Liam berdiri di depan Bella dengan napas tertahan. Wajah istrinya tampak pucat, rambutnya tergerai di bantal, tangan menekan pelipis seolah sakit kepala itu bisa runtuh jika ia melepasnya sedetik saja. Namun kali ini, Liam tidak bisa lagi diam. “Bella,” katanya pelan, tapi suaranya bergetar. “Aku harus pergi.” Bella membuka mata perlahan. Tatapannya langsung mengeras. “Pergi ke mana?” tanyanya, datar, tapi ada nada curiga yang terpendam. “Ke rumah sakit,” jawab Liam jujur. “Jelita melahirkan. Anakku sudah lahir.” Bella langsung bangkit setengah duduk, wajahnya berubah kesal. “Kepalaku sakit,” katanya cepat, nada suaranya meninggi. “Kamu lihat aku begini masih bisa ninggalin aku, Liam?” Liam menelan ludah. Ia mendekat, lalu berlutut di sisi ranjang. “Aku tahu kamu lagi nggak enak badan

