Bab 5. Mimpi yang Terkubur

1126 Words
“Aku cuma mau bantu,” kata Jelita. “Jangan sok peduli. Kita cuma terikat dengan status,” ucapnya. Liam kemudian berlalu dari hadapan Jelita dan memilih menuju ke kamarnya. Lebih baik ia tak makan daripada harus berurusan dengan gadis itu ketika sang istri tidak ada di rumah. Liam tak mau dicap sebagai pria tak setia. Komitmennya hanya dengan Bella, bukan dengan wanita lain. Sementara Jelita hanya bisa menahan air matanya. Ia tak tahu, mengapa Liam sangat membencinya. Ia hanya gadis tak beruntung yang kemudian dipermainkan semesta untuk berada di tengah-tengah keluarga Hadiningrat. Lantas, menjadi istri hanya sekadar penampung benih. Jika ia tak hamil, apa yang akan terjadi setelah ini? Jelita tak tahu. Ia hanya berusaha mengikuti arus kehidupannya saja. Liam yang sampai di kamarnya membuang tubuhnya ke ranjang. Ia mengabaikan rasa lapar yang mendera dan menatap langit-langit ruangan dengan nanar. Sejujurnya, ia tak benci dengan istri keduanya itu. Hanya saja, ada satu momen di mana ia tak bisa terima karena suatu hal, dan itu terbawa hingga sekarang. Liam akhirnya memutuskan untuk mengunjungi dunia mimpi tanpa makan. Berharap tangannya akan membaik esok hari. *** Pagi itu, Jelita bersiap untuk pergi ke rumah sakit di mana ia praktik. Walaupun ia baru menjadi dokter residen, tapi banyak sekali dokter senior yang mengandalkannya. Ketika ia pamit dan memutuskan untuk keluar dari sana, banyak sekali yang menyayangkan keputusan itu. Namun, semuanya memang harus Jelita ambil karena permintaan sang mama. Hari ini, ia berencana mengambil barang-barangnya yang tertinggal di sana. Jadi, ia memesan taksi untuk membawanya menuju ke rumah sakit. Saat ia keluar, Liam juga hendak pergi ke kantor. Pria itu tampak buru-buru dan mengabaikan Jelita yang berjalan menuju ke gerbang utama. “Mbak Jelita kenapa enggak bareng aja sama Mas Liam?” tanya Mbok Jum yang hari ini sudah mulai sehat. “Enggak, Mbok. Aku bisa sendiri,” ucap Jelita. Mbok Jum mengangguk lemah. Ia tahu, sebenarnya majikannya adalah orang baik. Namun, entah kenapa begitu kejam kepada Jelita. Bahkan setelah mereka sah menjadi suami istri. Semua orang tahu alasan mereka menikah, jadi paham mengapa tidak ada kemesraan yang terjadi. Jelita kemudian pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Ia melihat mobil Liam terparkir di salah satu sudutnya. Gadis itu mendadak cemas. Entah apakah luka bakar yang semalam sudah sembuh. Namun, jika sampai pergi ke rumah sakit, pasti Liam merasa tidak nyaman. Jelita menggeleng lemah. Ia tidak mau berurusan dengan pria itu di luar rumah. Jadi, ia segera masuk dan menemui beberapa rekannya yang kebetulan mendapat shift pagi. “Je, kenapa keluar, sih? Siapa yang akan bantu aku nanti,” ucap salah satu rekan seprofesinya. “Banyak, Sel. Udahlah, kamu pasti bisa sendiri. Jangan terus ngerepotin aku,” sahut Jelita. “Tapi beneran, deh. Sebenarnya kamu kenapa, sih? Kok, tiba-tiba gini. Kamu sebentar lagi juga akan jadi spesialis, kan? Kamu pinter, Je,” tanya Selia. Jelita tersenyum. Entah apakah ia harus mengatakan alasannya kepada sang rekan. Namun, semua rahasia keluarga Hadiningrat pasti akan terbuka. Jadi, gadis itu memilih diam saja. “Adalah pokoknya. Yang penting kamu doain aku, ya. Biar semua urusanku lancar dan aku bisa kembali fokus sama mimpiku,” jelas Jelita. “Iya, aamiin.” Saat itu, seseorang memperhatikan keduanya dengan saksama dari ambang pintu. Aditya adalah salah satu dokter yang ada di rumah sakit itu. Sejak awal bertemu dengan Jelita, ia sudah menaruh hati padanya. Namun, tidak pernah sekalipun menyatakan perasaan. Kini, ketika gadis itu tiba-tiba memutuskan untuk keluar, ia menyesal karena telah menyianyiakan waktu kebersamaan mereka. “Eh, ada Dokter Adit, tuh. Dia dari kemarin nanyain kamu,” kata Selia. Jelita kemudian pamit pada sang rekan untuk menemui Aditya. Gadis itu tersenyum dan menyapa dokter itu dengan ramah seperti biasanya. “Siang, Dok!” “Kenapa mendadak?” tanya Dokter Aditya dengan tatapan heran. “Iya, Dok. Maaf kalau selama ini aku ada salah, ya. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan dulu,” ucap Jelita. “Apa itu? Apa aku boleh bantu biar urusan itu cepat selesai dan kamu bisa kembali bekerja di sini?” tanya Aditya. Walaupun terkesan bercanda, tapi pertanyaan itu benar-benar dari hati Aditya. Ia mau tahu, alasan apa yang membuat Jelita terpaksa meninggalkan profesi yang sangat ia impikan ini. Jelita tersenyum. Ia pikir, pria di depannya hanya bercanda. Sebab, Aditya memang sering bersikap demikian. “Enggak usah, Dok. Hanya aku yang bisa menyelesaikannya. Sudah, ya. Aku permisi dulu. Dokter Aditya baik-baik, ya,” ucap Jelita yang kemudian melambai pada pria itu. Aditya hanya bisa membuang napasnya dengan kasar ketika mendengar jawaban Jelita. Rasa penasarannya memuncak karena ia tahu ambisi besar Jelita untuk menjadi dokter spesialis. Nyatanya, sesuatu yang katanya adalah sebuah “urusan” itu membuat mimpinya terpaksa putus di tengah jalan. “Aku harus cari tahu,” bisik Dokter Aditya yang kemudian mengekor pada gadis itu. Sementara itu, Liam yang sudah sejak tadi melihat mereka dari kejauhan hanya bisa terdiam. Ia menunduk dan melihat tangannya yang kini diperban. Tadi, dokter yang menanganinya bilang jika pertolongan pertamanya adalah penentu penyembuhan. “Untunglah, Pak. Lukanya tidak terlalu parah karena pertolongan pertamanya tepat.” Lantas, apakah semalam Jelita benar-benar hanya ingin membantu? Liam menggeleng lemah. Ia tak mau terbawa suasana dan memilih untuk kembali ke kantor. Namun, ketika di parkiran ia melihat Jelita yang masih menunggu taksi, sedangkan Dokter Aditya terus mengintainya dengan mobil tak jauh dari sana. Jadi, apa sebenarnya rencana pria itu? “Apa dia mau mencelakai Jelita?” bisik Liam saat itu. Namun, kemudian ia menggeleng lemah. “Ngapain aku harus ikut campur urusan gadis itu. Terserah dia,” ucapnya seraya berlalu meninggalkan rumah sakit. Liam memilih untuk pergi ke kantornya untuk bekerja. Ia tak mau terbawa perasaan dan bisa membuat kesetiaannya kepada sang istri luntur. Ya, ia harus menghindari interaksi berlebihan dengan Jelita dan mengabaikan apapun masalah gadis itu. Sementara itu, Jelita yang baru saja mendapatkan taksi bergegas untuk pulang ke rumah Liam. Tanpa menaruh curiga sama sekali jika saat ini Dokter Aditya mengikutinya dengan mobil. Sampai akhirnya, Jelita sampai dan langsung masuk ke rumah. Dokter Aditya masih mengawasi dari jauh gadis yang telah bersemayam dalam hatinya itu. Ia tahu kediaman hadiningrat bukan di sini. Jadi, ini rumah siapa? Sebab rasa penasarannya tak terbendung, Dokter Aditya kemudian turun dan mendekati gerbang utama rumah berlantai 2 tersebut. Lantas, menuju ke pos satpam untuk bertanya mengenai Jelita yang tadi masuk ke rumah ini. “Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya satpam. “Emm … apa yang punya rumah ini ada?” “Oh, Pak Liam sedang di kantor. Kalau istrinya di luar negeri, Pak,” jawab satpam. “Lalu, yang barusan masuk?” tanya Dokter Aditya lagi. “Itu Mbak Jelita. Emm … istri keduanya Pak Liam,” sahut satpam jujur. “Apa? Istri kedua?” Aditya tampak terkejut mendengar penuturan satpam. Jadi, apakah ini urusan yang dimaksud oleh Jelita?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD