Bab 31. Gencatan Senjata Sementara

1353 Words

Ruang rawat itu terasa hangat oleh cahaya pagi yang masuk dari sela tirai. Udara rumah sakit masih berbau antiseptik. Di lengannya, seorang bayi laki-laki terlelap tenang, napasnya teratur, wajahnya kemerahan dan sempurna. Bayi yang kemarin ia lahirkan. Jelita menunduk, menatap wajah kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan. Campuran haru, takut, bahagia, dan cinta yang datang begitu utuh, begitu mendadak, seolah-olah seluruh dunia berhenti di titik itu. “Sayang,” bisiknya lirih, jari telunjuknya menyentuh pipi lembut sang bayi. “Kita pulang hari ini.” Bayinya menggerak kecil, seolah-olah merespons, lalu kembali terlelap. Jelita tersenyum. Senyum yang benar-benar ia persembahkan untuk kehadiran buah hati yang selama 9 bulan ia kandung. Sampai akhirny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD