Sebelas

1387 Words
Nathan memperhatikan Rachel yang terlelap di atas ranjang tanpa kata. Setelah tenang, Rachel bilang ingin tidur, dan ternyata tidak butuh waktu lama wanita itu pun terlelap di atas ranjang. “Sebenarnya, apa yang dia alami selama ini? Dia tidak hanya merasa kesepian? Apa dia takut akan sesuatu?” batin Nathan masih berdiri dengan melipat kedua tangannya di d**a. Melihat respon Rachel saat masuk ke dalam kamarnya tadi, seperti ada hal yang mengusiknya dan membuatnya ketakutan. Entah apa itu, tapi itu cukup mengganggunya. “Sebenarnya kenapa? apa yang membuatmu ketakutan setiap saat sampai tidak tidur? Berapa banyak hal yang kamu rahasiakan di belakangku?” batin Nathan hanya bisa menghela napas panjang. Nathan akhirnya menghela napas panjang, lalu berjalan pelan mendekati tempat tidur. Ia menatap wajah Rachel yang terlelap, namun bahkan dalam tidurnya, ekspresi wanita itu tetap tampak gelisah. Nathan duduk di tepi tempat tidur, menatap lekat wajah istrinya. Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Ia tahu ia telah menyakiti Rachel karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan membuat Rachel merasa sangat kesepian. Yang Nathan tahu, Rachel sangat menginginkan seorang anak, tapi setelah melihat rekaman cctv dan sikap Rachel tadi, tidak sesederhana itu yang Rachel alami. Tapi, apakah semua ini hanya karena dirinya? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang bahkan Rachel sendiri takut untuk membicarakannya? Perlahan, Nathan mengulurkan tangan, ingin menyentuh rambut Rachel. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia takut justru akan mengusik tidur Rachel, yang mungkin baru kali ini bisa merasa sedikit tenang. Nathan menghela napas lagi, lalu berdiri. "Aku akan mencari tahu, Hel," gumamnya pelan, hampir seperti janji pada dirinya sendiri. Dengan langkah ringan, Nathan berjalan ke arah pintu, menoleh sekali lagi ke arah Rachel sebelum akhirnya keluar dari kamar, membiarkan wanita itu beristirahat dengan tenang. Pria itu melihat area rumahnya, tidak ada hal yang dia ketahui tentang isi rumah dan seluk beluknya, karena terlalu jarang Nathan berada di rumah. Pria itu pun berjalan ke arah dapur, membuka setiap laci kitchen set, berharap menemukan sesuatu yang mungkin akan jadi petunjuk. Apa yang sebenarnya dialami oleh Rachel, sampai dia terlihat murung. Nathan membuka satu per satu laci dapur, mencari sesuatu—apa pun—yang bisa memberinya petunjuk tentang apa yang terjadi pada Rachel. Namun, yang ia temukan hanya peralatan dapur biasa, tumpukan gelas, dan beberapa bungkus teh yang sudah tersusun rapi. Ia menghela napas, menutup laci terakhir dengan pelan. Apa yang sebenarnya aku harapkan? pikirnya. Rachel bukan tipe orang yang meninggalkan jejak begitu saja. Jika ada sesuatu yang ia sembunyikan, pasti tersimpan rapat entah di mana. Nathan bersandar di meja dapur, menatap kosong ke arah lantai. Rachel begitu berbeda. Dulu, meski ada pertengkaran di antara mereka, Rachel tidak pernah sekaku ini. Tapi sekarang... Nathan meremas rambutnya sendiri, frustrasi. Ia tidak ingin mendesak Rachel, tapi ia juga tidak bisa hanya diam dan menunggu tanpa melakukan apa-apa. Lalu, sesuatu menarik perhatiannya. Di sudut dapur, di dekat lemari kecil, ada satu kotak putih seperti kotak p3k. Itu bukan kotak p3k yang dia kenali, karena rasa penasaran Nathan berjalan mendekati tempat tersebut dan mengambil kotak persegi kecil itu. Pria itu membuka penutup kotak itu hingga melihat beberapa botol di dalam kotak itu. Ada dua jenis botol berbeda, dan masing-masing ada tiga botol. “Obat apa ini?” gumamnya mengeluarkan kedua botol yang berbeda itu dan membacanya dengan serius. Degh! Tubuh Nathan menegang saat melihat tulisan di botol obat itu. Satu botol obat penenang, satu botol obat tidur dan termasuk kategori obat keras. “A-apa ini?” Nathan benar-benar terkejut melihat kedua botol yang baru dia ketahui itu. Nathan menggenggam kedua botol itu erat, seolah berharap tulisan di sana akan berubah. Tapi tidak—itu tetaplah obat penenang dan obat tidur, yang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter. Sejak kapan Rachel mengonsumsi ini? Tangannya bergetar saat menaruh kembali botol-botol itu ke dalam kotak. Seketika, berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya. “Apa Rachel punya masalah kesehatan? Apa dia mengalami sesuatu yang tidak pernah diceritakannya padaku? Kenapa aku sama sekali tidak tahu?” Nathan mengembuskan napas berat, berusaha menenangkan diri. Ini bukan saatnya untuk terbawa emosi. Ia harus tahu alasan di balik semua ini. Tapi satu hal yang pasti—Rachel tidak baik-baik saja. Perlahan, Nathan menutup kotak itu dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Ia tahu, jika langsung mengonfrontasi Rachel sekarang, itu hanya akan membuat wanita itu semakin defensif. “Aku harus cari tahu dengan cara yang benar. Aku harus lebih sabar.” Nathan mengepalkan tangannya. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Rachel terus berjuang sendirian. Ternyata selama ini, dia telah lalay menjadi seorang suami. Nathan benar-benar sudah gagal menjadi seorang suami dan tidak bisa melindungi istrinya. “Nathan?” panggilan itu membuat Nathan membalikkan badannya dan ternyata Rachel sudah bangun dan berdiri tidak jauh darinya. Rachel melihat kotak yang dipegang Nathan. Nathan menatap Rachel dengan tatapan memerah menahan rasa kesal sekaligus rasa kecewanya. “Sejak kapan?” tanya Nathan dan Rachel masih diam di tempatnya tanpa ekspresi. Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa, dia juga tidak menyangka kalau Nathan akan menggeledah rumah. Nathan berjalan mendekati Rachel yang masih berdiri di tempatnya. “Katakan padaku, sejak kapan kamu mengonsumsi obat-obat ini?” tanya Nathan. “Itu-“ Rachel benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. “Sampai kapan kamu akan menyembunyikan ini dariku, Rachel? Sampai kapan kamu tidak menganggapku sebagai suamimu sendiri?” tanya Nathan menatap Rachel dengan intens. “Lima tahun kita sudah menikah, Hel. Lima tahun kita bersama, aku suami kamu!” ucap Nathan menatap Rachel dengan intens. “Aku selalu berpikir kamu baik-baik saja, aku berpikir kamu hanya merasa bosan sendirian di rumah. Aku hanya berpikir kamu butuh anak untuk bisa menemanimu setiap saat. Sesederhana itu pikiranku, dan ternyata apa ini, Hel?” tanya Nathan di sana benar-benar kecewa sekaligus terluka. “Seharusnya kamu beritahu aku, Hel. Aku suami kamu!” Rachel tidak menjawab, tapi air matanya luruh membasahi pipinya, kedua tangannya gemetar dan dia berusaha menautkan kedua tangannya untuk memberikan kekuatan. “Setiap hari aku selalu merenung, apakah aku harus memberitahumu atau tidak. Tapi, aku tidak punya keberanian, karena semua akan baik-baik saja hanya jika aku menahannya. Tapi, semakin ke sini aku semakin tidak bisa mengendalikan diriku, berkali-kali aku memiliki keberanian untuk mengatakannya, kamu selalu sibuk. Kamu selalu pergi bekerja tanpa ada waktu luang untukku. Aku yang selalu mencari waktu yang tepat, tetapi kamu selalu tidak ada saat waktu tepat itu datang,” jawab Rachel. “Setiap saat aku selalu gelisah, aku tidak bisa mengendalikan emosiku, overthingking dan tatapan orang-orang yang seperti ingin mencelakaiku. Aku takut, aku selalu gelisah setiap saat. Dan aku tidak memiliki siapapun yang bisa aku jadikan tempat aman untukku berlindung dari semua rasa takut ini,” ucap Rachel dengan suara terbata di sana. “Hel, aku selalu pulang. Aku selalu usahakan untuk pulang saat mendarat di sini walau hanya satu jam, aku selalu sempatkan pulang dan melihatmu,” ucap Nathan. “Ya, aku tahu. Tapi, aku tidak bisa mengatakannya. Kamu akan pergi lagi untuk menerbangkan pesawat. Di dalam pesawat ada banyak nyawa yang harus kamu jaga, aku tidak ingin menambah bebanmu, aku tidak ingin membuatmu tidak bisa konsentrasi saat bekerja dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan,” isaknya pelan. “Jadi aku pikir, kamu tidak perlu mengetahui apa yang aku alami.” Nathan menghembuskan napasnya kasar. “Lalu, untuk apa kamu menyembunyikan dan menahannya selama ini sendiri? Demi siapa kamu melakukan ini? Untukku yang selalu bekerja? Untukku supaya tidak merasa terbebani?” tanya Nathan. “Bagaimana mungkin aku bisa bahagia dan merasa tenang, mengetahui istriku sendiri menderita, ada banyak luka dan beban yang dia pikul. Menurutmu, sebagai suami, apa yang harus aku lakukan, Hel?” tanya Nathan. Rachel hanya menundukkan kepalanya tanpa menjawab perkataan Nathan di sana. “Rachel... bahkan saat aku melihat rekaman cctv saat kamu ketakutan seorang diri. Hatiku sangat sakit dan hancur, Hel. Kamu pikir, aku akan bahagia dengan melihat apa yang terjadi dengan istriku? Dan kamu langsung menggugat ceraiku, untuk apa? Untuk melarikan diri? Apa dengan kita bercerai, kamu akan bahagia? Apa dengan kita bercerai, kamu akan bisa sembuh?” tanya Nathan dan Rachel hanya menundukkan kepalanya sambil menangis. “Ya Tuhan!” Nathan yang tak sanggup berdiri lagi terduduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya ke dinding. “Aku benar-benar suami yang tidak berguna. Aku... sangat tidak layak jadi seorang suami! Hikz... “ Untuk pertama kalinya, Rachel melihat Nathan menangis tersedu-sedu seperti itu. “Bahkan istriku sendiri, tidak mempercayaiku sedikitpun. Hikz...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD