Titik Terang Kematian Vero

1575 Words
“Ayo, cepat temui Alika. Jangan sampe dia kelamaan nunggu,” kata Mama. Rayenda mengangguk lalu keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Deinara masih di kamar Rayenda. Wajahnya tampak kesal karena lagi-lagi Alika datang ke rumah Rayenda padahal waktu itu Deinara sudah memperingati gadis itu. “Menyebalkan sekali. Bahkan Mamanya Rayenda pun sepertinya menyukai jika Rayenda bersama dengan Alika.” Di ruang tamu, Rayenda dan Alika duduk terpisah di dua sofa yang bersebelahan. Alika lalu tampak sedang mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku. Dia kemudian memberikannya pada Rayenda. “Tadi pas mau pulang sekolah, aku liat buku ini di atas meja kamu. Baru aja mau langsung aku kasih ke kamu, eh kamunya udah pulang duluan,” Alika membuka percakapan. “Oh, iya. Buku catatan aku.” Rayenda mengambil buku itu dari tangan Alika. “Makasih ya, Alika.” Alika mengangguk sambil tersenyum. Deinara lalu datang dan langsung berdiri di sebelah kiri Rayenda. Dia menatap kesal pada Alika. Jika dia membisikkan kata-kata menakutkan lagi pada Alika, Rayenda pasti akan marah. Rayenda dan Alika terdiam beberapa saat. Suasana mendadak terasa sunyi dan dingin. Mereka masih teringat kejadian mengerikan yang baru saja terjadi di sekolah dan menimpa teman kelas mereka. Mereka masih sama-sama syok. Alika menghela napas panjang. “Oh iya, Ray.” Alika mencoba mencairkan suasana. “Barusan aku dapat info. Katanya Vero dipastikan bunuh diri.” Mata Rayenda membesar. Walaupun sebelumnya dia juga sempat menduga bahwa Vero bunuh diri, tetapi tetap saja dia kaget. “Apa yang buat dia bunuh diri?” tanya Rayenda. Alika mengangkat bahunya. “Entahlah, Ray. Baru itu aja yang aku tau. Katanya, sekarang polisi masih melakukan investigasi. Semoga aja besok udah ada info yang jelas dan lengkap mengenai kematian Vero.” Rayenda menghela napas panjang. “Iya, semoga aja.” “Aduh, maaf ya, Alika lama nunggu. Ini minumannya,” kata Mama yang baru saja datang kemudian meletakkan dua gelas minuman di atas meja yang berada di depan Rayenda dan Alika. “Makasih, Tante. Maaf ya udah buat Tante repot.” Alika tersenyum tidak enak. “Ah, gadis genit ini mulai mencoba bersikap imut di depan Mamamu, Rayenda,” kesal Deinara. “Ya ampun, Alika. Sama sekali nggak ngerepotin, kok. Dihabisin ya minumannya. Oh, iya. Alika sering-sering ya main ke sini biar Rayenda ada temennya.” “Huh. Mamamu berkata seperti itu karena tidak tahu bahwa kau sebenarnya sudah memiliki teman terbaik, atau lebih tepatnya teman hidup di sini,” ucap Deinara. “Ray, kamu tau kan di mana rumah Alika?” tanya Mama. “Hah? Em ….” Perasaan Rayenda tidak enak. “I--iya, Ma. Aku tau.” “Nah, kamu juga dong sering-sering main ke rumah Alika. Masa’ iya cewek yang lebih sering ke rumah cowok?” Alis Deinara merapat. “Sayang, sifat menyebalkan gadis genit itu sepertinya sudah menular ke mamamu.” “Hehehe. Nggak apa-apa, Tan. Rumah aku kan jauh. Apalagi juga aku tau kalo Rayenda selalu jalan kaki kalo bepergian,” kata Alika. “Sok pengertian sekali gadis genit itu padamu, Rayenda.” Deinara semakin kesal. Rayenda menghela napas pelan. Deinara yang berada di sebelahnya ini tak henti-hentinya mengomel. “Ah, Alika tenang aja. Kalo pagi Rayenda emang nggak bisa pake kendaraan karna dibawa sama papanya. Tapi kalo sore atau malam bisa, kok. Ray, besok sore kamu ke rumah Alika aja, ya,” suruh Mama. “Hah? Ahaha.” Rayenda tertawa garing. “ I--iya, Ma.” “Sayang, kau tidak benar-benar akan ke rumah gadis genit itu, kan?” tanya Deinara walaupun dia tahu pertanyaannya tidak akan dijawab oleh Rayenda. … Malam itu seperti biasa, setelah belajar Rayenda berdiri di balkon kamarnya bersama Deinara untuk melihat langit yang begitu indah dan menenangkan. Jika beruntung, mereka bisa menikmati indahnya langit yang dihiasi jutaan bintang dan sebuah bulan yang bersinar terang. “Deinara, akan ada kejadian apa besok di sekolah?” tanya Rayenda sambil fokus menatap langit. “Hem? Kenapa kau menanyakan itu padaku? Aku hantu, bukan peramal,” jawab Deinara yang sedang memeluk lengan kiri Rayenda sambil menyadarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. “Kamu kan tau banyak hal.” “Iya, tapi tidak berarti semua hal, terutama sesuatu yang belum terjadi.” Rayenda menghela napas. “Aku takut ke sekolah besok. Aku takut kalo ada kejadian buruk lagi yang terjadi. Bayangin aja, dalam seminggu ini udah ada dua temen aku yang meninggal. Nggak tau kenapa tiba-tiba aku khawatir sama Abed dan Zian.” “Sudah kubilang jangan pikirkan mereka, Sayang. Belum tentu mereka pernah memikirkan apalagi khawatir terhadapmu.” … Pagi itu, Alika baru saja tiba di kelas. Lalu, dilihatnya Rayenda sedang menyapu di barisan kedua dari belakang. “Pagi, Rayenda,” ucap Alika sambil meletakkan tasnya di meja. Rayenda berhenti menyapu lalu menoleh pada Alika. “Pagi, Alika.” Alika berjalan menuju pojok kanan kelas, mengambil sapu, lalu membantu Rayenda membersihkan kelas. “Abed dan Zian minta kamu bersihin kelas lagi, ya?” tanya Alika. “Nggak, Alika. Aku nggak tau mau ngapain sekarang, makanya aku nyapu.” Alika tertawa kecil. “Kamu kalo bosen, yang dilakuin justru bersih-bersih, ya? Itu bagus banget.” “Argh! Lihat, gadis genit itu semakin menjadi-jadi. Tampak sekali dia sedang mencoba memikat hatimu, Rayenda,” kata Deinara. “Oh iya, Ray. Aku udah dapat info lagi soal kematian Vero.” Rayenda kembali berhenti menyapu lalu fokus pada Alika. “Hah? Info apa?” “Saat interogasi, keluarga Vero bilang kalo di rumah, Vero keliatan baik-baik aja. Dia sama sekali nggak nunjukkin gelagat lagi depresi. Tapi ….” “Tapi apa?” Rayenda semakin penasaran. “Tapi fakta mengejutkan justru didapat setelah salah satu siswa di sekolah kita buat pengakuan.” “Hah? Apaan?” “Siswa itu bilang kemarin pagi sebelum kelas dimulai, dia liat Vero pergi ke toilet. Di sana, dia denger Vero teriak-teriak. Bahkan kedengeran kayak mau nangis gitu. Dari teriakannya, kedengerannya Vero lagi ketakutan banget. Habis itu, siswa itu liat Vero keluar dari toilet dengan muka pucat banget. Tatapan matanya juga kosong. Vero jalan pelan banget naik ke tangga yang kemungkinan itu ke atap. Maunya siswa yang jadi saksi mata ini ngikutin Vero karna sikap aneh Vero. Tapi pas itu udah bel masuk.” Rayenda terdiam. Lalu, pelan-pelan kepalanya menoleh ke pojok kiri belakang sambil melihat Deinara. Deinara yang ditatap oleh Rayenda tersenyum saja. “Aku mencintaimu, Rayenda,” ucap Deinara masih dengan senyumannya. “Ray, ada apa? Kok liat ke belakang?” tanya Alika. “Karena ada gadis yang dia cintai di sini.” Malah Deinara yang menjawab pertanyaan Alika. Padahal, percuma saja. Toh juga hanya Rayenda yang bisa mendengarnya. Rayenda kembali melihat pada Alika. “Ehm, nggak apa-apa, Alika. Aku spontan aja liat ke sana. Aku masih penasaran. Kira-kira kenapa Vero sampe teriak-teriak di toilet, terus pas keluar dia tiba-tiba diam.” Alika menghela napas. “Aku juga penasaran soal itu. Itu yang belum diketahui sama pihak polisi.” Ya, wajar saja Alika bisa dikatakan cepat dalam memeproleh informasi. Ayahnya adalah seorang polisi yang bidangnya berkaitan dengan pemecahan kasus. “Em, Alika. Makasih banyak ya karna kamu udah mau bagi informasi itu sama aku,” ucap Rayenda sambil tersenyum kecil. “Sayang, berhentilah terus berterima kasih pada gadis genit itu. Dia melakukan itu hanya demi memikat hatimu,” kata Deinara. Alika ikut tersenyum. “Sama-sama, Ray.” … Siang itu di jam istirahat, Rayenda pergi ke halaman belakang sekolah agar bisa mengobrol dengan Deinara. “Kenapa kau diam saja, Rayenda?” tanya Deinara yang melihat Rayenda yang duduk di sebelah kanannya diam sudah lebih dari 5 menit dengan tatapan agak tajam mengarah ke depan. Rayenda mengubah posisi duduknya dengan menghadap Deinara. Wajah laki-laki itu tampak sangat serius. “Deinara, kemarin pagi di detik-detik sebelum Vero bunuh diri, kamu ke mana? Aku liat, kamu nggak ada di pojok kiri belakang, di sebelah aku.” “Kau mau menuduhku lagi telah membunuh Vero? Sudah kubilang bahwa hantu tidak akan pernah bisa membunuh manusia. Bahkan, aku yang bisa menyentuhmu ini, tetap tidak bisa membunuhmu, Rayenda. Hantu tidak diberi kemampuan seluar bisa itu oleh Tuhan.” “Jawab aja pertanyaan aku, Deinara. Kamu ke mana kemarin pagi?” “Aku bermain-main.” “Bermain-main? Oh, kamu udah mulai bosen ya sama aku?” “Hihihi. Mana mungkin, Sayang. Sampai kapan pun itu tidak akan pernah terjadi.” “Terus, untuk apa kamu bermain-main?” “Refreshing.” “Hah?” “Kenapa, Sayang? Apa hantu tidak boleh refreshing?” “Em, bu--bukannya gitu. Tapi tumben aja aku denger ada hantu yang refreshing.” “Ya, wajar saja. Para manusia memang selalu mengira bahwa yang dilakukan hantu hanya menghuni suatu tempat angker atau menakut-nakuti orang.” Rayenda merapatkan bibirnya. Dia yang awalnya ingin mencari tahu lebih jauh mengenai kematian Vero pada Deinara, tetapi tidak mendapatkan hasil apa pun. “Em, kamu tau apa yang buat Vero teriak-teriak di toilet?” tanya Rayenda. “Karena dia orang jahat, Sayang. Orang jahat akan mendapatkan balasan di mana saja dan balasan itu bisa dilakukan oleh siapa saja yang Tuhan kehendaki. Kalau dia tidak jahat, mungkin sekarang dia masih bersama-sama dengan Abed dan Zian.” Ya, Abed dan Zian! Tiba-tiba Rayenda kembali khawatir pada dua temannya itu. “Terus, Abed dan Zian … apa mereka akan dapat balasan yang sama seperti Vero?” tanya Rayenda. “Dan Jonas. Jangan lupakan Jonas yang sudah lebih dulu pergi karena dia juga orang jahat.” “Jadi, Abed dan Zian ….” “Ya, kemungkinan besar mereka akan segera menyusul Jonas dan Vero.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD