SEPULUH

1109 Words
Braga dan Viola duduk di teras rumah Viola. Braga memakaikan jaket miliknya di tubuh sahabat perempuannya itu. Shin langsung pulang karena Ia tahu bahwa Braga tak menyukainya, dilihat dari raut wajahnya yang memandang kesal.   "Kalian__" Braga membuka pembicaraan.   "Ah, kita ketemu di pesta, kebetulan dia Adiknya, Pak Kiar," jelas Viola cepat, dia gugup dan ragu mengatakannya.   Braga tersenyum. "Benarkah, baguslah kalian bakal sering bertemu," jawab Braga.   "Heh."   Viola seperti sudah mengetahui perasaan yang sebenarnya dari diri Braga. Dia sering peka terhadap perhatian Braga yang berlebihan, dan rasa cemburu Braga pada dirinya ketika bersama laki-laki lain.   °° Shin berjalan cepat menuju elevator. Siang ini dirinya harus mengikuti rapat pemegang saham. Matanya lagi-lagi melirik jam yang bertengger manis di tangan kirinya. Selesai melihat pusat pembelanjaan di Kota Jakarta Selatan, yang masih merupakan anak dari perusahaan Star Group. Kini dirinya harus bergegas menuju ruang meeting di mana rapat akan diadakan.   Shin mengatur napasnya yang sedikit memburu.   Setelah pintu elevator terbuka, Shin berjalan cepat namun tetap tegas dan semakin terlihat berkarisma walaupun tengah terburu-buru.   Shin membuka pintu yang letaknya di ujung koridor. Benar, semua anggota rapat sudah berkumpul di sana. Ruangan yang cukup besar, sekitar dua puluh orang berada di dalamnya. Kursi Shin dan ketua Star Group terlihat masih kosong. Para sekretaris sudah menempati tempat duduk di belakang para bosnya.   "Kenapa telat?" tanya Kiar begitu Shin duduk di kursinya, yang berada tepat di depannya.   "Apa sudah dimulai?" tanya Shin, mata Shin terfokus pada Viola yang masih sibuk dengan ipad di tangannya. Shin tersenyum melihat itu.   "Yya!!" Kiar menyadarkan Shin dengan berbisik.   "Apa?" Pandangan Shin kini mengarah pada Kiar, dan sedikit kesal.   "Kita harus bicara nanti," bisik Kiar pada Shin.   "Tentang?" tanya Shin penasaran.   Belum sempat mendapat jawaban dari Kiar. Hutama yang merupakan ketua Star Group memasuki ruangan dengan gagah. Diikuti oleh dua orang di belakangnya yang merupakan sekretaris pribadi dan pengacara pribadinya. Anggota rapat segera berdiri saat Hutama memasuki ruang rapat, sedikit membungkuk dan memberi hormat kepada sang atasan.   "Duduk!!" perintah Hutama dengan suara berat, tegas dan juga fasih.   Rapat dimulai. Dengan berbagai presentasi dari para direktur, satu persatu mempresentasikan  project yang dikendalikannya.   Saat Kiar mempresentasikan pekerjaannya, dengan jelas Shin melihat ke arah Viola karena bangku yang Kiar duduki tengah kosong.   Alih-alih memperhatikan Kiar yang tengah berbicara di depan. Shin malah melihat Viola dengan senyum manisnya.   "Aishh, kenapa senyum itu masih terlihat sama? membuat jantung ini berdetak kencang," gerutu Shin lirih, tatapannya masih pada Viola.   Setelah rapat selesai, Kiar berjalan dengan Shin keluar ruangan. Viola  berjalan di belakang mengikuti keduanya.   "Viola, kau bisa langsung ke ruangan Saya. Saya akan berbicara dengan Shin sebentar," ucap Kiar.   "Baiklah." Viola setuju. Ketiganya berpisah di ujung koridor. Viola memasuki elevator.   "Ada apa?" tanya Shin setelah Viola menghilang dari balik pintu elevator.   "Kau menyukai sekretarisku?" tanya Kiar tanpa basa-basi.   "Heh." Shin kaget, "Kenapa?"   "Benar, Kau menyukainya, iya kan?"   Alih-alih menjawab, Shin malah tersenyum.   "Kalian saling kenal?" selidik Kiar.   "Oh, kita teman SMA," jawab Shin singkat.   "Apa? serius?"   "Kau, harus bersikap baik dengannya, kalo sampe kau membuatnya lelah, kau akan berurusan denganku!!" ancam Shin dengan nada candaan, lalu melangkah pergi, membuat Kiar tersenyum melihat punggung Shin yang semakin menjauh darinya.   __   Setiap hari Shin selalu memperhatikan Viola, Kiar menyadari akan hal itu. Kiar juga tak masalah dengan pendekatan Shin terhadap sekretarisnya.   Saat makan malam dengan klien, klien itu benar-benar memuji Viola dengan sangat berlebihan juga mengarah ke arah pelecehan seksual. Viola sudah sangat risih dengan semua ucapan kliennya yang menjatuhkan harga dirinya. Saat itu Shin yang duduk di sebelah Viola, memegang tangan Viola yang berada di bawah. Dengan tujuan untuk menenangkan Viola, bahwa Shin akan melindunginya.   Saat klien itu mengajak Viola bersenang-senang di club malam, Shin dengan beraninya mengatakan bahwa sekretaris Kiar adalah wanita terhormat, dan mengatakan juga bahwa Viola adalah pacarnya. Membuat klien itu terdiam dan malu.   Shin selalu memperhatikan Viola di luar maupun di dalam kantor, bahkan hasrat ingin terus bersama Viola pun semakin kuat, Shin mencari perhatian dengan sering mengunjungi ruangan Kiar.   Waktu menunjukan pukul 17.10 WIB. Shin bergegas membereskan meja kerjanya. Mengambil jas yang digantungkan di belakang kursinya, lalu bergegas pergi. Berjalan menuju elevator dan menekan tombol tujuh, yang artinya akan menuju lantai di mana ruangan Viola berada.   Pintu elevator terbuka, Shin tampak sangat bersemangat, bahkan merapikan bajunya terlebih dahulu, sebelum keluar dari elevator.   Berjalan pelan, matanya membidik tajam ke arah ruangan yang berada di ujung.   "Oh." Shin mendapati Viola tak ada di mejanya. Raut wajahnya pun berubah kecewa.   Tiba-tiba ketukan sepatu pantofel dari arah belakang, membuat Shin menoleh dan mendapati Kiar.   "Sedang apa?" tanya Kiar penasaran.   "Enggak, aku balik!" ucap Shin sinis. Membuat Kiar tersenyum.   "Mau ketemu Viola?" tanya Kiar saat Shin sudah melewati dirinya. Shin dengan mudahnya menoleh dan memandang Kiar yang sudah tersenyum di tempatnya.   "Kamu tuh aneh, kamu suka sama Viola? dari dulu nggak pernah yang namanya Shin Heraldyne berbicara tentang perempuan, atau mencari perhatian seorang perempuan," ucap Kiar.   "Yya!! kita aja nggak serumah dari dulu, gimana kau tau? kau sibuk sama kuliah, sibuk sama perintah Ayah," jawab Shin sekenanya.   Kiar tersenyum, melihat adiknya seperti tertangkap basah ketahuan mencuri mangsa.   "Oke, oke." Kiar mengalah, "Hari ini Viola bakal lembur, dia lagi makan di kantin," ucap Kiar membocorkan informasi.   Seperti mendapat petunjuk, Shin mulai melengkungkan bibirnya, ditariknya bibir itu ke atas, tetapi segera disembunyikannya dengan berdehem dan meninggalkan Kiar.   Benar, Shin mendapati Viola tengah makan sendirian di kantin. Shin tersenyum.   °°   Viola sudah berada di ruangan Kiar, matanya menatap layar laptop di depannya, satu tangannya memegang lembaran kertas, dan tangan yang lainnya berpetualang di keyboard laptop itu dengan lincahnya.   Kiar sudah pulang lebih dulu, dan Viola seorang diri di ruangan itu.   Pintu terbuka, membuat Viola tertarik dan menoleh.   "Bukankah__" Viola menghentikan pertanyaannya setelah melihat sosok Shin berdiri di ambang pintu. Viola berpikir Kiar kembali.   Dengan sangat polosnya Shin tersenyum, disambut senyum itu oleh Viola.   "Ada apa?" tanya Viola.   "Sedang apa?" Shin malah balik bertanya, berjalan menuju Viola berada.   "Ah, aku harus menyelesaikan tugas ini, untuk besok rapat dengan klien di Bekasi," jelas Viola.   "Jauh banget, kamu ikut ke sana?"   "Heh." Viola tampak kaget, masih terasa asing dengan gaya bicara Shin dengan menggunakan aku-kamu, "Oh," lanjut Viola menganggukkan kepalanya.   "Ah, ini buat nemenin lembur." Shin menyodorkan sebuah kopi dalam sebuah cup.   Viola tersenyum. "Terima kasih."   Bukannya pergi, Shin malah duduk di depan Viola. Matanya menatap Viola, bibirnya tersenyum, Viola yang sadar Shin memperhatikannya, langsung gugup.   "Yya, kenapa belum pergi?" tanya Viola gugup.   "Kenapa? aku mau nemenin kamu di sini,"  jawab Shin sekenanya.   "Apa? nggak boleh, nggak bakal selesai kerjaanku," tolak Viola ragu.   "Kenapa?" Nada bicara Shin seperti meledek Viola yang sangat kentara menutupi rasa gugupnya.   "Apa ini? kenapa berdetak sangat kencang?" ucapnya lirih, Viola merasakan jantungnya seperti akan meledak.   Membuat Shin tersenyum manis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD