Chapter 4

1626 Words
    Marco mengetukkan bolpennya ke meja kerjanya dengan tidak sabar. Sudah semingguan ini Marco tidak bisa berkonsentrasi terlalu lama pada pekerjaannya. Jika pekerjaannya sedang banyak, Marco memang nyaris tidak memikirkan wanita itu. Tapi jika ada waktu sedikit saja, saat pekerjaannya nyaris kosong seperti saat ini, pikirannya pasti akan melayang ke wanita itu.    Alexandra Mardiwiyono. Marco tersenyum getir saat mengingat nama itu. Itu adalah nama yang sulit dilupakannya beberapa hari terakhir ini. Sebenarnya, Alexa tidak berbeda dengan gadis kebanyakan. Marco mengakui gadis putih tinggi itu memang cantik. Dia juga sangat menarik. Tapi Marco juga sering bertemu dan berhubungan dengan gadis-gadis yang bahkan lebih cantik dari Alexa. Herannya, hanya Alexa yang mampu membuatnya seperti ini.    Sejak pertama kali bertemu dengan Alexa, ada ketertarikan tidak biasa yang dirasakan Marco. Seandainya saat itu Marco tidak buru-buru akan bertemu dengan klien, Marco pasti memilih lebih lama dengan gadis itu. Yah, sekalipun dengan kemeja basah akibat perbuatan Alexa. Untung saja Alexa sempat menyebutkan nomor kamarnya sehingga Marco tetap bisa berkenalan lebih lanjut dengan Alexa.    Marco semakin tertarik dengan Alexa saat melakukan pembicaraan dengan gadis itu. Tanpa diduganya, Alexa bukan hanya cantik tapi juga pintar dan menyenangkan. Waktu terasa begitu cepat saat mereka berduaan. Saking tertariknya, Marco bahkan nekad mencium Alexa, yang menjadi awal semua kejadian tidak menyenangkan beberapa saat setelahnya.     Marco menggeram kesal saat kembali mengingat malam itu. Marco yakin Alexa pasti merasakan ketertarikan yang sama dengannya. Tapi hingga kini, Marco belum punya bayangan sama sekali mengapa Alexa mendadak menghentikan permainan mereka dan meninggalkannya begitu saja.     Mengenang malam itu membuat Marco gusar. Dengan sebal, dilemparnya bolpen yang sedari tadi dipegangnya ke mejanya. Mendadak banyak kata ‘seharusnya’ yang muncul di benaknya.     Seharusnya saat itu Marco langsung menyusul Alexa ke kamarnya. Seharusnya dia meminta penjelasan atau minimal meminta maaf atas kelancangannya. Atau entahlah. Yang jelas seharusnya dia menemui Alexa, bukan malah cek out tengah malam dan kembali ke apartemennya yang masih berbau cat setelah proses renovasi yang memakan waktu seminggu penuh itu. Jika saat itu Marco lebih mengikuti kata hatinya dan tidak mempedulikan egonya yang terluka, mungkin dirinya tidak akan terlalu frustasi seperti sekarang.     “Aku harus menemui wanita itu lagi,” gumam Marco penuh tekad. “Tapi bagaimana caranya supaya aku bisa menemukan Alexa di kota sebesar Jakarta?” lanjutnya mulai pesimis.     Marco memejamkan matanya sambil bersandar di kursinya. Otaknya berpikir keras. Bahkan untuk menyewa detektif swasta untuk mencari Alexa, itu belum tentu berhasil mengingat betapa minimnya informasi yang dimilikinya tentang Alexa. Satu-satunya yang dia tahu tentang wanita itu hanyalah namanya. Dan Marco benar-benar tidak yakin itu cukup.     Marco kembali memutar otak untuk mencari Alexa. Sekali lagi dia mengingat pembicaraannya dengan Alexa. Saat sebuah informasi terlintas di otaknya, Marco membuka matanya nyalang. Benar. Sepertinya menemukan Alexa bukan hal yang benar-benar mustahil untuk dilakukan. Sekalipun sangat sulit, masih ada kemungkinan Marco menemukan Alexa dengan bantuan adiknya.     Marco tersenyum lega. Philip, adiknya, adalah pemilik PT. Serein yang bergerak di bidang industri sabun. Alexa pun bekerja di lingkungan yang serupa. Marco yakin perusahaan sabun di Jakarta tidak sebanyak yang dibayangkannya. Sekalipun butuh proses dan waktu yang tidak sebentar, pasti tidak akan terlalu sulit melacak perusahaan sabun yang baru-baru ini mengadakan kerjasama dengan perusahaan di Malaysia.”     Untuk pertama kalinya dalam hari itu, Marco akhirnya tersenyum lebar. Dia tahu ini sedikit gila, tapi Marco bertekad harus bisa menemukan Alexa. Marco perlu menemui Alexa minimal sekali lagi untuk menuntaskan rasa penasaran dan frustasinya selama seminggu terakhir.     Sekali lagi Marco menimbang keputusannya. Selama 33 tahun hidupnya, dia belum pernah merasa tertarik seperti ini pada seorang wanita. Bahkan kepada Tania yang dulu sempat dicintainya. Marco meneguhkan hatinya. Sepertinya Alexa pantas untuk diprioritaskan. Berusaha mengabaikan suara-suara menentang dalam kepalanya, Marco memutuskan untuk kembali ke Jakarta.     Marco mengambil teleponnya dan menekan angka yang langsung menyambung ke sekretarisnya. “Pesankan aku tiket ke Jakarta malam ini juga. One way saja. Dan siapkan rapat manager dalam waktu satu jam. Aku akan tinggal agak lama di Jakarta.”   ***       “Inget ya, Lex, kita pacaran sudah tujuh tahun. Kenal saat kuliah. Sudah cocok dan mengerti satu sama lain. Rencana menikah kurang lebih dua tahun lagi,” kata Philip sambil memasukkan mobilnya ke halaman rumah orangtuanya.     Alexa melirik Philip dengan sebal. Entah sudah berapa kali Philip mengatakan hal yang sama sepanjang perjalanan mereka. “Sekali lagi lo bahas itu, gue turun sekarang. Bosen gue dengernya,” omel Alexa kesal.     Philip meringis bersalah. “Gue tegang, Lex. Lo harus berhasil bikin Mama suka sama lo supaya gue aman dari segala perjodohan yang diatur Mama.”     “Iya, Lip, gue ngerti. Serahin semuanya ke gue. Lo tinggal pasang ekspresi sebagai bucin gue, lainnya gue yang atur.”     “Najis banget gue jadi bucin lo, Lex,” protes Philip tegang.     Alexa tertawa melihat ketegangan Philip. Dengan santai, Alexa menepuk punggung tangan Philip. “Santai, Lip, semuanya akan berjalan lancar seperti jalan tol. Kalau sampe ada sedikit aja cacat, lo bisa batalin reservasi Maldives gue.”     Philip tertawa kecil dan mulai terlihat lebih santai. “Kalau semuanya lancar hari ini, gue mungkin bisa upgrade reservasi honeymoon lo, Lex.”     “Bagus. Kebetulan lo ngomong. Akhir-akhir ini gue sudah nggak minat sama Maldives. Gue pingin keliling Eropa aja pas bulan madu nanti.”     “Sialan lo, Lex!”   ***       Alexa ternyata bisa mengatasi Ibu Philip jauh lebih baik daripada yang dibayangkan Philip. Setelah melihat interaksi Alexa dan ibunya, Philip merasa kekhawatirannya seharian ini benar-benar sia-sia. Philip tersenyum lega. Terutama karena Philip menangkap sinar persetujuan yang terpancar dari bola mata ibunya.    “Ayo, Alexa, makan yang banyak. Ini semua buatan Tante lho,” kata Ibu Philip sambil menyendok sayur banyak-banyak ke piring Alexa.    “Wah, yang bener Tante? Hebatnya. Kapan-kapan Alexa belajar masak di Tante ya,” kata Alexa sambil tersenyum manis.     Tidak langsung memakan makanannya, Alexa balas berdiri dan mengambilkan beberapa lauk ke piring ibu Philip. Diam-diam Philip tersenyum geli. Alexa jauh lebih pandai berakting daripada perkiraannya. Penasaran, Philip melirik Alexa dan menunggu tindakan apa lagi yang bisa dilakukan Alexa untuk menakhlukkan ibunya.     Philip kembali menahan tawa saat melihat Alexa mendadak membelalak kagum begitu menyuapkan satu sendok sup tom yum ke dalam mulutnya. Sekali lagi, pujian untuk ibunya mengalir dari mulut Alexa. Philip menggeleng samar. Sepertinya lain kali dia harus lebih hati-hati pada Alexa. Sahabatnya yang satu itu bisa menjadi penipu yang cukup andal, kalau tidak boleh disebut penjilat kelas wahid.     “Kalau kamu mau, Lex, Tante bisa kok ajarin kamu masak. Kamu bisa ke sini waktu kamu libur atau senggang. Nanti kita masak sama-sama. Itung-itung juga latihan sebelum kalian nikah,” tawar Ibu Philip antusias. “Omong-omong, rencananya kapan kalian nikah?”     Dari yang semula tersenyum, Philip langsung tersedak. Dengan cepat, disambarnya air putih yang ada di hadapannya. Alexa menoleh ke Philip dan menepuk punggungnya pelan.     “Hati-hati donk kalau makan,” nasehat Alexa.     “Kamu kenapa bisa sampai tersedak gitu sih, Lip? Pelan-pelan aja makannya,” tambah Ibu Philip heran.     “Mama sih, orang lagi makan enak-enak kok ngomongnya ke nikah,” kilah Philip.     “Lho, apa yang mau ditunggu? Kalian pacaran sudah tujuh tahun. Umur sudah matang. Pekerjaan sudah mantap. Tinggal nikah kan?” desak Ibu Philip.     “Kan Philip sudah bilang, Philip baru mau nikah minimal dua tahun lagi. Sekarang Philip masih harus konsentrasi untuk ngembangin perusahaan, Ma.”     Ibu Philip mencibir. “Nanti Alexa keburu diambil orang, Lip!”     Belum sempat merespon ucapan Ibunya, bel pintu rumah Philip berbunyi nyaring. Bik Inah, satu-satunya pembantu di rumah itu, buru-buru berjalan keluar untuk membuka pintu.     “Siapa ya yang datang malam-malam begini?” gumam Ibu Philip heran. “Sebentar ya, Alexa, Tante lihat dulu siapa yang datang.”     “Iya, Tante,” jawab Alexa sopan.     Sepeninggal ibunya, Alexa cepat-cepat menatap Philip. “Apa gue bilang? Nyokap lo ngebet nyuruh kita nikah kan? Lo pinter-pinter aja cari alasan mulai sekarang.”     Philip menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Yang penting ini jalan dulu deh, Lex. Urusan itu, kita pikirkan besok.”     Alexa menyeringai. “Ralat… Bukan kita, tapi lo!”     Philip tak sempat membalas ucapan Alexa. Teriakan bahagia ibunya membuat Philip dan Alexa langsung menoleh ke sumber suara. Dan tak perlu terlalu lama untuk mengetahui apa yang membuat ibunya berteriak bahagia seperti itu.     “Philip, cepat ke sini, kakakmu pulang!” kata Ibu Philip antusias.     Mata Philip langsung melotot saat mendengar teriakan ibunya. “Sialan. Kenapa itu bocah mendadak pulang di saat seperti ini sih?” omel Philip mulai tegang. “Sekarang kita harus lebih hati-hati. Kakak gue agak kritis soalnya. Apalagi ke cewek.”     Alexa mengernyit bingung. Kakak Philip? Maksudnya kakak yang sudah menetap di Malaysia sejak 15 tahun silam itu?     “Si anak hilang maksud lo?” tanya Alexa memastikan.     Philip mengangguk cepat. “Habis gini gue akan cari alasan buat pulang duluan, lo tenang aja.”     “Elo kali yang butuh tenang. Gue santai aja kok.”     “Ah, iya, sepertinya gue yang jauh lebih tegang daripada lo. Ya sudah, ayo gabung ke depan dulu,” ajak Philip mulai berdiri dan mengisyaratkan Alexa untuk mengikutinya ke ruang tamu, tempat ibu dan kakaknya sedang bercengkrama.     Alexa sudah menyiapkan senyum terbaiknya saat melangkah ke ruang tamu. Senyumannya itu masih terjaga dengan baik saat melihat Ibu Philip merangkul putra pertamanya yang lebih tinggi hampir dua kepala itu. Namun saat rangkulan itu berakhir, saat putra pertama itu mendongak dan menatap ke arah Alexa dan Philip, senyum Alexa musnah seluruhnya. Bukan cuma musnah, wajahnya menjadi pucat dan seluruh tubuh Alexa langsung lemas seketika.     Tidak jauh beda dengan dirinya, si putra pertama itu sama syok nya dengan Alexa. Jika bukan karena Philip langsung merangkul kakaknya, pria itu mungkin masih berdiri kaku melihat Alexa.     “Lama banget kamu nggak pulang, Co!” kata Philip begitu melepas pelukannya.     Setelah Philip melepaskan pelukannya, tatapan Marco kembali mengarah tajam ke Alexa. Dengan agak salah tingkah, Philip menepuk bahu Marco dan tersenyum ke arah kakaknya.     “Kebetulan sekali kamu ke sini, Co. Ayo, kukenalkan pada pacarku,” kata Philip sebelum melangkah mendekati Alexa dan menarik wanita itu agar lebih dekat dengan kakaknya.     Alexa tersentak kaget saat Philip menggenggam tangannya. Setengah linglung, Alexa mengikuti Philip dan perlahan memperpendek jarak antara dirinya dan Marco.     Dengan senyum sinis, kakak Philip mengulurkan tangannya. Alexa memandangnya sekilas, merasa bingung tentang apa yang harus dia lakukan. Tak ingin membuat yang lain bertanya-tanya, Alexa menyambut uluran tangan itu.     “Marco Arinata,” kata pria itu dingin.     Dengan agak gemetar, Alexa membalas. “Alexandra Mardiwiyono.”     Marco kembali memberikan senyuman sinis lalu melepas tangan Alexa dengan cepat. Tanpa permisi, Marco melangkah memasuki ruang makan, meninggalkan Alexa yang terpaku. Baru ketika Philip mengandeng tangannya, Alexa tersadar dan mengikuti Philip kembali ke ruang makan.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD