Brak!
Pintu kamar didorong dari luar tepat ketika Bella baru saja membenturkan kepala Jelita ke nakas. Liam menarik tubuh Bella agar tidak bertindak lebih, sedangkan Jelita sudah terkapar dengan kening berdarah. Sora yang melihatnya langsung mengetatkan rahang. Terlebih melihat Bella yang sedang mabuk dan tak terkendali.
“Apa-apaan ini?” ucapnya seraya mendekat.
Sora mendadak cemas karena Jelita tidak bergerak sama sekali. Wanita itu berjongkok dan mencoba memanggil nama sang anak angkat agar ia kembali sadar. Namun, hasilnya nihil.
“Cepat telepon Dokter Soni!” titahnya.
Mahesa yang bergerak mengambil ponsel dan menghubungi dokter keluarganya itu. Saat itu, Sora menoleh ke arah sang menantu pertama yang menatapnya dengan nyalang, lalu menamparnya keras.
“Lihat apa yang kamu perbuat, Bella. Jika kamu tidak mau mengikuti aturanku, lebih baik kamu pergi dari sini,” katanya.
“Aturan enggak masuk akal. Siapa istri yang rela dimadu, Ma? Aku juga enggak rela berbagi suami dengan siapa pun,” ucap Bella sambil menangis.
Sora membuang napasnya dengan kasar. Gadis itu sudah tidak terkendali saat ini. Gara-gara mabuk, ia bisa mengungkapkan semua isi hatinya kepada sang mertua. Saat itu, Liam langsung membawanya pergi. Ia tak mau Bella membuat keributan dengan sang mama. Terlebih ini sudah malam. Pria itu akhirnya membawa sang istri ke kamar sebelah. Liam terus menangkan Bella yang kemudian menangis di dalam dekapannya.
“Sakit ternyata lihat kamu sama wanita lain, Liam,” katanya.
“Aku sudah bilang sama kamu, tapi kamu bilang enggak apa-apa. Jujur aku juga enggak bisa, Bel. Tapi semuanya sudah terjadi. Mundur sekarang pun enggak bisa,” ucap Liam.
“Aku benci sama kamu, Liam. Aku benci sama Mama kamu. Aku benci sama gadis kampung itu,” teriak Bella yang kemudian menangis.
Bella lantas membuang tubuhnya ke ranjang. Ia memilih meringkuk dan menikmati tangsinya hingga membawa dirinya mengunjungi dunia mimpi. Sementara itu, Dokter Soni yang datang langsung melihat keadaan Jelita. Syukurlah gadis itu sudah sadar. Walaupun begitu, luka di keningnya harus segera diobati. Dengan cekatan, pria berkacamata itu melakukan pertolongan hingga darah berhenti dan semuanya bisa teratasi.
“Sudah. Lukanya kecil, tapi dalam. Jadi, aku memberikan beberapa jahitan. Nanti setelah kering, aku akan melepas jahitannya,” ucap Dokter Soni.
Jelita hanya bisa mengangguk. Sementara itu, Sora dan Mahesa yang berdiri di sebelah ranjang membuang napasnya dengan gusar. Keduanya berharap ini menjadi insiden pertama dan terakhir yang terjadi di rumah ini.
“Saya tinggalkan obat. Minumkan semuanya kalau Jelita merasa pusing, jika tidak cukup minumkan yang ini saja,” jelas Dokter Soni.
“Baik, Dok. Terima kasih sudah datang,” kata Sora.
“Ya, Nyonya. Saya permisi.”
Mahesa mengantar Dokter Soni keluar. Sementara Sora mendekati sang anak angkat dan membuang napasnya dengan kasar sebelum membuka suara.
“Jangan jadikan ini alasan untuk menunda tugas kamu. Tetap di sini, Liam akan segera datang,” katanya.
Sora lantas berlalu, sedangkan tangis Jelita tak lagi bisa terbendung. Ingatannya kembali ke masa lalu di mana Sora mengadopsinya karena kedua orang tuanya menjadi korban kebakaran di gudang milik wanita itu. Ini hanya formalitas agar keluarga ini terlihat sangat baik di mata masyarakat. Nyatanya, sejak tinggal di sini, Jelita bahkan tidak pernah dianggap anak. Gadis itu hanya bisa bersyukur tak harus tinggal di panti asuhan dan bisa bersekolah hingga jenjang perkuliahan. Walaupun sebagian besarnya dengan usaha dan prestasinya sendiri. Dan kini, semuanya harus dibayar dengan menjadi mesin pencetak anak bagi anak mereka. Apakah ini adil?
