LIMA

975 Words
Empat tahun kemudian,   Viola telah menyelesaikan kuliahnya. Hal yang harus dilakukan adalah mencari pekerjaan, karena yang dia butuhkan adalah uang untuk membantu ibunya yang hanya mengandalkan toko kue yang sudah dibangun sejak lama.   Mencari pekerjaan tak semudah yang dibayangkan, berkali-kali Viola berkeliling, atau mencari lowongan pekerjaan melalui website.   Terik matahari begitu sangat menyengat masuk ke dalam pori-pori kulit. Viola lagi-lagi mengeluh kepanasan, satu tangannya mengipas wajah, baju hitam putih yang di double dengan sebuah cardigan berwarna navy terlihat sudah sedikit lusuh.   Viola tengah menunggu Braga di sebuah halte, dia baru saja mengikuti tes seleksi karyawan di sebuah perusahaan. Tetapi, dari raut wajahnya, seperti tak berjalan sesuai keinginannya. Tak lama sebuah mobil Honda Jazz berwarna merah berhenti tepat di depan Viola.   Gadis itu sudah sangat mengenal mobil itu, mobil milik Braga. Tanpa basa-basi Viola langsung menaiki mobil itu.   "Gimana?" Pertanyaan yang membuat Viola enggan menjawab, Viola lebih memilih mendengus dibanding menjawab pertanyaan dari Braga. Seketika itu juga Braga tahu bahwa Viola gagal, laki-laki yang kini tengah sibuk dengan kemudi mobilnya lebih memilih untuk diam.   Jalanan Kota Jakarta tidak terlalu padat siang itu. Jadi, Braga bisa melancarkan aksinya mengendarai mobil yang berwarna mengkilap miliknya.   "Mau makan?" Braga kembali membuka pembicaraan, dijawab anggukan oleh Viola. Braga tersenyum.   "Ah, kantor Papa lagi butuh orang tuh, buat jadi administrasi, mau?" ucap Braga, matanya masih pada jalananan di depannya, sesekali menoleh untuk melihat reaksi dari Viola.   Viola menatap Braga dengan penuh selidik.   "Serius," jawab Braga meyakinkan.   "Lo nggak lagi nolongin gue kan?"   Braga tersenyum. "Yya!! serius, admin yang kemarin mau resign karena dia mau pindah ke luar kota, dan belum ada gantinya," jelas Braga.   Perlahan senyum Viola mengembang, "Gue mau daftar, tapi nggak pake bantuan lo ya, gue mau usaha sendiri!" ucap Viola tegas.   "Siap," jawab Braga tersenyum manis.   "Padahal gue pengen bergabung sama Star Group," ucap Viola melemah.   "Ya nanti, lo bisa gabung ke sana kalo udah ada lowongan," ucap Braga, dijawab anggukan oleh Viola.   Sesampainya Viola di rumah, terkejut mendapati ibunya tergeletak di lantai. Wajahnya pucat, Cello menangis sejadi-jadinya di depan Nada.   "Cell, Bunda kenapa?" tanya Viola panik.   Cello menggeleng cepat.   "Ga, Bunda kenapa?" Viola sangat panik, dia mendapati suhu tubuh Nada sangat tinggi.   "Kita bawa ke rumah sakit aja," jawab Braga cepat.   Braga langsung membopong Nada dan berlari ke arah mobilnya.   Setelah dilakukan semua pemeriksaan terhadap Nada, Viola menemui dokter dan dijelaskan mengenai penyakit Nada.   "Ibu Nada, mengidap penyakit kanker darah," ucap Dokter Richard yang hari itu tengah bertugas dan menangani Nada.   "Apa Dokter yakin? Dokter sudah melakukan semua pemeriksaan terhadap Ibu saya?" tanya Viola dengan nada tak percaya.   Richard mengangguk pasti, membuat Viola tampak lemas, Braga mengusap punggung Viola, untuk menguatkannya.   °° Viola berhasil masuk di perusahaan orang tua Braga, tentu saja dengan semua persyaratan dan proses seleksi di perusahaan itu, tanpa bantuan Braga. Viola juga meneruskan menjalankan toko kue Nada agar tak benar-benar tutup, karena memang pembiayaan penyakit Nada tidaklah sedikit.   Belum lagi Viola harus mengurus adiknya yang masih kecil.   Viola merasa beban di pundaknya terlalu berat, tetapi sama sekali tidak membuat semangatnya runtuh.   "Ahhh," keluh Viola saat baru saja sampai di rumahnya. Pekerjaan hari ini cukup menguras tenaga, dan terlebih toko kue yang dibuka setelah berhari-hari tutup, ramai dengan pengunjung.   Viola masih menggunakan kue buatan bibinya untuk dijual, biasanya Nada juga membuat kue sendiri, tetapi karena Viola masih tahap pembelajaran membuat sebuah kue, jadi dirinya masih mengandalkan kue buatan bibinya, agar bisnis toko tetap berjalan.   Braga meletakkan sebuah coklat panas tepat di depan Viola.   "Capek banget?" tanyanya santai, lalu menyeruput air putih yang masih dipegang tangan satunya.   Viola mengangguk, matanya terpejam, bersandar pada sofa panjang di depan tv flat berukuran sedang. Kala itu Braga mengantar Viola pulang, juga membantunya di toko kue.   "Ah, gimana kalo lo bikin BPJS, buat ngeringanin biaya pengobatan Tante Nada, pemerintah udah mengesahkan lho, bulan Januari kemarin." Braga berpendapat, seperti tertarik Viola pun membuka matanya. Tatapannya penuh selidik terhadap Braga.   Braga mengangguk. "Walaupun belum semua rumah sakit bisa sih, cuma kayanya Rumah Sakit Medical Center juga bisa kok cover BPJS di sana," jelas Braga.   "Serius?" Viola masih tak percaya, Braga mengangguk pasti, membuat Viola sedikit lega.   °°° Viola sudah empat tahun menjalani hidupnya dengan penuh semangat, Braga pun sudah dua tahun ini mengabdi menjadi guru bahasa inggris di SMA Harapan.   Viola menghirup udara pagi di depan rumahnya, Viola menjalani hari-harinya dengan hidup yang keras, terus bekerja untuk membiayai kebutuhan hidupnya dan pengobatan Nada.   Pagi ini, Braga berjanji akan mengantarnya ke kantor, Viola pun menunggunya.   Mobil Jazz merah yang masih menjadi favorit Braga, berhenti tepat di depan rumah Viola. Dia tersenyum dan masuk tanpa perintah.   "Ini serius nggak apa-apa lo anterin gue, Ga?" tanya Viola, "Bukannya hari Jum'at itu lo ada jam pertama?"   "Bawel!! ya udah turun, nanti gue telat lagi," protes Braga.   "Ihh," gerutu Viola, membuat Braga tersenyum.   Jalanan pagi itu cukup padat, tapi terbilang lancar, karena tak sedetikpun Braga menghentikan mobil untuk mengantri jalanan.   "Oh ya, Gerry bilang, Star Group mau buka lowongan besar-besaran lho." Braga memulai kembali pembicaraan.   "Oh ya!! kapan?" Viola bersemangat.   "Mm__ coba aja cek di websitenya. Siapa tau aja udah ada pengumuman," perintah Braga.   Viola mengangguk cepat, "Lo masih inget gue pengen masuk Star Group?" tanya Viola lalu tersenyum.   "Inget dong, ucapan lo pas waktu SMA  juga gue inget," jawab Braga pasti.   "Wahhh, jangan bilang lo suka sama gue," ucap Viola. Braga langsung salah tingkah.   sepersekian detik, Viola menyadari ucapannya. Dia tertawa untuk menutupi kecanggunan antara dirinya dan Braga.   "Ah, bentar lagi nyampe." Viola mencoba mencari cara untuk kembali biasa.   Braga tersenyum.   "Kenapa lo mau masuk Star Group?" tanya Braga tiba-tiba.   "Heh." Viola bingung dengan pertanyaan Braga, "Kenapa? itu perusahaan bonafit Ga, bukan berarti perusahaan Bokap lo jelek ya, tapi serius gue pengen masuk sana karena itu impian gue," jawab Viola bersemangat.   "Bukan karena Shin?" tanya Braga.   Membuat otak Viola bekerja, mencerna nama Shin yang sudah sangat lama tak Ia dengar.   "Maksud lo?" tanya Viola ragu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD