“Kamu sudah siap?” tanya Nathan menatap Rachel yang sudah bersiap dan terlihat lebih segar dibanding sebelumnya.
“Ya, aku sudah siap,” jawab Rachel.
“Hel, kita pulang ke rumah kita, ya?” ajak Nathan dan Rachel masih diam di sana.
“Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian,” tambah Nathan seakan ingin meyakinkan Rachel. “Kumohon, pulang bersamaku ke rumah kita.”
Rachel merasa tidak punya pilihan lain, dia pun lelah berdebat dengan Nathan akhir-akhir ini. Pria itu terus saja memaksanya, sampai Rachel tidak bisa mengatakan apapun.
“Ya, baiklah,” jawab Rachel akhirnya. Saat itu pun, seulas senyuman terbit di bibir Nathan.
“Kalian sudah siap?” tanya Laela yang kembali masuk ke dalam ruangan Rachel.
“Sudah, Tante.” Nathan yang menjawab di sana.
“Baiklah, Tante bawa tasnya,” ucap Laela pergi lebih dulu.
Nathan mengulurkan tangannya ke arah Rachel. “Mau aku gendong?” tawarnya menggoda istrinya.
“Aku bisa berjalan,” jawab Rachel dengan cepat walau dia tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Baiklah. Pegang tanganku,” ucap Nathan dan Rachel pun menyambut uluran tangan suaminya.
Nathan memapah Rachel meninggalkan ruangan itu dengan langkah pelan.
“Pelan-pelan saja, kalau masih terasa pusing bilang. Aku bisa menggendongmu,” ucap Nathan.
Rachel menghela napas pelan, menahan senyum kecil yang hampir muncul di bibirnya. “Aku baik-baik saja, Nathan.”
Namun, pria itu tetap berjalan di sisinya dengan penuh perhatian, sesekali meliriknya untuk memastikan ia benar-benar baik.
Begitu mereka keluar dari rumah sakit, udara segar langsung menyambut. Rachel menarik napas dalam, merasa sedikit lebih lega setelah berhari-hari berada di ruangan rumah sakit yang terasa menyesakkan.
Laela sudah lebih dulu memasukkan barang-barang Rachel ke dalam mobil. Ia menatap keduanya dengan senyum samar. “Tante pulang dulu, ya. Jaga diri baik-baik, Hel.”
Rachel mengangguk. “Terima kasih, Tante.”
Laela menatap Nathan sesaat sebelum berucap, “Nathan, jangan buat Rachel kecewa lagi.”
Nathan menatap ibu mertuanya dengan serius dan mengangguk. “Aku janji, Tante.”
Setelah Laela pergi, Nathan membukakan pintu mobil untuk Rachel. “Ayo masuk.”
Rachel menurut, duduk di kursi penumpang dengan perasaan campur aduk.
Rumah. Apakah tempat itu masih bisa ia sebut rumah?
Nathan masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Sebelum mulai melajukan mobil, ia menoleh ke arah Rachel. “Kita pulang, Hel.”
Rachel hanya terdiam, menatap ke luar jendela.
Pulang.
Tapi apakah hatinya juga sudah siap untuk pulang?
“Rachel... “ panggil Nathan sambil menggenggam tangan Rachel di sana.
Wanita itu menoleh ke arah Nathan dan tersenyum kecil. “Jangan memendam apa pun sendiri. Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan padaku,” ucap Nathan tersenyum manis. “Oh, jangan lupa sabuk pengamannya, kebiasaan kamu melupakannya.”
Nathan memasangkan sabuk pengaman Rachel di sana dan wanita itu hanya menatap Nathan tanpa mengatakan apa pun. Entah kenapa, Rachel merasa Nathan berubah. Pria itu tidak bersikap seperti biasanya, entah dia seperti ini hanya untuk membuat Rachel luluh lagi, atau karena alasan lain?
Rachel tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin waspada. Nathan yang ia kenal dulu tidak seperti ini—tidak setenang, sesabar, dan setulus ini. Atau mungkin, ia hanya terlalu takut berharap?
Nathan menepuk punggung tangan Rachel dengan lembut sebelum akhirnya fokus mengemudi. Suasana dalam mobil terasa sunyi, hanya diisi oleh suara mesin dan deru angin dari luar jendela.
Sesekali, Nathan melirik ke arahnya, memastikan bahwa Rachel baik-baik saja. Namun, wanita itu tetap diam, menatap keluar jendela, pikirannya masih berkelana entah ke mana.
“Kamu lapar? Kita bisa mampir beli sesuatu dulu,” tawar Nathan, berusaha mencairkan suasana.
Rachel menggeleng pelan. “Tidak, aku belum lapar.”
Nathan mengangguk. “Baiklah. Tapi kalau nanti lapar, bilang, ya.”
Rachel menggumamkan jawaban singkat.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka mulai memasuki kawasan perumahan yang begitu familiar. Rumah mereka sudah terlihat dari kejauhan.
Rachel menelan ludah.
Ini bukan pertama kalinya ia kembali ke rumah itu, tetapi rasanya selalu sama. Berat.
Nathan menghentikan mobil di depan rumah dan mematikan mesin. Ia menoleh ke Rachel, yang masih memandangi rumah itu dengan ekspresi sulit diartikan.
“Kita sudah sampai,” ujar Nathan lembut.
Rachel menarik napas dalam, lalu mengangguk.
“Kalau kamu butuh waktu, nggak apa-apa. Aku nggak akan memaksa,” tambah Nathan, seolah mengerti gejolak dalam hati Rachel.
Rachel menutup mata sejenak, mengumpulkan keberanian. Akhirnya, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Satu langkah. Dua langkah.
Kini, ia kembali ke tempat yang dulu ia sebut rumah. Tapi pertanyaannya, bisakah ia benar-benar merasa seperti di rumah lagi, dengan segala ketakutan dan traumanya?
“Hel,” panggil Nathan menyentuh pundak istrinya menyadarkan lamunan Rachel.
“Katakan kalau kamu tidak nyaman. Jangan terus diam seperti ini,” ucap Nathan yang benar-benar merasa khawatir di sana.
Rachel menghela napasnya dan menolehkan kepalanya ke arah Nathan.
“Apa yang membuatmu berubah seperti ini, Nathan? Sikapmu terasa asing bagiku, kamu biasanya tidak seperti ini,” ucap Rachel menatap suaminya dengan intens.
“Kita baru sampai, aku sudah bilang kalau ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi tidak sekarang, sebaiknya kita masuk dulu, ya,” ucap Nathan membuka kunci pintu rumah dan membukanya lebar-lebar.
Rachel mengamati pria di hadapannya dengan tatapan penuh keraguan. Jawaban Nathan terasa mengambang, tapi untuk saat ini, ia tidak punya energi untuk memaksa pria itu bicara.
Dengan langkah ragu, Rachel melewati ambang pintu. Aroma rumah yang familiar menyambutnya, sebuah kombinasi wangi kayu, sabun pencuci, dan sesuatu yang lebih samar, mungkin kenangan yang selama ini ia coba hindari.
Nathan menutup pintu di belakang mereka, lalu meletakkan kunci di meja dekat pintu. “Kamu mau istirahat dulu? Aku bisa buatkan teh hangat untukmu.”
Rachel menatap sekeliling. Tidak banyak yang berubah. Ruang tamu masih sama seperti saat ia pergi. Sofa abu-abu di sudut ruangan, rak buku yang tersusun rapi, dan bingkai foto pernikahan mereka yang masih tergantung di dinding.
Rachel menatap foto itu lama. Dulu, ia berpikir bahwa itu adalah awal dari kehidupan bahagia. Tapi nyatanya, segalanya berantakan.
Nathan mengikuti arah pandang Rachel, lalu menghela napas pelan. “Aku nggak mengganti apa pun di rumah ini,” ucapnya, seolah mengerti isi kepala Rachel. “Karena aku selalu berharap kamu kembali.”
Rachel mengepalkan tangannya. Ia ingin percaya, tapi luka lama masih terlalu nyata.
Nathan mendekat, menjaga jarak agar tidak membuat Rachel semakin defensif. “Hel, aku tahu aku bukan suami yang baik. Aku sadar aku banyak menyakitimu. Aku nggak akan menyalahkanmu kalau kamu masih ragu. Tapi, bisakah kita mulai lagi, pelan-pelan?”
Rachel menggigit bibirnya, mencoba meredam emosinya. Ia ingin percaya, tapi... apakah ia siap?
“Aku akan ke kamar,” ucap Rachel menghindari pembicaraan dan beranjak pergi dari sana.
Rachel membuka pintu kamarnya dan rasa takut sekaligus cemas kembali menghantuinya. Dia mulai gelisah melihat sekeliling ruangan kamar sampai tanpa sadar kedua tangannya gemetar dan tatapannya yang penuh ketakutan di sana.
Nathan, yang memperhatikan Rachel dari kejauhan, langsung menyadari perubahan sikap istrinya. Tanpa ragu, ia mengikuti Rachel ke kamar, tapi tetap menjaga jarak agar tidak membuatnya semakin panik.
"Hel?" panggilnya pelan.
Rachel tidak menjawab. Napasnya mulai tersengal, tangannya masih gemetar saat ia berdiri di ambang pintu. Ruangan ini menjadi saksi bagaimana dia tersiksa seorang diri saat penyakitnya kambuh.
Tanpa mengatakan apa pun, Nathan memegang tangan Rachel yang bergetar dan langsung memeluk tubuh istrinya dari samping, menyandarkan kepala Rachel dengan nyaman ke d**a bidangnya.
“Aku di sini, kamu tidak sendirian sekarang. Aku... ada di sini bersamamu, Hel,” bisik Nathan menenangkan Rachel yang wajahnya berubah pucat.
“Maaf... maaf karena aku terlambat. Sekarang aku di sini dan tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri, maaf... “ bisik Nathan dan tanpa sadar, air matanya jatuh dari sudut matanya.
***