07

2322 Words
Perhatian : Bab ini masih menggunakan alur mundur. Tokoh utama sedang kilas balik ketika masih enam bulan berpacaran. Baca bab sebelumnya agar tahu jalan cerita dan tidak terjadi kesalahpahaman. Terimakasih.    * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Dava tak pernah mengelak ketika orang lain selalu menyebutnya laki-laki sampah, berandalan, play boy, dan sebutan-sebutan tidak enak didengar lainnya. Ia akui ia memang bukan laki-laki baik. Semua orang juga tahu itu. Tapi satu hal positif yang dapat dilihat dari seorang Dava Garda Erlangga dan tak banyak orang yang tahu adalah dia sangat menyayangi orang tuanya. Papa dan mamanya adalah orang tua yang sangat sibuk. Mereka bukan tipe orang tua yang bisa meluangkan sedikit waktu untuk mengambil rapot, untuk merayakan ulang tahun, atau sekedar menanyakan bagaimana Dava menjalani harinya. Namun Dava tak pernah mempermasalahkan itu. Dibalik semua kesibukan Papa dan Mamanya dalam dunia perbisnisan yang Dava tak pernah mengerti, ia tahu orang tuanya hanya berusaha mencukupi kebutuhan Dava. Tidak lain dan tidak bukan mereka hanya tak ingin apa yang Dava mau tak bisa tergapai. Teringat masa kecilku Kau peluk dan kau manja Indahnya saat itu Buat 'ku melambung di sisimu Terngiang hangat napas segar Harum tubuhmu Kau tuturkan segala Mimpi-mimpi serta harapanmu   Ketika langit mulai gelap dan Jakarta malah semakin ramai, Dava lebih sering menggunakan waktunya untuk melamun. Untuk merindukan orang tuanya yang berbulan-bulan tak pernah pulang. Yang panggilan telepon terakhir dari mereka adalah berminggu-minggu yang lalu. Bohong jika sesangar-sangarnya Dava, ia bisa terus-menerus hidup sendirian jauh dari orang tua. Dava kesepian. Satu-satunya hal yang membuat ia akhirnya mencintai Gisel sebesar ia mencintai Papa dan Mamanya. Karena bersama Gisel, ia merasa pulang ke rumah. Ia bisa merasakan peluk hangat dari seorang ibu lewat Gisel. Ia bisa merasakan pertanyaan tulus apa ia sudah makan atau belum seperti yang biasa Papanya lakukan saat di Jakarta lewat gadis itu. Pernah beberapa kali Dava hampir meneteskan air matanya saat rindu mulai menguasai jiwa dan raganya. Ketika panggilan telepon darinya tak pernah terangkat hingga berhari-hari, juga Dava yang tak pernah diizinkan untuk menyusul kesana sekalipun sekolahnya sudah libur semester. Kau ingin 'ku menjadi yang terbaik bagimu Patuhi perintahmu, jauhkan godaan Yang mungkin kulakukan Dalam waktuku beranjak dewasa Jangan sampai membuatku terbelenggu Jatuh dan terinjak   Sialnya, hal itu terjadi lagi malam ini. Jakarta sedang pukul sembilan lebih lima menit ketika ia sedang duduk di kursi balkon. Rumahnya yang menghadap jalan raya membuat Dava asik menikmati hingar-bingar kendaraan yang lewat. Lampu kerlap-kerlip dari rumah-rumah tetangga yang dapat ia lihat dari lantai dua. Asap dari nikotin yang menjadi temannya sejak ia berada di kelas dua SMP itu menjadi temannya kali ini. Tak ada Gisel, tak ada Papanya, tak ada Mamanya. Hanya ia dan angin malam. Ia dengan sebatang rokok. Ia dengan kopi hitam di atas meja. Ramai notifikasi di ponselnya yang berdenting terus-menerus tak membantu banyak. Dava tahu itu hanyalah pesan masuk dari grupnya bersama tiga teman yang ia punya. Deril, Agas, dan Andi. Ia melirik sekilas ketika denting pesan masuk digantikan dengan dering ponsel yang berbunyi panjang. Kali ini telepon masuk dari Agas. Dava tak berniat menyentuh layar benda persegi panjang itu sama sekali. Di penghujung minggu dan malam hari seperti ini, Dava hampir hapal dengan kebiasaan Agas saat terus-menerus mengiriminya pesan. Agas butuh teman untuk ke tempat kesukaan mereka berdua. Omong-omong soal Agas, cowok yang dikenal sinting dan tak tahu malu itu adalah teman yang paling dekat dengannya dari pada yang lain. Bukan, bukan ia punya circle di dalam circle seperti apa yang biasanya para perkumpulan perempuan lakukan. Hanya saja antara teman, teman dekat, dan sahabat jelas berbeda. Semua orang punya teman, teman dekat dan sahabat. Begitu pula dengan Dava. Semua manusia di SMA Delite adalah temannya. Deril dan Andi adalah teman dekatnya. Tapi Agas jelas berada di tingkat lebih unggul. Banyak hal yang tidak diketahui Andi dan Deril, tapi hanya Agas yang tahu. Laki-laki slengean itu manusia biasa. Tapi Dava mengerti, segembira apapun seorang Agas Zidane Althaf di sekolah, Agas pun punya masalah yang tak bisa dimengerti oleh orang lain. Selain Dava. Dering telepon di ponselnya berhenti. Kali ini sudah kembali menampilkan wallpaper berubpa foto anak kecil yang digandeng oleh pasangan muda. Siapa lagi kalau bukan Dava versi bocah dan papa mamanya. Seulas senyum kecil muncul di bibirnya kala mengingat foto tersebut.  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  “Tuh, kan! Mama bilang juga apa! Dava pasti jadi juara!’ seru wanita cantik dengan baju dan rok panjang yang menutupi hingga betisnya. Wanita bernama Varah itu mengusap kepala anaknya bangga. Ia megambil tangan kecil Dava untuk dituntun menyebrang jalan, menghampiri mobil Damian— pria bule yang merupakan suaminya, agar segera pulang ke rumah. “Tapi, kan, cuman juara tiga!” Dava kecil merengek. Matanya sudah berkaca-kaca ketika harapannya dihempas oleh guru karena ia sudah belajar mewarnai hingga tidak tidur. Tapi angka tiga adalah yang ia dapat. “Dava maunya juara satu! Dapat mobil yang besar sendiri tadi, bukan mobil kecil!” “Loh, kenapa ini kok anak Papa teriak-teriak?” tanya Damian sembari membukakan pintu mobil untuk sang istri dan putra semata wayangnya. Varah tersenyum gemas ketika Dava menolak untuk dipangkunya. Memilih duduk di atas paha sang papa untuk ikut menyetir mobil. “Dava juara tiga!” Dava kecil akhirnya menangis. “Dava maunya juara satu, Pa...” Papanya meninggalkan kecupan kecil di puncak kepala putranya. “Loh, kan yang penting juara, Nak.” “Dava gak mau juara ti—hiks.. ga—hiks, hiks.” “Nak, dengerin Papa.” Dava kecil mengangkat kepalanya. Tak lagi menyembunyikan wajahnya di pundak sang Papa. “Dava udah hebat. Udah dapat juara dan hadiah dari Ibu Guru. Gak apa-apa walaupun juara tiga. Teman-teman Dava malah ada yang gak dapat juara. Iya, kan?” Dava mengangguk pelan. “Nak, ada beberapa hal yang tidak perlu disesali di dalam hidup ini. Sekalipun kamu gagal melakukan yang terbaik, sekalipun kamu terlambat memperbaiki. Gama sudah berusaha, Papa bangga. Gak semua anak teman Papa mau berusaha kayak Gama.” Adalah papanya, orang yang tak pernah menuntut Gama untuk hebat. Adalah papanya, orang yang akan berdiri paling depan untuk memberi tepuk tangan atas hal kecil yang ia lakukan. Adalah papanya, orang yang merengkuh Gama erat saat ia bersedih atas kekalahan yang ia terima. Mengatakan bahwa tak apa tak jadi tokoh utama. Pemeran pembantu-pun turut menjalankan cerita. “Yuk, sini foto bareng dulu bertiga buat kenang-kenangan kalau anak Papa habis dapat hadiah.”  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  Tuhan, tolonglah Sampaikan sejuta sayangku untuknya 'Ku terus berjanji Takkan khianati pintanya Ayah, dengarlah Betapa sesungguhnya 'ku mencintaimu 'Kan kubuktikan Kumampu penuhi maumu Dava tak tahu sejak kapan tiba-tiba pipinya basah. Matanya juga. Dava menatap langit gelap yang malam ini tak berbintang sebelum bibirnya mengeluarkan tawa. Tawa miris. Ia merindukan orang tuanya. Sangat merindukan mereka. Andaikan detik itu 'Kan bergulir kembali Kurindukan suasana Basuh jiwaku, membahagiakan aku Yang haus akan kasih dan sayangmu 'Tuk wujudkan segala Sesuatu yang pernah terlewati   Apa kini Papa dan Mamanya lupa bahwa mereka punya satu putra yang ia tinggal di Jakarta? Apa mereka lupa bahwa Dava masih remaja 17 tahun yang butuh kasih sayang dan perhatian mereka? Apa— Ponselnya berdering lagi. Memecahkan hening dan lamunan serta imajinasi yang baru terbentuk di kepala. Dava mengusap wajahnya kasar. Air matanya harus kering secepatnya. Kali ini bukan nama Agas disana. Giselle Afreea W is calling... “Halo, Dava?” Dava berdeham. “Hm, iya? Kenapa, babe?” Karena Gisel memang tak biasa meneleponnya begini. Mereka memang sudah pacaran enam bulan lamanya tapi mereka sangat jarang melakukan panggilan telepon seperti sekarang. Gisel bilang ia hanya takut kepergok orang tuanya jika terlalu sering teleponan. “Kok kenapa?” Gisel bertanya. “Emang aku gak boleh telepon?” Dava terkekeh sedikit. “Bukan gitu. Tumben aja.” “Bentar, deh, Dav.” “Hm?” “Kamu sakit?” Dava mengernyit. “Hah? Enggak. Kenapa?” “Suara kamu beda. Kayak serak gitu. Bangun tidur?” “Iya.” bohongnya. “Kamu lagi ngapain?” Dava mengalihkan pembicaraan. “Lagi dudukan aja.” “Di kamar?” “Hm-mm. Bingung jam segini mau ngapain. Makanya aku telepon kamu,” Gisel mengubah duduknya. “Kamu sendiri lagi ngapain? Di rumah? Atau di...” “Di rumah dan gak ngapa-ngapain. Lagi di balkon doang.” jawab Dava atas serentetan pertanyaan sang kekasih. “Mau video  call aja, ya? Mau gak?” “Boleh. Tapi emangnya kamu gak takut kalau Mama atau Papa kamu tiba-tiba buka pintu?’ “Gak bakal. Udah aku kunci pintunya.” Setelah mengatakan itu, Dava meliht layar ponselnya berubah warna, Gisel memintanya untuk menerima permintaan video call. Dava tersenyum tiba-tiba, entah untuk apa. Hhh, kenapa malam ini Dava merasa sangat sensitif terhadap hal-hal kecil? Seperti perempuan saja. Ia menggeser tombol hijau hingga tak lama kemudian, muncul wajah gadis cantik disana. Gisel membenahi letak duduknya sambil mencari cahaya. Usai dirasa tepat, Dava langsung akan mengajukan pertanyaan, tapi sepertinya kalah cepat dengan Gisel yang langsung melotot dan mendekatkan wajah ke kamera ponsel. “Hah, kok kamu matanya merah?” “Abis minum barusan.” Dava tidak tahu mengapa ia harus berbohong pada Gisel. Padahal ia juga tahu tak akan jadi masalah bila menceritakan isi hatinya. Namun melihat Gisel yang suasana hatinya seperti sedang bagus, ia tak mau merusak hal tersebut. “Ngapain, sih, boong? Kamu abis nangis itu. Kelihatan.” Dava langsung terkekeh. Kini tak menyangkalnya. “Kok bisa keliatan, ya? Padahal aku nangisnya gak kayak cewek-cewek, loh. Netes biasa aja. Kenapa sampai merah coba?” “Kamu gak kerasa aja kali nangisnya berapa lama,” jawab Gisel. “Kamu ngomong nangisnya gak kayak cewek tuh emang cewek kalau nangis gimana?’ “Ya gitu.” Gisel menatap nyalang meminta penjelasan. “Kan cewek kalau nangis samapi lama terus sesenggukan.” Gisel berdecak. Tapi kemudian ia diam. Hanya sesaat sebelum memilih menuntaskan rasa penasarannya. Dava tak pernah begini. Bersedih hati sampai kelihatan diam. Aneh rasanya menghadapi kekasihnya seperti ini. Dulu pernah, sih, Gisel melihat Dava sedih saat katanya cowok itu tiba-tiba merindukan sang ayah. Tapi apakah kali ini juga dengan alasan yang sama? “Cerita aja,” ujar Gisel sambil tersenyum. “Punya aku buat apa kalau kamu sedihnya gak bagi-bagi?” Dava balas tersenyum. “Emang kamu gak ngantuk? Nanti ketiduran lagi kalau aku ngedongeng.” “Enggak. Suwer! Nih, lihat mata aku masih terang benderang.” Dava tertawa. “Cepet, ih, aku mau denger.” Dava memperhatikan wajah gadis di layar ponselnya. Menghela nafas kemudian, melepaskan bebannya dari udara yang keluar dari bibirnya. “Lagi kangen aja sama Papa Mama,” Dava menerawang sedih. “Ya udah gitu aja.” Dava memang sperti itu. Mana pernah Dava mau bercerita panang lebar membuka semua rasa ganjal yang ada di hatinya blak-blaka? Gisel mencoba mengerti. Lagi pula mendengar enam kata tersebut, Gisel sudah paham bahwa kekasihnya sedang serindu itu terhadap orang tuanya. Gisel saja, sekalipun lebih sering bertengkar dengan orang tuanya karena perbedaan pendapat, berjauhan dua hari saja rasanya sudah tidak nyaman. Ikatan antara anak dan orang tua memang begitu. Lalu jangan tanya bagaimana dengan perasaan Dava yang berbulan-bulan tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Jangankan tatap muka, saling mengirim pesan saja tidak. “Sayang.” Dava mengangkat kepalanya, menghalau air mata yang hendak menetes ketika ingat lagi pada orang tuanya. Ia membalas senyuman miris dari Gisel. “Aku gak apa-apa. Biasalah, cuman keinget doang.” “Ada aku, oke? Kamu punya aku. Mungkin aku emang gak bisa gantiin peran orang tua kamu, tapi kamu tahu kamu gak sendirian. Kamu punya aku yang bisa kamu panggil setiap kamu butuh.” “I know.” “Jangan sedih gitu. Aku jadi pengin kesana.” ujar Gisel membuat Dava tertawa kecil. “Iya, kesini coba biar akunya gak sedih.” “Mana bisa.” “Hm, mana bisa.” “Tapi, Dav.” “Hm?” “Kamu gak pengin telepon Papa atau Mama kamu aja? Siapa tahu diangkat.” Dava mengambil gelas kopinya. “Mana mungkin.” “Mungkin aja. Kamu belum coba, kan?” “Kemarin udah. Tapi gak diangkat.” “Kan kemarin, Sayang. Sekarang?” Dava diam sesaat. “Iya, nanti aja aku coba. Kalau udah puas teleponan sama kamu.” “Sekarang aja. Aku matiin dulu teleponnya, ya?” “Jangan!” sergah Dava cepat. “Mau sama kamu aja dulu.” Gisel tak bisa menahan mulutnya agar tak tertawa. Dengan nada mengesalkan, cewek cantik itu berujar. “Dasar bucin.” "Bucin ke pacar sendiri ini." "Hahahaha."  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD