"Dasar pecundang. Sudah capek-capek aku berdandan dari sore tadi, mandi air kembang, pake parfum wangi, pake bedak , lipstik , baju sexi, tapi kenapa terong kamu masih saja gak bangun Heri," cerca Emma saat lagi-lagi usahanya untuk membuat terongku bangkit harus berakhir gagal.
"Ooh aku benar-benar sudah capek Heri. Satu tahun menikah sama kamu, kamu tidak sekalipun menyentuhku. Ooh tidak.... kamu pernah menyentuhku, sekali, dan itu tepat di malam pertama kita, tapi itupun kamu gak sampai selesai. Baru masuk kepalanya doang , tapi terong kamu udah keburu lemes duluan!" ucap Emma lagi, mengingat malam pertama kami satu tahun lalu yang harus berakhir dengan kegagalan, karena terong ku tak kunjung berdiri tegak bahkan sebelum benar-benar memasuki l**************n wanita itu, wanita yang berstatus istriku.
"Ooh jika begini, kapan aku bisa hamil, Heri. Aku sudah capek ditanya melulu perkara anak sama Ibu dan ayahku. Belum lagi teman-temanku justru menganggap aku mandul , hanya perkara aku belum hamil sampai sekarang, padahal terong kamu yang bermasalah dan tidak bisa bangun!" teriak Emma , dengan segala kekecewaannya.
Aku hanya terdiam, tidak bisa mendebat segala ocehannya, karena mau bagaimana lagi apa yang dikatakan Emma memang tidak salah, dan aku mengakui kelemahanku yang tidak bisa bangkit dan berdiri, meskipun sudah melakukan segala cara.
Aku sudah mengikuti anjuran dokter untuk minum suplemen khusus, bahkan berobat ke psikiater, akan tetapi semua segala usahaku itu seperti sia-sia. Delapan bulan bolak-balik ke rumah sakit dan klinik psikiater ternyata tidak membantu terong ku bisa berdiri tegak dan gairah bercintaku bangkit seperti ketika aku belum menikah dengan Emma.
Istriku terus saja mengatakan jika aku tidak normal, dan aku tidak bisa membantahnya. Dulu saat kami masih belum menikah... kami sering melakukan kontak fisik, seperti berpegangan tangan, berciuman bahkan sampai berpelukan, akan tetapi memang tidak sekalipun aku pernah berniat untuk merusak wanita yang aku cintai itu dengan menggaulinya sebelum kami terikat pernikahan. Namun saat kami benar-benar sudah resmi menjadi suami istri, hasrat itu tiba-tiba mati, terong ku tidak bisa berdiri sempurna, meskipun Emma sudah menggodanya sedemikian rupa.
Jangan tanya seberapa banyak jamu yang sudah aku minum, sudah seberapa sering Emma mencampur obat perangsang di makanan atau minumanku, harapannya tentu saja agar aku bisa b*******h dan menginginkan dirinya sepenuhnya lalu kami akan bercinta dengan peluh yang begitu nikmat dan bergejolak, akan tetapi semua itu tidak bereaksi di tubuhku.
Rasa b*******h itu hanya bangkit beberapa menit saja, akan tetapi saat aku akan melakukan penetrasi dan menenggelami lembah surgawi miliknya, tiba-tiba terong ku langsung lemas tak berkutik.
Aku tidak tahu apa yang menyebabkan hal itu terjadi, padahal jelas tujuan aku menikahi Emma agar aku bisa menjamah tubuhnya secara benar dan baik, sesuai norma dan ketentuan yang berlaku. Namun entah ke mana hilangnya gairah dan rasa yang begitu menggelora aku rasakan sebelumnya ketika aku belum benar-benar menikahi Emma, semua seperti lenyap tenggelam dalam dasar lautan yang dalam dan sulit untuk diselamatkan.
"Sayang... Aku harus bagaimana...? Apa kamu pikir aku juga tidak ingin melakukan ini? Aku mencintaimu, Emma. Sangat mencintaimu. Alasanku menikahi mu memang agar kita bisa memperluas keturunan kita, akan tetapi apa yang terjadi denganku saat ini benar-benar di luar dugaanku!" Aku meremas rambut di kepalaku dengan rasa frustasi yang begitu kentara, akan tetapi Emma justru berdecak kecewa.
Ini bukan kali pertama aku melihat kekecewaan di wajah wanita yang sangat aku cintai itu, tapi nyaris setiap malam, setiap kali Emma menginginkan aku menggagahi tubuhnya, Emma akan berakhir dengan marah-marah dan aku lagi-lagi tidak bisa membela diriku sendiri yang terlalu lemah seperti ini.
"CK... Kau selalu saja berkata seperti itu, dan lama-lama aku mulai bosan mendengar pembelaanmu yang tidak masuk akal itu, Heri!" Balas Emma yang kini justru melempar satu bantal ke arahku sembari menunjuk ke arah pintu, dan jika sudah seperti ini, artinya aku diminta untuk tidur di luar kamar kami.
Emma melipat kedua tangannya di depan d**a, memasang wajah cemberutnya, gaun malam berwarna merah menyala harusnya bisa membangkitkan gairah dan libido ku untuk bercinta, akan tetapi sialnya itu semua tidak pernah benar-benar berhasil membuatku bangkit dan b*******h.
Dalam hati aku mengumpati diriku sendiri dengan segala ketidakmampuanku ini. Cacian Emma barusan masih dibilang biasa-biasa saja, bahkan beberapa waktu lalu Emma sampai mengumpat kasar padaku hanya perkara dia yang sudah begitu menggebu karena pengaruh obat perangsang yang salah dia minum, dan saat itu aku benar-benar tidak bisa membantunya, bahkan untuk sekedar menjamah tubuhnya pun aku merasa aneh, apalagi untuk benar-benar menenggelami nya dengan sempurna.
Emma berteriak dengan kemarahan yang begitu mengguncang. "Percuma kamu punya wajah tampan, badanmu besar, otot-otot tubuhmu bergaris dan liat, jika terong kamu tidak bisa berdiri dan memuaskan aku. Cih... Kalo kayak gini, aku bisa mati karena stress!"
Percayalah, di sini tidak hanya Emma yang stres, tapi aku juga jauh lebih stres dari dia, hanya saja aku tidak berani bercerita, jadi biarkan Danny saja yang bercerita.
Aku menghela nafas dalam diam, memeluk bantal dan selimut yang Emma lempar padaku tadi, lalu berjalan linglung keluar kamar.
Emma membanting pintu, menguncinya dari arah dalam, sementara aku hanya bisa menghela nafas kasar.
Pandangan mataku tertuju ke arah kursi panjang di ruang tengah depan televisi, meletakkan bantal itu lalu menarik tubuhku untuk segera menenggelami alam mimpi, berharap Emma tidak akan lagi mengoceh panjang lebar perkara aku yang tidak mampu menuntaskan hasratnya, dan iya, selang beberapa menit aku langsung tertidur, tapi tidak benar-benar terlelap.
Seperti setengah tidur, dimana mataku terlihat terpejam sempurna, nafasku terasa teratur, akan tetapi setengahnya lagi aku menyadari jika televisi di depanku masih menyala, dan aku bisa mendengar setiap percakapan yang di terjadi di layar televisi itu.
Iya.. aku mendengarnya, tapi tubuhku seperti tidak bisa bergerak, dan terperangkap. Di alam bawasadarku.
"Apa dia benar-benar sudah tidur...?" suara seorang laki-laki, tapi menggunakan bahasa dialek daerah ku. Bukan bahasa Indonesia seperti para presenter televisi ketika berbicara, membawakan acara televisi atau sekedar menyiarkan berita.
"Iya. Dia sudah tidur. Lagian dia emang biasanya tidur seperti itu, kalo sudah seperti ino, dia gak akan bergerak lagi!" suara seorang wanita menyaut , dan aku seperti mengenal suara itu.
"Ooh syukurlah. Kalo begitu, kita bisa langsung mulai. Aku benar-benar sudah tidak tahan!" suara seorang laki-laki, dan perlahan aku berusaha mengingat siapa pemilik suara itu, akan tetapi sekeras apapun aku berusaha mengingat itu, aku tetap saja tidak bisa memastikan siapa pemilik suara laki-laki itu.
"Aah iya. Ayo masuk. Dimana kamu memarkirkan motor kamu...?!" suara seorang wanita kembali aku dengar.
"Di sebelah rumah, di bawah pohon jambu . Agak gelap, jadi gak akan ada yang melihatnya dari arah gerbang!" suara laki-laki itu kembali menjawab, di ikuti suara pintu di tutup, lalu di kunci , dan setelahnya hening.
Aku tidak bisa lagi mendengar apapun, dan aku berpikir, mungkin televisi di depanku sudah mati hingga kini suara itu tidak lagi tertangkap oleh indera pendengaranku, dan aku berusaha menenangkan pikiranku, agar bisa tidur dengan tenang, karena besok aku masih harus bekerja, dan aku tidak boleh telat, atau resikonya, aku akan gagal dapat promosi di perusahaan tempat aku bekerja satu tahun lebih ini.
Malam itu , aku kembali bermimpi. Mimpin yang sama seperti mimpi-mimpi aku beberapa hari terakhir.
Aku bermimpi bertemu dengan almarhum kakekku, beliau memintaku ke gudang tua di belakang rumah kayu beliau. Rumah yang sudah tidak di tempat lebih dari sepuluh tahun lalu, terhitung sejak kakekku meninggal. Rumah itu sudah sangat reot, dan gelap, hingga siapapun yang melihat bangunan itu pasti akan mengira jika itu adalah rumah hantu.
Dalam mimpiku, kakek berkata padaku untuk mencari kotak kayu jati berwarna coklat usang, dan di kotak itu ada sebuah rahasia besar.
Aku seperti merasakan tangan keriput kakek menggenggam tangan ku, dingin , seolah ingin menuntun ku ke gudang belakang rumahnya, dan kali ini, tidak hanya kakek ku yang aku lihat, tapi almarhum nenek dan bapakku pun ada di belakang kakek.
Suasana semakin terasa sunyi, udara di sekeliling ku terasa membeku, hening, dingin , tapi terasa begitu menegangkan, hingga aku bisa merasakan bulu-bulu di tubuhku berdiri kaku. Tengkuk ku terasa keras , langkah kakiku terasa berat, ragu, seperti ada yang menahan kedua kakiku untuk tidak berjalan dan mengikuti mereka.
Kilat putih seperti menari di pelupuk mataku, melambai-lambai memintaku untuk ikut dengannya, dan bulu-bulu di tubuhku semakin terasa meremang, seperti ada arwah yang sedang mengangkat tubuhku hingga kakiku tidak lagi menapak di bumi.
Perlahan aku bangkit dari dudukku, bersiap untuk mengikutinya, akan tetapi detik berikutnya.......