Jelita meringis kesakitan ketika ia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang. Air matanya telah kering. Jadi, ia hanya bisa menahan nyeri tubuhnya tanpa bisa meluapkannya lagi. Setelah duduk sebentar di tepi ranjang, gadis itu menyahut piyama yang semalam dibuang Liam ke lantai, lalu memakainya sebagai penutup tubuh. Sebelum beranjak menuju ke kamar mandi, ia sempat menoleh ke arah Liam yang masih terlelap. Lantas, memejam sesaat. Kilasan peristiwa yang terjadi semalam lewat dalam lobus frontal Jelita begitu saja. Bagaimana pria itu begitu gusar mengerjainya.
Jelita menggeleng lemah. Ia tak berniat mengingatnya walaupun jelas tidak bisa ia lupakan begitu saja. Jadi, ia bergegas menuju ke kamar mandi dengan merambat seraya memegangi dinding demi menahan anggota tubuhnya yang terasa berbeda.
Ceklek!
Suara pintu kamar yang dibuka Jelita membuat Liam sedikit terganggu. Ia yang awalnya masih berkubang di dunia mimpi, kini mengerjap demi memperjelas penglihatannya. Punggung Jelita yang putih bersih menjadi pemandangan pertama yang ia lihat. Punggung yang semalam ia hidu berkali-kali karena hasratnya tengah memuncak. Liam memejamkan mata sesaat. Ia pikir, ia tak akan pernah tergoda dengan tubuh wanita lain. Nyatanya, ia bisa melakukannya semalam. Semua itu juga karena Bella kadang terlalu sibuk dengan kariernya. Jadi, ia sedikit terabaikan.
Pria itu lantas memejam sesaat. Ia mengusap wajahnya dan berniat untuk bangun dan kembali ke kamar Bella. Namun, saat ia menyibak selimutnya, Liam terpaku. Sprei putih yang terpasang tak lagi berwarna putih. Ada bercak merah yang kemudian membawa Liam pada kejadian semalam. Ketika untuk pertama kali ia menerobos batas milik Jelita dengan paksa.
“Ampun, Liam ….”
Pekikkan itu terdengar menyayat, tapi ia malah membuatnya bersemangat. Aah … tidak. Ia hanya perlu melakukannya dengan cepat. Lantas, kembali menata rumah tangganya dengan Bella. Jadi, Liam membuang semua pikiran gilanya dan bergegas memakai pakaiannya. Buru-buru ia kembali ke kamar sebelah, di mana sang istri berada. Ketika Liam masuk, Bella masih tertidur pulas. Jadi, ia memutuskan pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai, pria itu kembali menemui sang istri dan merebah di sampingnya.
Melihat wajah Bella yang terlelap, rasa bersalah muncul di benak Liam. Ia tak pernah membayangkan jika pernikahannya dengan Bella akan ternoda dengan titah mamanya yang mendamba seorang pewaris. Nyatanya, semuanya sudah terjadi. Ia bahkan telah melakukannya. Ketika kemudian, Bella membuka mata.
“Liam, yang kemarin itu hanya mimpi, kan?” tanya Bella kemudian.
Liam hanya diam. Sampai akhirnya Bella menangis.
“Bukan, ya?” bisiknya.
***
Pagi itu, Sora dan Mahesa sudah ada di meja makan ketika Liam turun. Ia bersama Bella kemudian bergabung dengan kedua untuk sarapan. Tak ada sapaan atau basa-basi yang membuat suasana meja makan jadi makin suram. Namun, tak lama kemudian Liam membuka suara.
“Aku dan Bella akan pulang ke rumah kami hari ini,” katanya.
Sora menghentikan sendok berisi nasi yang hendak ia suap ke mulut. Ia meletakkan benda itu kembali ke piring dan menatap sang putra yang kini juga menatapnya.
“Oke, ajak sekalian Jelita untuk tinggal di sana,” kata Sora.
“Enggak. Enggak ada wanita lain yang boleh tinggal di sana selain aku. Itu rumahku, Ma,” sahut Bella kesal.
“Itu Mama yang belikan. Kamu lupa?”
Bella tak bersuara. Ia membuang napas dengan kesal mendengar penuturan sang mertua. Ya, itu memang rumah pemberian sang mertua. Namun, sudah menjadi miliknya bukan?
“Tetap tinggal di sini sampai Jelita hamil. Itu keputusan Mama,” kata Sora kemudian.
Bella menggeleng lemah. Sementara Liam hanya diam. Ia memikirkan sesuatu yang lain jika ia dan Bella masih tinggal di sini. Jadi, ia kemudian membuka suara.
“Oke, Ma. Aku akan bawa Jelita ke rumah,” katanya.
“Liam, apa yang kamu katakan?”
Bella langsung menoleh ke arah sang suami yang kemudian memberikan keputusannya. Saat itu, Liam menoleh dan menggenggam tangan Bella erat. Ia mencoba meyakinkan sang istri bahwa keputusannya adalah benar. Lebih baik tinggal di rumah sendiri daripada di sini dan terus diawasi oleh Sora.
“Bagus kalau begitu. Mama akan lihat progresnya selama 3 bulan ke depan. Jangan lalaikan tugasmu walaupun tanpa pengawasan Mama,” kata Sora kemudian.
Siang itu juga, mereka kembali ke rumah bersama Jelita yang juga ikut bersama mereka. Gadis itu tampak pucat dan tidak bersemangat ketika tahu akan diboyong ke kediaman Liam dan Bella. Entah apa yang akan terjadi di sana. Nyatanya, sama saja bagi gadis itu. Ia hanya akan menjadi tempat penitipan benih bagi Liam dan keluarganya saja.
Setelah sampai di sana, semuanya turun. Seorang ART bernama Mbok Jum kemudian berlari menyambut kedatangan majikannya.
“Siapkan kamar. Dia akan tinggal di sini mulai hari ini,” kata Liam.
“Enggak. Jangan di rumah utama. Berikan kamar di paviliun saja. Aku enggak sudi berada satu rumah dengan wanita ini,” ucap Bella kemudian.
Jelita hanya bisa menahan dirinya ketika mendengar ucapan Bella. Ia tak tahu, apakah menjadi yatim piatu begitu hina di mata semua orang hingga ia harus menerima semuanya?
“Baik, Nyonya,” sahut Mbok Jum.
Jelita lantas diantar oleh Mbok Jum ke kamar. Saat itu, Liam juga hanya diam saja dan mengikuti kemauan sang istri. Mau bagaimana? Ia tak mau Bella kembali tantrum karena keputusannya berpoligami.
***
“Silakan masuk, Non. Bersih, kok, kamarnya. Di sini nyaman, walaupun tidak sebesar kamar di rumah utama,” kata Mbok Jum.
“Iya, terima kasih, Mbok,” sahut Jelita.
Mbok Jum lantas meninggalkan Jelita seorang diri di dalam kamar itu. Gadis itu lantas membongkar koper kecil yang tadi ia bawa dan membongkarnya. Paling atas, ada foto dirinya mengenakan snelli di rumah sakit. Saat itu, tiba-tiba mata Jelita memanas. Entah apakah ia harus menangisi takdirnya atau mensyukurinya. Mimpi yang sudah ada di depan mata terpaksa harus buyar karena suatu perkara. Gadis itu menggeleng lemah. Percuma larut dalam kesedihan. Semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh sang mama angkat.
***
Beberapa hari kemudian ….
“Kenapa mendadak? Bukannya harusnya kamu balik ke Amerikanya minggu depan?” tanya Liam ketika melihat sang istri mengemas pakaian.
“Iya, Sayang. Ada telepon dari atasan tadi. Dia minta aku datang lebih cepat karena set pakaiannya harus diukur ulang. Aku janji akan segera pulang setelah selesai,” kata wanita itu seraya mencium pipi Liam yang masih diam.
Pria itu pun mengangguk lemah. Selalu seperti ini kejadiannya dan Liam tidak bisa memperbaikinya. Sang istri punya pekerjaan di Amerika hingga kadang sampai berminggu-minggu berada di luar negeri. Jadi, setiap saat demi membunuh sepi, pria itu memilih untuk bekerja keras di kantor.
“Iya. Hati-hati,” ucap Liam kemudian.
Tak lama, mobil travel menjemput wanita itu untuk pergi ke bandara. Liam hanya bisa melambaikan tangan saja ketika kendaraan itu berlalu dari halaman rumahnya. Pria itu membuang napas dengan kasar, sampai akhirnya memilih kembali masuk ke rumah.
Ketika ia melewati dapur, Liam melihat Jelita sibuk dengan sayur mayur untuk dimasak. Tentu saja ia merasa penasaran. Siapa yang mengizinkan gadis itu masuk ke rumah utama.
“Ngapain kamu di sini?” tanyanya.
Jelita menoleh, lalu menjawab dengan tenang pertanyaan sang suami.
“Memasak. Mbok Jum sedang sakit, jadi aku menggantikannya,” jawab Jelita.
“Aku enggak sudi makan masakan kamu,” ucap Liam.
“Enggak masalah. Kamu bisa makan di luar. Aku masak untuk Mbok Jum saja,” kata Jelita yang kemudian kembali sibuk dengan masakannya.
Sementara itu, Liam memilih kembali ke ruang kerjanya. Malam itu, hujan datang tanpa henti. Usai menyelesaikan pekerjaannya, Liam merasa sangat lapar. Ingat jika Mbok Jum sedang sakit dan ia malas pergi ke luar, pria itu akhirnya memilih untuk membuat mi instan saja. Nyatanya, ini adalah hari sial baginya. Ketika ia mengangkat panci panas berisi air dan mi, Liam lupa memakai kain lap. Alhasil tangannya jadi terbakar.
“Aah ….”
Teriakan pria itu menarik atensi Jelita yang saat ini berada tak jauh dari dapur. Buru-buru ia berlari dan melihat tangan Liam. Sebagai seorang dokter, ia segera tahu cara menangani luka bakar itu. Jelita menarik lengan Liam ke tempat cuci piring dan mengalirkan airnya ke atas luka.
“Aah … sakit,” teriaknya.
“Tahan dulu begini sampai rasa terbakarnya reda,” ucap Jelita.
Liam terdiam ketika dengan cekatan gadis yang berhasil ia perawani kemarin membantunya. Jelita tampak cekatan dan terampil. Sesuai dengan profesinya sebagai dokter. Ketika kemudian Liam teringat dengan sang istri. Pria itu menyipitkan mata, lalu menarik lengannya dengan gusar.
“Berani-beraninya kamu pegang tanganku. Mau mati kamu?” ucap Liam dengan kasar.