Jam tiga Sore, rasanya Rashi sudah tidak tahan lagi. Ia kembali menangis sesenggukan. Ingin segera bertemu dengan baby B. Sudah suntuk pula berada di ruang observasi. Rasanya sudah di ubun-ubun bosannya. Mana bekas luka operasinya terasa semakin sakit nan cenat-cenut tak keruan. Rashi sudah mencoba membunuh waktu dengan berbagai cara. Memberdayakan diri sampai keringat dingin saking menahan sakit teramat sangat, berdzikir, berdoa. Faedahnya sekarang ia sudah bisa miring ke kanan dengan lancar. Tinggal belajar miring ke kiri setelah ini. Namun Rashi masih ngos-ngosan parah. Sehingga ia memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Saat diam seperti ini, pikiran Rashi kembali fokus pada baby B. Ini bahkan sudah hampir sore, namun tak ada tanda-tanda ia akan keluar dari ruangan ini. Jangan-

