DELAPAN

1063 Words
Viola menghela napas beratnya ketika baru saja sampai di kantor. Pertemuan dengan klien bosnya, membuat dia berangkat sangat pagi. Kiar memerintahkan Viola untuk langsung pulang, dan beristirahat. Akan tetapi, wanita itu mengatakan harus mengatur jadwal Kiar untuk satu minggu ke depan, karena Viola ingin hari minggunya full untuk beristirahat.   Dia mengambil buku catatan yang selalu dibawanya bersama ipad. Kiar sudah lebih dulu pulang, karena Ia harus menemui ayahnya.   Setelah Viola menyelesaikan tugasnya. Ia pun membereskan meja kerjanya, mematikan layar komputer dan juga memasukkan semua buku kecil ke dalam tasnya.   Viola berjalan menuju elevator, ketukan Heelsnya terasa sangat ringan dan teratur. Ponselnya bergetar. Setelah merasakan getaran ponsel, Ia pun segera mencari ponsel di dalam tasnya.   Viola menemukan ponselnya dari tumpukan barang lain di dalam tas, membalikkan posisi ponsel agar layarnya terlihat.   "Kenapa?" tanya Viola setelah menjawab panggilannya.   "Di mana?" Suara Braga menggema dari seberang telepon.   "Ini baru mau balik, kenapa?"   "Gue jemput, kebetulan gue lewat daerah kantor lo. Tunggu ya," perintah Braga. Memutuskan telepon tanpa aba-aba.   "Ih, kenapa dia jauh-jauh datang ke sini? ada keperluan apa?" Viola bertanya-tanya. Dia pun melanjutkan langkahnya.   Setelah pintu elevator terbuka di lantai satu. Viola tersenyum kepada orang yang menyapanya. Dia terlihat sangat cantik dengan setelan Blouse dan rok pendek tepat di atas lutut, rambut panjangnya diikat rapi. Viola sudah sangat banyak berubah.   Viola sudah sampai di halte yang letaknya tak jauh dari gedung perusahaan. Benar, tak lama Viola melihat mobil Braga melaju ke arahnya.   Viola tersenyum.   Masuk tanpa aba-aba dari Braga, tepat setelah mobil berhenti di depannya.   "Ada urusan apa kesini?" tanya Viola sambil tangannya menarik sabuk pengaman dan memakainya.   "Ada. Nggak perlu tau juga," jawab Braga sekenanya.   "Ih, nyebelin!"   Braga tersenyum, "Udah makan?"   Viola menggeleng cepat. "Tapi mau makan di rumah aja bareng Bunda."   "Ah, besok ada reuni, dateng ya," pinta Braga pelan.   "Nggak!" Viola langsung menolaknya.   Braga menoleh. "Kenapa?"   "Males ah, paling mereka nggak kenal siapa gue. Secara udah sepuluh tahunan," jawab Viola tegas.   Braga tersenyum, "Yya!! mana mungkin mereka lupa sama lo, lo kan cewek paling pinter di kelas."   "Nggak lah. Lagian tumbenan ngadain reuni di pertengahan tahun kaya gini," kata Viola lalu menyalakan musik yang ada di depannya.   "Kayaknya Rei bakal ngasih pengumuman penting sih, secara dia yang ngadain," tebak Braga.   Viola mengangguk, "Gue nggak dateng, sibuk."   "Gaya lo sibuk, hari minggunya tidur seharian aja, bilang sibuk."   "Iya itu sibuk, sibuk tidur!!"   "Pokoknya besok gue jemput, lo siap-siap," timpal Braga tegas.   "Nggak!!"   "Bodo," jawab Braga singkat.   Braga mengantar Viola pulang. Setelah Viola benar-benar masuk ke rumahnya, Braga langsung kembali melajukan mobilnya, wajahnya tersenyum. Braga teman paling setia yang berada di samping Viola. Semua duka yang wanita itu terima berhasil dilewatinya bersama Braga.   °° Viola masih enggan membuka matanya, Ia malah menarik selimut sampai di atas kepalanya, sehingga seluruh badannya tertutup oleh selimut tebal itu.   "Kak!! Kak Braga udah nyamperin tuh," ucap Cello tanpa mengetuk pintu. Tangan Cello langsung meraih selimut dan ditariknya.   "Ahh," keluh Viola lemas.   "Bangun!!" Cello mengguncangkan tubuh Viola sedikit kencang.   "Masih pagi, Dek," protes Viola dengan suara seraknya. Viola berusaha mendapatkan selimutnya lagi yang sudah menjauh dari tangannya, "Mana ada reuni sepagi ini," gerutunya lirih.   "Kakak, serius itu Kak Braga udah nungguin," oceh Cello terus mengguncang tubuh Viola. Viola pun mengalah, dan membuka matanya.   "Yya!! masih pagi," jawab Viola sedikit kesal.   "Pagi gimana? matahari udah mau di atas kok masih pagi!!" omel Cello.   Pandangan Viola tertuju pada jendela kamarnya, yang masih tertutup rapat, Ia sama sekali tak bisa melihat matahari dari sana.   "Kebiasaan tidur lo tuh nggak berubah." Suara Braga tiba-tiba menggema di kamar Viola.   Viola menoleh dan mendapati Braga tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. Pakaian Braga yang sangat rapi membuat Viola tersenyum.   "Ayo bangun!! gue tunggu di bawah," ucap Braga lalu tersenyum.   Braga berbalik, tetapi saat akan melangkah. Langkahnya terhenti saat mendengar pertanyaan Viola.   "Seriusan Ga, gue harus ikut reuni?" tanya Viola ragu.   Braga menoleh dan tersenyum, "Haruslah, kalo lo nggak dateng, gue sama siapa?"   Viola menghela napas.   Setelah hampir menunggu tiga puluh menit, Viola pun menuruni anak tangga. Dress selutut berwarna maroon dan tas yang diselempangkan di pundak kirinya, dan rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Bibirnya yang berwarna sedikit merah, memberi kesan garang, tetapi masih terlihat sisi manisnya.   "Nggak usah melongo gitu kali, gue malu," protes Viola melihat Braga terdiam di tempatnya.   "Tunggu!" ucap Braga, menghentikan langkah Viola.   "Kenapa?" Viola bingung.   "Itu bibirnya dihapus!" perintah Braga.   "Heh, masa bibir dihapus?" Viola memastikan.   "Lipstiknya, terlalu mencolok," protes Braga.   "Bagus kok," Viola membela diri.   "Nggak. Hapus, gue nggak suka," perintah Braga.   "Ih," gerutu Viola, "Iya nanti di mobil."   Braga mengangguk setuju.   "Bunda, Viola pergi dulu ya, bentar," ucap Viola kepada Nada yang tengah duduk di depan Braga. Tangannya sibuk menyulam sebuah kain kecil.   Nada tersenyum, Viola mengecup pipi Nada.   Braga membukakan pintu mobil untuk Viola, bak pengawal pribadinya.   "Ini serius? gue ikutan reuni?" tanya Viola saat Braga sudah duduk di sampingnya. Braga menatap Viola tanpa menjawab, membuat sahabat perempuannya mengucapkan kata 'ok' tanpa suara. Membuat Braga tersenyum.   °°° Fillmore coffee, Setiabudi, Jakarta Selatan.   Braga membukakan pintu caffe untuk Viola, belum sampe lima langkah masuk, seseorang memanggil nama keduanya.   "Braga!! Viola!!" Suara berat itu membuat Viola dan Braga menoleh.   "Rei?" tanya Viola lirih, Braga mengangguk. Tersenyum kepada teman-temannya yang sudah hadir.   "Wahh, Viola cantik banget," timpal seorang cewek yang menggunakan Blouse berwarna pink.   Viola tersenyum, "Lo juga," jawabnya singkat. Braga mempersilahkan Viola duduk.   "Jadi, kalian udah jadian nih?" tanya laki-laki yang menggunakan kemeja biru muda, dan terkenal dengan gaya narsisnya. Dialah Rei, sang ketua kelas.   Braga terlihat kaget, mendengar pertanyaan Rei.   "Apaan sih lo," jawab Braga dengan candaan.   "Kalian serasi lho sebenernya, emang nggak pengen gitu jadian, trus nikah," timpal Candra yang saat itu duduk di bangku pojok.   Braga hanya tersenyum menjawabnya. Viola tampak sudah asik mengobrol dengan Disty, satu-satunya cewek yang datang hari itu.   "Rei, belum dateng semua?" tanya Braga melihat masih banyak kursi yang kosong.   "Paling cuma sepuluh orangan yang dateng. Tau sendiri, yang lain pada ke luar negeri, dan ada juga yang alasan sibuk," ucap Rei, lalu menyeruput kopi di depannya.   Braga memberikan minuman kepada Viola. Braga yang duduk di depan Viola tersenyum, karena melihat Viola begitu bersemangat mengobrol dengan teman SMAnya.   "Hai, lihat siapa yang datang," ucap seorang laki-laki yang mengenakan kemeja kotak-kotak dan membiarkan kancingnya semua terbuka, dengan lapisan kaos putih di dalamnya. Semua orang menoleh, mendapati dua laki-laki yang terbilang terkenal saat SMA.   "Shin!!!" pekik Viola, matanya membulat, mulutnya setengah terbuka lalu akhirnya ditutup dengan tangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD