“Diam kamu! Ini sudah menjadi keputusan Mama. Menikah dengan Jelita atau kamu bisa pergi dari rumah ini dan lupakan keluarga Hadiningrat,” ancam Sora.
Liam terdiam. Apa yang dikatakan oleh sang mama benar-benar membuatnya gamang. Ia mau mempertahankan pernikahannya dengan Bella, tapi ucapan sang mama tidak bisa ia abaikan begitu saja. Nyatanya, pria itu akhirnya mengambil keputusan untuk rumah tangganya.
“Oke, kalau begitu. Aku akan pergi dari sini, Ma. Aku akan keluar tanpa membawa harta Mama dan Papa sepeser pun,” kata Liam.
Ia hendak membawa Bella pergi. Namun, wanita itu malah menahannya. Bella berpikir sejenak ketika Sora mengucapkan ancamannya tadi. Aah … ia ingin hidup senang dengan harta hadiningrat ketika menikahi Liam. Namun, jika sudah begini, apakah ia harus merelakannya begitu saja. Bella berpikir jika Liam sangat mencintainya, jadi tidak mungkin tergoda pada gadis cupu seperti Jelita. Toh, ini hanya menitipkan benih, setelah Jelita melahirkan, Liam bisa menceraikannya. Walaupun jelas itu membuat Bella cemburu, tapi tidak mungkin ia membiarkan Liam keluar dari rumah ini tanpa harta sedikit pun.
“Sayang, jangan gegabah. Aku enggak mau kamu tidak diakui oleh keluarga ini gara-gara aku,” ucap Bella kemudian.
“Jadi, kamu rela aku poligami? Hah?” tanya LIam penuh penekanan.
Namun, saat itu Sora membuka suara.
“Harus rela. Itu yang akan terjadi. Sudahlah Liam. Jangan sok-sokan tidak butuh harta Mama. Kamu hanya perlu menikah dan membuat Jelita hamil, selesai,” jelas Sora.
Wanita itu benar-benar tidak mau membuang kesempatan mempengaruhi sang putra. Sementara Jelita yang masih belum paham kembali melempar tanya.
“Ma, kenapa harus aku? Aku baru saja jadi dokter residen, Ma. Aku harus menyelesaikan pendidikanku,” ucap Jelita.
“Kamu bisa melanjutkan pendidikan kamu setelah melahirkan anaknya Liam. Dan keputusan Mama sudah bulat. Anggap saja ini sebagai balas budimu kepada keluarga Hadiningrat karena kami sudah mengadopsimu. Kalian akan menikah minggu depan dan semuanya sudah mama persiapkan,” jelas Sora yang kemudian berlalu dari sana.
Tubuh Jelita lemas. Semua impian yang ia susun begitu besar roboh dengan satu ultimatum dari mama angkatnya. Ya, ia memang bersyukur karena sudah menjadi bagian dari keluarga Hadiningrat. Namun, mengetahui semuanya akan menjadi seperti ini, ia tak tahu harus berbuat apa. Walau nama belakangnya juga Hadiningrat, tapi ia sama sekali tak pernah berkuasa atas dirinya sendiri. Sekolah, pakaian, bahkan sepatu yang ia kenakan bukanlah hal yang ia mau dan inginkan. Itu semua pilihan sang mama.
Air matanya luruh tanpa permisi. Perkataan Sora adalah perintah, jadi apa yang bisa ia lakukan sekarang?
***
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sora, ia akhirnya menggelar pernikahan untuk Liam dan Jelita. Kendatipun tidak ada rasa cinta sedikit pun di antara keduanya, tapi baik Liam maupun Jelita tetap melakoninya.
Hanya ada penghulu dari KUA setempat juga saksi. Tidak ada dekorasi dan mimbar pengantin. Hanya meja kecil dan kedua pengantin mengenakan baju senada, hitam dan putih.
“Baiklah, kita akan mulai akadnya, ya,” ucap penghulu.
Liam membuang napasnya dengan kasar. Ia lantas menoleh ke arah Bella yang duduk tak jauh dari Sora. Wanita itu tampak tegar walaupun sejujurnya ia merasa cemburu. Terlebih gadis yang akan dinikahi sang suami adalah hanya gadis biasa. Jauh daripada dirinya. Sedikit terlukai harga diri Bella karena Jelita tak sebanding dengan dirinya yang seorang model.
“Iya.”
Liam lantas menjabat tangan penghulu. Sore itu, keduanya sah menjadi suami istri setelah Liam melakukan ijab qobul. Namun, tatapan Liam terhadap Jelita tetap sama. Ia hanya gadis yang diangkat orang tuanya dan bukanlah adiknya. Saat itu, Bella yang sudah tidak melihat pernikahan keduanya akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.
“Bel, kamu mau ke mana?” tanya Liam yang cemas dengan keadaan sang istri pertama.
Namun, Sora menahan tangan sang putra dengan cepat. Ia tak mau sikap Bella membuat Liam jadi berubah pikiran. Pria itu hanya tinggal menggauli Jelita dan membuat gadis itu hamil saja.
“Biarkan sopir yang antar dia. Kamu di sini saja,” kata Sora.
Liam membuang napasnya dengan kasar. Ia akhirnya kembali duduk di sebelah Jelita yang terus menunduk dalam. Air mata gadis itu telah habis dan tak tahu harus bagaimana selain menerima takdir yang demikian rumit. Saat itu, Mbok Sum–ART di rumah itu–datang dan mengambil foto keduanya.
“MasyaAllah, kalian cocok,” pujinya.
Jelita hanya tersenyum getir, sedangkan Liam hanya membuang napasnya dengan gusar. Pria itu benar-benar masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Bisa-bisanya ia menikahi seorang anak angkat seperti Jelita.
Malam itu, Jelita diminta menempati kamar di rumah utama. Ia yang awalnya mendapat kamar di paviliun bersama beberapa ART lain, kini diminta tinggal di kamar megah di salah satu ruangan di rumah itu. Gadis itu telah membersihkan diri dan mengambil duduk di tepi ranjang. Saat itu, Liam juga sudah ada di sana. Pria itu masih asyik menyesap tembakau di balkon dan masuk demi menemui Jelita usai melihat gadis itu selesai memakai kamar mandi.
“Jangan harap aku akan memperlakukanmu seperti istriku. Kamu hanya rahim pengganti. Ingat itu!” ucap Liam.
Jelita tak menjawab, ia hanya mengangguk lemah. Gadis itu hendak merebah ketika Liam menahan lengannya.
“Kamu pikir aku mau tidur sama kamu? Tidur saja di lantai,” katanya lagi.
Saat itu, Jelita mendongak. Ia hendak melawan saat Liam dengan kasar menarik lengan gadis itu.
“Aauh,” pekiknya.
Jelita terlempar ke lantai ketika Liam menarik lengannya. Pria itu tersenyum kecil, lalu berjongkok demi bisa kembali menghina sang istri yang baru tadi sore ia nikahi.
“Jangan bangga dengan statusmu yang sekarang. Kamu dari keluarga hina, jadi jangan bermimpi menjadi ratu,” kata Liam lagi.
Saat itu, baru Jelita membuka suara. Ia memang dari keluarga miskin, tapi tidak miskin akhlak seperti Liam.
“Enggak ada yang mau jadi ratu jika rajanya tidak punya akhlak yang benar seperti kamu. Jika bukan karena kemauan Mama, aku juga tidak mau melakukannya,” ucap Jelita.
Liam hampir naik pitam. Pria itu membuang rokok ke lantai dan langsung menarik dagu Jelita dengan gusar. Ia mendekat dan hendak menghina gadis itu lebih kejam lagi. Sialnya, pintu kamar terbuka dari luar dan Bella muncul dalam keadaan mabuk. Wanita itu tersenyum kecil. Ia mengira sang suami hendak mencium Jelita saat itu.
“Bella.”
Liam bangkit dan langsung menemui sang istri yang tampak gusar. Namun, Bella menepis tangannya dan menatapnya dengan nyalang.
“Senang-senang kamu sama istri baru kamu? Iya, Mas?” tanyanya.
“Enggak, Sayang. Astaga, kenapa kamu mabuk begini?”
Liam mencoba menenangkan Bella. Namun, wanita itu terus menepis tangan sang suami dan mendatangi Jelita yang masih terduduk di lantai. Ia berjongkok dan menatap gadis itu dengan penuh kemarahan.
“Senang hamu, hah? Bahagia kamu sudah merebut suamiku? Dasar gadis jalang!”
Bella dengan gusar menarik rambut Jelita dan membenturkan kepala gadis itu ke nakas kecil di sebelah ranjang. Saking kerasnya, Jelita langsung pingsan dan darah mengucur di keningnya. Saat itu, Bella hanya terkekeh, sedangkan Liam mendadak bergetar ketika melihat kening Jelita berdarah dan tak sadarkan diri.
“Astaga, Bella. Apa yang kamu lakukan?”