24

2164 Words

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Kenapa kita mesti beda jurusan, sih? Kenapa gak dari dulu aja aku masuk IPA?” ujar Dava sangat tiba-tiba ketika ia, mamanya, dan Gisel sedang menonton serial upin dan ipin di televisi ruang tengah. Kedua wanita tersebut elas langsung tertawa. Mamanya bahkan berdecak tak percaya telinganya bisa mendengar kalimat seaneh itu. “Ngetawain apa, deh?” Dava merengut. Mamanya menepuk pipi Dava pelan. “Ngetawain kamu, lah. Aneh banget ngomongnya?” “Aneh kenapa? Aneh dari mana?” “Lah? Kamu kan tahu sendiri anak IPA itu gimana, persyaratan masuk IPA itu gimana, nilainya taget berapa. Terus bandingin nilai kamu dari jaman kelas sepuluh semester satu sampai se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD