Kedatangan Marco ke Indonesia telah merusak hari-hari tenang Alexa. Di satu sisi, dia senang bisa kembali melihat Marco. Tapi di sisi lain, bertemu Marco sekarang hanya akan membuatnya sakit hati. Apalagi tiap Andrea mengingat tatapan jijik Marco padanya malam itu.
Alexa memekik frustasi dalam hati. Dia benar-benar menyesal telah membiarkan Marco masuk dalam hidupnya. Dengan tidak bersemangat, Alexa mencari kunci apartemennya. Belum sempat membuka pintu apartemennya, sebuah suara mengejutkan Alexa.
“Ternyata kita bertemu lagi.”
Hampir saja Alexa menjatuhkan kuncinya saat suara bariton itu mendadak terdengar di belakangnya. Reflek, Alexa menoleh ke belakangnya dan dengan segera menemukan pemilik suara itu. Pemilik suara yang sudah dirindukan Alexa sejak seminggu silam.
Marco menyilangkan kedua kakinya sambil bersandar di tembok di samping pintu apartemen Philip. Kedua tangannya dimasukkan ke kedua saku jeansnya sementara matanya yang tajam mengamati Alexa lekat. Begitu melihat Marco, Alexa reflek kehilangan kontrol atas detak jantungnya. Detak jantungnya menderu. Otaknya terasa membeku. Matanya hanya sanggup menatap ke satu titik. Marco. Butuh usaha yang luar biasa keras dari Alexa sebelum dirinya akhirnya berhasil menghalau pesona Marco di matanya.
“Ya, ternyata kita bertemu lagi,” ulang Alexa sebelum berbalik dan berpura-pura sibuk memasukkan anak kunci ke lubang kunci apartemennya.
“Tidak mengundangku masuk?” tanya Marco begitu Alexa berhasil membuka pintu apartemennya.
“Sepertinya itu bukan ide yang bagus.”
Marco tersenyum sinis mendengar jawaban Alexa. “Kenapa? Takut aku akan menciummu lagi dan melanjutkan acara kita yang belum selesai?”
Alexa menatap Marco, dalam. Pria itu balas menatap Alexa dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Namun dengan kesinisan, sikap dingin maupun pandangan tajam yang cenderung meremehkan, Alexa tahu pria itu bukan lagi Marco yang hangat dan menarik hatinya dulu.
Alexa menghembuskan nafas lelah. Dia tidak ingin berdekatan dengan Marco sekarang. Paling tidak sampai dia memutuskan apa yang sebaiknya dilakukannya pada Marco.
“Kalau soal itu, kamu tenang saja. Aku sama sekali tidak berminat melanjutkan apapun dengan wanita seperti kamu,” kata Marco tiba-tiba.
Wanita seperti kamu?
Alexa membeku. Kata-kata tajam pria itu melukai hatinya. Merasa tidak ada gunanya melanjutkan pembicaraan yang berpotensi akan semakin menyakiti hatinya, Alexa menatap Marco dengan tatapan tertegas yang dia punya.
“Lebih tepatnya karena kita tidak punya urusan.”
Marco mendengus. “Yang benar saja. Justru urusan kita baru dimulai.”
“Menurutku kita tidak punya urusan. Permisi.”
Tanpa menunggu jawaban Marco, Alexa membuka pintu apartemennya dan melangkah masuk ke dalam apartemen. Baru akan menutup pintu apartemennya, mendadak Marco muncul di hadapannya dan menahan pintu apartemen Alexa dengan kedua tangannya.
“Kita punya urusan,” tandas Marco tajam.
Agak terintimidasi, Alexa terpaksa mundur dan memberi jalan pada Marco untuk masuk ke apartemennya. Sekali lagi, Alexa menghembuskan nafas lelah sebelum menutup pintu apartemennya.
Marco melangkah percaya diri ke dalam apartemen Alexa. Sambil melangkahkan kaki ke tengah ruangan, matanya menjelajah ke isi apartemen Alexa.
“Mau minum apa?” tanya Alexa datar setelah meletakkan tasnya di ujung sofa.
Pertanyaan Alexa membuat Marco menghentikan penjelajahan matanya. Tampak tak acuh, Marco melangkah mendekati sofa dan duduk di sana.
“Tidak usah repot-repot. Aku ke sini hanya ingin bicara denganmu.”
Alexa tidak mengindahkan perkataan Marco. Dia tetap melangkah ke arah dapur yang letaknya tepat di belakang sofa, hanya dibatasi pantry. Satu menit kemudian, Alexa sudah kembali dengan membawa dua gelas berisi orange juice di tangannya.
Melihat orange juice di tangan Alexa, Marco tersenyum. “Aku harap kamu tidak akan menumpahkan orange juice itu lagi ke bajuku,” canda Marco.
Alexa tersenyum singkat. Secara otomatis, pertemuan pertamanya dengan Marco terputar di otaknya. Namun senyuman itu hanya bertahan selama beberapa detik. Saat tatapan Alexa bersiborok dengan Marco, Alexa tahu segalanya sudah berubah sekarang.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Alexa tanpa basa-basi.
Marco mengambil orange juice yang diletakkan Alexa di meja, lalu memainkannya sebentar sebelum menatap Alexa dengan serius.
“Aku yakin kamu pasti tahu maksud kedatanganku kemari,” kata Marco tajam.
Alexa menatap Marco. Kali ini, tidak ada lagi senyuman atau mata yang bersinar usil di mata Marco. Yang dilihat Alexa sekarang hanyalah Marco yang begitu dingin dan mempunyai tatapan tajam.
“Katakan saja langsung. Aku tidak bisa menebak apa maksudmu,” ucap Alexa pelan.
“Baiklah. Kalau kamu tak suka basa-basi, akan kukatakan langsung,” tantang Marco. “Dua kata. Tinggalkan Philip!” lanjut Marco memerintah.
Keheningan tercipta seketika begitu Marco usai mengatakan maksud kedatangannya. Sebenarnya, Alexa sudah bisa menebak maksud Marco untuk menemuinya, tapi mendengar perintah Marco barusan membuatnya kesal. Memangnya apa hak Marco sehingga dia bisa mangatur hubungannya dengan Philip?
“Kenapa diam?”
Alexa melirik Marco dengan tidak suka. “Kenapa aku harus meninggalkan Philip?”
Marco mendengus. “Kamu masih berani bertanya kenapa? Kita berciuman dengan penuh gairah dan sudah setengah telanjang bukan? Ingat?”
Alexa berusaha membuat wajahnya tetap netral. Sialan Marco!
“Tapi pada akhirnya kita tidak melakukan apa-apa. Itu yang penting. Lagipula, itu tidak berarti apa-apa bagiku!” dusta Alexa.
Marco mencibir. “Benarkah? Apa ini menunjukkan kalau kamu sudah biasa berciuman bahkan having seks dengan orang asing?”
Alexa menatap Marco dengan penuh amarah. Hinaan Marco terhadapnya begitu keterlaluan!
“Kenapa? Marah? Apa ada yang salah dengan perkataanku?” desak Marco kejam.
“Kamu nggak tahu apa-apa tentang aku!”
“Benarkah? Aku malah berpikir yang sebaliknya.”
Alexa mendengus keras. “Kamu pikir, hanya bicara beberapa waktu bisa membuatmu mengenalku?”
“Aku tidak perlu bicara padamu untuk tahu bahwa kamu hanya memanfaatkan Philip. Uang Philip tepatnya. Saat kuliah, Philip membayarkan uang kuliahmu selama beberapa kali. Setelah lulus, Philip menyiapkan pekerjaan untukmu di perusahaannya. Bahkan apartemen ini pun, Philip yang membelikannya untukmu. Benar bukan? Kamu memanfaatkannya habis-habisan.”
Alexa ternganga. Semua yang dikatakan Marco itu bullshit. Benar Philip pernah membayarkan uang kuliahnya, tapi itu sifatnya adalah pinjaman karena kiriman uang untuk Alexa hampir selalu telat. Pada akhirnya, Alexa selalu mengembalikan uang yang dia pinjam sekalipun terlambat dua sampai tiga bulan. Benar juga Philip yang menyediakan lapangan pekerjaan bagi Alexa, tapi Alexa juga telah bekerja siang dan malam demi membantu Philip dan memastikan semua bantuan Philip padanya tidak sia-sia. Soal apartemen, ya, benar, Philip yang membeli apartemen ini, tapi Alexa adalah pemilik sahnya. Alexa sudah membelinya dari Philip dan angsuran terakhirnya bahkan baru dilakukannya tiga minggu lalu.
Tapi bukan itu yang membuat Alexa ternganga. Sekalipun semua informasi Marco itu kurang tepat, fakta bahwa Marco bisa mengetahui semua ini membuatnya meradang.
“Apa kamu memata-matai aku?” tanya Alexa dingin.
Marco tersenyum mencemooh. “Aku tidak menyangka akan mendapat hasilnya dalam hitungan jam.”
Kedua tangan Alexa mengepal. Murka, Alexa bangkit dari tempat duduknya dan menunjuk pintu dengan telunjuknya.
“Jelas urusan kita sudah selesai. Pergi dari sini!” sentak Alexa.
“Tidak sebelum kamu berjanji untuk meninggalkan Philip.”
Alexa mendekati Marco. “Aku tidak akan meninggalkan Philip. Cam kan itu.”
Marco mendadak berdiri mendengar jawaban Alexa. “Dan aku akan memastikan yang sebaliknya. Wanita tidak setia dan murahan seperti kamu jelas nggak pantes buat Philip.”
Alexa mendorong tubuh Marco ke arah pintu keluar. Belum sempat melaksanakan niatnya untuk mengusir Marco, mendadak pria itu menepis tangan Alexa dan membersihkan area pakaian yang sempat disentuh Alexa dengan jijik.
“Jangan pernah menyentuhku lagi!” desis Marco dingin.
Gusar, Marco melangkah lebar-lebar menuju pintu apartemen. Tanpa kata, Marco menghilang di balik pintu bahkan sebelum pintu apartemen Alexa menutup sempurna.
***