DUA BELAS

1457 Words
Viola tersadar, begitu juga Shin. Pendingin ruangan itu tampak tak berfungsi, tampak keringat yang turun dari sela-sela rambut Viola yang terjun bebas di kening sampai pipi bagian pinggir.   "Ehemm__" Shin berdehem, menjauhkan wajahnya dari wajah Viola. Keduanya terlihat canggung, malu, serta salah tingkah.   Viola mengatur napasnya yang memburu. Begitu juga Shin, mencoba menutupi kegugupannya, namun gagal.   "Maaf," ucap Shin singkat, ragu dan terdengar sedikit bergetar.   "Oh," jawab Viola singkat, tanpa memandang ke arah Shin.   "Ah, sepertinya hujan sudah reda, aku akan mengantarmu." Shin beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar.   "Iya," jawab Viola masih mencoba mengatur kegugupannya.   Shin menghilang dari balik pintu kamar.   Di dalam kamar Shin merasa tak enak, gugup, juga sangat malu, napasnya memburu.   __   Di dalan mobil, Shin memutar lagu, untuk mengusir kecanggungan. Viola lebih memilih pura-pura tertidur, matanya masih tak mau memandang Shin. Bahkan sampai saat ini gugupnya masih belum bisa dihilangkan.   "Kamu tidur?" tanya Shin pelan.   "Oh," jawab Viola tanpa membuka matanya. Shin tersenyum mendengar itu.   Selama perjalanan, keduanya saling diam. Hanya suara musik yang menggema di dalam mobil.   Sesampainya di depan gerbang berwarna hitam, Shin menghentikan mobilnya. Viola segera turun, setelah mengucapkan terima kasih pada Shin. Gugupnya benar-benar masih sangat terlihat, membuat Shin lagi-lagi tersenyum dengan tingkah Viola.   °°   Viola berjalan menuju elevator, sedikit cepat karena sedari tadi Kiar menelponnya.   Setalah pintu elevator terbuka di lantai tujuh, dia lebih mempercepat lagi langkah kakinya.   Viola mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan itu.   "Maaf, Pak, apa saya terlambat?" tanya Viola dengan napas sedikit memburu.   "Tidak," jawab Kiar singkat, menerima berkas yang diberikan Viola, "Jadwalku hari ini apa saja?" tanya Kiar, matanya memeriksa satu persatu lembaran kertas yang di tangannya.   "Jam sebelas ada meeting dengan tim perencanaan, lalu nanti makan siang dan dilanjut pembahasan kerja sama dengan pemilik Garuda Group," jelas Viola.   "Oke, aku harus menemui Ayah pagi ini, kau persiapkan semuanya untuk meeting nanti siang!" perintah Kiar.   "Baik Pak." Viola mengangguk mengerti.   °° Shin sudah berada di dalam pesawat, dirinya akan menuju Kalimantan untuk melihat lahan yang akan dijadikan pembuatan sebuah balai penelitian yang masih merupakan anak perusahaan. Shin memilih menikmati perjalanannya dengan tidur. Semalam dirinya sama sekali tidak tertidur, memikirkan bagaimana bisa dirinya mencium Viola tiba-tiba. Mata Shin sudah tertutup, tetapi tiba-tiba bibirnya melengkung tersenyum.   Setelah turun dari dari pesawat, Shin sudah ditunggu oleh supir yang ditugaskan untuk menjemputnya. Menyalakan ponsel yang memang dimatikan selama perjalanan. Banyak notifikasi pesan yang masuk , termasuk pesan dari grup chat w******p dari alumni SMA-nya. Shin sudah menjadi anggota grup chat itu, setelah Rei sang ketua kelas memasukannya sebagai anggota.   Shin membuka pesan yang berjumlah lebih dari sepuluh itu. Rei mengirimkan banyak foto di sana, dan pesan singkat dari dia adalah   -Sorry, baru sempet kirim, sibuk nggak ketulungan.- Tulis Rei dengan caption dua jari yang membentuk huruf V.   Shin membuka satu persatu foto itu, foto reuni yang baru saja diadakan oleh Rei, sekaligus pertemuan pertamanya dengan Viola setelah sepuluh tahun.   Shin tersenyum, melihat foto yang kini sudah diperbesar, nampak wajah Viola yang tersenyum dan sangat cantik.   "Pak Shin Heraldyne?" ucap seorang pria paruh baya, memastikan panggilannya tidak salah, dengan menggunakan kemeja berwarna maroon dan celana hitam serta bersepatu.   Shin menoleh dan tersenyum, "Benar," jawab Shin.   "Maaf, Pak, saya sedikit terlambat, tadi jalanan macet," ucap laki-laki itu.   "Nggak apa-apa, saya juga baru sampai," jawab Shin lalu tersenyum.   "Silahkan Pak." laki-laki itu mempersilahkan Shin untuk berjalan, Ia mengambil alih koper yang dibawa oleh Shin dan kemudian menyeretnya .   __   "Nanti pulang jam berapa?" tanya Braga begitu Viola menjawab panggilannya.   "Kenapa? kangen?" ledek Viola, "Nanya lagi ngapain kek, apa kabar kek, ini langsung nanya jam pulang," protes Viola, tangannya sibuk membagikan lembaran kertas di atas meja, mempersiapkan untuk bahan meeting yang akan digunakan oleh Kiar dan tim perencanaan perusahaan.   "Bawel, emang lagi apa?"   "Lagi siapin buat meeting nanti jam sebelas, ada apa?" tanya Viola.   "Kok ada apa? kalo aku telpon tandanya kangen, nggak peka!!"   Viola tersenyum. "Iya, iya, baru nggak ketemu tiga hari, udah kangen aja," jawab Viola sekenanya.   "Nanti dinner ya, gue traktir," ajak Braga, Viola mengangguk cepat.   "Jawab!!" protes Braga, "Kebiasaan, pasti cuma ngangguk!"   Viola tertawa renyah. "Kok tau?"   "Emang orang kalo lagi ngomong ditelpon tau, kalo lo cuma jawab anggukan sama gelengan?"   "Enggak," jawab Viola terkekeh, "Ya udah, gue kerja dulu, jemput gue ya," ucap Viola.   "Iya." Braga memutuskan telponnya.   °°   Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang sekretaris pribadi, terlebih bosnya adalah orang yang super sibuk, Viola mendesah lelah di bangkunya. Melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul lima sore, itu artinya jam pulang sudah lewat dari satu jam yang lalu.   Viola meraih ponselnya yang di letakan tepat di atas buku catatan kecil yang selalu dibawanya.   Dalam notifikasi pesannya, terdapat pesan dari Braga.   -Aku udah di depan.- tulisnya, pesan yang dikirim lima menit yang lalu oleh Braga.   Viola bergegas memasukkan semua barang yang biasa ia bawa ke dalam tasnya.   °°   Braga tersenyum begitu melihat Viola berjalan ke arahnya. Membukakan pintu untuk Viola, setelah wanita itu masuk, braga kembali menutupnya lalu berlari kecil menuju pintu kemudi di sebelahnya.   "Mau makan apa?" tanya Braga sembari tangannya menarik sabuk pengaman dan memakainya.   "Apa aja," jawab Viola datar, "Padahal pengen makan masakan Bunda," jawab Viola.   "Sekali-kali makan di luar, kan biar cuma berdua," jawab Braga dengan candaan.   "Iya, iya, tapi nggak boleh malem-malem pulangnya." Viola pun setuju.   "Siap, tuan putri." Braga melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Star Group.   Keduanya makan di restoran masakan khas negara Jepang yang berada tak jauh dari Star Group, hanya memakan waktu lima belas menit untuk sampai di sana.   Menikmati makanan khas Jepang yang sudah disajikan di atas meja. Braga tersenyum melihat Viola melahap makanan di depannya dengan cepat.   "Laper?" tanya Braga lalu menyodorkan minum agar lebih dekat dengan Viola.   Viola mengangguk cepat. "Banget," jawabnya tak jelas, karena mulutnya penuh dengan makanan.     Pekerjaan Viola semakin sibuk sebagai seorang sekretaris, ditambah persiapan pesta pertunangan Kiar yang akan diadakan minggu ini.   Kiar mengatakan pada Viola bahwa akan mengadakan pesta pertunangan dengan cara yang sangat mendadak.   "Viola, hari minggu ini saya akan mengadakan pesta pertunangan, nanti kamu yang urus semua. Undangan, gedung, catering, sama dekorasi, tolong urus semua itu untukku," perintah Kiar.   "Minggu ini?" tanya Viola memastikan.   "Iya," jawab Kiar singkat, lalu tersenyum, "Benar, ini sangat mendadak, Velove memintaku memajukan pertunangan kami, karena dia harus kembali ke Kanada," seolah Kiar tahu yang ada di pikiran Viola.   "Iya." Viola mengangguk mengerti.   Viola harus lembur di perusahaan, menyiapkan daftar tamu undangan, juga dirinya harus bolak-balik melihat gedung yang akan disewa sebagai tempat pesta.   Viola melihat tumpukan kartu berwana Navy di depannya. Viola harus memilah untuk segera disebarnya melalui kurir ekspres.   Waktu menunjukan pukul 21.10 WIB, Viola terlihat sangat lelah. Ia tertidur di sofa panjang di ruangan Kiar. Badannya disandarkan pada sandaran sofa itu.   Seseorang masuk, mendapati Viola tertidur. Orang itu tersenyum melihat Viola tertidur sangat pulas, sehingga tak menyadari dirinya masuk.   Orang itu adalah Shin, dia mengambil posisi duduk tepat di sebelah Viola, dengan sangat perlahan, agar Viola tak terbangun.   Shin tersenyum memandang lekat wajah Viola.   Viola terbangun perlahan, saat akan mengubah posisinya, Ia tersadar bahwa dirinya masih di kantor. Kaget melihat Shin ada di sampingnya, mata Viola langsung terbuka dengan sempurna.   "Oh," ucap Viola malu, "Maaf."   Shin tersenyum. "Pasti Kakakku memberimu pekerjaan yang berat," ucap Shin.   "Enggak kok," jawab Viola singkat.   "Udah kelar kerjaannya?" tanya Shin, tangannya merapikan rambut Viola yang sedikit berantakan.   Viola menggeleng pelan, tetapi tiba-tiba matanya membulat melihat undangan yang sudah disusun rapi.   "Wah." Viola sedikit kagum, Shin tersenyum.   "Kenapa?" tanya Shin singkat.   "Ini." Viola menunjuk undangan yang sudah berjajar rapi di depannya.   "Udah selesai, kan?" tanya Shin memastikan.   Viola mengangguk ragu. "Tapi ..." Viola seperti meragukan susunan undangan di depannya.   "Mereka mitra bisnisku, mereka juga klienku, mana mungkin aku salah memilahnya," ujar Shin, membuat Viola sedikit percaya.   "Ya udah, aku antar pulang sekarang." Shin meraih tangan Viola dan menggandengnya keluar.   Viola tersenyum malu.   °° Viola berdiri tepat di depan Kiar, merapikan dasi yang sudah mengalung di kerah bajunya. Kiar kembali mengatur napasnya yang gugup, membuat Viola tersenyum simpul.   "Jangan gugup Pak, Bapak hanya perlu tersenyum bahagia di depan tamu undangan," ucap Viola.   "Ini pertama kalinya buat aku," jawab Kiar, matanya menatap cermin. Hanya wajahnya yang tampak, karena badannya masih tertutup badan Viola yang masih merapikan dasinya.   Viola menggeser badannya setelah selesai, membuat Kiar terlihat penuh di depan cermin.   "Bapak sangat tampan," puji Viola sembari tersenyum.   "Thank's you," jawab Kiar membalas senyum Viola.   Shin masuk tanpa mengetuk pintu. Membuat Viola dan Kiar menoleh secara bersamaan.   "Tamu sudah banyak yang datang, Velove juga sudah mau sampai, sebaiknya Kamu bersiap," ujar Shin.   Kiar mengangguk, lagi-lagi mengatur napas karena rasa gugupnya.   "Ayo!" Kiar mulai melangkah keluar ruangan.   Viola mengikuti langkah Kiar, tetapi Shin meraih tangannya.   "Kenapa?" tanya Viola bingung.   Kiar pun menoleh karena langkah Viola yang terhenti.   Shin tersenyum tipis. "Kau jadi pendampingku malam ini," ujar Shin lalu menggandeng tangan Viola.   Viola tersipu.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD