Bermain-main

1865 Words
Zian melangkahkan kakinya menuju kelas. Kepalanya beberapa kali menoleh ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya langit masih agak gelap, tidak secerah saat dia baru datang seperti biasanya. Suasana sekolah juga terasa sangat sunyi dengan atmosfer yang begitu dingin. Ya, wajar saja. Jam masih menunjukkan pukul 6 dan ini adalah pertama kalinya Zian datang sepagi ini. Zian teringat pada perkataan Abed beberapa waktu lalu bahwa Alika suka sekali datang pagi ke sekolah. Jadi, agar Zian bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadis yang disukainya itu, dia harus datang pagi. Zian masuk ke kelas. Benar saja. Di sana sudah ada Alika. Tampaknya gadis itu juga baru saja datang karena dia sedang meletakkan tasnya dan baru saja duduk di bangkunya. Zian tampak senang. Rencananya berhasil. “Pagi, Alika.” Alika terkejut karena dia tahu itu bukan suara Rayenda. Gadis itu lalu menoleh ke pintu dan mendapati Zian sedang berjalan ke arahnya. “Pagi, Zian,” balas Alika dengan agak bingung. Zian meletakkan tasnya di mejanya lalu berjalan mendekati Alika dan duduk di sebuah bangku di depan Alika. Laki-laki itu duduk sambil melihat wajah Alika dengan tersenyum. “Kamu makin cantik kalo diliat di jam segini dengan pencahayaan yang agak redup,” puji Zian. “Hah?” Zian tertawa kecil. “Kenapa kamu suka dateng pagi? Seingat aku, di hari-hari pertama bersekolah di sini, kamu nggak sepagi ini datengnya.” Dari perkataan Zian itu, Alika bisa menyimpulkan satu hal bahwa Zian telah memperhatikannya sejak lama. Alika tertawa kecil. Jika dia beritahu alasan sebenarnya dia datang pagi ke sekolah, mungkin Abed dan Zian akan melakukan hal buruk lagi pada Rayenda. “Awalnya pas piket. Aku dateng pagi dan aku sadar suasana pagi di sekolah itu menenangkan banget. Makanya sejak saat itu, aku jadi suka dateng lebih pagi ke sekolah,” jawab Alika. “Oh, gitu.” Zian mengangguk-angguk sambil terus tersenyum kagum menatap Alika. Alika tampak gelisah. Dia merasa tidak nyaman berduaan dengan Zian seperti ini. Dia tahu Zian bukanlah siswa baik. Dia takut Zian akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Alika beberapa kali melihat ke pintu, terus berharap agar Rayenda segera datang. Namun, tumben sekali Rayenda belum juga datang bahkan saat matahari mulai naik semakin tinggi. “Alika, aku suka sama kamu. Pacaran, yuk,” kata Zian dengan entengnya. “Hah?” Alika terperanjat. “Gimana? Mau, kan?” “Ahaha.” Alika tertawa garing. “Temenan aja, Zian.” “Lho. Kenapa emangnya? Alasannya apa? Kamu suka sama cowok lain? Rayenda?” “Hah? Bu--bukan. Aku … em, aku nggak suka sama Rayenda.” “Pagi,” ucap seseorang dan membuat Alika dan Zian kompak menoleh. “Pagi, Ray.” Alika langsung sumringah. Akhirnya orang yang dia tunggu sejak tadi datang juga. Dia bisa bernapas lega sekarang. Zian bangkit dari bangkunya lalu menghampiri Rayenda yang masih di area pintu kelas. “Rayenda.” Zian menepuk bahu kanan Rayenda. “Suruh Alika terima cinta aku.” “Hah?” Rayenda dan Alika kompak. “Cepetan suruh dia terima aku biar kami bisa segera pacaran,” suruh Zian lagi. “Untuk pertama kalinya, aku setuju sama siswa nakal itu, Rayenda. Ayo, Sayang. Lakukan apa yang dia minta,” kata Deinara. Rayenda diam agak lama. Dia lalu melihat Alika. Gadis itu membuat gerakan isyarat dengan menggelengkan kepalanya. Rayenda paham. Tetapi apa tidak apa-apa jika dia menolak secara mentah permintaan Zian? Sekarang, dia harus menyelamatkan Alika atau dirinya sendiri? “Eh, kok diem aja? Ayo, cepetan suruh Alika.” Zian mulai kesal. “Ayo, Sayang.” Deinara juga memihak pada Zian. “Em, ma--maaf, Zian. Aku nggak punya hak untuk suruh Alika kayak gitu,” kata Rayenda dengan takut. Zian dan Deinara kompak terkejut mendengar perkataan Rayenda. Mereka kira, seperti biasa Rayenda akan menuruti perkataan Zian. Di sisi lain, Alika tampak sangat senang mendengar jawaban Rayenda. Dia merasa tidak salah telah menjatuhkan hatinya pada laki-laki itu. “Oh, udah berani ya kamu nolak perkataan aku, hah?” Zian menarik kerah baju Rayenda. “Ma--maaf, Zian. Aku nggak bisa ikut campur soal itu,” kata Rayenda. “Argh!” jerit Rayenda setelah Zian melayangkan sebuah pukulan di pipi kiri Rayenda. Plak! Tanpa ragu Alika menampar pipi kiri Zian hingga meninggalkan rasa yang teramat perih di sana. “Alika, kamu sampe nampar aku cuma demi Rayenda?” Zian seakan tak percaya. “Dan kamu sampe mukul Rayenda cuma karna dia nggak mau turutin perkataan kamu? Rayenda bener, kan? Dia emang nggak punya hak untuk ikut campur. Emangnya kamu mau aku pacaran sama kamu karna terpaksa?” “Iya, Alika. Aku nggak peduli itu tulus atau terpaksa. Yang penting kamu jadi pacar aku.” Alika tertawa sinis. “Harusnya kamu tau apa yang buat aku nggak mau pacaran sama kamu.” Alika menarik tangan Rayenda lalu membawanya keluar dari kelas. Dia tahu tidak akan baik-baik saja membiarkan Rayenda dan Zian berada dalam satu ruangan yang sama di saat situasinya sedang seperti ini. Rayenda juga menurut saja. Memangnya apa lagi yang harus dia lakukan? Dia sendiri juga takut jika masih harus berhadapan dengan Zian. “Argh! Gadis genit itu semakin menyebalkan!” kesal Deinara. Deinara masih berada di dalam kelas bersama Zian. Hantu itu melihat ke luar, arah yang baru saja dilewati oleh Rayenda dan Alika. Entah ke mana Alika membawa pergi Rayenda. Deinara lalu tersenyum tipis. “Mungkin aku perlu sedikit bermain-main dengan gadis genit itu.” … Sore itu, Rayenda berdiri di balkon kamarnya sambil menatap langit yang sedang menangis. Angin bertiup semakin kencang. Tirai-tirai jendela beterbangan. Suasana saat ini sangat menenangkan. Tidak heran mengapa tidak sedikit orang yang memilih untuk tidur. “Lihat, Sayang. Bahkan langit pun tidak mengizinkanmu untuk pergi ke rumah gadis genit itu,” kata Deinara yang kepalanya bersandar di bahu kiri Rayenda. Ya, Rayenda tidak lupa bahwa mamanya memintanya untuk mengunjungi rumah Alika sore ini. Rayenda sebenarnya senang karena hujan turun di saat yang tepat. Jadi, dia tidak perlu merasa gugup karena ini akan menjadi yang pertama kalinya dia datang ke rumah seorang gadis. Namun, Rayenda juga tidak sepenuhnya senang. Sekarang dia menjadi merasa tidak enak pada Alika. Harapnya, semoga gadis itu bisa memaklumi mengapa Rayenda belum juga datang. Yang terpenting, semoga gadis itu tidak menunggu kedatangan Rayenda. “Huffttt ….” Rayenda menghela napasnya. “Hey-hey. Apa maksudnya itu, Sayang? Kenapa kau menghela napas sepanjang itu? Di sini bahkan tidak kekurangan udara. Jangan bilang bahwa sebenarnya kau ingin ke rumah gadis genit itu.” “Bukannya gitu, Deinara. Aku ngerasa nggak enak aja. Aku udah janji akan dateng ke rumahnya sore ini.” “Dia gadis baik, kan? Harusnya dia paham kenapa kau tidak bisa datang. Aku rasa tidak mungkin jika di tempat tinggalnya tidak hujan sekarang.” “Ya, semoga aja.” … Malam itu, Rayenda terbangun dari tidurnya karena merasa ingin buang air kecil. Dia bergegas ke kamar mandi hingga tidak menyadari ada sesuatu yang aneh di kamarnya. Sekitar 5 menit kemudian, Rayenda kembali ke kamarnya. Dia lalu melihat jam yang menempel di dinding, hanya sekadar penasaran di jam berapa dia terbangun. Pukul 00.48. Larut sekali. Setelah melihat jam, bukannya kembali tidur, Rayenda malah menatap bingung ke pojok kiri kamarnya. “Lho.” Rayenda agak kaget. Rayenda kembali bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan mengitari kamarnya. “Deinara?” panggil Rayenda. Beberapa kali Rayenda menyebut nama hantunya itu, tetapi tetap tidak ada jawaban. Alis Rayenda merapat. “Ke mana Deinara di jam segini? Tumben juga sih aku kebangun jam segini. Mungkin jam segini dia emang selalu nggak ada di pojok kamar. Tapi, kalo nggak di pojok kamar, dia ke mana? Hoaammm …. Ya, udahlah. Besok juga paling hantu itu balik lagi. Nanti tinggal aku tanya aja ke dia.” Rayenda kembali ke tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya dan tak butuh waktu lama, dia kembali terlelap. … Pagi itu, hampir semua siswa menatap khawatir pada jam dinding di kelas. Jam sudah menunjukkan pukul 07.45, tetapi sebuah bangku yang biasanya sudah terisi masih kosong. Teng … teng … teng …. “Heh, gimana ni?” tanya seorang siswa dengan panik karena penghuni bangku yang sejak tadi mereka perhatikan tak kunjung datang. “Aku takut,” kata siswi yang lain. “Kejadian ini sama dengan kasusnya Vero waktu itu.” “Ken!” panggil seorang siswa pada ketua kelas. “Kamu yakin keluarganya nggak ngirim surat sakit, izin atau sebagainya?” Ken mengangguk yakin. “Jangankan surat. Ngechat aku untuk minta izin pun nggak ada.” “Gimana ni?” Seorang siswa menoleh dengan takut ke jendela. Semoga saja tidak ada lagi kejadian siswa bunuh diri dengan melompat dari atap sekolah. “Selamat pagi, anak-anak,” ucap seorang guru dengan beberapa buku di tangannya. Guru itu meletakkan buku-bukunya di atas meja guru lalu membuka buku absen dan mulai melakukan presensi. Nama tiap nama telah dipanggil. “Lho, Bu. Nama Alika kok nggak disebut?” tanya Zian. “Dia sakit,” jawab guru. “Tapi saya nggak terima permintaan izin dari Alika ataupun keluarganya, Bu,” kata Ken. “Iya, Ken. Baru aja Ibu dihubungi sama keluarganya. Sepertinya sakitnya baru diketahui oleh orang tuanya, jadinya baru tadi disampaikan.” “Huft ….” Seluruh siswa akhirnya bisa bernapas lega. … Bel istirahat berbunyi. Deinara yang tadinya berdiri di pojok kiri belakang, kini berjalan sedikit lalu duduk di atas meja Rayenda sambil mengayun-ayunkan kakinya. “Sayang, sekarang tidak ada gadis genit itu yang akan mengganggu kita berdua,” kata Deinara sambil tersenyum. Alis Rayenda merapat. “Ini ulah kamu?” “Maksudmu?” “Deinara, kamu pasti ngerti maksud aku. Apa kamu yang buat Alika sampe nggak masuk sekolah?” Deinara menggeleng. “Aku hanya bermain-main sedikit dengannya. Mana aku tau kalau dia akan sampai tidak masuk sekolah seperti sekarang?” “Bermain-main gimana maksud kamu?” “Ya, bermain-main.” “Jangan bilang kamu nakut-nakutin dia.” “Em, apa itu disebut menakut-nakuti, ya?” Mata Deinara menerawang ke langit-langit kelas. “Deinara, ayo dong bicara yang jelas.” “Woy, Rayenda!” Rayenda spontan menoleh dengan kaget ke sumber suara. Abed. “Ngobrol sama siapa, hah?” “Ehm. Ng--nggak ada.” Rayenda seketika panik. “Bohong tuh dia. Jelas-jelas tadi dia kayak lagi bisik-bisik gitu sama seseorang,” kata Zian. Abed menatap curiga pada Rayenda. Dia lalu berjalan menghampiri Rayenda. Sesampainya di sana, dia menoleh ke kanan, kiri, depan dan belakang. Karena tak menemukan apapun, dia menundukkan kepalanya lalu melihat ke kolong meja dan kursi Rayenda. Namun, tetap saja dia tak menemukan apapun di sana. “Nggak ada apa dan siap pun di sini,” kata Abed. “Hahaha. Sekarang jelas, Bed. Rayenda udah nggak waras,” kata Zian. Deinara melipat kedua tangannya di depan d**a. “Siswa nakal yang sudah dua kali memukulmu ini mulai mengatakan yang tidak benar tentangmu, Rayenda.” Abed merangkul pundak Rayenda. “Daripada kamu makin gak waras karena duduk sendirian di pojok, mending ke kantin dan beliin kami makanan ringan sama minuman.” Rayenda mengangguk pelan lalu bangkit dari bangkunya. Dia menengadahkan tangan kanannya. “U--uangnya, Bed.” “Wah!” Zian mengusap-usap kepala Rayenda hingga membuat rambutnya berantakan. “Berani-beraninya dia minta uang, Bed.” “Pake uang kamu dulu. Tenang, kami orang kaya. Uang kamu nanti bakal kami ganti,” kata Abed. Zian mendorong kepala Rayenda. “Udah cepetan sana!” ~bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD