“Dari mana kamu?”
Jelita terkesiap ketika tiba-tiba Sora menyapanya yang baru saja datang dari rumah sakit. Gadis itu mengerem langkahnya dengan mendadak ketika sampai di halaman rumah. Ia mendongak dan menjawab pertanyaan sang mama jujur.
“Dari rumah sakit, Ma,” katanya.
“Ngapain? Mama udah bilang, jangan lagi keluar rumah sampai semuanya selesai. Kamu mau nama keluarga Hadiningrat tercemar, hah? Mulai hari ini, tetap tinggal di rumah,” titah Sora.
“Iya, Ma. Jelita permisi, mau naruh barang-barang ini dulu di kamar,” ucap gadis itu seraya meninggalkan sang mama di halaman.
Sora jelas mengernyit ketika melihat anak angkatnya itu berjalan menuju ke paviliun. Ia bersedekap dan memperhatikan Jelita yang kemudian masuk ke salah satu pintu. Saat itu, Mbok Jum yang keluar dan hendak membuang sampah melihatnya. Sora langsung menghentikannya demi bertanya mengenai Jelita dan Liam selama beberapa hari ini.
“Iya, Nyonya.”
“Apa Liam memberikan kamar pada Jelita di paviliun belakang?” tanyanya.
“Iya, Nyonya. Sejak datang, Mbak Jelita diminta Mas Liam tidur di sana,” jelas Mbok Jum.
“Keterlaluan! Ini enggak bisa dibiarkan bagaimana bisa hamil kalau mereka terpisah begini. Aku harus bicara pada Liam,” ucap Sora kemudian.
Wanita itu lantas masuk dan menghubungi sang putra yang saat ini ada di kantor. Liam yang sedang sibuk dengan pekerjaannya terkesiap ketika nama sang mama yang tertera di layar ponselnya. Gegas ia menerima panggilan itu dan meninggalkan pekerjaannya sejenak.
“Halo, Ma.”
“Makan siang di rumah. Mama ada di rumah kamu. Mama tunggu,” katanya.
“Iya, Ma.”
Tut-tut-tut.
Sambungan telepon terputus. Liam membuang napasnya dengan kasar. Ia melempar tubuhnya ke punggung kursi dan memejam sesaat. Kali ini, apa lagi? Ia tak melakukan kesalahan. Jadi, kenapa sang mama datang ke rumah?
“Apa Jelita mengadu pada Mama soal perlakuanku?” tanya Liam pada dirinya sendiri.
Pria itu menggertakkan giginya. Jika itu benar, ia tak akan membiarkannya. Gadis itu harus mendapatkan pelajaran nanti. Liam lantas melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada 1 jam lagi. Pria itu lantas segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum akhirnya pulang ke rumah.
Saat sampai di rumah, Liam bergegas masuk. Ketika sampai di dalam, sang mama sudah menunggu di meja makan bersama Jelita. Gadis itu menunduk tanpa berani menoleh ke arahnya.
“Ma.”
“Duduk!” titah Sora.
Liam manut. Ia mengambil duduk di sebelah Sora dan tampak tegang. Sepertinya benar, Jelita telah mengadukannya. Pasti gadis itu mengatakan hal yang tidak-tidak pada sang mama mengenai perlakuannya.
“Mari makan!” ucap Sora.
Liam mengangguk. Jelita juga demikian. Meja makan terasa mencekam karena hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring sesekali. Sampai akhirnya, mereka semua selesai makan. Sora mengelap bibirnya dengan tisu, lantas membuka suara setelah itu.
“Kenapa kamu nyuruh Jelita tidur di paviliun? Bukankah ada banyak kamar di rumah ini? Kamu pasti juga tidak melakukan apa yang kamu katakan kemarin, kan? Liam, dengarkan Mama! Makin cepat Jelita hamil, makin cepat juga semuanya berakhir,” jelas Sora.
Liam mengetatkan rahangnya. Ia masih berpikir jika Jelita yang mengadukan semuanya pada sang mama. Makanya, Sora datang ke sini dan marah-marah padanya. Pria itu tak menjawab karena semuanya memang benar.
“Mulai hari ini, Jelita akan tidur di atas. Gauli dia dan lakukan tugasmu sebagai suami. Oh, atau kamu takut sama Bella. Kamu takut dia marah? Itu akan menjadi urusan mama,” ucap Sora lagi.
“Ma, aku–”
“Ini demi kebaikan keluarga kita. Lakukan! Atau Mama perlu memasang CCTV di rumah ini untuk melihat semua kegiatanmu? Liam, jangan anggap Mama jahat. Seandainya saja Bella mau mengandung anakmu, semua ini tidak perlu kamu lakukan,” imbuh Sora.
Liam tak lagi menjawab. Benar apa kata sang mama. Semuanya karena sang istri masih ingin mempertahankan profesinya sebagai model. Namun, Liam melakukan itu karena ia sangat mencintai Bella. Ia tak mau impian sang istri hilang begitu saja. Jadi, ia yang harus berkorban sekarang.
“Iya, Ma. Aku akan ikuti apa kata Mama,” jawab Liam.
“Baiklah, kalau begitu Mama pergi dulu. Mama tunggu kabar baik dari kalian,” ucap Sora yang kemudian berlalu dari ruang makan dan langsung menuju ke mobilnya.
Sementara Liam langsung bangkit dan menarik dagu Jelita agar gadis itu mendongak. Pria itu merasa geram karena mengira Jelita mengadukan semuanya pada sang mama. Sampai-sampai sang mama datang seperti ini.
“Aauh, sakit Liam,” ucap Jelita seraya meronta-ronta.
Namun, tenaganya kalah kuat dengan Liam yang kini begitu geram.
“Bagus, ya! Kamu mengadukan semuanya sama Mama. Sampai Mama datang ke sini hari ini,” ucapnya geram.
“Enggak. Bukan aku. Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Jelita.
Namun, Liam sama sekali tak percaya. Jadi, ia melempar gadis itu hingga terjerembab ke lantai. Melihat Jelita kesakitan, ia lantas berjongkok dan menatap gadis itu lekat.
“Pindah ke kamar atas seperti apa yang dikatakan oleh Mama. Jangan membuat masalah lagi dengan bicara yang tidak-tidak sama Mama, atau aku akan membuatmu menyesal,” ancam Liam yang kemudian
Pria itu kemudian meninggalkan Jelita begitu saja. Liam memilih kembali ke kantor dan menyelesaikan semua pekerjaannya dan membunuh waktu. Bella belum juga bisa dihubungi, sedangkan malam ini ia terpaksa harus melakukannya dengan Jelita.
***
Malam itu, Jelita benar-benar pindah ke kamar atas. Namun, hanya beberapa barang saja yang ia bawa. Gadis itu tahu, nanti ketika Bella kembali pasti ia akan kembali diminta pindah ke paviliun. Jadi, ia tak perlu lagi memindahkan banyak barang nantinya.
Gadis itu sudah tak lagi menangis. Sungguh percuma menangis semua yang telah terjadi. Rasanya, Jelita tak lagi punya gairah hidup. Hanya untuk sakadar bermimpi bisa hidup setelah ini.
Sementara itu, Liam yang baru saja tiba dari kantor langsung naik ke kamar. Ia sudah makan malam di kantor dan memilih untuk segera mandi. Usai membersihkan diri, ia berinisiatif menghubungi Bella. Ia yakin wanita itu sudah sampai di Amerika. Ketika telepon tersambung, Liam harus menunggu beberapa lama sampai akhirnya suara sang istri terdengar.
“Halo, Sayang. Aku ka–”
“Liam, nanti aku telepon balik, ya. Aku harus ketemu sama atasan dulu. Oke, bye, Sayang.”
Tut-tut-tut.
Sambungan telepon terputus. Liam lantas membuang napasnya dengan kasar. Ia hanya ingin tahu kabar sang istri, tapi nyatanya Bella sangat sibuk. Pria itu kemudian melempar ponsel ke ranjang. Lantas, teringat dengan janjinya pada sang mama. Jadi, dengan ragu-ragu, ia beranjak menuju ke kamar sebelah.
Liam membuka pintu kamar Jelita tanpa permisi. Ketika ia mendorong benda berbahan kayu itu, Jelita yang sedang menyisir rambutnya terkesiap. Gadis itu buru-buru meletakkan sisirnya dan berdiri.
Liam masuk dan mengunci pintunya dari dalam. Saat itu, Jelita tahu apa yang akan terjadi. Refleks ia mundur sejengkal dan menunduk dalam. Liam berjalan mendekat setelah itu. Setelah cukup dekat, ia membuka suara.
“Lepaskan semua pakaianmu!” titahnya.
Jelita diam saja. Tangannya bergetar untuk sekadar melepas kancing yang melekat di piyamanya. Namun, ia tetap melakukannya walaupun dengan perlahan. Sampai akhirnya, hanya menyisakan underwear saja.
Liam menelan ludahnya dengan kasar ketika melihat gadis itu hampir polos. Ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya yang kemudian membuat nalurinya bekerja cepat. Ia mendekati Jelita, kemudian memejam demi menghidu aroma tubuh istri keduanya itu dengan saksama. Lantas, mendorong tubuh gadis itu ke ranjang sedikit kasar lalu menindihnya.
Jelita hanya bisa memejam saat Liam dengan brutal menghunjamnya. Pria itu juga memejam demi meresapi semuanya. Ini bukan tentang nafsu, tapi demi keluarga Hadiningrat dan calon pewaris keluarga ini.
Sementara itu, Bella yang tadi berjanji kembali menghubungi sang suami mulai frustrasi. Sudah 3 kali panggilan dan Liam tidak menjawab. Wanita itu lantas melempar ponsel dengan gusar ke ranjang seraya berteriak.
“Liam pasti sedang bersama wanita jalang itu! Sialan!” umpatnya penuh amarah.