Sementara itu di kamar sebelah, Liam sedang sibuk menyesap tembakau ketika Sora mendatanginya. Pria itu membuang puntung rokok melalui balkon dan menatap sang mama yang kini bersedekap di sampingnya.
“Liam, Mama melakukan ini semua demi kamu. Kamu bisa tetap bersama orang yang kamu cintai dan mama akan mendapatkan cucu. Hanya itu saja. Selebihnya, biar Mama yang urus. Jadi, makin cepat Jelita hamil, maka makin bagus,” jelas Sora.
Liam tak menjawab. Namun, ia mempunyai pikiran yang sama dengan wanita itu. Tadi, ia sudah melihat murka Bella ketika ia menyentuh Jelita. Namun, semuanya tidak akan berarti. Ia harus menyelesaikan ini dengan cepat dan kembali bersama dengan istri tercintanya.
“Tapi Mama harus janji, setelah Jelita hamil, jangan lagi ikut campur mengenai rumah tanggaku dengan Bella. Aku hanya mencintai Bella, dia duniaku dan hidupku. Aku tidak sanggup melukainya lagi,” ucap Liam.
“Ya, Mama janji. Mama juga yang akan urus anak kamu nanti. Jadi, kamu jangan khawatir. Jadilah anak Mama yang penurut dan lakukan tugas kamu dengan baik. Semuanya akan baik-baik saja. Mama yakin itu,” jelas Sora.
Sora lantas berlalu, sedangkan Liam mendekati Bella yang ada di ranjang. Pria itu mengusap ubun-ubun sang istri yang kini terlelap dan membuang napasnya dengan kasar.
“Aku janji enggak akan mengkhianati kamu. Tapi semuanya jadi begini gara-gara keluarga ini butuh pewaris. Padahal aku maunya kamu yang mengandung benihku, Sayang,” bisik Liam.
Pria itu mendadak melow mengingat semua yang dilakukan oleh sang mama. Namun, nasi telah menjadi bubur. Sebaiknya ia menyelesaikan ini dengan cepat memperbaiki semuanya dengan cepat pula.
Pria itu lantas beranjak dari kamar itu untuk menemui Jelita di kamar sebelah. Walaupun agak ragu apakah ia bisa melakukannya tanpa adanya rasa cinta, nyatanya tekat Liam untuk menyelsaikan semua ini dengan cepat sudah bulat. Setelah masuk ke kamar Jelita, Liam mengunci pintu dari dalam demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Saat itu, Jelita buru-buru mengusap pipinya yang basah. Dadanya berdebar dengan keras ketika melihat Liam masuk dan mendekati ranjang. Apakah ini saatnya?
Gadis itu buru-buru bangkit. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Liam yang kini berdiri tak jauh darinya. Ketika kemudian pria itu mendekat dan langsung mendorong tubuh Jelita hingga terjerembab ke ranjang.
“Sebaiknya, kita selesaikan ini dengan cepat,” kata Liam kemudian.
Pria itu dengan kasar melepas piyama yang Jelita kenakan. Liam tidak peduli walaupun gadis di bawah kungkungannya menangis dengan keras. Ia mau ini selesai dengan cepat dan ia bisa kembali. Pria itu memejam ketika hidungnya menghidu leher Jelita untuk pertama kali. Sementara gadis itu menggeleng kasar. Ia benar-benar merasa risih dengan paksaan yang dilakukan oleh Liam hingga membuatnya tak nyaman sama sekali.
“Emmh ….”
Hasrat Liam mendadak bangkit ketika mencium aroma tubuh Jelita yang wangi. Ia sendiri tak menyangka jika ia akan tergoda pada gadis yang bahkan tidak pernah ia ajak bicara sama sekali sejak diadopsi oleh keluarga Hadiningrat.
Liam membuka matanya. Ia menatap Jelita yang masih terisak dengan nanar. Gadis itu tak melawan. Namun, tidak juga memberikan jalan. Nyatanya, ia mau semuanya selesai saat kemudian ia mulai menghunjam tubuh gadis itu dengan kasar.
“Ampun, Liam …,” pekik Jelita tanpa bisa melawan.