Malam sudah turun ketika Mahesa pulang lebih awal dari biasanya. Rumah terasa sunyi, hanya lampu ruang keluarga yang menyala temaram. Dari ambang pintu, Mahesa melihat Jelita duduk di dekat jendela, satu tangan memegang berkas hasil pemeriksaan, satu lagi bertumpu di perutnya yang mulai membulat. Mahesa terdiam cukup lama sebelum melangkah masuk. “Belum tidur, Jelita?” Jelita menoleh. Senyumnya muncul pelan, hangat, seperti anak kecil yang ketahuan masih terjaga. “Belum, Pa.” Mahesa duduk di kursi seberangnya. Tatapannya lembut, tapi penuh perhatian. Sejak dulu, Mahesa memang tidak banyak bicara, namun caranya memandang Jelita selalu sama. Seperti seorang ayah yang memastikan anaknya baik-baik saja. “Kamu kelihatan capek,” ujarnya pelan. “Apa kamu sudah makan?” “Sudah,” jawab Jelita

