“Ahm. Bu--bukannya gitu, Alika.” Rayenda menjadi merasa bersalah.
“Jangan jelaskan apapun pada gadis itu, Sayang. Biarkan saja dia berpikir bahwa kau memang tidak suka dekat dengannya,” hasut Deinara.
“Terus yang sebenarnya kayak gimana? Kenapa kamu nggak mau liat aku tadi?” tanya Alika.
“Em, itu ….”
“Jangan jelaskan apa-apa, Sayang.” Deinara terus merayu Rayenda.
“Itu ….”
“Itu apa, Ray? Aku nunggu penjelasan kamu. Kalo kamu nggak ngasih penjelasan, berarti kamu emang nggak mau deket-deket sama aku.”
“Ehm, itu … itu karena leher aku sakit. Iya. Leher aku sakit. Ehehe. Tadi malam aku salah posisi tidur.”
“Ah. Kau menyebalkan sekali, Rayenda.” Sekarang giliran Deinara yang cemberut.
“Tapi sekarang kamu bisa noleh ke aku.” Alika masih tak percaya.
“Y--ya itu karena sekarang leher aku udah nggak sakit lagi.”
“Oh, udah sembuh, ya?”
Rayenda mengangguk dengan senyum kaku. Dia harap Alika mau mempercayainya.
Alika tersenyum. “Ah, syukur deh kalo gitu. Aku seneng dengernya.”
“Heh? Kamu seneng kalo leher aku sakit?”
“Ahaha. Rayenda, kamu lucu banget, sih.” Alika mencubit pipi laki-laki di sebelahnya itu.
Deinara yang melihatnya sontak langsung melotot dengan mulut menganga lebar. Dia tidak tahu itu membuat kecantikan di wajahnya berkurang 50%.
“Yang buat aku seneng itu karna kamu nggak benci berada di deket aku, bukannya karna kamu sakit leher.” Alika mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil.
“Oh, ehehe.” Rayenda tertawa canggung.
…
Malam itu di kamar Rayenda. Ini adalah saat yang tepat bagi Deinara untuk menginterogasi lelakinya itu.
Deinara berdiri di pojok kiri kamar sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Sedangkan Rayenda diminta duduk di atas tempat tidur dan tidak boleh bergerak sedikit pun.
“Apa maumu, hah?” tanya Deinara.
“Hah? Em, a--aku mau kamu. Hehehe,” jawab Rayenda.
“Jangan tertawa!”
Wajah Rayenda sontak kembali tegang dan ketakutan.
“Apa tadi katamu? Yang kau mau adalah aku? Omong kosong, Sayang! Kenapa kau tidak mendengar kata-kataku tadi,hah? Kenapa kau mengabaikanku?”
“Ehm, itu ….”
“Belum saatnya kau bicara!”
Rayenda langsung merapatkan kedua bibirnya.
“Sudah kubilang kan tadi bahwa kau fokus saja kepadaku dan jangan pedulikan sedikit pun gadis genit bernama Alika itu. Tapi kau tetap saja tak menurutiku dan menganggapku tidak ada.”
“A--aku nganggap kamu ada kok, Deinara. Tapi kan tetap aja aku harus bersikap nggak liat dan nggak denger kamu di depan orang lain.”
“Tapi harusnya itu tidak berlaku jika yang ada di depanmu adalah Alika. Sekarang gadis genit itu pasti berpikir bahwa kau menyukainya.”
“Ehehe. Terus, memangnya kenapa kalo Alika mikir gitu? Itu nggak akan ngubah perasaan aku ke kamu.”
Deinara luluh seketika. Tapi dia berusaha untuk tetap terlihat galak di situasi ini.
“Andaikan gadis genit itu menyatakan perasaannya padamu, apa yang akan kau katakan?”
“Gampang. Aku cukup bilang kalo aku udah punya cewek lain yang aku suka sejak dulu. Masalah beres, kan?”
Deinara tidak bisa lagi menahan senyum di wajahnya. “Jadi, kau memang benar menyukaiku?”
Rayenda tersenyum lebar. “Tentu saja, Sayang.”
“Ah, Sayangkuuu.”
Deinara berjalan cepat ke arah Rayenda sambil merentangkan tangannya lalu memeluk lelakinya itu.
…
"Eh, Rayenda!"
Rayenda yang sedang duduk anteng di bangku kesayangan pojok kirinya menoleh ke sumber suara. Itu Abed yang memanggil. Dilihatnya Abed, Zian dan Vero sedang duduk bersama mengelilingi meja Abed.
"Sini!" suruh Vero pada Rayenda.
Rayenda bangkit dari bangkunya lalu berjalan menghampiri ketiga temannya itu.
Abed meletakkan sejumlah uang di atas mejanya. "Beliin kami makanan dan minuman di kantin."
"Ma--makanan dan minuman apa?" tanya Rayenda.
"Terserah," jawab Zian.
"Kalo nanti kalian nggak suka makanan dan minuman yang aku bawa gimana?"
Vero beranjak dari bangkunya lalu menunjukkan kepalan tangannya pada Rayenda. "Udah dibilang terserah! Kamu mau aku pukul, hah?"
"Ahm, i--iya aku beliin sekarang." Rayenda berjalan dengan langkah cepat dan gemetar meninggalkan Abed, Zian dan Vero.
...
"Enak sekali ya mereka memintamu melakukan ini-itu," kesal Deinara yang berjalan menuju kantin bersama Rayenda.
"Biarin aja. Mereka masih terpukul sama kepergian Jonas. Jadinya mungkin masih males mau ke sana ke mari," ucap Rayenda.
...
Rayenda tiba di kelas dengan sejumlah makanan dan minuman di tangannya. Dia datang ke meja Abed lalu meletakkan semuanya di atas sana.
Ketiga siswa itu mengambil makanan dan minuman kesukaan mereka masing-masing lalu mulai membuka bungkusnya.
"Pijitin dong, Ray," suruh Zian sambil meluruskan tangan kanannya pada Rayenda.
Rayenda menurutinya kemudian mulai memijitnya.
"Seperti inilah kalau mereka dibiarkan, Rayenda. Mereka menjadi semakin seenaknya padamu," kata Deinara.
Seperti biasa, Rayenda diam saja dan tetap meneruskan aktivitasnya.
...
Bel pulang berbunyi. Rayenda beranjak dari bangkunya, berjalan ke pojok kanan kelas untuk mengambil sapu dan mulai membersihkan kelas seperti biasa.
"Rayenda!" panggil Abed yang berdiri dekat pintu.
Rayenda berhenti menyapu dan menoleh pada Abed. Di sebelah Abed juga ada Zian dan Vero.
Abed melempar kunci mobilnya lalu dengan sigap ditangkap oleh Rayenda karena kunci itu memang mengarah padanya.
"Antar kami pulang," titah Abed.
"Tapi ...." Rayenda tak berhasil menyelesaikan perkataannya.
"Khusus untuk hari ini, kamu nggak perlu bersihin kelas," kata Zian.
"Tapi nanti kalian ...."
"Ck. Cerewet banget, sih! Kami nggak akan pukul kamu karna nggak bersihin kelas. Kan kami yang minta kamu untuk anter kami pulang sekarang." Vero tampak kesal.
"Ehm, i--iya."
Abed, Zian dan Vero mulai melangkah ke luar kelas. Rayenda cepat-cepat meletakkan kembali sapu di pojok kanan, mengambil tasnya lalu mengikuti ketiga temannya itu ke tempat parkir.
...
Setelah mengantar pulang Abed, Zian dan Vero, Rayenda kini tengah berjalan kaki menuju rumahnya, seperti biasa ditemani oleh Deinara.
“Ketiga siswa nakal itu sama sekali tidak mempunyai hati nurani!” kesal Deinara.
“Eh? Kenapa ni? Kok kamu malah marah-marah gitu?” Rayenda bingung.
Deinara menatap heran pada Rayenda. “Kau tidak merasa kesal?”
“Lho. Kenapa aku harus kesel?”
“Astaga, Rayenda. Terbuat dari apa hatimu itu, hah?”
Rayenda hanya mengernyitkan keningnya, bingung ke mana arah pembicaraan Deinara.
“Rayenda, ketiga siswa nakal itu dengan seenaknya memintamu mengantar mereka pulang. Kau tau seberapa jauh jarak rumah mereka dengan rumahmu? Sekarang, kau malah dibiarkan berjalan kaki.”
“Lho. Ya, iya dong aku pulang jalan kaki. Terus mereka harus gimana? Anterin aku pulang? Lho. Ini gimana, sih? Kok aku jadi bingung?”
Deinara menepuk jidatnya. “Sayang, yang seharusnya mereka lakukan adalah memberimu uang untuk naik kendaraan umum ke rumahmu. Bahkan mereka tidak mengucapkan terima kasih tadi. Ah, menyebalkan sekali!”
“Hahaha. Kamu lucu banget kalo lagi marah gitu.”
Alis Deinara merapat. “Bisa-bisanya kau tertawa saat orang lain berbuat jahat padamu.”
“Udahlah, Deinara. Jangan terlalu serius nanggepin sesuatu.”
…
Semenjak Deinara hadir dalam hidup Rayenda, hari-hari Rayenda berjalan dengan sangat cepat. Dia menikmati hampir setiap detik waktunya. Dia yang dulunya tidak pernah sangat dekat dengan seseorang, sekarang justru dia memiliki seseorang yang bahkan tak meninggalkannya saat dia sedang terlelap. Dia selalu memiliki teman bercerita dan berjalan ketika pulang pergi sekolah.
Pagi kembali menyapa. Bel pertanda masuk baru saja berbunyi. Seluruh siswa sudah masuk ke kelas mereka masing-masing. Namun, belum ada yang menyadari bahwa ada satu siswa yang belum menunjukkan batang hidungnya. Semuanya tersadar begitu seorang guru mengabsen.
“Vero Aditya,” ucap sang guru sambil fokus melihat ke buku presensi.
Karena merasa tidak ada jawaban, guru itu mengangkat kepalanya dan melihat pada siswa-siswanya yang sudah duduk rapi di depan matanya.
“Vero Aditya?” ucap guru itu lagi.
Sontak seluruh siswa kompak melihat ke bangku Vero. Bangku itu kosong. Entah ke mana perginya satu teman mereka itu.
“Deinara,” bisik Rayenda dengan mata tetap fokus ke bangku Vero.
“Deinara?” Rayenda menoleh ke sisi kirinya karena tak mendapat jawaban dari Deinara.
Rayenda terkejut ketika tak mendapati Deinara di sana. Tumben sekali. Biasanya Deinara selalu berada di pojok kiri. Ini adalah pertama kalinya hantu itu tak berada di dekat Rayenda.
Bug!
“Aaa …!” teriak beberapa siswi begitu sesuatu jatuh dengan cepat dari atap sekolah ke tanah dan sempat terlihat sepersekian detik melewati jendela kelas.
Guru dan seluruh siswa spontan beranjak dari bangku mereka masing-masing dan berlari ke arah jendela untuk melihat apa yang baru saja jatuh.
“Aaa …!” teriak mereka lagi ketika mendapati seorang siswa telah terkapar di atas tanah dengan darah yang terus mengalir.
“Itu siapa?” tanya seorang siswa karena memang posisinya saat itu kelas mereka berada di lantai dua sehingga siswa yang berada di atas tanah tidak terlihat dengan jelas wajahnya.
“Vero …!” teriak Abed histeris.
“Hah? Vero?” tanya seorang siswa.
Satu sekolah mendadak kacau seketika dan tidak terkendali. Beratus-ratus siswa dan puluhan guru berlari turun ke lapangan untuk melihat jasad siswa yang baru saja jatuh.
“Vero …!” teriak Abed dan Zian begitu tiba di lapangan.
Abed dan Zian berlari ke arah jasad Vero sambil menangis histeris. Beberapa guru pria dengan sigap menangkap tubuh kedua siswa itu agar tidak sampai bersentuhan dengan jasad Vero. Ini juga bertujuan agar proses evakuasi dapat segera dilakukan.
…
Karena kejadian jatuhnya siswa dari atap sekolah hingga merenggut nyawa tersebut membuat para guru memutuskan untuk memulangkan siswa-siswanya lebih awal.
Dalam perjalanan pulang, kaki Rayenda melangkah pelan. Sorot matanya menatap agak kosong ke depan. Untung saja ada Deinara yang selalu mengingatkannya jika ada lubang, kendaraan atau halangan lain yang ada di depan Rayenda.
Rayenda tiba di rumahnya. Dia masuk begitu saja sampai di kamarnya dan lupa memberi salam.
Rayenda langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya masih saja menatap kosong. Dia tidak menyangka akan melihat siswa dengan seragam yang penuh darah seperti tadi. Terlebih lagi itu adalah orang yang dikenalinya.
“Deinara,” panggil Rayenda hampir tak terdengar.
“Iya, Sayang?”
“Gimana bisa ini terjadi sama Vero? Apa yang sebelumnya terjadi sampe dia jatuh dari atap sekolah?”
“Untuk apa kau pikirkan itu, Rayenda? Ingat, dia adalah orang yang tidak pernah sekali pun bersikap baik padamu. Dia adalah orang yang selalu membuatmu harus menjalani hari-hari yang buruk di sekolah.”
“Vero itu temanku, Deinara! Bagaimana pun perlakuannya selama ini, tetap aja dia nggak harus mati dengan cara kayak tadi. Dia bahkan nggak dikasih kesempatan untuk ngubah perilaku buruknya.”
“Kesempatan selalu ada, Rayenda. Tetapi Vero selalu mengabaikan kesempatan itu dan memilih untuk tetap berperilaku buruk. Dia pantas mendapatkan ini.”
Rayenda menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu menatap tajam pada Deinara. “Deinara, jangan bilang kamu adalah penyebab kematian Vero.”
“Hem? Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Kau menuduhku?”
“Waktu itu kamu pernah bilang akan bunuh Abed, Jonas, Zian dan Vero, kan?”
“Iya, aku memang pernah mengatakan itu, dan kau percaya? Tidak, kan? Aku hanya bercanda, Sayang. Kalau pun aku sungguh-sungguh dengan perkataanku saat itu, aku tetap tidak memiliki kemampuan untuk melenyapkan manusia.”
Rayenda menggaruk kepalanya frustasi. Dia masih merasa bahwa Deinara lah penyebab kematian Vero.
“Kamu juga pernah nakut-nakutin Alika bahwa Alika akan mati kalo nggak segera keluar dari rumah aku, kan?”
Deinara mengangguk enteng.
“Deinara, kenapa kamu selalu bawa-bawa kematian tiap kali nggak suka sama seseorang?”
“Karena kami para hantu tahu bahwa ketakutan terbesar manusia adalah kematian. Aku benar, kan? Kau sendiri juga takut pada kematian, kan?”
Rayenda menghela napas panjang. “Deinara, tolong yakinin aku bahwa bukan kamu penyebab kematian Vero.”
Deinara tersenyum. “Rayenda, kau adalah satu-satunya manusia yang bisa kusentuh karena kau telah mengizinkanku masuk ke dalam hidupmu. Sedangkan orang lain, aku tidak bisa menyentuh mereka sedikit pun. Di saat aku tidak bisa menyentuh manusia, lalu bagaimana caraku mendorong tubuh Vero hingga jatuh?”
“Jadi Vero bunuh diri?”
“Iya, itu yang paling masuk akal.”
“Tapi kenapa dia sampe bunuh diri? Sebelumnya dia keliatan baik-baik aja.”
“Terlihat baik-baik saja tidak berarti benar-benar dalam keadaan baik, Rayenda. Di balik senyum seseorang, dia bisa menyimpan berjuta-juta luka.”
Tok … tok … tok ….
Rayenda bangkit dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamar. Di sana sudah berdiri mamanya.
“Ada apa, Ma?” tanya Rayenda.
“Di ruang tamu ada Alika yang nyari kamu,” jawab Mama.
“Ah, gadis genit itu lagi,” kesal Deinara.