"Ma, aku titip Jelita, ya." Liam berdiri di depan ibunya, Nyonya Sora, di ruang tamu rumah yang terasa tidak asing bagi Jelita. Dia memegang tas pakaian wanita itu, tampak lelah dan sedikit gentar. Jelita duduk di sofa beludru, tangannya saling menggenggam di pangkuan. “Ma,” kata Liam, suaranya pelan dan tertahan, tidak setegas saat ia mencoba membela Jelita di lorong pagi tadi. “Tolong, Jelita tinggal di sini dulu, ya. Bella … dia benar-benar nggak mau Jelita ada di rumah sekarang.” Sora, wanita yang selalu terlihat elegan dan berwibawa itu, hanya membuang napas panjang. Matanya yang tajam menatap putranya dengan penuh kekecewaan yang sudah terbiasa. “Mama sudah bisa menebaknya,” kata Sora, nadanya datar. “Dia tahu konsekuensi pernikahan ini, ‘kan?” Liam menunduk, lalu mulai bicara.

