EMPAT

894 Words
Shin menyeret koper yang berada di tangan kanannya. Satu tangannya memegang paspor dan sebuah paper bag kecil. Suasana tempat itu cukup ramai, orang berlalu-lalang di sekitarnya, bahkan ada  langkahnya, berkali-kali Ia melirik jam tangannya, lalu menoleh ke arah pintu utama bandara.  "Shin!" Suara Viola menggema, tetapi masih kalah dengan suara pengumuman yang diinformasikan pihak bandara melalui pengeras suara.  "Shin!!" teriak Viola lagi.  Shin menoleh, dan tersenyum. Mendapati Viola dan Braga sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.  "Nggak usah senyum!" gerutu Viola kesal. "Iih, kenapa nggak boleh senyum?" jawab Shin sekenanya.  Viola mengerucutkan bibirnya.  Shin mengusap rambut Viola yang sedikit berantakan, sembari tersenyum.  "Nanti gue kabarin. Tenang aja, gue nggak bakal ngilang kok," ucap Shin lalu kembali tersenyum. Shin melirik Braga yang hanya menampilkan wajah datar.  "Kan ada Braga, yang mau jagain lo," ucap Shin. "Iyalah, Braga kan setia jadi temen gue, lah lo apaan?" gerutu Viola.  "Emang kita temen?" tanya Shin meledek.  "Ihh," gerutu Viola. Shin tersenyum manis melihat Viola yang benar-benar tak mau menatap matanya.  °°° "Kakak!!! bangun!!!" teriak Tama dari luar kamar Viola. Yutama adalah Ayah Viola, sapaan sayangnya adalah Ayah Tama. Dia sangat menyayangi putri sulungnya.  Viola tak merubah posisi tidurnya. Tama membuka pintu kamar bertuliskan nama pemiliknya, mendapati gadis itu masih tertidur pulas. Tama menghela napas. "Kak, bangun! Bunda udah nunggu tuh di meja makan." Tama kembali membangunkan Viola. "Hhmm," jawab Viola dengan suara seraknya, tanpa membuka matanya sedikitpun. "Kalo nggak bangun, nggak Ayah ajak jalan nih," ancam Tama tapi tak serius. Viola langsung membuka matanya lebar-lebar.  "Udah Yah, Kakak udah bangun nih," jawab Viola tegas. Tama benar-benar tertawa melihat putrinya.  "Oh ya." Yutama menyeret kursi belajar Viola, lalu duduk di atasnya.  "Kapan kamu mau nyari kampus buat  melanjutkan sekolah?" selidik tama.  "Ahh. Ntaran aja, Viola mau vakum belajar dulu," jawab Viola sekenanya.  "Emang mau ngambil jurusan apa?"  "Vio cuma pengen kerja di kantor seperti Ayah." Viola mengambil posisi duduk dan tersenyum.  Tama menyambut senyum Viola saat itu, melihat putri sulungnya dengan penuh kasih sayang.  "Ya udah, Ayah tunggu di bawah. Cepetan turun, Bunda udah nunggu."  "Oh." Alih-alih melakukan perintah ayahnya, Viola malah meraih ponselnya, melihat layar ponselnya dan tersenyum.  "Iihh, coba kalo deket juga gini," protes Viola merona.  Viola dan Shin masih saling bertukar kabar. Bahkan hampir setiap malam mereka melakukan panggilan telepon.  Viola menuruni anak tangga, menghampiri ibu dan ayahnya yang tengah menunggu di meja makan, juga Cello adik semata wayang yang selalu digoda olehnya.  "Makan dulu," perintah Nada.  Viola duduk di depan kedua orang tuanya.  "Jadi kapan mau masuk sekolahnya? bahkan kamu masih belum memilih universitas mana," ucap Nada dengan pelan.  "Iya, entar. Tahun ajaran baru aja," jawab Viola sekenanya, mengangkat sandwich buatan Nada, lalu memasukannya ke dalam mulut.  Viola memang enggan masuk kuliah, dia meminta izin kepada orang tuanya untuk tidak langsung masuk universitas. Viola selama ini hanya bersantai di rumah, sibuk dengan ponsel yang setiap hari berdering.  °°° July, 2010.  Viola sudah menyiapkan semua berkas yang akan dijadikannya persyaratan masuk universitas. Hari ini rencananya Braga akan mengantarkan Viola ke universitas yang menjadi pilihannya yaitu Universitas Indonesia. Viola akan masuk jurusan manajemen bisnis, sesuai keinginannya.  Viola melirik jam tangannya.  "Kenapa lama sekali?" gerutu Viola melihat jam tangan itu. Pasalnya dia sudah menunggu Braga lebih dari satu jam.  "Kak, Braga datang!" teriak Nada dari lantai satu rumahnya. "Oh," sahut Viola lalu bergegas memasukan semua berkas itu ke dalam tasnya.  Viola menuruni anak tangga dengan cepat.  "Pelan-pelan, nanti jatuh," protes Braga yang sudah menunggunya tepat di bawah anak tangga itu.  "Lama banget!!" gerutu Viola kesal.  "Iya, ada urusan tadi," jawab Braga sekenanya. Braga mengambil jurusan kependidikan Bahasa Inggris, di universitas. "Bunda, aku berangkat!" teriak Viola berjalan menyeret lengan Braga.  "Iya, hati-hati." Nada menyahutinya dari arah dapur.  Viola lagi-lagi mengotak-atik tape di depannya, lagu yang baru saja diputar, kembali digantinya.  "Kenapa sih?" protes Braga. "Nggak enak ah, lagunya," jawab Viola sekenanya.  "Ya udah, nggak usah dinyalain," ucap Braga ketus.  "Ihh," keluh Viola lirih.  Tiba-tiba ponsel Viola berdering.  "Bunda?" tanya Viola ragu, melihat nama bunda memanggilnya.  "Angkat, siapa tau penting, jangan cuma  telepon dari Shin yang selalu diangkat," protes Braga.  "Bawel," timpal Viola, lalu menjawab panggilan ibunya.  "Iya Bun, ada apa?" tanya Viola tanpa basa-basi.  "Vi ... Vi ...," ucap Nada terbata-bata, tangisnya pecah, membuat Viola kaget.   "Ada apa Bun, Adek? kenapa?" tanya Viola khawatir. "Ayah ..."  "Ayah kenapa?" Viola makin penasaran, kekhawatirannya sudah sangat terlihat dari raut wajahnya.  "Ayah kecelakaan!!" ucap Nada dalam isaknya.  "Apa? sekarang Ayah di mana?" Viola panik. Braga memutar laju mobilnya, setelah Nada memberitahukan rumah sakit di mana Ayah Viola berada.  Viola berlari sekuat tenaga, menaiki anak tangga yang saat itu ramai oleh pengunjung, Braga ikut berlari di belakangnya.  Viola mendapati Bundanya tengah menunggu di depan ruang operasi. Raut wajahnya sangat khawatir,pucat dan juga terlihat badannya sedikit bergetar.  "Bun, apa yang terjadi?" tanya Viola ketakutan. "Ayah niatnya ke Bandung buat ketemu klien, tapi__" Nada terisak tak kuasa menahannya.  Seorang dokter keluar, dengan wajahnya yang murung, menandakan operasi tidak berjalan dengan lancar, baju operasi masih dipakai di tubuhnya. Memegang punggung Viola yang saat itu sudah bergetar hebat.  "Yang sabar Nak," ucapnya lirih.  "Dok, Ayah baik-baik aja, kan? operasinya lancar kan Dok?" Koyak Viola, tangisnya sudah pecah.  Dokter itu menggeleng pelan, melihat dua wanita di depannya menangis dengan histerisnya. Viola terduduk lemas. Braga langsung menangkapnya. "Maaf, Ayah kamu, tidak tertolong," ucap Dokter itu pelan dengan penuh penyesalan.  Viola dan Nada histeris, menangis berkali-kali memanggil ayahnya. °°° Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD