bahkan meninggalkan beberapa bekas di tubuh gadis itu. Sesuatu dalam diri Liam kemudian bangkit. Namun, ia tak mau menurutinya kali ini. Sampai akhirnya Jelita bergerak dan makin merangsek ke tubuh Liam yang hangat. “Dingin sekali,” bisik Jelita yang kemudian membuat Liam tak bisa berkutik lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD