TUJUH

853 Words
Langit pagi ini sangat cerah. Viola bergegas keluar dari lobby rumah sakit. Semalam dia menginap menjaga ibunya dengan ditemani Braga. Pakaian yang dikenakan sekarang pun diambil Braga tadi malam.   Viola menghentikan sebuah taxi begitu sampai di jalan raya. Dia melirik arloji yang melilit di tangan kirinya. Menghela napas sembari membenarkan lengan kemejanya.   Tepat pukul 07.00 WIB, Viola sampai di depan pintu lobby utama Star Group.   Dia mengatur napas dan mempercepat langkahnya. Bola matanya membulat ketika orang yang dilihatnya kemarin tengah berjalan dengan membawa sebuah map yang mungkin di dalamnya berisi file. Viola lebih mempercepat lagi langkahnya. Dia tersenyum dan sedikit membungkukkan badan ketika sampai tepat di depan wanita yang merupakan asisten manager HRD itu. Disambutnya senyum Viola dengan manis.   "Baru sampai?" tanya wanita itu, melihat Viola sedikit terengah dengan napas ngos-ngosan.   "Iya Bu, maaf banget," jawab Viola, langkahnya mengikuti wanita itu.   "Kenapa?"   "Ibuku masuk rumah sakit, jadi harus menginap di sana," jawab Viola.   "Ah, trus keadaannya gimana?"   "Udah lebih baik," ucap Viola, dijawab anggukan oleh wanita di depannya.   Wanita itu mengantar Viola sampai di lantai tujuh. Ruangan bertuliskan 'Director Room' sudah berada di depan mata Viola. Dia mengatur napasnya, agar tak terlihat gugup. Wanita itu membuka pintu, dan mempersilakan Viola untuk masuk.   "Ini ruangan Pak Kiar, Beliau direktur baru di sini, nanti kamu yang akan jadi sekretaris pribadinya," jelas wanita itu dengan nada tegas.   "Oh ya, kamu tunggu aja di sini." Wanita itu melirik arloji di tangan kirinya, "Sebentar lagi Beliau pasti datang."   Viola mengangguk mengerti. Wanita itu keluar meninggalkan Viola sendiri di dalam ruangan yang cukup luas, meja dan kursinya pun terlihat sangat mahal. Kursi yang kini Viola duduki juga sangat empuk, dan juga nyaman. Tak lama seseorang masuk ke ruangan itu. Viola menoleh dan langsung berdiri, membungkukkan badannya memberi salam.   "Selamat pagi," sapa Viola ramah.   Laki-laki tampan, dengan kulit putih, juga badannya yang tinggi, dan wajahnya mengingatkan Viola pada sosok Shin, dagu tirusnya terlihat sangat mirip dengan Shin.   Laki-laki itu tersenyum, seraya memerintahkan Viola untuk duduk kembali. Dialah Kiar direktur tampan yang baru-baru ini membuat heboh karyawan Star Group. Bagaimana tidak, Kiar sangat tampan dan juga punya karisma sendiri dalam berjalan ataupun berpakaian.   "Viola Melodyna?" tanya Kiar ragu, menatap Viola, anggukan Viola berhasil melengkungkan senyum Kiar.   "Sebelumnya sudah pernah menjadi sekretaris?"   Viola tersenyum, dan menggeleng pelan.   "Belum, di perusahaan sebelum ini, saya sebagai administrasi kantor," jawab Viola sopan.   "Ah." Kiar mengangguk mengerti, "Oke, meja Kamu ada di depan ruangan ini, dan semua kegiatan saya sudah tertulis di buku yang ada di sana," jelas Kiar, "Ah, satu lagi. Saya nggak suka orang yang datang terlambat. Mengerti?"   "Baik Pak." Viola menjawabnya dengan pasti.   Viola duduk di mejanya. membuka sebuah buku catatan yang tergeletak di sana, hanya ada beberapa lembar yang tertulis, yaitu sebuah jadwal Kiar untuk minggu ini. Tulisan itu ditinggalkan oleh sekretaris pribadi sementara, sebelum dirinya.   °° Braga tengah memasukkan suapan nasi pada Nada, siang itu Nada sudah semakin membaik.   "Braga, Tante jadi ngerepotin kamu terus," ucap Nada lemah.   Braga tersenyum manis, lalu berancang-ancang kembali memasukkan nasi lagi ke mulut Nada.   "Tante, udah aku anggap sama seperti Mama, bagaimana bisa aku ngebiarin Tante sendirian di kamar ini," ucap Braga.   Nada tersenyum, "Terima kasih, sudah selalu membantu keluarga Tante, dan juga selalu ada di samping Viola,"   Braga mengangguk, lalu menyuapkan nasi lagi.   Keesokan harinya, Nada sudah diperbolehkan pulang. Hanya Braga yang mengantarnya, Braga meminta Viola untuk tetap bekerja, karena Viola harus menghadiri rapat dengan klien bosnya   Braga menjaga Nada sampai Viola pulang, sembari menunggu Viola, Braga bermain dengan Cello, adik Viola yang sudah sangat dekat dengannya.   Pukul 18.20 WIB, Viola sampai di rumahnya, mendapati Braga tengah belajar dengan Cello. Viola tersenyum.   "Tebak, Kakak bawa apa?" ucap Viola menunjukan kantong plastik yang dibawanya. Cello langsung bersemangat. "Apa?"   "Martabak manis kesukaan Cello dong pastinya," ucap Viola. Membuat Cello kegirangan dan berhambur ke arahnya.   "Makan, terus jangan lupa sikat gigi, baru tidur, ngerti?" ucap Viola sedikit tegas.   "Ngerti," jawab Cello singkat. Viola tersenyum.   Viola duduk berdua dengan Braga di teras rumah, memandang langit malam dan merasakan angin yang begitu sejuk, sesekali menyapu rambut poni Viola ke belakang.   "Gimana kerjaannya? lancar? betah? atau capek?" tanya Braga berturut-turut.   Viola yang tengah melihat ke arah langit langsung mengarah pada Braga.   "Mau dijawab yang mana dulu, nih?" tanya Viola, "Kalo nanya jangan kroyokan, udah kaya lagi tawuran," lanjutnya, membuat Braga tersenyum.   "Ga, thank's ya. Selama ini lo selalu ada buat gue. Gue nggak tau harus berterima kasih dengan cara apa ke lo," ucap Viola, "Gue pengen lo selamanya di samping gue Ga," lanjut Viola datar.   "Yya!! tanpa lo minta, gue bakal selalu ada buat lo. Lo nggak usah khawatir," jawab Braga yakin.   "Kangen Ayah, dia selalu membuat gue senyum kalo gue lagi capek." Viola meneteskan air mata.   "Yya!! kenapa lo nangis?" Braga menghapus air mata Viola dengan ibu jarinya.   Viola menggeleng, menahan tangis yang mungkin sebentar lagi akan pecah.   "Gue capek Ga, sama hidup gue sekalipun," Viola terisak. Braga memeluknya, mengusap punggung kecil Viola.   "Lo nggak sendiri Vi, gue bakal selalu ada buat lo, inget itu!" Braga menenangkan.   Viola memeluk erat Braga seolah tak ingin melepaskannya.   "Tolong, berhenti menangis. Gue nggak bisa liat lo nangis kaya gini," ucap Braga lirih.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD