Makan malam yang semula berjalan sangat lancar dan hangat, mendadak berubah menjadi dingin dan kaku. Paling tidak, itu yang dirasakan Alexa. Marco duduk tepat di hadapannya dan tanpa melihat Marco, Alexa tahu pria itu tak pernah sekalipun melepaskan tatapan sinis dan dinginnya pada Alexa.
Arinata… Alexa mengerang dalam hati mengingat nama itu. Benar-benar bodoh. Seharusnya Alexa bisa langsung menebak bahwa Marco dan Philip ini bersaudara. Selain bentuk mata dan rahang mereka yang hampir mirip satu sama lain, Marco dan Philip mempunyai nama belakang yang sama. Apalagi nama Arinata bukan nama yang umum digunakan. Belum lagi kenyataan bahwa kakak Philip pun bekerja di Malaysia. Seharusnya Alexa sudah bisa menghubungkan semuanya! Tapi bisa-bisanya dirinya sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu?
“Alexa ini sudah pacaran tujuh tahun dengan Philip, Co. Nah kamu, kapan kamu mau bawa pacarmu ke Mama. Masa kamu kalah sama Philip, Co?” goda Ibu Philip sambil menyendok nasi dan sejumlah lauk ke piring putra sulungnya.
“Tujuh tahun? Itu bukan waktu yang singkat,” kata Marco sambil berdecak.
Takut-takut, Alexa melirik ke arah Marco. Dalam hati, Alexa mengumpat tak karuan. Mana mungkin ada hal yang sekebetulan ini? Sial, sial, sial!!!
Jika situasinya tidak seperti ini, jujur Alexa pasti akan sangat senang bisa bertemu kembali dengan Marco. Tapi sekarang, apa yang harus dia lakukan? Nilainya pasti minus di hadapan Marco. Bahkan Alexa bisa merasakan kejijikan dari mata Marco sejak pertemuan mereka barusan. Bagaimana tidak, apa lagi yang bisa dipikirkan pria itu? Pacar adiknya ternyata begitu gampang untuk diajak keluar, dicium bahkan hampir berhubungan seksual dengannya! Bagaimana mungkin pria itu tidak jijik?
Alexa setengah menyesal memutuskan untuk melirik Marco. Saat matanya melirik Marco, Marco pun tampak sedang memandangnya tajam. Tak ada senyuman yang dulu sempat membuat hati Alexa berdesir. Yang tersisa hanya sebuah senyuman sinis yang dingin.
Alexa cepat-cepat menunduk begitu matanya bertemu dengan mata Marco. Dengan agak salah tingkah, Alexa berpura-pura sibuk dengan makanan di hadapannya.
“Lapar sekali ya?” sindir Marco.
Semua mata langsung menoleh ke Alexa. Terpaksa, Alexa menghentikan kegiatannya dan memandang Ibu Philip dan Philip sambil tersenyum lemah.
“Astaga, iya, kita ini kebanyakan ngobrol sampai-sampai lupa makan. Ayo, Alexa, diteruskan saja makannya. Tante sampai lupa makan juga. Terlalu senang Marco pulang. Maklum, sudah hampir setengah tahun ini Marco lupa rumahnya,” kata Ibu Philip sambil menatap sayang pada Marco.
Alexa mengangguk sambil tersenyum lemah. Begitu makan malam ini selesai, Alexa harus berhasil memaksa Philip untuk mengantarnya pulang. Terlalu lama berada di ruangan yang sama dengan Marco membuat kepalanya mendadak sakit.
Pura-pura tak melihat Marco, Alexa melanjutkan makannya secepat yang dia bisa. Begitu makan malam itu selesai, Alexa langsung menyeret Philip meninggalkan rumah itu.
*
“Kakak lo nggak suka sama gue,” kata Alexa pelan begitu dirinya memasuki mobil Philip.
Dengan cepat, Alexa memasang safetybeltnya sambil sesekali melirik pintu rumah Philip. Syukurlah, tidak ada Marco maupun ibunya di sana. Mungkin, sang ibu yang tengah bahagia dengan kepulangan putranya, masih belum puas bercengkrama dengan putranya hingga wanita tua itu melupakan tamunya.
Philip menoleh sekilas pada Alexa sebelum kembali berkonsentrasi dengan jalanan di hadapannya. “Kenapa lo bisa mikir kalau kakak gue nggak suka sama lo, Lex?”
Alexa bergeming, namun begitu pikirannya berkelana ke mana-mana. Alexa tergoda menceritakan semua yang terjadi padanya dan Marco di malam terakhirnya di Malaysia, tapi Alexa merasa begitu malu. Dia tak yakin bisa menatap wajah Philip lagi kalau sampai Philip tahu apa yang hampir saja dilakukannya dengan Marco. Tapi apa yang akan terjadi jika dia menutupi semua ini? Marco pasti tidak akan menyetujui hubungannya dengan Philip. Pasti. Tatapan jijik Marco sudah menjelaskan segalanya.
Alexa melirik wajah Philip, dalam. Kali ini Alexa benar-benar mempertimbangkan untuk menahan malu dan menceritakannya segalanya pada Philip. Demi kelancaran rencana Philip, Andrea harus melakukannya. Tapi saat ingin menceritakan segalanya, entah kenapa lidah Andrea terasa kelu.
“Astaga, Lex, tolong jangan ngelamun lagi dong!” protes Philip sebal.
Alexa tersentak dari lamunannya. Buru-buru Alexa membenahi posisi duduknya lalu menjawab santai pada Philip. “Tatapan mata kakak lo itu serem banget. Dia.… Dia ngeliatin gue terus sepanjang makan malam. Dia jelas-jelas nggak suka sama gue. Kayaknya lo perlu rencana baru, Lip,” kilah Alexa cepat.
Alih-alih panik, Philip hanya menggumam ‘ow’ tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di hadapannya.
“Tenang aja, Lex, nggak usah dipikir kalau soal Marco. Dia memang selalu begitu. Dingin dan selalu curiga sama semua wanita. Buat Marco, semua wanita itu sama, pengkhianat. Dulu, mantan pacarnya pernah mengkhianatinya, makanya dia punya pikiran yang jelek tentang seorang wanita. Dia juga anti sekali dengan sebuah hubungan. Marco tidak pernah menolak wanita yang mendekatinya, tapi dia tidak akan membiarkan wanita itu lebih dari hubungan ‘pertemanan’ yang singkat. Intinya, wajar kalau sekarang dia seperti tidak suka denganmu.”
Alexa menganga kaget mendengar informasi Philip. Secara tidak langsung, Philip menyebut kakaknya adalah pria b******k yang tidak berniat berhubungan serius dengan wanita manapun, namun tidak menolak para wanita yang mungkin mendekatinya? Mendadak, Alexa merasa patah hati. Jadi malam itu Marco menciumnya tanpa memiliki perasaan apapun pada dirinya? Untung saja prinsip yang dipegangnya untuk tidak berhubungan seks sebelum menikah, berhasil mencegah Alexa untuk mengalami patah hati yang lebih dalam daripada sekarang.
“Serius, Lex, lo nggak perlu mikirin si playboy cap kambing itu. Yang perlu lo ambil hatinya itu cuma mama. Lagian Marco nggak pernah lama kok di Jakarta. Paling lama seminggu, dia sudah balik. Jadi nggak perlu lo pikirin,” hibur Philip tenang.
Tidak ingin membuat sahabatnya curiga, Alexa menoleh ke Philip lalu mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati, Alexa meminta maaf pada Philip. Mungkin malam ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan kejadian di Malaysia pada Philip.
*
Sialan!!!!!
Marco meninju tembok kamarnya begitu dia sendirian. Benar-benar sialan! Ternyata Alexa sama saja dengan Tania! Wanita memang tidak bisa dipercaya. Dulu Tania mengkhianatinya dengan berselingkuh di belakangnya. Sekarang, Alexa yang begitu. Marco benar-benar salah menilai Alexa. Dikiranya Alexa adalah gadis baik-baik, tapi ternyata sebaliknya! Gadis itu ternyata tidak setia! Marco tidak pernah menduga kalau Alexa ternyata sudah punya kekasih. Parahnya lagi, kekasih Alexa tak lain adalah adiknya sendiri!
Marco menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya yang empuk. Jauh-jauh dia terbang dari Kuala Lumpur hanya untuk mencari Alexa. Sudah disusunnya rencana untuk mencari Alexa. Tapi siapa yang menyangka kalau semuanya tidak perlu.
Hanya dalam hitungan jam sejak menginjakkan kaki di Jakarta, Marco sudah berhasil menemukan Alexa. Tapi dalam situasi yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya, bahkan dalam mimpi sekalipun!
“b******k!” umpat Marco gusar.
Marco memejamkan matanya untuk menghilangkan kegusarannya, tapi sama sekali tak berhasil. Kegusarannya benar-benar mencapai puncak. Egonya tersentil hebat. Saat dia tertarik serius dengan seorang wanita, dia malah dijadikan selingkuhan oleh wanita tersebut! Sial!
Marco membuka matanya dan memandang langit-langit kamarnya dengan nyalang. Tidak bisa! Alexa tidak bisa dibiarkan! Setelah pacaran tujuh tahun dengan Philip, tidak seharusnya Alexa bisa begitu mudah menerima ajakan dari pria lain, bahkan sampai hampir menyerahkan tubuhnya pada pria lain tersebut. Philip dan Alexa harus putus. Philip pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Alexa. Philip pantas mendapatkan wanita baik-baik, bukan w**************n tak bermoral seperti Alexa!
“Lihat saja, Alexa, aku nggak akan membiarkan kamu berhubungan lebih lama dengan Philip!” janji Marco penuh dendam. “Kupastikan kamu akan menyesali semua ini kelak!”
***