Ardhan, Aira dan kedua orang tua Aira berkumpul di ruang tengah rumah kedua orang tua Aira.
"mas soal uang itu, gimana kalau misalkan aku ganti dulu 40 juta, uang nya ada kok mas, emang nggak sebanyak 150 sih, cuma saya janji bakal lunasin uang mas itu" kata Aira pelan
"kamu tuh ya, Aku kan udah bilang, udah... jangan dipikirin ya," pinta Ardhan
"tapi aku nggak enak lho mas," kata Aira.
"bener tuh nak, kami juga nggak enak kalau misalkan harus menerima bantuan uang sebanyak itu" tambah Bapak
"Bu, Pa, gini aja deh, anggap aja bahwa itu adalah salah satu pengorbanan saya buat buat dapetin Aira, saya janji, kalaupun Ibu sama Bapak nyuruh saya buat ngelamar Aira, besok saya akan kemari membawa orang tua saya" kata Ardhan yakin,
"kamu kelihatan sungguh-sungguh sekali sih nak" kata Ibu menggoda
"jika saya sudah mau mulai, tidak ada kata main-main bagi saya. Saya ini temannya Yoga, atasannya Aira, Bapak sama Ibu silakan loh, tanyain aja gimana sifat saya, dia yang lebih tahu saya dari orang lain, karena dia adalah teman saya dari SD, saya mantap buat jadiin Aira sebagai pendamping saya, itu pun kembali lagi, jika Ibu dan Bapa pun Aira bersedia" kata Ardhan menjelaskan
"hahaha kalau begitu, bawa orang tua kamu ke sini nak, secepatnya Bapak tunggu !" perintah Bapa
"beneran pak ? saya janji, saya akan membawa orang tua saya secepatnya. Besok, besok saya akan bawa orang tua saya" Ardhan begitu bersemangat.
"mas, kaya nya kecepetan deh mas, kayaknya kita perlu bicara berdua mas," pinta Aira
"ah ya, silahkan bicara dulu, Bapak sama Ibu mau ke kamar dulu" kata Ibu mencoba mengerti
"jadi kenapa Ra ? Kamu tuh udah pengen berduaan aja, nanti loh ra, kalo udah nikah bebas mau berduaan kapan pun, nikah dulu aja yuk" goda Ardhan yang berhasil membuat Aira tersipu
"ishh mas, mas udah ngomongin nikah aja, sementara kita kan baru kenal" kata Aira menahan malu
"kamu aja yang baru kenal aku, aku udah kenal kamu dari bbrapa hari yang lalu ra,"kata Ardhan
"ya tetap aja mas, ini terlalu singkat mas, aku bahkan belum kenal keluarga kamu, gimana pun nikah itu kan bukan soal aku sama kamu aja, tapi soal aku, kamu, dan keluarga kita" kata Aira
"nah kalo soal itu, gimana kalau kita ke rumah Mamaku sekarang ? Mama aku bakal seneng banget kalo ketemu kamu" ajak Ardhan
"Mama udah tahu aku ?"tanya Aira ragu
"belom,, makanya ayo kesana" Ardhan lebih antusias kali ini
"tapi..."
"udah udah udah, ganti baju dulu, kita ke rumah mama aku ya" kata Ardhan, Ardhan memang begitu, jika dia sudah bilang A ya harus A, bagai mana pun caranya
"ya udah deh, aku ganti baju dulu ya" kata Aira pasrah
"jangan lama-lama Ra" kata Ardhan.
Aira pun pergi untuk membersihkan diri dan mengganti baju kerjanya.
Di kamar, Aira memilih baju yang pantas, pilihannya tertuju pada gaun selutut perpaduan warna putih dan pink. Lalu setelah itu ia memberi sedikit polesan make-up tipis di wajah nya. Entah lah, di dalam hati kecil nya Aira berharap akan di terima oleh keluarga Ardhan, meskipun logika dan seluruh jiwanya menepis, karna ia sadar diri, siapa dirinya dan siapa keluarga Ardhan, sangat berbanding jauh, setelah selesai Aira pun keluar kamar dan menghampiri Ardhan.
"Mas, pergi sekarang?" tanya Aira.
Ardhan yang sedang sibuk dengan Hp nya, tiba tiba tertegun, kejutan apa lagi yang tuhan berikan untuknya hari ini, setelah tadi Ardhan menemukan fakta bahwa dirinya dan Aira sangat nyambung saat mengobrol, lalu fakta bahwa gadis nya ini, gadis penyayang orang tua, dan sekarang. Aira yang tambah cantik dengan polesan make-up tipis di wajah ayu nya, anggun sekali. ah... seperti nya Ardhan tidak salah memilih.
"Mas" panggil Aira membuyarkan lamunan Ardhan.
"emm iya Ra, ayo" kata Ardhan gelagapan.
Setelah berpamitan pada kedua orang tua Aira, mereka pun bergegas menuju rumah orang tua Ardhan.
Di perjalanan dalam mobil, Ardhan tak berhenti mencuri pandang pada Aira, rasanya ia tak tahan untuk segera menjadikan Aira istrinya.
"Ra.." Kata Ardhan memecahkan keheningan
"i..ya mas?" jawab Aira ragu
"Kamu cantik, gimana kalo kita nikah besok aja ?" goda Ardhan, yang berhasil membuat mata indah Aira membulat, di tambah semburat merah menghiasi pipinya. Ardhan tertawa
"Bercanda Ra, bercanda ! Abis kamu lucu banget kalo lagi malu gitu" lanjut Ardhan yang membuat pipi Aira semakin merah. Ardhan kembali tertawa, begitu menggemaskan nya gadis di samping nya ini, Aira berpaling sambil menggigit bawah bibir nya menahan malu. 'ah menggemaskan sekali' batin Ardhan.
Beberapa saat kemudian pun mereka sampai di salah satu kawasa perumahan elit. Aira tak mengedipkan matanya melihat deretan rumah megah di depannya. Meski langit mulai gelap, tapi tidak menutup keindahan rumah rumah disana.
Lalu mobil Adrian berhenti di salah satu rumah yang tak kalah mewah dari rumah sebelum nya. Aira terdiam lama.
"Yuk masuk" ajak Aira
"kaya nya aku pulang aja mas," kata Aira
'kok pulang? kan belum ketemu sama mama aku"kata Ardhan
"pulang aja yuk" rengek Aira pelan
"kenapa" tanya Ardhan lagi
Aira hanya diam gelisah, sesekali di liriknya rumah megah yang kokoh berdiri di depannya itu, dia sanksi melihat perbedaan di antara dirinya dan Ardhan. Melihat betapa besar rumah orang tuanya Ardhan dan betapa sederhananya rumah orang tuanya. Ardhan yang seakan mengerti Aira, mengusap lembut puncak kepala Aira.
"Ra, Mama aku tuh bukan orang yang suka penting in status sosial, bagi beliau kita semua itu sama" kata Ardhan meyakinkan
"aku takut mas, mending mas cari yang lebih baik aja dari pada aku" kata Aira lirih
"Dimana lagi aku dapat yang lebih baik selain kamu ? buat aku, kamu yang paling terbaik, udah yuk masuk, jangan banyak pikiran," bujuk Ardhan
Akhirnya Aira pun masuk mengikuti langkah kaki Ardhan dengan ragu.
"Ma, I'm home" kata Ardhan
Seorang wanita keluar dari dalam rumah menuju ruang tamu.
"Ahh Adrian sayang,, kengen banget mama" sambut Mama sambil memeluk anak kesayangan nya itu
"Mama lebay deh, Adrian kan baru kemarin kesini" kata Ardhan
"makanya kamu tinggal disini biar mama gak kangen kangen" kata Mama, Mama menoleh ke arah Aira
"Wah, siapa ini, cantik sekali" tanya mama
"o ya ma, ini calon mantu mama " kata Ardhan asal, yang di balas pelototan Aira.Aira menyalami tangan Mama Ardhan, di balas pelukan hangat dari Mama Ardhan
"oh sayang, senang bertemu dengan mu, ayo duduk nak" kata Mama, senang dan bahagia, akhirnya Ardhan mengenalkan seorang wanita pada Mama nya.
Malam itu, perbincangan akrab terjadi antara Aira, Ardhan dan Mama.
Aira tak menyangka bahwa Mama orang yang humble, tidak sombong meski beliau mampu, Mama tidak henti tersenyum dan tertawa, di antara obrolan obrolan ringan mengarah ke keseriusan itu.
Malam mulai larut, Aira harus pulang, meski tak ingin, karna entah kenapa, beberapa jam berbincang dengan Mama Ardhan membuat nya betah, Mama seakan menerima nya apa adanya. Aira berdoa dalam hati, semoga ini awal yang baik.