Bola mata Rayenda perlahan bergerak ke bawah. “Iya. Aku tau pasti itu yang buat perasaan kamu nggak baik-baik aja. Aku juga tau bahwa aku udah lukai perasaan kamu. Aku tau aku salah dan ….”
“Rayenda,” ucap Deinara yang tiba-tiba sudah sangat dekat di depan mata Rayenda. “Aku tidak suka kau menyalahkan dirimu.”
“Kenapa, Deinara? Aku memang salah, kan? Harusnya aku tidak pergi dan meninggalkanmu saat itu.”
“Tidak, Rayenda. Memang itulah yang harus kau lakukan. Awalnya memang aku ingin kau tetap berada di sana bersamaku dan melepas pelukan gadis genit itu. Tapi, setelah kupikir-pikir, kalau kau melakukan seperti yang aku inginkan itu, maka selanjutnya tidak akan baik-baik saja. Sekali lagi, itu karena aku yang tidak terlihat ini.”
“Aku tetap harus minta maaf.”
Deinara langsung memeluk Rayenda. “Ah, akhirnya aku bisa memelukmu. Peluk aku juga, Sayang. Jangan perlakukan aku seperti kau memperlakukan gadis genit itu tadi.”
Rayenda tersenyum lalu tanpa ragu ikut memeluk Deinara. “Aku beruntung karena jadi satu-satunya orang yang bisa nyentuh kamu.”
“Aku juga beruntung karena jadi satu-satunya gadis yang mau kau peluk.”
“Jadi gimana? Kamu udah maafin aku, kan?”
“Berhentilah berbicara tentang maaf atau aku akan membunuhmu.”
Rayenda tersentak. Perkataan Deinara itu kembali mengingatkannya pada pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi ingin dia tanyakan. Dia lalu melepas pelukannya.
“Eh? Ada apa, Sayang?” tanya Deinara yang ikut melepas pelukannya.
“Ada sesuatu … em maksud aku ada banyak yang ingin aku tanyain ke kamu.”
Deinara tersenyum lalu duduk di pinggir atap, tempat Rayenda duduk tadi. “Duduklah sini dan tanyakan semuanya.”
Rayenda duduk di sebelah kanan Deinara. “Tadi pagi kamu nggak ada di kamar aku apa itu karna kamu pergi bermain-main?”
Deinara mengangguk sambil tersenyum.
“Kamu bermain-main sama Zian?”
Deinara mengangguk lagi.
“Jadi … kamu yang udah bunuh Zian?”
Kali ini Deinara menggeleng.
“Deinara, ayo dong bicara jujur. Aku capek terus berusaha yakinin diri aku sendiri bahwa bukan kamu yang bunuh mereka sementara semua buktinya mengarah ke kamu.”
“Bukti?”
Rayenda mengangguk. “Pertama, beberapa saat setelah kamu nggak ada di dekat aku, selalu aja ada orang yang sakit bahkan sampe meninggal. Kedua, beberapa saat sebelum kematian Vero, kamu bilang kamu pergi untuk bermain-main. Ketiga, kamu juga bilang bermain-main sama Alika. Keempat, kamu juga bermain-main sama Zian.”
Deinara tersenyum lagi. “Aku memang bermain-main dengan mereka tetapi aku tidak membunuh mereka. Sudah berulang kali aku jelaskan padamu bahwa hantu tidak bisa membunuh manusia. Gadis genit itu juga sakit bukan karena aku bermain-main dengannya melainkan karena dia saja yang terlalu penakut. Mendengar suara sedikit, angin berembus dan barang-barangnya bergerak sendiri saja sudah setakut seperti orang kesurupan. Hihihi.”
Rayenda menghela napas panjang. “Jangan tertawa saat kita lagi ngobrol tentang hal serius, Deinara.”
Tawa Deinara mendadak berhenti. “Rayenda, dengar ini baik-baik. Ketiga siswa nakal itu meninggal bukan karena aku yang membunuh mereka, melainkan karena iman mereka yang lemah.”
“Hah? Tunggu-tunggu.” Rayenda berpikir serius. “Apa tadi kata kamu? Ketiga siswa nakal? Tiga orang itu maksud kamu Vero, Zian dan ….”
“Jonas,” kata Deinara.
“Ja--jadi kamu juga bermain-main sama Jonas?”
Deinara mengangguk.
“Terus, maksud kamu bahwa iman mereka nggak kuat itu gimana?”
“Jika iman mereka kuat, mau separah bagaimana pun aku bermain-main dengan mereka, mereka tidak akan sampai mati.”
Alis Rayenda merapat bahkan hampir saling bertaut. Dia menggaruk kepalanya dengan frustasi. “Deinara bicara yang jelas, dong. Aku nggak ngerti sama omongan kamu.”
“Bicara yang jelas? Tidak mengerti? Aku juga tidak mengerti mengapa kau selalu saja tidak mengerti.”
Rayenda menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Dia harap cara ini akan mampu membuatnya berpikir dengan lebih tenang hingga akhirnya bisa mengerti semua perkataan membingungkan Deinara.
“Oke. Jadi, gimana cara kamu bermain-main sama mereka bertiga. Jonas dulu.”
“Malam itu dia mengendarai motornya sendirian. Jadi, aku duduk di belakangnya dan bernyanyi sambil tertawa. Hihihi.”
“Setelah itu?”
“Setelah itu dia melihat ke kaca spionnya dan pastinya tidak bisa melihatku. Dia memegang punggung lehernya, mungkin karena aku meniupnya hihihi. Aku bernyanyi dan tertawa lagi sampai buat dia ketakutan.”
“Setelah itu dia kecelakaan dan akhirnya meninggal?”
Deinara mengangguk enteng. “Kalau saja waktu itu dia berdoa, mungkin akhirnya akan berbeda.”
“Deinara, jadi … jadi kamu ….” Rayenda berusaha menahan anggapan-anggapan buruknya dulu. “Gimana sama Vero?”
“Waktu itu aku mengikutinya ke toilet. Di dalam sana seperti biasa, aku bernyanyi sambil tertawa. Aku juga memainkan air dan beberapa kali berteriak di telinganya. Entahlah, mungkin saat itu suaraku terlalu nyaring untuk dia dengar.”
“I--itu yang buat dia teriak-teriak kayak lagi ketakutan?”
“Dia memang ketakutan. Sangat ketakutan. Padahal aku hanya ingin bermain-main dengannya tetapi dia terlalu serius menanggapainya.”
“Terus dia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.”
“Ya, karena dia ketakutan karena aku.”
“Setelah teriak-teriak di toilet, dia keluar dengan tatapan kosong dan tanpa suara sedikit pun. Tiba-tiba diam. Itu kenapa?”
“Aku hanya membisikkan sedikit kata-kata di telinganya.”
“Apa yang kamu bisikin?”
“Hanya bisikan biasa.”
“Apa itu?”
“Atap sekolah.”
Rayenda terdiam sejenak. Dia ingat waktu itu kabarnya memang setelah dari toilet, Vero naik ke tangga menuju atap sekolah. Jadi, memang benar dugaannya bahwa Deinara terlibat.
“Apa yang terjadi di atap sekolah?” tanya Rayenda lagi. Bagaimana pun caranya, dia harus tahu secara detail apa yang sebenarnya terjadi pada ketiga teman kelasnya.
“Aku membisikkan namamu di telinganya. Setelah itu dia tersenyum sambil mengatakan bahwa kau adalah laki-laki bodoh dan penakut. Aku kesal, Rayenda. Yang dia katakan tentangmu itu berbanding terbalik dengan dirimu yang aku kenal. Jadi aku bisikkan ‘lompat’ ke telinganya.”
Lagi, Rayenda menarik napasnya dalam-dalam. Semarah apapun dia saat ini, dia tidak ingin menyakiti perasaan Deinara lagi.
“Tentang Vero udah selesai, kan?” tanya Rayenda.
Deinara mengangguk enteng.
“Gimana sama Zian?”
“Laki-laki itu, dia yang paling membuatku kesal. Pertama, waktu itu di depan toilet, dia dan 3 sahabatnya memukulmu. Kedua, saat kau tidak menuruti permintaannya, dia memukulmu lagi. Ketiga, dia mendorong kepalamu ketika menyuruhmu pergi ke kantin. Keempat, dia mengotori tempat kita.”
“Deinara, kamu nggak perlu ingat kejahatan seseorang sampe sedetail itu.”
“Tidak bisa, Rayenda. Kejahatannya berhubungan denganmu dan dengan kita. Aku tidak bisa menerima itu.”
“Terus, apa yang kamu lakuin ke Zian? Kejadiannya tadi pagi, kan?”
Deinara mengangguk. “Setelah mengotori tempat duduk kita, dengan perasaan marah aku mendekatinya. Mungkin itu membuatnya merasakan suhu yang meningkat. Dia lalu duduk. Aku berdiri di belakangnya dan mungkin dia merasakan panas di sana.”
“Terus kamu bunuh dia pake pulpennya?”
“Ayolah, Sayang. Sudah kubilang aku tidak bisa membunuh.”
“Jadi kenapa Zian bisa mati dengan pulpen itu?”
“Dengan cara berbisik, aku memintanya mengambil pulpen untuk ditancapkan ke lehernya kemudian semuanya berakhir. Rayenda, hantu tidak bisa membunuh tapi kami bisa mempengaruhi pikiran manusia. Inilah mengapa penting bagi kalian untuk memiliki iman yang kuat agar bisa melawan kami.”
Deinara terdiam sebentar hingga akhirnya sebuah senyum kecut tercipta di wajahnya. “Sebenarnya aku benci mengatakan ini, tapi dia pantas dijadikan contoh.”
“Dia siapa?”
“Gadis genit itu. Malam itu aku juga membisikkan agar dia mengakhiri hidupnya. Tapi lihat, sekarang dia masih baik-baik saja.”
Rayenda terkejut bukan main. Jadi, Alika juga hampir bernasib sama dengan Jonas, Vero dan Zian?
“Deinara, kamu … kamu keterlaluan!” Setelah sejak tadi menahannya, kini Rayenda tak mampu lagi menahan kalimat itu untuk keluar dari mulutnya.
“Aku memang keterlaluan pada gadis genit itu yang padahal dia tidak pernah berbuat jahat padamu. Itu karena kecemburuanku, Rayenda. Di sinilah letak kesalahanku. Percayalah, Rayenda. Saat melihatnya memeluk dan tidak mau melepasmu seperti tadi pagi, aku telah sangat berusaha untuk tidak lagi mengganggu dan bermain-main dengannya. Itu karena aku sadar dia adalah gadis baik.”
Rayenda menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan napas yang cepat, tangannya menarik-narik rambutnya dengan frustasi.
Deinara merasa tidak tega melihat itu hingga tanpa sadar dia mulai menangis. “Maafkan aku. Karena rasa takut akan kehilangan dirimu, aku sampai menjadi sekejam ini pada orang lain. Tapi ingatlah bahwa maaf ini hanya untuk gadis genit itu. Sementara Jonas, Vero dan Zian, mereka memang pantas mendapatkan itu.”
“Aku tetap nggak suka kalo kamu sampe menghasut orang untuk mati, Deinara!”
“Aku melakukan ini untuk melindungimu, Rayenda.”
“Apa aku selemah itu sampe harus dilindungi oleh kamu, hah?!”
Deinara ketakutan melihat Rayenda yang seperti ini. Selama kebersamaannya dengan Rayenda, Deinara tak pernah sekali pun melihat laki-laki itu marah.
“Aku ingin melindungimu bukan karena berpikir bahwa kau itu lemah, Rayenda. Tapi karena aku tidak ingin selalu melihatmu diperlakukan tidak baik oleh mereka.”
“Tapi aku baik-baik aja diperlakukan seperti itu sama mereka, Deinara.”
“Tapi bagaimana denganku yang mencintaimu lebih dari apapun? Rasanya begitu menyakitkan saat mereka memaksamu membersihkan kelas, memukul mejamu, memijiti mereka, menghalangi orang lain untuk dekat denganmu, memintamu membelikan makanan dan minuman untuk mereka, memintamu mengantar mereka dan membiarkanmu pulang dengan berjalan kaki, mendorong kepalamu, memukulmu bahkan sampai darahmu mengalir.”
Tangis Deinara pecah. Lagi-lagi dia menutup wajahnya dengan tangannya karena tidak ingin air mata yang semakin deras mengalir itu dilihat oleh Rayenda.
“Biarlah aku dianggap sebagai hantu yang kejam, asalkan aku bisa memastikanmu baik-baik saja. Aku memang hantu yang menyedihkan, Rayenda. Kalau kau sungguh keberatan dengan sikapku ini, maka berhentilah mencintaiku. Jangan sia-siakan dirimu untuk hantu Deinara ini.”
“Deinara ….”
“Aku tahu tidak mudah bagimu untuk mencintai hantu. Tidak mudah juga bagiku untuk mencintai manusia. Tapi aku harus bagaimana, Rayenda? Hatiku memilihmu. Andai aku bisa memegang kendali perasaanku, aku tidak akan mau menjatuhkan hatiku padamu. Aku terlalu mencintaimu, Rayenda. Cintaku ada di titik di mana jika orang bertanya apa yang aku inginkan, jawabanku hanyalah ‘Rayenda’. Di saat cintaku sudah sedalam ini padamu, apa lagi yang bisa aku lakukan kalau bukan terus mencintaimu?”
Kedua tangan Rayenda masing-masing memegang pipi kanan dan kiri Deinara. “Deinara, lihat aku.”
Deinara menggelengkan kepalanya sambil terus menyembunyikan wajahnya dari Rayenda dengan cara menutupinya dengan tangannya.
“Lihat aku atau kamu nggak akan pernah lagi liat aku.”
Sontak Deinara mengangkat kepalanya dan melihat pada Rayenda. Rayenda agak terkejut melihat wajah Deinara yang sudah sangat sembab itu.
“Deinara, setelah kamu cerita banyak, akhirnya aku tau gimana perasaan kamu. Akhirnya aku tau sesulit apa selama ini kamu mencintai aku.”
“Kau sendiri bagaimana? Dibanding aku, kau lah yang paling jarang memberitahu tentang perasaanmu hingga aku harus menebaknya sendiri.”
Rayenda tersenyum. “Yang penting kamu udah tau kalo kamu adalah gadis yang aku cintai.”
“Tapi aku juga ingin tau sesulit apa kau mencintaiku selama ini.”
“Aku nggak pandai menceritakan bagaimana perasaan aku, Deinara.”
“Ceritakan saja sebisamu, Rayenda. Ceritakan semuanya. Kau tenang saja. Aku pandai memahami perkataanmu.”
“Aku tahu tidak mudah bagimu untuk mencintai hantu. Tidak mudah juga bagiku untuk mencintai manusia. Tapi aku harus bagaimana, Rayenda? Hatiku memilihmu. Andai aku bisa memegang kendali perasaanku, aku tidak akan mau menjatuhkan hatiku padamu. Aku terlalu mencintaimu, Rayenda. Cintaku ada di titik di mana jika orang bertanya apa yang aku inginkan, jawabanku hanyalah ‘Rayenda’. Di saat cintaku sudah sedalam ini padamu, apa lagi yang bisa aku lakukan kalau bukan terus mencintaimu?”
Rayenda tersenyum tipis. “Sebenarnya, mencintai kamu juga nggak gampang. Aku pingin punya hubungan yang normal kayak orang lain. Aku pingin kita jalan dan ketawa bareng tanpa ada yang perlu ngira kalo aku ini orang gila karna diliat ngomong sendiri. Aku sebenarnya nggak suka lama-lama di kamar bahkan sampe harus ngunci pintu. Tapi mau gimana lagi? Cuma itu cara supaya aku bebas ngobrol dan senyum-senyum sendiri liat wajah kamu.”
Tangis Deinara mulai mereda. Rayenda juga tiba-tiba diam, entah dia bingung akan melanjutkan perkataannya seperti apa, atau mungkin memang hanya itu yang ingin dia katakan.
“Lanjutkan, Rayenda. Sejauh ini aku paham.”
“Aku pingin kenalin kamu ke orang tua dan adik-adik aku. Aku pingin kasih tau bahwa Deinara yang cantik dan posesif ini adalah pacar aku. Aku pingin ngobrol sama kamu di tempat umum tanpa harus bisik-bisik. Aku juga nggak suka selalu mengabaikan kamu tiap kali kamu ngomong di sebelah aku karena di depan aku ada manusia lain.”
Deinara menyeka air matanya. “Kenapa kau tidak memberitahu itu sebelumnya?”
“Karena aku ngerasa, aku cukup nyimpan ini sendirian.”
~bersambung