"Eh, Pak Rengga, mari silakan duduk Pak." Silmi menyilakan Rengga masuk ke ruangan Diandra. Mereka duduk berhadapan. Silmi menatap wajah tampan di depannya yang terlihat kusut. Bulu-bulu halus di rahangnya dibiarkan tak dicukur. "Maaf, Bapak sakit?" tanya Silmi melihat wajah Rengga dengan khawatir. "Tidak, hanya maagku saja yang kambuh, nanti juga sembuh, eeemm ada kabar, kapan Diandra ke sini lagi?" tanya Rengga penuh harap. "Kayaknya, lusa deh, Pak, mau ngurus kepindahan sekolahnya Key, pasti bareng Pak Al," sahut Silmi dan terlihat Rengga yang menunduk dan kedua tangannya saling memegang erat. "Bapak, Bapak sakit? Tiduran saja Pak di sofa ini, selonjoran, saya buatkan teh hangat ya Pak?" Silmi terlihat bingung. Rengga meluruskan badannya, ia terpejam menahan sakit, namun t

