Kematian Zian

1672 Words
Rayenda mempercepat larinya begitu melihat gerbang sekolah sudah berada tepat di depannya. Dia terus berlari tak peduli selelah apa dia sekarang. Suhu pagi yang masih sangat dingin tak menghentikan keringat yang terus bercucuran di kulit Rayenda. Begitu tiba di koridor, dengan napas terengah-engah akhirnya dia berhenti sejenak untuk menghirup lebih banyak oksigen. Kulitnya terasa panas dan berdenyut. “Tolong jangan lakuin apapun dulu sebelum aku datang, Deinara,” kata Rayenda dengan napas yang kuat. “Aaa …!” Rayenda langsung menegakkan badannya. Dengan mata membelalak dan jantung berdegup kecang, dia kembali berlari dengan cepat. Suara teriakan itu benar-benar membuatnya semakin takut terlebih lagi suara itu berasal dari kelasnya. Rayenda masuk begitu saja ke kelasnya dan mendapati 2 temannya di sana. Alika yang sedang berdiri membelakangi Rayenda dengan jarak sekitar 5 meter, dan seorang siswa yang sedang tertidur dengan kepala menopang di atas meja. Dengan langkah kaki pelan dan tubuh gemetar, Rayenda mendekati Alika. “I--itu nggak mungkin Zian.” Siswa yang sedang tidur di meja Zian itu sama sekali tak menunjukkan pergerakan bahkan setelah Alika berteriak senyaring tadi. Semakin dekat Rayenda dengan Alika, semakin bergetar tubuhnya. Akhirnya, laki-laki itu berhenti tepat di sebelah Alika. Merasa seseorang sedang berdiri di sebelahnya, Alika langsung menoleh dan mendapati Rayenda di sana. “Rayenda!” Alika histeris dan langsung memeluk Rayenda dengan sangat erat. Entah mengapa suasana terasa dingin dan sunyi bahkan walaupun kelas dipenuhi oleh suara tangis Alika yang begitu memekakkan telinga. Tak butuh waktu lama, Rayenda bisa merasakan dengan jelas seragamnya basah karena air mata temannya itu. Alika terus menangis sambil sesegukan dan tak berani kembali melihat pada siswa yang dia tahu adalah Zian itu. “Zian, Ray.” Tangis Alika semakin menjadi-jadi. Dengan napas tertahan, Rayenda menelan ludahnya sambil melihat jelas pada meja Zian. Di sana Zian seperti sedang tertidur. Mirisnya, dia tidur dengan darah yang terus keluar dari lehernya. Lebih jauh lagi, Rayenda melihat ada sebuah pulpen di dekat kepala Zian. Pulpen yang bagian tajamnya juga dipenuhi darah. “Siapa yang tega bunuh Zian kayak gini, Ray?” Alika masih terus menangis dan tak mau berhenti memeluk Rayenda. “Waktu itu … waktu itu dia bilang nggak bisa bunuh manusia,” kata Rayenda dengan suara yang hampir tak terdengar. Perkataan Rayenda itu sontak berhasil membuat Alika mengangkat kepalanya dan melihat dengan penasaran sekaligus takut pada Rayenda. “Dia siapa, Ray?” Dengan tatapan sendu yang masih fokus pada jasad Zian, Rayenda memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Alika. Tak lama kemudian beberapa siswa dan seorang tukang kebun sekolah datang karena mendengar teriakan dan tangisan histeris dari Alika tadi. “Ada apa ini?” tanya tukang kebun. “Ada apaan, sih?” tanya seorang siswa. Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Rayenda dan Alika, para siswa dan tukang kebun itu berjalan dari pintu kelas ke tempat Rayenda dan Alika berdiri. “Aaa …!” teriak semua siswa kompak ketika melihat Zian lengkap dengan darahnya. Tak ada satu pun di antara mereka yang berani mendekati apalagi menyentuh jasad Zian. Akhirnya seorang siswa berlari keluar untuk memanggil guru. Dengan pelan Rayenda memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat kondisi mengenaskan Zian lebih lama. Tanpa Rayenda sadari, tadi kepalanya tanpa diperintah memilih untuk menoleh ke bangkunya. Tak diduga, rupanya Deinara sejak tadi sudah berdiri di pojok kiri belakang. Dengan ekspresi datar, Deinara melihat Rayenda dalam diam. Beberapa detik setelahnya, hantu itu mulau menunjukkan raut kesalnya. Entah itu adalah sisa-sisa kemarahannya pada Zian, atau karena Alika yang masih tak mau melepaskan pelukannya pada Rayenda. “Deinara, ini bukan ulah kamu, kan?” tanya Rayenda dalam hatinya dan berharap Deinara bisa mendengarnya walaupun dia tahu itu mustahil. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Rayenda utarakan pada Deinara. Tetapi, dia tahu tempatnya sekarang tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Mau tidak mau, dia harus lebih sabar menunggu waktu yang tepat. Pelukan Alika yang semakin erat akhirnya menyadarkan Rayenda bahwa Deinara pasti tidak suka melihat itu. Rayenda lalu melihat pada Alika yang dengan jelas masih tampak sangat ketakutan dan syok. Rasa ingin melepas pelukan Alika tentunya ada karena Rayenda ingin menjaga perasaan Deinara. Tetapi, apakah baik jika Rayenda melakukan itu? Bagaimana nanti dengan perasaan Alika? “Rayenda, Alika,” panggil seseorang. Rayenda sedikit membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggil tadi. Sedangkan Alika, dia tetap menyembunyikan wajahnya di depan d**a Rayenda. “Iya, Pak?” tanya Rayenda pada orang yang memanggil tadi yang ternyata adalah guru. “Pergilah ke UKS.” Rayenda mengangguk sedikit. “Ayo, Alika.” Sambil berjalan keluar kelas, Rayenda menoleh ke pojok kiri belakang. Di sana Deinara masih tampak sama, berdiri diam sambil menatap datar pada Rayenda. “Yang aku lakukan adalah untuk melindungimu, Rayenda. Tetapi, sebagai imbalannya aku harus melihatmu pergi bersamanya.” … Rayenda dan Alika tiba di UKS. Tak lama setelah itu, guru yang tadi meminta mereka ke UKS datang dengan wajah agak panik. “Rayenda, Alika, kalian nggak apa-apa, kan?” tanya guru. Alika tak menjawab. Dia masih saja memeluk Rayenda sambil sesegukan. Rayenda yang sejak awal tak ikut memeluk balik Alika, akhirnya berani melepas pelukan Alika dengan pelan. “Duduk di sini, Alika,” kata Rayenda sambil memegang kedua bahu Alika dan membantunya duduk di atas tempat tidur berkain putih itu. Rayenda berbalik melihat pada gurunya. “Saya baik-baik aja, Pak. Hanya saja, keliatannya Alika masih syok karena kejadian tadi.” Guru itu mengangguk-angguk. “Kalian istirahat saja dulu di sini, ya.” “Em, Pak. Kalo boleh saya mau keluar dari UKS. Ada urusan penting.” “Oh, ya sudah kalo begitu.” “Ray.” Alika menggenggam tangan Rayenda yang baru saja akan pergi. Rayenda menoleh sebentar pada gadis itu. “Di sini aja, ya. Jangan ke mana-mana,” pinta Alika. Rayenda tersenyum kecil lalu dengan lembut dia melepas tangan Alika dari pergelangan tangannya. “Aku harus pergi, Alika.” “Apa urusan kamu sepenting itu?” Rayenda mengangguk. “Jauh lebih penting dari apapun.” Raut wajah Alika perlahan menunjukkan kekecewaan karena merasa dirinya masih kurang penting bagi Rayenda. … Rayenda berjalan menyusuri koridor sekolah. Selama itu, telinganya tak henti-henti mendengar ketakutan para siswa tiap kali melewatinya. “Zian dibunuh, ya?” tanya seorang siswa. “Siapa pembunuhnya?” “Kenapa harus Zian yang dibunuh?” “Apa pembunuh itu emang punya masalah sama Zian? Atau, itu adalah pembunuhan berantai? Siapapun di antara kita bisa aja jadi target selanjutnya.” “Tapi kalian nyadar nggak sih dalam seminggu ini udah ada 3 siswa yang meninggal? Parahnya lagi, ketiga siswa itu dari kelas yang sama.” “Besar kemungkinan target selanjutnya adalah siswa di kelas itu juga.” “Apa jangan-jangan Abed, ya? Secara gitu tiga siswa yang udah meninggal itu semuanya sahabatnya Abed.” “Sekolah ini udah nggak aman sekarang. Apa kita