Lorong menuju ruang rawat terasa lebih sunyi dibanding sebelumnya. Langkah Jelita pelan saat suster mendorong kursi rodanya kembali ke kamar. Tubuhnya lelah, rahimnya masih berdenyut nyeri, tapi dadanya hangat. Bekas sentuhan kecil yang baru saja ia lepaskan. Putranya sudah tertidur kembali di boks bayi, napasnya teratur, wajahnya bersih dan tenang. Begitu pintu ruang rawat tertutup dan suster pamit, Jelita menghela napas panjang. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba mengumpulkan tenaga. Baru saja ia hendak berbaring, suara ketukan pelan terdengar. Tok. Tok. “Masuk,” ucapnya lirih. Pintu terbuka. Liam berdiri di ambang, ragu, seperti seseorang yang tak yakin masih berhak berada di sana. Wajahnya terlihat kusut, mata sembap, dan sorot bersalah yang tak lagi ia sembunyikan. “Aku … boleh m

