Kehilangan Deinara

1860 Words
Wajah cantik Deinara kini tidak sepenuhnya terlihat. Sisi kiri wajahnya lebih dulu menghilang. "Ba--bagaimana cara ngembaliin bagian tubuh kamu yang hilang?" Rayenda semakin panik. "Rayenda, tenanglah. Ini sudah saatnya." Deinara tampak tenang dengan senyum yang meneduhkan. "Tapi Deinara ...." "Selamat tinggal, Rayenda." Bahkan suara Deinara pun mulai sulit untuk didengar dengan jelas. "Deinara tunggu ...." "Rayenda, aku mencintaimu." Rayenda menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya terus mencoba menyentuh tubuh Deinara yang tinggal menyisakan sisi kanan wajahnya itu, tetapi tidak bisa. "Deinara, aku ...." Akhirnya tidak ada lagi satu bagian pun dari tubuh Deinara yang bisa dilihat dan tidak ada sedikit saja suara Deinara yang bisa didengar oleh Rayenda. "Deinara, aku mencintaimu!" teriak Rayenda. Percuma. Semuanya sudah berakhir sekarang. Deinara tidak lagi bisa mendengar pengakuan Rayenda. Rayenda juga tak lagi bisa melihat Deinara. Rayenda terkulai lemas di atas aspal yang hangat itu. Jalanan tampak sepi. Angin berembus kencang lagi hingga menerbangkan daun-daun kering dan menimpa Rayenda. "Aku juga cinta sama kamu, Deinara! Kenapa aku harus ngulang kesalahan kamu dengan nggak berani ngungkapin perasaan aku saat orang yang aku cintai masih ada?!" … Rayenda kembali ke rumahnya seorang diri. “Ada apa, Kak Rayenda?” tanya Ria yang menyadari kakaknya itu tampak murung. “Nggak apa-apa.” Rayenda melewati Ria begitu saja lalu pergi ke kamarnya. Di dalam kamar, Rayenda duduk tak bersemangat di atas tempat tidurnya. Matanya terus tertuju ke pojok kiri kamarnya, tempat Deinara biasanya duduk sambil menatapnya dengan tersenyum. “Aku pasti bisa lupain kamu, Deinara. Hanya saja, itu memang perlu waktu.” Rayenda berbicara sendiri. … Keesokan paginya di sekolah, Rayenda baru saja tiba dan masuk ke kelasnya. Di sana sudah lebih dulu Alika datang. “Pagi, Rayenda,” ucap Alika begitu melihat Rayenda. “Pagi, Alika.” Rayenda masih tampak tidak bersemangat lalu meletakkan tasnya di atas meja sebelum akhirnya dia duduk di atas bangku. Alika berjalan dan berhenti tepat di sebelah meja Rayenda. “Kamu ke mana aja kemarin? Aku tunggu di perpus tapi kamu nggak datang-datang. Bahkan kamu nggak muncul sampe kelas berakhir.” “Maaf, Alika. Kemarin ada masalah.” “Hah? Masalah apa?” Rayenda hanya diam. “Em, nggak mau ceritanya, ya.” Alika melebarkan senyumannya. “Oh iya, Ray. Tugas bahasa Inggris kita masih belum selesai, kan? Yuk, buat sekarang.” Rayenda mengangguk lalu mengambil buku dan pulpen dari dalam tasnya. Hampir 15 menit berlalu, Abed, Jonas, Zian dan Vero datang. Untunglah tugas sudah selesai dibuat oleh Rayenda dan Alika. “Haduh-haduh. Mesra-mesraan lagi. Pacaran ya kalian?” tanya Jonas. “Belum,” jawab Alika. “Eh? Belum? Berarti ada rencana ke sana, dong.” Zian kaget. “Eh, Rayenda. Itu si Alika kamu guna-guna gimana? Bisa-bisanya dia mau deket dan bilang ‘belum’ pas ditanya pacaran sama kamu atau nggak,” kata Vero. “Nggak diguna-guna, Ver. Kan Rayenda pinter. Ya nggak salah dong kalo kepintarannya dimanfaatin dikit,” kata Abed. Alika memasukkan buku dan pulpennya ke kolong meja Rayenda. Gadis itu lalu bangkit dari bangkunya kemudian menarik tangan Rayenda. “Yuk ke kantin, Ray,” ajak Alika. Rayenda menurut saja. “Eh, Rayenda! Kamu dipanggil sama wali kelas karna waktu itu nggak datang ke ruangannya!” teriak Zian. Rayenda diam saja. Bukannya karena dia tahu Zian berpura-pura, melainkan karena dia terlalu sibuk memikirkan Deinara hingga tidak mendengar perkataan Zian. Akhirnya, Rayenda dan Alika enyah dari hadapan keempat siswa nakal itu. “Bed, gimana ni? Tolong aku,” pinta Zian. “Hah? Tolong apaan?” Abed bingung. “Aku suka sama Alika. Aku nggak mau gebetan aku direbut sama Rayenda. Nggak ikhlas aku.” “Heh? Kamu suka sama