perlu pindah?” “Tanpa kita tau, selama ini pembunuh itu pasti udah ngawasin kita.” Tanpa mempedulikan semua pembicaraan itu, Rayenda terus melangkah maju dengan cepat. Perhatiannya sedikit teralihkan ketika mendengar pengumuman melalui microfon yang berasal dari ruang guru. “Selamat pagi siswa-siswa sekalian. Demi lancarnya proses evakuasi dan investigasi serta demi keamanan kalian, sekali lagi kami para guru mewajibkan kalian untuk pulang ke rumah kalian masing-masing sekarang juga. Ingat, seluruh siswa harus langsung pulang ke rumah. Kepastian apakah besok sekolah masih akan diliburkan atau tidak akan diinfokan lebih lanjut oleh masing-masing wali kelas.” Rayenda tak peduli. Dia tidak harus pulang sekarang. Dengan raut wajah yang semakin serius, dia mempercepat langkah kakinya. Sekitar 5 menit kemudian, Rayenda sudah tiba di atap sekolah. Dia melihat ke sekeliling berharap menemukan Deinara di sana karena saat melewati kelasnya tadi, Deinara sudah tidak berada di pojok kiri belakang. Rayenda diam sejenak, mencoba untuk menimbang-nimbang apakah dia harus mencari Deinara ke tempat lain atau tidak. Akhirnya, dia memutuskan untuk tetap berada di atap sekolah. Rayenda berjalan maju hingga akhirnya kakinya berhenti melangkah ketika dia sudah berdiri tepat di pinggir atap. Matanya menatap sendu ke bawah. Terlihat dengan jelas seluruh siswa berjalan lengkap dengan tas mereka menuju luar gerbang. Rayenda kemudian duduk lalu melihat ke langit. “Hans, menurut kamu, apa Deinara akan datang? Atau, dia nggak akan pernah terlihat lagi setelah kejadian hari ini?” Rayenda menghela napas panjang. Perlahan, kedua ujung bibirnya tertarik hingga menciptakan sebuah senyum. “Aku yakin dia pasti akan datang.” Sudah hampir 10 menit Rayenda duduk seorang diri di atap sekolah. Beberapa kali ponselnya yang berada di saku celana bergetar, tanda ada pesan dan panggilan yang masuk namun tak sedikit pun dihiraukan olehnya. Wajah Rayenda perlahan menjadi serius. “Aku tau kamu di sana.” Rayenda bangkit dari posisi duduknya lalu berdiri kemudian membalikkan badannya. Di depannya tampak Deinara juga sedang berdiri tanpa ekspresi. “Deinara, ada banyak yang ingin aku tanyain ke kamu. Tapi, aku nggak mau egois. Aku tau saat ini perasaan kamu lagi nggak baik-baik aja.” Deinara hanya diam. 1 … 2 … 3 … 4 … 5 …. Deinara masih saja diam. “Biasanya kamu nggak pernah sediam ini setelah liat kedekatan aku dan Alika. Deinara, tadi itu ….” “Aku juga tidak mau egois, Rayenda.” Akhirnya Deinara mengucapkan sesuatu. Alis Rayenda merapat. “Maksud kamu?” “Rayenda, aku tau bahwa kau sudah paham bahwa aku tidak suka kau dekat dengan gadis genit itu. Aku tau kau sudah berusaha menjaga perasaanku. Andai saja aku adalah manusia, aku pasti sudah marah besar padamu. Tapi, lagi-lagi masalahnya adalah aku ini hantu. Aku paham bahwa kau memang seharusnya lebih memihak pada mereka sesama manusia dibanding aku yang tak terlihat ini, tak peduli sebesar apa kau mencintaiku.” Rayenda diam. Dia menajamkan indera pendengarannya agar tak satu pun perkataan Deinara yang terlewatkan. Deinara tersenyum kecil. “Tapi aku senang. Se’erat dan selama apapun gadis genit itu memelukmu, kau tetap tak mau membalas pelukannya. Kau melakukan itu karena ingin menjaga perasaanku, kan?” “Karena aku mencintaimu, Deinara. Untuk jaga perasaan kamu, aku berencana ngelepas pelukan Alika, tapi ….” “Tapi guru itu sudah lebih dulu datang dan memintamu untuk pergi ke UKS bersama Alika hingga akhirnya kau meninggalkanku walaupun kau tau saat itu perasaanku sedang tidak baik-baik saja.” ~bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD