Saga menghembuskan napas beratnya berkali-kali, menatap ke luar jendela pesawat, tampak awan-awan putih seolah mengejeknya. Mengejek kekalahannya, kebodohannya dan kecerobohannya. Dendamnya telah mengantarkan sejuta kesedihan. Anak kecil yang kadang bermain dengannya dan Rengga, harus meregang nyawa melalui tangannya. Saga mengutuki dirinya yang kurang fokus. Mengira Al yang akan keluar pertama saat pintu terbuka. Kembali hatinya berdenyut sakit saat tubuh ringkih itu terdorong karena timah panas dan rebah bersimbah darah. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk tubuh kecil itu, tapi itu tak mungkin. Ia memilih berlalu dan sekarang sudah berada di pesawat, akan kembali ke rumah yang sepi dan menjemukan. Dalam pesawat menuju Singapura, ia terlihat termenung, sesekali menggeleng dan

