Senyum Viola terus mengembang, bahkan kini gestur tubuhnya sedikit digerakkan saking bahagianya.
"Yya!!" Braga menyadarkan Viola dari bangkunya.
"Kenapa nggak bilang?" bisik Viola menatap Braga.
"Kan gue bilang, kejutan!!" jawab Braga.
"Kan gue bisa duduk di samping dia," ucap Viola bersemangat. Pandangannya kini pada bangku di barisan paling belakang, dan Shin tengah duduk di bangku itu.
Shin satu kelas dengan Viola, gadis itu merasa sangat senang. Saat lensa coklat miliknya menatap Shin, tiba-tiba sepasang mata siswa laki-laki itu menangkapnya. Viola langsung menurunkan pandangannya dan gugup.
"Udah, gunain waktu lo dengan baik di kelas tiga ini," protes Braga.
"Iya sayang, bakal gue gunain waktu gue sebaik-baiknya," jawab Viola.
Braga tahu Viola menyukai Shin. Walaupun cewek itu tak pernah mengatakannya secara langsung kepada Braga, tetapi dia sangat yakin bahwa Viola menyukai siswa berwajah tampan. Dari gerak tubuhnya, cara Viola membahas tentang Shin, juga cara gadis itu menatap Shin. Braga menangkap semua itu dengan sebutan cinta.
Di kantin sekolah.
Suasana kantin siang itu cukup ramai, Viola berjalan dengan teman sebangkunya yaitu Alika, di belakangnya Braga mengekor pada dua gadis di depannya.
Menikmati makan siang di sekolah. Viola dan Alika cukup dekat, mereka menghabiskan waktu makan siang bersama. Juga saat jam istirahat pun mereka habiskan bersama.
Viola menyantap makanan di depannya. Sesekali dirinya menanggapi omongan Alika yang sedang berbicara. Braga sendiri sudah hanyut dalam paket nasi di depannya. Tangannya sibuk bergerak membawa sendok berisikan nasi di ujungnya.
Tiba-tiba aktivitas ketiga siswa itu terhenti, saat Shin dengan santainya meletakkan sebuah teh kotak tepat di depan Viola.
Bola mata Viola membulat, bahkan nasi di dalam mulut dibiarkan tanpa ditelannya.
Viola hampir terbatuk, tetapi menahannya. Mata gadis itu memandang punggung Shin yang sudah berjalan melewatinya.
"Apa Shin menggoda lo?" tanya Alika cepat, tak ada jawaban dari Viola, mata Alika memandang Braga.
Cowok pemilik dagu tirus itu hanya mengangkat bahu.
Viola menatap teh kotak yang sudah diletakkan di bangkunya. Lagi-lagi Viola tersenyum.
"Yya!! seneng banget dapet minuman dari Shin?" tanya Alika menatap teman sebangkunya dengan nanar.
"Gak bakal gue minum," ucap Viola dan kembali tersenyum.
Dari bangkunya Shin tersenyum melihat Viola terus memandang minuman pemberiannya.
Wisata sekolah sebentar lagi akan diadakan untuk kelas tiga, Viola sangat bersemangat karena wisata kali ini berbeda, yang biasanya pergi berwisata ke Bali, atau ketempat lain di Indonesia. Kali ini berbeda, sekolah mengadakan sebuah camping untuk siswa kelas tiga.
"Udah disiapin? yang buat camping?" tanya Braga saat mereka pulang bersama dengan menggunakan mobil Braga.
Viola mengangguk cepat.
Braga tersenyum, "Puas-puasin seneng-senengnya, di semester dua udah harus nyiapin ujian nasional," ucap Braga sedikit tegas.
"Iya bawel," jawab Viola kesal, "Lo tuh ya, kalo udah gede jadi guru aja. Bawel soalnya, pantes."
Braga tersenyum, "Kalo gue jadi guru, anak didik gue bakalan pada entar, karena ketampanan gue," ucap Braga.
"Ih, pede banget."
°°
Satu minggu kemudian,
Semua siswa kelas tiga sudah berkumpul di halaman sekolah pagi-pagi. Mereka akan berangkat ke Jakarta Timur, yaitu menuju bumi perkemahan Cibubur, karena camping akan diselenggarakan di sana.
Viola sudah bersiap dengan satu koper berukuran sedang yang diseret, dan satu tas ransel yang sudah berada di pundaknya.
Mereka akan menginap selama dua malam. Tujuan camping ini hanya untuk bersenang-senang sebelum menghadapi ujian nasiol, dan akan ada acara pentas seni saat malam api unggun.
Viola melirik jam tangannya, mencari sosok Braga yang tak kunjung datang.
Alika berjalan menuju keberadaan siswa bernama lengkap Biola melodyna, napasnya memburu seperti selesai berlari.
"Kenapa?" tanya Viola khawatir.
"Kirain telat," jawab Alika sekenanya.
Viola tersenyum, "Braga juga belum sampe nih." Mata Viola jelalatan.
"Braga? udah kok, Dia tadi di kopsis, Gue liat Dia masuk sana," jawab Alika yakin.
"Ah." Viola mengangguk mengerti.
Tepat pukul delapan, semua siswa diberangkatkan dengan menggunakan bus pariwisata. Sekitar ada tujuh bus besar yang mengangkut mereka.
Braga duduk di belakang Viola, sedangkan Viola sendiri duduk bersama Alika.
Setelah bus yang ditumpanginya melaju, Viola sedikit kecewa. Iya, Viola tak menemukan sosok Shin di bus itu.
setelah hampir dua jam mereka terkurung di dalam bus, akhirnya mereka pun sampai di bumi perkemahan. Yang biasanya hanya ditempuh kurang dari satu jam, kini terlambat lebih lama karena jalanan macet di mana-mana.
Viola menarik napas, menghirup pekarangan luas yang ukurannya kurang lebih 210 Ha, menikmati pemandangan hijau di sekitarnya. Tidak seperti jalanan dari rumah sampai sekolah yang setiap hari dilaluinya penuh dengan gedung dan juga rumah-rumah.
"Ga!!" panggil Viola begitu Braga melewatinya, "Diriin tenda gue juga!" perintahnya tak tahu malu.
"Oh," jawab Braga singkat, "Temen setendanya pada ke mana? disiapin alat-alatnya," jawab Braga.
"Ih, iya bawel."
Sore itu, semua tenda sudah berhasil didirikan berjajar rapi. Viola dan ketiga teman lainnya sudah membereskan tenda yang akan ditempatinya tidur.
Setelah acara apel sore, semua siswa hanya menikmati pemandangan di sekitar bumi perkemahan. Mempersiapkan untuk acara malam, yaitu jalan malam menelusuri area perkemahan.
Jalan malam ini akan di bagi dalam bentuk kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang, mereka akan mencari harta karun, yang akan diberikan sebuah petunjuk-petunjuk yang sudah disiapkan panitia.
"Gue sama siapa ya?" tanya Viola sedikit berfikir.
Braga tiba-tiba duduk di sampingnya. memberikan minuman kaleng yang sudah dibuka.
"Kok cuma Viola yang dikasih? Gue enggak?" tanya Alika sedikit memprotes.
Braga tersenyum, setelah minumannya di ambil alih oleh Viola.
"Lo beli lah, gue juga boleh beli itu," ucap Braga sekenanya.
"Ih," gerutu Alika.
Viola meminum-minuman yang diberikan Braga.
"Nanti malam, nggak usah ikut jalan malam," ucap Braga kepada Viola.
"Kenapa?" Viola seperti tak setuju.
"Kalo bukan sama gue gimana?" tanya Braga khawatir.
"Ga," protes Viola, tetapi Braga langsung menyelanya.
"Yya!! ini tuh alam, bukan pemukiman, kalo ada apa-apa gimana?" Braga masih ngotot.
"Lebay banget lo, Ga," protes Alika yang sedari tadi diam.
"Pokoknya nggak usah ikut," Braga bangkit dari duduknya.
"Sebel!! bawel!!" gerutu Viola kesal, bibirnya mengerucut.
"Shin!!!" suara Alika berhasil membuat mata indah gadis itu jelalatan.
Viola berpikir Shin tak datang di acara camping, tapi ternyata cowok berbadan tinggi itu datang sore ini.
Senyum Viola mengembang saat melihat wajah Shin yang tengah berbicara dengan Gerry.