Pemakaman

2352 Words
Rayenda cepat-cepat melepas sepasang tangan itu kemudian berlari terbirit-b***t keluar dari kamarnya. “Tolong! Tolong!” “Ada apa, Ray?” tanya Papa yang berlari menghampiri Rayenda karena merasa khawatir. Mama dan ketiga adik Rayenda juga berkumpul di sana. Rayenda tampak sangat berantakan. Rambut dan wajah yang dipenuhi keringat, napas yang terengah-engah dan badannya bergetar hebat. “Kakak kenapa? Kok mukanya pucet gitu?” tanya Rindi. “Kayak habis liat hantu,” celetuk Rama. Rayenda menatap kaget pada Rama sambil menunjuk-nunjuk adiknya itu. “Itu dia …. Itu dia …. A--aku emang habis liat hantu.” “Hah?” Kelima anggota keluarga Rayenda kompak. “Mana ada hantu sih, Ray?” Mama tak percaya. “Ada, Ma. Suer.” Papa dan Mama saling bertatapan dengan bingung. “Rama, malam ini tidur sama Kakak, yuk,” ajak Rayenda. “Ih, nggak mau ah. Di kamar Kakak ada hantunya,” ketus Rama. “Ayo, dong Rama. Kakak takut sendirian.” “Kalo gitu Kak Rayenda aja yang tidur di kamarnya Kak Rama,” usul Ria. “Eh, nggak nggak nggak. Kalo hantunya ngikut gimana? Nggak mau pokoknya.” Rama masih bersikeras. “Hantunya serem ya, Kak?” tanya Rindi. “Kakak nggak tau. Belum sempat liat wajahnya. Baru punggungnya doang.” “Hihihi .… Kau membuat semua orang panik, Rayenda,” ucap sosok yang masih tak terlihat itu. “Siapa itu?!” teriak Rayenda sambil menatap takut ke sekelilingnya. “Dia bicara sama siapa, sih?” tanya Rama pada Rindi. Rindi hanya mengangkat bahunya. “Rayenda, udahlah. Nggak ada hantu di sini. Teriakan kamu sampe ganggu adik-adik kamu belajar, lho,” kata Mama. “Udah-udah. Ayo, sini. Biar Papa anter kamu ke kamar.” Papa menarik tangan Rayenda. “Ta--tapi, Pa ….” Papa menarik tangan Rayenda lalu mereka berdiri di ambang pintu kamar Rayenda. “Liat, nggak ada apa-apa, kan?” Papa berusaha meyakinkan Rayenda. Kepala Rayenda berputar perlahan mengamati seisi kamarnya itu. Bug! “Lho, Papa!” teriak Rayenda ketika papa tiba-tiba keluar dan menutup pintu kamarnya. “Hay, Rayenda. Lama tidak berjumpa.” Kepala Rayenda dengan cepat menoleh ke pojok kiri. Matanya langsung melotot saat mendapati sesosok makhluk halus. “De—De—De—De ….” Rayenda gagap dan tidak berhasil menyelesaikan perkataannya. “Deinara, Rayenda. Jangan bilang kalau kau lupa dengan nama hantu cantik ini.” Sosok itu mendekati Rayenda. Rayenda hanya bisa mematung tanpa berkedip sedikit pun. “Aku akan memelukmu,” kata sosok itu. Rayenda tak menyahut. Masih mematung. “Diam artinya boleh.” Sosok itu langsung memeluk Rayenda dengan sangat erat. “Aaah. Aku sungguh merindukanmu, Rayenda. Senang sekali rasanya bisa kembali bersamamu.” “Ka--kamu beneran Deinara? Hantu pojok kiri itu?” “Hihihi.” Deinara melepas pelukannya. “Tentu saja, Rayenda. Apa ada hantu lain yang secantik, semanis dan semenggemaskan Deinara-mu ini?” Rayenda tiba-tiba memeluk Deinara. “Huaaa! Akhirnya … akhirnya kamu datang lagi. Huhuhu.” Laki-laki itu menangis layaknya anak kecil yang tidak dibelikan permen. “Hihihi. Sudah aku duga kau juga merindukanku, Rayenda.” Deinara ikut memeluk Rayenda. “Tapi ….” Rayenda melepas pelukannya. “Kok kamu bisa balik lagi? Kamu udah nyampe di langit, terus karna kangen sama aku, jadinya kamu kabur gitu?” “Hihihi. Jangan berpikir konyol seperti itu, Rayenda. Sudah kubilang bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri tidak akan diterima langit. Dia punya tempat yang berbeda. Sesuatu yang lebih rendah dari langit.” Rayenda menggaruk punggung lehernya. “Awalnya seluruh tubuhku memang menjadi tembus pandang dan suaraku tak terdengar karena jiwaku sudah tenang. Tapi, tidak lama setelah itu, suaraku perlahan kembali. Anggota tubuhku juga seperti itu.” “Kok bisa? Kan kamu udah tenang.” “Tidak sepenuhnya tenang, Rayenda. Kaulah penyebabnya.” “Heh? Aku?” Rayenda menunjuk dirinya sendiri. “Iya. Aku tidak bisa meninggalkan orang yang aku cintai. Jiwaku menjadi kembali tidak tenang hingga aku kembali menjadi hantu.” “Ahaha. Itu kabar baik.” … Seperti biasa, pagi-pagi sekali saat sekolah masih sepi, Rayenda sudah datang dan langsung membersihkan kelas. “Biarkan aku membantumu membersihkan kelas, Rayenda,” kata Deinara. “Eh, jangan! Kalo ada yang liat gimana?” “Kau lupa bahwa hanya kau yang bisa melihatku?” “Ah, bukan itu maksud aku. Kalo kamu nyapu, orang lain kan liatnya sapunya gerak-gerak sendiri.” “Hihihi. Benar juga. Baiklah, kalau begitu aku melihatmu saja dari pojok kiri seperti yang biasa aku lakukan.” Rayenda kembali melanjutkan kegiatan membersihkan kelas. “Inilah alasan mengapa aku bilang bahwa kau membuatku tidak merasa kesepian,” kata Deinara. “Hah?” Rayenda bingung dan tetap menyapu. “Kau selalu datang pagi dan pulang paling akhir. Itu membuatmu menjadi satu-satunya orang di kelas ini yang paling lama menghabiskan waktu di kelas. Itulah sebabnya aku tidak merasa kesepian.” “Ya, semua alasan mulai dari aku duduk di bangku pojok kiri belakang, datang paling awal dan pulang paling akhir, itu semua karena permintaan Abed.” “Jadi, Abed adalah makscomblang kita.” “Ahaha. Apa-apaan coba.” “Kalau begitu, sebagai tanda terima kasihku, aku akan membiarkan Abed hidup paling lama.” “Hah?” Kali ini Rayenda berhenti menyapu dan melihat pada Deinara. “Maksudnya?” “Astaga, Rayenda,” kata Alika tiba-tiba yang baru datang. Gadis itu cepat-cepat pergi ke mejanya dan meletakkan tasnya di sana, lalu melangkah cepat mengambil sapu di pojok kanan kelas. “Ini kan hari piket aku. Kok kamu lagi yang nyapu?” Alika mulai menyapu. “Hehehe. Nggak apa-apa, Alika. Aku suka lakuin ini,” jawab Rayenda. “Pasti kemarin disuruh sama Abed dan temen-temennya lagi, ya?” Rayenda hanya tersenyum lalu kembali menyapu. Melihat Rayenda dan Alika yang tampak asik mengobrol membuat Deinara kembali merasa cemburu. Dia memanyunkan bibirnya beberapa senti dan menopang dagunya di atas meja Rayenda. … Bel pertanda masuk berbunyi. Seluruh siswa sudah berkumpul di dalam kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing kecuali …. Mata Rayenda fokus pada sebuah bangku kosong di sebelah Abed. Tumben sekali bangku itu kosong. Abed dan sahabat-sahabatnya juga tampak berbeda hari ini. Mereka mendadak menjadi lebih pendiam dari biasanya. Apa ada masalah? “Deinara,” bisik Rayenda agar suaranya tidak sampai terdengar oleh siswa lain. “Iya, Sayang?” “Kamu tau di mana orang yang bangkunya kosong itu?” “Kenapa kau tidak sebut saja namanya?” “Memangnya kamu kenal?” “Tentu saja, Sayang. Aku sangat mengenal semua siswa di kelas ini bahkan lengkap dengan kebiasaannya.” “Ah iya juga. Aku hampir lupa kalo kamu selama ini memperhatikan kami. Jadi, mana Jonas?” “Sebentar lagi kau akan tau.” “Mohon perhatiannya anak-anak,” kata seorang guru yang baru saja masuk. Seluruh siswa langsung diam dan fokus pada wali kelas mereka itu, bersiap mendengar info apa yang akan disampaikan karena seharusnya bukan wali kelas yang mengajar di jam ini. Jika wali kelas masuk di bukan jam pelajarannya, itu artinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan. “Ibu membawa kabar duka.” “Hah?” tanya seorang siswa dengan pelan. “Maksudnya apa?” tanya siswa yang lain, juga dengan suara yang pelan. “Apa ada hubungannya sama keluarganya Jonas, ya?” “Mungkin aja. Dia satu-satunya yang nggak masuk hari ini.” “Diam semua, diam.” Wali kelas mengetuk-ngetuk pelan mejanya. Sontak seluruh siswa kembali diam. Mereka sangat penasaran dengan kabar duka apa yang dibawa oleh wali kelas mereka itu. “Siswa kelas ini, teman kalian, Jonas Hirano, tadi malam mengalami kecelakaan dan dini hari tadi menghembuskan napas terakhirnya.” Seluruh siswa kembali gaduh. Tidak ada satu pun di antara mereka yang menyangka Jonas akan pergi secepat itu. Apalagi, kemarin Jonas masih bersekolah dan bercengkrama dengan mereka seperti biasa. Kepala Abed menoleh pelan ke sisi kanannya, bangku Jonas. Tangan kanannya memegang bangku yang semakin terasa dingin itu. Matanya mulai berkaca-kaca, mengingat bahwa sebelumnya bangku itu selalu terasa hangat karena diduduki oleh Jonas. “Jonas ….” lirih Abed sambil terus menahan dirinya agar tidak sampai menangis. “Sekarang, ayo kita bersama-sama pergi mengantar jenazah Jonas ke tempat peristirahatan terakhirnya. Busnya sudah menunggu di depan,” ucap wali kelas lalu berjalan keluar kelas diikuti oleh seluruh siswa. … Rayenda menjadi siswa yang terakhir yang naik ke bus. Ketika sudah tiba di dalam, seluruh kursi sudah penuh. Berdiri juga sebenarnya tidak apa-apa, pikirnya. “Rayenda!” panggil Alika yang sedang duduk di kursi barisan kedua dari depan. Kepala Rayenda mendongak agak ke atas mencari sumber suara itu. Lalu dilihatnya Alika sedang menoleh ke arahnya sambil melambai. “Ah. Gadis itu lagi, Rayenda,” kesal Deinara. Rayenda berjalan mendekati Alika sambil berpegangan pada kursi-kursi di kanan kirinya. Deinara memanyunkan bibirnya. “Akan lebih bagus jika kau tidak duduk bersama gadis itu, Rayenda.” Rayenda diam saja dan tetap berjalan sampai akhirnya dia tiba disebelah kursi Alika lalu duduk di sana. “Kursi ini udah aku siapin untuk kamu,” kata Alika sambil tersenyum. Rayenda ikut tersenyum. “Terima kasih, Alika. Kamu selalu bantu aku.” Alika tertawa kecil. “Sama-sama, Ray. Aku seneng lakuin itu.” Deinara semakin kesal dibuatnya. Dia lalu berdiri tepat di hadapan Rayenda. Karena merasa terlalu tinggi, hantu itu berjongkok. Kedua tangannya dia letakkan di paha Rayenda. “Hey, Sayang. Arahkan matamu padaku saja,” titah Deinara. Rayenda tersenyum gemas melihat tingkah Deinara yang seperti itu. Dia lalu melakukan apa yang hantunya minta itu. Bus mulai dijalankan dengan kecepatan sedang. Hampir tak ada suara siswa yang terdengar. Semuanya dibalut rasa sedih sepeninggal Jonas yang sangat tiba-tiba. Di kursi barisan keempat, Abed duduk bersama Vero, sedangkan Zian duduk di belakang mereka dengan siswa lain. Zian bangkit dari kursinya lalu memeluk kursi Abed yang berada di depannya. “Bed … kita nggak lengkap sekarang.” “Ck. Diem kamu! Nggak usah letoy gitu,” kata Vero sok kuat padahal sebenarnya dia juga sangat terpukul dengan kepergian Jonas. Di sisi lain, Abed hanya diam saja. Di tempat lain, Alika melihat pemandangan di sisi kirinya melalui jendela. Dia lalu menepuk-nepuk pundak Rayenda sambil terus fokus pada pemandangan itu. “Ray, coba liat,” suruh Alika. “Jangan, Rayenda. Sudah kubilang kau fokus saja melihatku,” suruh Deinara. Rayenda bingung harus menuruti perkataan siapa. Tangannya menggaruk punggung lehernya yang tak gatal sama sekali dengan ekspresi wajah frustasi. Dua gadis di dekatnya ini membuat telinganya panas. “Ray,” panggil Alika karena merasa tak dihiraukan oleh Rayenda. “Iya, Alika?” balas Rayenda tetapi tetap fokus melihat pada Deinara. “Kamu nggak mau liat pemandangannya? Terus, apa yang kamu liat di bawah?” “Hah? Ehehehe. Nggak ada, Alika. Aku suka aja liat ke sini.” Rayenda tampak seperti orang aneh karena terus menatap agak ke bawah seperti itu. Di depannya, Deinara senyam-senyum karena mendengar Rayenda mengatakan ‘suka’ yang dia anggap bahwa itu berarti Rayenda menyukainya. Sekarang giliran Alika yang dibuat kesal karena merasa diabaikan oleh Rayenda. Gadis itu menghela napas berat lalu kembali melihat pemandangan sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. … Di tempat pemakaman, Abed, Zian dan Vero hanya bisa menatap jasad Jonas untuk yang terakhir kalinya sembari mengingat-ingat momen kebersamaan mereka. Jonas adalah orang yang paling bisa diandalkan oleh Abed dibandingkan dengan Zian yang bucin dan penakut, dan Vero yang selalu bersembunyi di balik topeng. “Jonas ….” Akhirnya air mata Zian tumpah juga. Vero juga diam saja. Kali ini dia tidak memarahi Zian karena dia sendiri sedang sibuk berusaha menahan air matanya agar tak sampai jatuh. “Jonas! Jangan tinggalin aku!” teriak Abed tiba-tiba lalu melompat ke liang lahat di mana jasad Jonas baru saja dimasukkan. “Abed!” teriak Zian dan Vero kompak. Suasana menjadi kacau seketika. Ada yang meneriaki aksi Abed, ada yang ikut turun dan memaksa Abed untuk naik, ada juga yang tangisnya semakin menjadi-jadi. “Kenapa harus sekarang sih perginya, Nas?!” Tangis Abed pecah. Alika yang tidak tahan melihat pemandangan menyedihkan itu tanpa sadar menyembunyikan kepalanya di balik bahu Rayenda. Tangannya meremas seragam Rayenda. Tidak lama setelah itu, isakan tangisnya terdengar. Rayenda agak kaget mendengarnya dan spontan kepalanya menengok sedikit ke belakang untuk melihat wajah Alika. “Alika,” ucap Rayenda pelan dengan nada khawatir. “Ah, pemandangan menyebalkan lagi,” keluh Deinara. Karena merasa tidak tahan melihat kemesraan Rayenda dan Alika, Deinara juga memeluk Rayenda. Rayenda agak terkejut dan melihat pada Deinara dengan sorot mata tajam dan alis merapat. Ingin meminta Deinara melepas pelukannya, tetapi ini bukanlah tempat yang tepat untuk berbicara dengan hantu itu. Mau tidak mau, Rayenda harus pasrah berada dalam genggaman dua gadis itu. “Jonas!” teriak Abed begitu dia berhasil dikeluarkan dari liang lahat Jonas. Proses pemakaman kembali dilanjutkan dengan menimbun jasad Jonas dengan tanah. Tak butuh waktu lama, kini waktunya mendoakan Jonas agar jiwanya tenang. Akhirnya, semuanya telah selesai sekarang. “Ayo, anak-anak. Kita kembali ke sekolah sekarang,” ajak wali kelas saat melihat beberapa siswanya tidak langsung menuju bus. … Seluruh siswa beserta wali kelas telah kembali tiba di sekolah. Berhubung bel istirahat baru saja berbunyi, maka mereka diizinkan tidak langsung mengikuti pelajaran. Rayenda berjalan menuju kelas dengan masing-masing di kanan dan kirinya ada Alika dan Deinara. Rayenda sempat menoleh sedikit pada Alika. Gadis itu tampak murung setelah turun dari bus tadi. Kepalanya juga terus menunduk. “Kamu masih keinget sama kejadian di pemakaman tadi, ya?” tanya Rayenda. “Ah, kau ini menyebalkan sekali, Rayenda. Bukannya mengajakku mengobrol, tetapi malah lebih mementingkan gadis itu,” umpat Deinara. “Bukan karna itu, Ray,” jawab Alika. “Hah? Terus karna apa kamu jadi murung dan keliatan sedih gini?” “Bagus sekali kau, Rayenda. Mentang-mentang kita tidak sedang berdua, seenaknya kau mengabaikanku dan mengobrol mesra dengan gadis itu.” Kekesalan Deinara semakin menjadi-jadi. “Karna kamu, Ray,” jawab Alika. “Lho. Aku? Kok aku?” tanya Rayenda. “Bagus. Abaikan saja terus aku.” Mata Deinara memerah tanpa Rayenda tahu. “Aku ngerasa kamu nggak suka ada di deket aku,” kata Alika. “Hah? Kok kamu ngerasa gitu?” Alika berhenti berjalan dan menatap Rayenda. “Selama di bus tadi, nggak sedetik pun kamu mau liat ke arah aku.” “Hihihi. Itu karena Rayenda lebih menyukaiku,” kata Deinara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD