Shin mengantarkan Viola pulang. Sebelum wanita itu benar-benar turun dari mobil, dia menawarkan Shin untuk mampir ke rumahnya.
"Mau masuk dulu?" tanya Viola gugup.
Shin menggelengkan kepala, seraya berkata, "Belum saatnya."
Viola tersenyum. "Saatnya? harus waktu yang pas gitu?"
Shin mengangguk. "Nanti, kalo udah resmi pacaran, aku bakal masuk ke rumah kamu," jawab Shin lalu tersenyum.
Viola tersenyum mendengarnya, gugup, salah tingkah dengan jawaban Shin.
"Ihh, gombal," gerutu Viola manja.
"Serius, buat apa aku gombal, kalo gombal itu nggak bakal bisa dapetin. Kalo serius, udah pasti bakalan dapet," ucap Shin pasti.
Viola lagi-lagi tersenyum, "Ya sudah, aku masuk. Lama-lama aku terbang, digombalin," ucap Viola mengakhiri.
Shin mengangguk.
°°
"Ehem__" Shin berdehem ketika Viola tersenyum menangkap basah kelakuannya di ruang kerja pribadinya. Shin menarik kaki dan tangannya yang dengan cepat menyembunyikan ponsel.
"A__ada apa?" tanya Shin gugup.
Viola tersenyum. "Mau minta tanda tangan." Viola menyodorkan sebuah proposal tepat di depan Shin.
"Ah." Shin langsung meraih pulpen, dan membaca proposal yang diberikan Viola. Tak lama mencoret bagian atas namanya, lalu kembali memberikannya pada Viola. Wanita itu tersenyum dan mengambil proposal itu dari tangan Shin.
"Kalo begitu, saya permisi." Viola berbalik dan melangkah.
"Ah, kamu!" seru Shin ragu, "Jadi ke Bekasi?"
Viola kembali menoleh dan mengangguk, "Kenapa?"
"Tidak," jawab Shin cepat.
Viola tersenyum.
"Jangan senyum seperti itu!!" seru Shin gugup.
Viola malah kembali tersenyum, "Oke, saya pergi," ucap Viola kembali melanjutkan langkahnya
Setelah Viola menghilang dari balik pintu. Shin membuang napas yang sudah sedari tadi Ia tahan, mengendurkan ikatan dasinya agar tak terlalu mencekik leher. Pendingin di ruangan itu seperti tak berfungsi, karena Shin merasa sangat panas.
Shin sangat gugup karena dirinya sedang bermain game dan juga kakinya diangkat ke atas meja. Mengumpat karena kalah dalam permainan, tiba-tiba saja Viola mengetuk pintu dan Shin langsung memerintahkannya untuk masuk.
"Aishh, kenapa setiap dia senyum, aku selalu gugup?" gerutu Shin lalu perlahan tersenyum.
°°
Kiar tengah mempresentasikan pekerjaannya. Hari ini adalah pertemuan penting dengan seorang investor yang akan menginvestasikan dananya pada project baru di kawasan Bekasi.
Terlihat lawan bicaranya mengangguk-angguk melihat layar laptop yang tengah ditunjuk Kiar sembari berbicara.
Setelah mencapai kesepakatan, keduanya saling menandatangani surat yang sudah dipersiapkan dan diakhiri dengan berjabat tangan.
Setelah kliennya pergi, Kiar bisa bernapas lega. Viola tersenyum melihatnya.
"Selamat Pak, akhirnya perjanjian dengan investor berjalan lancar." Viola tersenyum memberi selamat.
Kiar mengangguk, tersenyum lalu menyeruput kopi di depannya.
Kini keduanya berada dalam sebuah restoran mewah yang memiliki tempat sangat nyaman. Bahkan terbilang sepi untuk sebuah restoran, mungkin karena mahal. Tepatnya di bilangan Kota Bekasi.
Kiar melirik jam tangannya, "Kita sekalian makan aja di sini," ujar Kiar berpendapat.
"Terima kasih Pak, tapi makanan tadi siang saja masih terasa kenyang di perut saya," tolak Viola halus.
Kiar tersenyum. "Padahal tadi siang kamu cuma makan nasi kotak, dalam porsi yang sedikit."
Setelah sepakat untuk kembali ke Jakarta, Kiar pun melajukan mobilnya, melewati jalan tol kota yang tidak terlalu macet sore itu.
Langit terlihat sangat mendung, angin terasa kencang melihat pepohonan yang berliuk dengan cepat.
"Sepertinya mau hujan," ucap Kiar membuka pembicaraan.
Viola mengangguk setuju.
°°
Setelah perjalanan Bekasi-Jakarta hampir satu jam, keduanya sampai di pelataran Star Group, Jakarta Selatan.
"Ah, bisa kau carikan dokumen perjanjian kemarin di Bandung? Sepertinya tertinggal di ruangan ku. Aku harus menjemput Velove sekarang," ucap Kiar.
"Iya Pak, saya langsung menuju ruangan Bapak," jawab Viola.
Viola mencari file yang dimaksud oleh Kiar, tetapi tak menemukannya, setelah mencari di tumpukan file.
Ponsel Viola bergetar.
"Halo," jawab Viola begitu menjawab panggilan dari atasannya.
"Vi, sorry. Ternyata dokumennya ada di tempat Shin, bisa kau mengambilnya di sana?"
"Pak Shin Heraldyne?"
"Iya, nanti aku kirim alamatnya, aku membutuhkannya besok pagi. Shin tak mungkin mengantarkan berkas itu karena pagi harinya dia harus pergi ke Kalimantan," ujar Kiar.
"Baik Pak, akan saya ambil," jawab Viola.
"Oke, thank's ya." Kiar mengakhiri panggilannya.
Viola bergegas, membereskan kembali file yang sudah sedikit berantakan.
Angin menerpa wajah Viola yang baru saja keluar dari lobby utama perusahaan. Langit sore terbilang sangat mendung, mungkin hujan akan turun sebentar lagi.
Viola memilih taksi untuk menjadi transportasi menuju apartemen Shin, karena jika menggunakan bus, Viola harus menunggu sedikit lebih lama, apalagi di cuaca seperti ini.
"Apa dia sudah di rumah?" tanya Viola lirih, melirik arloji berwarna hitam di tangan kirinya. Menghela napas, matanya sesekali melihat jalanan luar melalui kaca mobil.
setelah tiga puluh menit, akhirnya sampai di pelataran Apartemen Residence 8 Senopati.
Mulut Viola terbuka lebar di depan gedung pencakar langit dan juga terlihat sangat mewah, karena mengaguminya.
Viola mulai masuk melalui pintu utama, mencari elevator untuk membawanya ke lantai lima belas. Sesampainya di lantai itu, dia mematung tepat di depan kamar Shin. Sudah lebih dari sepuluh kali menekan bel, tetapi sama sekali tak ada jawaban.
Ketukan sepatu pantofel laki-laki terdengar berjalan cepat ke arahnya, dia menoleh dan mendapati Shin tengah berjalan.
"Maaf, apa kamu menunggu lama?" tanya Shin panik.
Viola tersenyum. "Tidak, baru saja sampai."
Shin langsung membuka pintu apartemennya dengan menekan pasword dan secara otomatis pintu terbuka.
"Masuk." Shin mempersilahkan masuk.
"Apa Pak Kiar menelponmu?" tanya Viola ragu.
"Iya," jawab Shin singkat, "Duduklah!"
Viola menelaah ruangan apartemen Shin yang cukup besar.
"Wah," ucap Viola kagum.
"Kenapa?" tanya Shin tersenyum, tangannya membuka pengait lengan di satu tangannya dengan cara bergantian.
"Rapi banget," puji Viola.
"Bukan aku kali yang bersihin, ada petugasnya kok," jawab Shin.
Viola tersenyum, mengangguk mengerti.
"Ah, di luar hujan sangat deras, sebaiknya kamu pulang nanti saja, pasti jalanan sangat macet," jelas Shin, "Aku akan mengantarmu nanti," lanjutnya.
"Aneh," ucap Viola.
"Aneh? apanya yang aneh?"
"Cara bicara kamu. Belum terbiasa aja pake aku, kamu, yang biasanya lo-gue gitu," jawab Viola.
Shin tersenyum, "Ah, mau minum teh, kopi atau soda?" tawar Shin.
"Air putih aja," jawab Viola.
"Air putih? kenapa nggak milih tiga pilihan itu? malah milih yang nggak disebutin," protes Shin.
"Aku cuma ingin air putih."
"Ah, kalau begitu sekarang kamu pilih. Teman, sahabat atau musuh?"
"Heh," Viola bingung.
"Kamu hanya harus memilih cinta, karena aku akan berada di sana," ujar Shin tersenyum sangat manis.
Viola tersipu dengan perkataan Shin.
Viola duduk tepat di samping Shin. Keduanya tengah menceritakan masa SMA, Viola terlihat sangat bersemangat, pandangan mata Shin benar-benar tertuju pada satu objek di depannya, yaitu wajah Viola. Bibirnya terus tersenyum dengan telinga yang dibiarkan mendengarkan Viola bercerita.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Viola mulai gugup.
Shin tersenyum. "Aku rasa, cinta ini kembali hadir," ucap Shin.
Shin mendekatkan wajahnya dengan wajah Viola, Shin mencium bibir Viola.
Membuat Viola terbelalak, dan jantungnya berdetak sangat kencang.