Alika?” Vero tak menyangka. “Ahaha. Nggak nyangka ada cinta segitiga di sini,” kata Jonas. Abed tersenyum licik. “Ini akan jadi makin seru.” … Rayenda dan Alika tiba di kantin. Kepala mereka kompak menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari meja yang pas. “Alika,” panggil Rayenda. Alika menoleh pada laki-laki itu. “Iya, Ray?” “Kita duduk di sana aja.” Rayenda menunjuk sebuah meja di pojok kiri. “Oh, oke. Kamu duluan aja ke sana. Aku mau pesen makanan sama minumannya. Kamu mau aku pesenin apa?” “Terserah kamu aja.” “Terserah? Em, oke-oke.” Lalu, Rayenda pergi ke meja di pojok kiri, sedangkan Alika pergi ke salah satu kantin yang paling dekat dengan meja pilihan mereka. Ketika Rayenda baru saja duduk, dia mulai melamun lagi. Matanya menatap kosong ke meja di depannya itu. Ya, segala sesuatu yang berhubungan dengan pojok kiri selalu mengingatkannya pada Deinara. “Ini pesanannya ya adik-adik cantik dan ganteng,” kata ibu kantin sambil meletakkan beberapa hidangan di atas meja Rayenda. Rayenda agak terkejut. Dia lebih terkejut lagi ketika melihat Alika sudah duduk di depannya. “K--kok cepet?” tanya Rayenda. “Cepet? Hampir 5 menit itu cepet?” Alika balik bertanya. Ketika selesai meletakkan semua hidangannya di atas meja, ibu kantin pergi. “Makasih, Bu,” ucap Alika sambil tersenyum. “Hampir 5 menit?” tanya Rayenda. “Iya, Ray. Kamu pasti nggak ngeh ya kalo udah duduk selama itu?” “Ah, iya juga.” Alika mendekatkan kursinya pada Rayenda. “Masalah kamu sebesar itu ya, Ray?” “Hah? Em, hehe.” “Masih nggak mau cerita juga.” Rayenda melihat makanan dan minuman yang ada di depannya. Dia jadi bingung mana makanan dan minuman miliknya, dan mana milik Alika. “Banyak banget. Punya aku yang mana?” tanya Rayenda. “Punya kamu yang ini, ini, ini dan ini.” “Kok banyak?” “Tadi katanya terserah.” Rayenda menghela napas panjang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. “Yap, akhirnya kamu tersenyum, Ray.” Rayenda tersentak. Jadi, sejak tadi Alika berusaha membuatnya tersenyum? Peduli sekali gadis itu padanya. … “Yang kemarin bolos, sini maju ke depan,” kata seorang guru yang baru saja masuk ke kelas itu. Semua pasang mata di kelas tertuju pada siswa yang sedang melamun di bangku pojok kiri belakang. “Woy, Rayenda! Disuruh ke depan tu sama Bu Guru!” teriak Abed. Rayenda tersadar. Dia melihat sekelilingnya sedikit baru akhirnya dengan berat hati dan dibalut rasa malu, beranjak dari bangkunya dan berjalan ke depan kelas. “Benar kan kemarin kamu bolos?” tanya Guru. “Benar, Bu,” jawab Rayenda agak pelan dengan kepala tertunduk. “Berdiri terus di sini sampai kelas berakhir.” “Baik, Bu.” Guru memulai pembelajaran hari itu dengan menyampaikan materi sembari meminta para siswa mencatat hal-hal yang penting. Mata Rayenda lalu tertuju ke bangkunya. Di sana, dia ingat bahwa Deinara selalu berdiri sambil memperhatikan dirinya, atau kadang juga memperhatikan langit biru. “Kapan aku bisa liat kamu ada di pojok kiri belakang lagi, Deinara?” batin Rayenda. … Para siswa kompak memasukkan alat tulis mereka ke tas begitu bel pulang berbunyi. “Rayenda,” panggil Alika yang kini sudah berdiri di sebelah meja Rayenda dengan tas menggantung di bahunya. “Iya?” “Ini buku catatan aku. Kemarin saat kamu bolos dan hari ini saat kamu dihukum, ada lumayan banyak catatan. Kamu bisa liat catatan aku dan salin ke buku catatan kamu. Boleh dikembaliin kapan aja.” Rayenda tersenyum. “Makasih ya, Alika.” Alika mengangguk senang. “Aku pulang duluan, ya. Di rumah lagi ada kerabat yang berkunjung soalnya.” Kali ini Rayenda yang mengangguk kemudian Alika pergi dengan meninggalkan buku catatannya di meja Rayenda. “Ehem.” Sekarang giliran Abed yang mendatangi Rayenda. “Jangan lupa bersihin kelas dulu sebelum pulang.” Rayenda mengangguk pelan sambil memasukkan buku catatan Alika ke tasnya. … Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah 3 sore. Begitu selesai membersihkan kelas, Rayenda mengambil tasnya lalu mulai berjalan menuju pintu untuk segera pulang. “Hey!” Rayenda menoleh ke pojok kiri belakang. Alisnya merapat karena tak menemukan apapun di sana. Jadi, siapa yang membuat suara ‘hey’ tadi? Rayenda memukul-mukul kepalanya. “Ah! Aku dibuat gila waktu pertama kali kenal sama Deinara waktu itu. Sekarang aku dibuat gila juga saat dia ninggalin aku. Menyebalkan!” Rayenda membalikkan badannya dan kembali berjalan menuju pintu kelas. “Tunggu aku!” Lagi, Rayenda melihat ke pojok kiri. Dia diam sejenak. “Haaa!” teriak Rayenda. … Rayenda berhenti di pintu gerbang sekolah dengan napas terengah-engah karena berlari sangat kencang dari kelasnya tadi. Dia memegang kepalanya. “Aku nggak baik-baik aja sekarang. Bahkan aku mulai berhalusinasi dengan mendengar suara Deinara.” … Nget! Rayenda membuka pintu kamarnya lalu melempar tasnya ke atas tempat tidur. Dia lalu berjalan ke balkon kamarnya sambil melihat langit yang mulai mendung. “Deinara, apa kamu udah berhasil mencapai langit?” tanya Rayenda. “Aku mencintaimu, Rayenda.” Sontak Rayenda langsung menoleh ke belakang dengan cepat. Kosong. Tak ada apapun yang aneh kecuali tirai jendela yang mulai berkibar karena angin yang semakin kencang. Rayenda menelan ludahnya. Dia takut sekali jika benar-benar sudah menjadi orang gila sekarang. “Le--lebih baik aku tidur.” Rayenda berjalan sempoyongan ke tempat tidurnya lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Angin yang sepoi-sepoi dan hujan yang mulai turun setetes demi setetes membuat Rayenda terlelap dengan mudah. “Setelah ini aku pasti bisa lupain dia,” ucap Rayenda sebelum kehilangan kesadarannya. … “Rayenda, bangun. Mau sampe kapan kamu tidur?” Kelopak mata Rayenda bergerak mendengar suara itu. Pelan-pelan dia membuka matanya yang terasa masih ingin dipejamkan. “Hoaamm. Jam berapa ini, Ma?” tanya Rayenda begitu samar-samar melihat mama di depannya. “Jam setengah 8 malam. Masih mau diterusin tidurnya?” sindir Mama. Rayenda bangkit dari tidurnya. “Lama banget aku tidur.” Dia mengucak-ngucak matanya. “Makanya itu Mama bangunin kamu.” “Haaa!” teriak Rayenda tiba-tiba. “Ada apa? Ada apa?” Mama sekatika panik sekaligus kaget mendengar teriakan Rayenda. Dengan tangan yang bergetar Rayenda menunjuk pojok kiri kamarnya. Mama lalu ikut menoleh ke sana. “Ada apa, Ray?” Rayenda menoleh bingung pada mama. “Mama nggak liat apa yang ada di pojok kiri sana?” Mama kembali menatap Rayenda dengan alis merapat. “Di sana cuma ada raket kamu. Itu yang buat kamu kaget sampe teriak kayak tadi, hah?” “Bu--bukan, Ma.” Mama menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu selalu aja bertingkah aneh, Ray.” Mama lalu keluar dari kamar Rayenda. Rayenda melirik pintu kamarnya yang baru saja ditutup mama. “Ma … Mama …. Sini, Ma. Temenin aku. Aku takut.” Rayenda kembali melihat ke pojok kiri kamarnya. Di sana tampak ada sesosok makhluk yang sedang duduk melantai membelakangi Rayenda dengan rambut panjang yang menjuntai ke lantai. Lagi, Rayenda menelan ludahnya. Pelan-pelan dia berdiri lalu mulai melangkah mendekati sosok itu. “Aku mencintamu, Rayenda.” “Hah!” Rayenda kaget lagi dan memutuskan untuk mundur beberapa langkah. Nyalinya kembali ciut untuk mendekati sosok itu. Rayenda melirik ke pintu kamarnya lagi, berharap suaranya akan bisa didengar oleh keluarganya. “Mama … Papa … Rama … Ria … Rindi … Sini …. Temenin aku …. Tolong aku huhuhu.” Rayenda kembali melihat ke pojok kiri kamarnya. “Lho.” Rayenda kaget. “Ma--mana penampakan tadi?” “Di sini, Rayenda.” Mata Rayenda melotot. Pelan-pelan kepalanya menoleh ke bawah dan mendapati sepasang tangan sedang melingkar di pinggangnya. “Haaa!” teriaknya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD