bc

SENGGEGER ( Di Kutuk Jadi Gagah Perkasa )

book_age18+
459
FOLLOW
1.1K
READ
dark
forbidden
family
HE
confident
stepfather
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
city
office/work place
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

⛔⛔⛔ EDISI HAREEM ⛔⛔⛔

-

Heri di teriaki pecundang oleh istrinya , hanya karena miliknya tidak bisa bangkit , meski sudah digoda, bahkan di beri obat perangsang... hingga akhirnya diselingkuhi.

-

Kecewa tentu saja Heri rasakan, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah berusaha untuk membuat miliknya bangkit, tapi segala upayanya gagal dan gagal lagi, hingga akhirnya sebuah buku mantra yang di berikan kakeknya merubah segala.

-

Sebuah kutukan yang dia nikmati.

-

Heri menjadi sangat perkasa, saking perkasanya, dia di kelilingi wanita-wanita cantik pemburu hasrat.

-

Di satu sisi Heri mendapatkan keperkasaannya, tapi di sisi lain, dia harus berurusan dengan para laki-laki penguasa , para suami dari wanita-wanita di sekeliling Heri.

-

Lalu apakah yang akan Heri lakukan untuk menghentikan kutukan mantra-mantra itu?

-

Bagaimana cara dia kembali ke kehidupan normal, tapi tetap dengan keperkasaannya, agar tidak lagi di juluki sang pecundang

-

Simak kisahnya di sini.

chap-preview
Free preview
1. Mantra Pemikat
"Sembah sujud raya sejagad, Pati Yusup aura pemikat. Sinar Candrama menggantung purnama, bias sempurna rupa dan raga. Ku hembuskan nafas se-aroma bunga rumput, berbisik pada dersik lanang sejagad. Takluk hati, takluk pandangan, dan kau... wanita yang berani menatap mataku, tunduk lah dalam jerat mantra ku." Aku membaca satu mantra , seraya memutar cincin bermata merah bata di jari tengah tangan kiriku, dan pandangan ku tertuju pada satu wanita bergaun merah anggur di depan sana. Di tangannya ada segelas minuman anggur berkualitas tinggi. Tubuhnya molek, pinggangnya ramping dengan pinggul yang lebar, padat dan mempesona... rambut coklatnya yang bergelombang semakin menyempurnakan kecantikannya. Aku langsung terpikat ketika pertama kali memandangnya, tapi bukan jatuh cinta, tapi lebih ke berhasrat, hingga darah dalam tubuhku terasa berdesir lembut dengan gejolak kuat yang terasa seperti menarik langkahku untuk mendekatnya, meraih pinggangnya lalu memeluknya sambil berbisik tepat di depan bibirnya. Aku menghabiskan satu gelas anggur di depanku. Aku kembali membaca mantra, dan kemudian memutar cincinku seratus delapan puluh derajat, lalu meniup udara di depanku hingga mengenai wajah cantiknya, dan seketika dia tertegun, seperti kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Aku menyapa... lalu menjentikkan jari tepat di depan wajahnya untuk mengembalikan kesadarannya. "Hey... Kau sendiri...?!" aku menyapa ramah, seperti cara seorang yang sangat dekat dengannya, dan dia langsung terkesiap. "Hey...!" dia balas menyapa. "Sendiri saja...?!" aku bersikap ramah, dan dia balas tersenyum. "Mau aku temani...?" aku kembali berseru rendah, dan dia kembali tersenyum, lalu mengangguk. Aku mengulurkan tangan di depannya, menyebut namaku agar dia lebih santai menjawab tanyaku. "Aku Heri...?" Dia langsung menjabat tanganku, dan ikut menyebut namanya sendiri, "Cyndi." Aku terus saja menatap matanya, mencoba tenggelam dalam pikirannya. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat menggoda , tapi tiba-tiba wanita itu, Cyndi justru menggenggam tanganku sambil berkata. "Tolong aku. Tolong tenangkan aku!" Aku tersenyum, tersenyum penuh kemenangan, karena ini artinya mantra ku sudah menemukan titik lemah lawannya. Aku bangkit dari dudukku, meraih tangannya, lalu menuntun Cyndi meninggalkan tempat duduknya, berjalan menyusuri koridor lantai tiga hotel itu, dan membuka satu pintu kamar yang biasa aku pakai. Aku melepas tangannya, berjalan lebih ke tengah, mendaratkan tubuhku di sofa besar di tengah ruangan. Lampu aku biarkan tamaran, dan tanpa aku minta, Cyndi langsung duduk di lantai samping sofa tempat aku duduk, seperti b***k dengan tuannya. Cyndi mendongak ke arahku, kedua tangannya bertumpu di lututku, dan dari arah dudukku, aku bisa melihat sorot matanya yang terlihat mengiba. Hilang sudah pesona dan sisi glamor dari seorang Cyndi, tergantikan rasa aneh yang tiba-tiba membuncah gelisah. Dia bagai wanita yang sedang patah hati, mengemis cinta dari seorang laki-laki asing yang baru dia temui, sementara aku duduk bagaikan raja di singgasananya dengan segala kekuasaannya. Aku menarik ujung dagunya untuk benar-benar menatap mataku, dan perlahan aku menurunkan sedikit wajahku untuk lebih dekat dengannya, dan satu kecupan mendarat di bibir Cyndi, diikuti satu mantra terakhir. "Apa kau menginginkan ku...?" Aku berisik lirih, akan tetapi terdengar tegas dan kuat, dan tanpa sadar dia mengangguk. Tanganku masih menahan ujung dagunya, dan detik berikutnya aku kembali menjangkau belah bibirnya yang merah karena polesan lipstik, menyesapnya lembut, tapi juga penuh nafsu, dan saat dia membalas ciuman ku, aku justru menarik ciuman itu. "CK...!" Aku melihat dia mendesah kecewa, akan tetapi aku justru tersenyum. Aku menarik tubuhku, bersandar pada punggung sofa tinggi di belakangku kedua tangan aku rentangkan ke kiri dan ke kanan, dan tanpa aku minta dia mulai menyentuh, menggoda tubuhku agar hasrat itu bangkit lalu kembali menyentuhnya, akan tetapi aku tidak buru-buru melakukannya, karena itu bukanlah cara biasa aku bermain. Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan halus Cyndi di kedua sisi pinggangku, dan perlahan aku merasa kecupan demi kecupan Cyndi di kedua lututku, lalu kecupan itu perlahan naik ke paha, perut, lalu ke d**a dan dagu ku. Aku merasakan tangan Cyndi mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang aku gunakan, menyentuh lembut d**a lebar ku yang liat dan berotot. Aku menuang satu gelas anggur di dadaku, dan cairan itu mengalir dari lekuk tulang leher hingga pusarku, dan iya... Cyndi seperti tau isyarat yang sedang aku berikan padanya. Iya... Cyndi menyesap air anggur di tubuhku, menjilatinya seperti wanita yang haus akan sentuhan, dan aku menikmati sentuhan itu, menikmati lidahnya saat menyisir tubuh liat ku, dan perlahan Cyndi juga melonggarkan ikat pinggangku, menarik turun celana bahan yang aku gunakan, hingga terong gelap itu terekspos dibawah remang-remang lampu ruangan. Aku terdiam, menunggu apa yang akan dia lakukan, dan dia tiba-tiba berdiri, melepas gaun indah yang membungkus tubuhnya, lalu duduk di sebelah pahaku. Tangannya kembali membelai garis d**a dan leherku, mengoda hasrat ku, hingga akhirnya malam itu kami lewati dengan bercinta, berbagi peluh kenikmatan, dan saat dia sudah tidak lagi bisa menahan gejolak ombak dalam tubuhku, aku menyelesaikan permainan dengan penuh kepuasan. Kami tidur di ranjang yang sama, dan saat aku kembali membuka mata, ternyata hari sudah pagi. Aku tidak bisa mendapatkan wanita itu di samping ranjang ku, akan tetapi tas dan pakaian yang dia gunakan sebelumnya masih terongoh di lantai depan sofa besar tempat aku duduk semalam, dan suara gemericik air seperti memberitahuku jika wanita itu ada di dalam sana, di kamar mandi. Aku bangkit dari rebah ku, meraih handuk di laci bawah tempat tidur, kemudian berjalan ke arah meja sofa, meraih gelas air putih untuk menyegarkan rasa kering di tenggorokanku, saat tiba-tiba sepasang tangan ramping melingkar di antara bahu dan pinggangku. Aku tetap tenang, tidak kaget, dan tetap melanjutkan minum ku. Beberapa kecupan dingin kembali mendarat di punggungku, di ikuti bisikan lembut dari bibir wanita yang sedang memelukku. "Kau benar-benar luar biasa, Heri. Maukah kamu ikut denganku, dan menjadi milikku. Aku akan menjamin semua kebutuhanmu, memberikan hidup yang layak, dan penuh kemewahan!" bisik Cyndi tepat di samping telingaku, dan aku hanya balas tersenyum, lalu membalas kecupan Cyndi di lengan wanita itu. "Kenapa...?" tanyaku pura-pura. "Aku jatuh cinta padamu, dan aku ingin kau jadi milikku!" jawab Cyndi. Aku tidak menjawab, tapi hanya membagi senyum, karena nyaris semua wanita yang pernah naik ke atas ranjangku mengatakan hal yang sama. 'Jatuh cinta padaku dan ingin aku menjadi miliknya'. Namun tentu saja tidak satupun dari mereka berhasil mengikatku seperti yang dia inginkan. Tidak. "Akan aku pikirkan nanti!" jawabku. Tentu saja aku tidak bisa langsung menolak permintaan manis wanita itu, akan tetapi juga tidak bisa langsung menerimanya, karena aku masih belum tahu seberapa lama pengaruh mantra itu. Cyndi mengeluarkan satu kartu nama, juga segepok uang dan menyerahkannya padaku, berpikir bisa membeliku dengan uang itu. Namun meski demikian aku tetap hanya menyunggingkan senyum profesional kemudian mengangguk. Aku melihat Cyndi seperti enggan meninggalkan kamar itu, tapi aku mengatakan jika aku harus pergi, dan memintanya untuk pergi lebih dulu, dan nanti aku yang akan akan menghubunginya, dan dengan perasaan tidak rela , dia kembali menggunakan pakaiannya dan pergi meninggalkan kamar itu. Aku kembali duduk di sofa besar tengah kamar itu, menyesap batang rokok untuk menikmati rasa puas dalam diriku, dan seketika ingatan masa lalu kembali menghantuiku , seperti virus menjijikkan yang enggan pergi dari pikiranku. Tentang sebuah pengkhianatan yang pernah menjatuhkan harga diriku, meskipun aku tahu, pengkhianatan itu seperti jembatan untuk menjadikan aku dengan versi baruku yang sekarang, gagah perkasa , dan jadi buronan wanita-wanita cantik.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
4.7K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.2K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.8K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.8K
bc

After We Met

read
187.5K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook