Ruang rawat itu terasa hangat oleh cahaya pagi yang masuk dari sela tirai. Udara rumah sakit masih berbau antiseptik. Di lengannya, seorang bayi laki-laki terlelap tenang, napasnya teratur, wajahnya kemerahan dan sempurna. Bayi yang kemarin ia lahirkan. Jelita menunduk, menatap wajah kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan. Campuran haru, takut, bahagia, dan cinta yang datang begitu utuh, begitu mendadak, seolah-olah seluruh dunia berhenti di titik itu. “Sayang,” bisiknya lirih, jari telunjuknya menyentuh pipi lembut sang bayi. “Kita pulang hari ini.” Bayinya menggerak kecil, seolah-olah merespons, lalu kembali terlelap. Jelita tersenyum. Senyum yang benar-benar ia persembahkan untuk kehadiran buah hati yang selama 9 bulan ia kandung. Sampai akhirny

