Kesunyian semakin terasa mencekam, dan rasa takut semakin terasa membungkus pikiranku.
Kegelapan memenuhi pandangan ku, dan senter di tanganku tiba-tiba ikut mati.
Tangan di bahuku semakin terasa meremas , kuat, dan saat aku menoleh, jantungku rasanya juga akan berhenti berdetak lalu keluar dari kangkang tulang rusuk di kedua bilah dadaku saat aku menyadari tangan putih itu kini berada di bahuku.
Aku mendongak mengikuti arah tangan itu, dan seluit cahaya membias wajah yang sangat aku kenal.
Aku terlonjak, hingga punggungku membentur sofa yang sudah robek di belakangku, diikuti pintu lemari yang aku buka pun ikut terjatuh hingga kacanya pecah.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?!" suara itu pecah , aku menatap heran, dan aku kembali menggoyangkan senterku dengan tangan bergetar dan rasa takut yang semakin menikam.
Beruntung senter itu bisa kembali menyala, dan saat aku bersiap kabur, sebuah tangan kembali menghentikanku, meraih tanganku yang terbebas dan menahannya.
"Ampun... Ampun... Ampun!" Aku berteriak histeris , bahkan rasanya aku seperti ingin kencing di celana.
"Heri ini aku...!" suara itu terdengar sangat familiar akan tetapi rasa takutku jauh lebih besar dari sekedar suara yang sangat aku sukai itu.
"Ampun... Tolong jangan ganggu aku!" Aku masih histeris, tapi orang itu semakin mengguncang tanganku.
"Heri... Ini aku... Ini aku!" Ucapnya lagi tapi aku masih saja menggeleng dengan rasa yang begitu kaku, tapi tangan itu semakin menggenggam ku erat, seolah ingin menenangkan aku yang sedang diselimuti rasa takut yang sama sekali tidak beralasan.
"Hei. Ini aku... Istri kamu. Kamu ini kenapa sih?!" ucapnya dan baru setelah itu aku berani membuka mataku.
Benar saja, itu adalah Emma. Istriku. Wanita yang setahun lalu aku nikahi , tapi tidak pernah berhasil aku setubuhi.
"Emma... Apa yang kamu lakukan di sini?!" aku justru balik bertanya seolah apa yang terjadi beberapa detik yang lalu adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
"Kok kamu malah balik bertanya sih...? Aku yang bertanya padamu, apa yang sedang kamu lakukan di sini...? Kamu sedang mencari apa...?!" Emma mengulang kalimatnya menjadi lebih spesifik, dan mendadak lidahku terasa keluh, tidak tahu harus menjawab apa, padahal jelas tujuanku ke gudang adalah mencari kotak kayu jati yang kakekku sebut dalam mimpi.
"Aah itu... Aku... Ehmm itu.... Apa namanya?!" suaraku terbata, bingung harus mengatakan apa.
"Apa Heri...?!" Emma semakin menuntut, tapi aku justru semakin bingung.
"Ini... Apa namanya. Aku sedang mencari kotak kayu. Di sana ada ijazah SD dan SMP ku!"
Aku hanya asal menyebut kalimat ijazah SD dan SMP itu, karena aku benar-benar tidak tahu harus membuat alasan apa.
"Kotak kayu!" Emma mengulang kalimat kotak kayu yang baru saja aku sebut, dan aku langsung mengangguk.
"Iya. Kotak kayu. Aku tidak ingat di mana meletakkannya, dan satu-satunya tempat yang belum aku periksa hanya gudang ini!"
Aku menjelaskan dengan lebih meyakinkan dan Emma hanya terlihat mengangguk seperti percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.
"Untuk apa kau mencari ijazah SD dan SMP -mu...? Bukankah itu sudah tidak diperlukan lagi sekarang...?!" tanya Emma , dan aku kembali mengangguk, tapi juga menggeleng sekaligus.
"Iya... Memang sudah tidak diperlukan lagi, tapi aku ingin mengabadikannya dalam satu album, Aku ingin mengambil foto di ijazah itu sebagai kenang-kenangan?!"
Alasan yang aku berikan lagi sedikit lebih masuk akal , dan Emma kembali mengangguk.
"Eehm begitu ya...!" seru Emma dan kali ini aku yang mengangguk.
"Iya... Sayang," jawabku cepat.
"Eeeh kamu ini ada-ada saja. Sudah. Kamu lanjut aja cari kotaknya. Habis itu cepat-cepat balik ke rumah. Aku udah siapin makan malam kita. Nanti keburu dingin!" ucap Emma dan aku mengangguk.
Mendadak rasa takut yang sebelumnya aku rasakan hilang begitu saja, tergantikan dengan rasa lucu yang begitu terasa kocak.
Senter di tanganku kembali menyala terang, dan perlahan aku menjajakan pandanganku ke setiap benda yang terkena cahaya senter itu.
Aku membidik ke arah lemari yang pintunya sudah pecah karena keterkejutanku tadi, kayunya sudah terlihat lapuk, dan di bawah lemari itu, aku melihat sebuah kain putih tertindih oleh sebelah kaki lemari.
Aku sedikit mengangkat lemari itu, dan dengan ujung kakiku aku mendorong kain putih itu, yang ternyata kotak yang aku cari. Kotak itu terbungkus rapi oleh kain putih yang baru aku dorong menggunakan kaki.
Kotak itu masih sangat kokoh, tidak di gigir rayap, tidak juga melepuh. Hanya bagian kuncinya yang sudah rusak karena termakan karat dari gembok kecilnya. Aku memukul gembok itu dengan gumpalan semen yang asal aku ambil di teras yang mulai retak, dan hanya dua kali pukul, gembok itu langsung terbuka.
Aku membukanya, dan melihat isi didalamnya.
Hanya satu buku kecil, dan cincin bermata merah bata yang sudah terlihat lusuh karena terlalu lama di simpan.
Aku ingat cincin ini. Ini adalah cincin yang kakekku gunakan semasa hidupnya. Namun aku tidak tahu jika kakek justru menyimpan cincinnya di kotak ini, karena dulu , saat kakek meninggal, aku sempat mencari cincin ini, tapi tidak ku temukan, dan sekarang cincin ini bisa aku lihat kembali.
Aku menyelipkan buku bersampul coklat yang aku temukan dalam kotak tadi, menyelipkannya di belakang pinggangku, di selingkar celana, lalu menutupnya dengan kemeja ku. Memasukkan cincin itu ke kantong celanaku, lalu buru-buru kembali ke rumah.
Benar saja, Emma sudah duduk di kursi meja makan, menunggu aku kembali dari gudang.
Aku berjalan ke arah dapur meletakan kotak kayu yang aku bawa dari gudang tua, lalu membersihkan tanganku dari debu dan kotoran sisa bangunan tua itu.
"Bagaimana...? Apa kamu menemukan apa yang kamu cari?!" tanya Emma dan aku mendesah kasar.
"Aku menemukan kota kayu jati yang aku cari, tapi aku tidak menemukan ijasah SD dan SMP ku. Entah di mana aku menyimpannya!" jawabku santai.
"CK. Lagian kamu kek gak ada kerjaan aja nyari ijasah SD. Yang ada harusnya kamu cari cara bagaimana biar batang terong kamu bisa bangun , dan ngocer, Heri. Aku dah capek di tanya kapan hamil, kapan hamil mulu sama tetangga kita!" ucap Emma yang lagi-lagi merembet ke situ lagi situ lagi.
Aku tidak menanggapinya, aku pilih kembali ke kamar sebelah kamarku, kamar yang isinya buku-buku dan perabotan rumah tangga dimana tadi aku juga menaruh tas kerjaku. Meletakkan buku itu di tas kerjaku, juga cincin kakek yang aku temukan tadi, lalu kembali ke meja makan, menikmati makan malam yang istriku sajikan.
Malam itu, Emma tidak merengek ingin di sentuh, dan aku merasa sangat lega. Namun saat jam menunjukan angka sepuluh malam, tiba-tiba Emma mengatakan ingin makan nasi goreng di dekat terminal lama.
Cukup jauh, dan rasanya sangat letih jika harus pergi membelinya. Aku menawarkan Emma untuk makan nasi goreng besok saja, akan tetapi Emma menolak. Dia tetap bersikeras ingin makan nasi goreng itu, bahkan dia sampai mengungkit-ungkit batang terongku yang tidak bisa bangun dan menunaikan kewajiban ku sebagai seorang suami.
"Kamu ini gimana sih Her... Menggauli ku, kamu tidak mampu, sekarang beli nasi goreng pun kamu tidak mau. Sebenarnya kamu ini bisa bantu aku dalam urusan apa saja sih Heri?" teriak Emma yang mana kata-kata itu seperti menampar aku, dan setelahnya aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginannya, pergi membeli nasi goreng yang dia inginkan.
Aku mengeluarkan mobil, karena gerimis mulai turun, lalu aku membuka lebar gerbang rumah kami, berbelok meninggalkan rumah, menuju tempat penjual nasi goreng.
Aku sampai di tempat penjual nasi goreng , dan memesan dua porsi nasi goreng komplit, lalu buru-buru kembali sebelum nasi goreng itu dingin, dan mungkin setelah itu Emma akan punya alasan untuk menolaknya. Namun di tengah jalan, tiba-tiba mobilku mogok, dan tidak mau menyala.
Aku berusaha menghidupkannya, tapi gagal, beruntung salah satu teman kantorku lewat dan melihat aku yang sedang bingung dengan mobilku, dan katanya, rumah dia tidak jauh dari sana.
Dia membantuku memeriksa mobil ku, dan katanya dua businya mati, dan mengakibatkan pengapiannya pincang. Dia tidak bisa menghidupkannya , karena toko onderdil sudah tutup di jam seperti ini, hingga akhirnya dia menawariku solusi lain, dengan meminjamkan motor matic nya untuk aku gunakan pulang, lalu mobil itu aku tinggal di sana dan besok dia akan meminta bantuan mekanik lain untuk mengganti businya.
Aku mengiyakan, dan menerima niat baiknya, lalu pulang menggunakan motor matic miliknya.
Saat aku sampai di depan rumah, pintu gerbang rumahku tertutup rapat.
Aku ngedumel sendiri, jelas tadi aku bilang pada Emma untuk tidak menutup gerbang agar aku bisa masuk lebih mudah, tapi dia tetap saja menutup gerbangnya.
Aku menggeser pelan pintu gerbang itu, dan mematikan mesin motor, lalu kembali menutup pintu gerbang tersebut.
Aku menuntut motor itu masuk garasi rumah, dan aku pilih masuk lewat pintu garasi. Tidak kutemukan keberadaan Emma di ruang tengah, akan tetapi televisi masih terlihat menyala.
Aku berjalan ke arah dapur, berniat mengambil sendok dan piring , saat tiba-tiba aku justru mendengar suara aneh di balik pintu kamarku.
"Aah... Aah... Aah. Enak Mas...!" suara aneh yang belum pernah aku dengar sebelumnya.
Aku menajamkan pendengaranku, berjalan sangat pelan ke arah pintu kamar dan menempelkan telinga ku ke sisi daun pintu.
"Ooh milik kamu benar-benar enak Emma. Sempit dan menjepit!"
Ada suara lain yang ikut aku dengar dari arah sana, bahkan jelas aku mendengar nama Emma ikut disebut, dan aku yakin jika ini bukan suara dari arah televisi.
"Aaah... Aaah... Lebih dalam Mas. Ayo lebih dalam lagi. Eeenak... Ehm!" kembali suara yang terdengar seperti rancauan itu menyapa gendang telingaku, dan mendadak degup jantungku berdetak lebih cepat.
"Ooh... Ooh.. oo!" suara lain kembali menyaut.
Aku benar-benar merasa penasaran, dan perlahan aku menekan gagang pintu itu untuk mengintip ke dalam kamar, melihat suara apa yang baru saja aku dengar.
Jujur.... Aku takut Emma kenapa-kenapa, jadi aku juga mengambil balok kayu di sisi dinding untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang menakutkan sedang mengusik Emma. Namun alangkah terkejutnya aku saat melihat jika Emma, istriku justru sedang...........