Ardan memarkirkan mobilnya di cafe milik Yoga, ia tahu sore ini adalah jadwal pulangnya ya Aira, hasil dari 10 hari mengintai Aira.
terlihat Aira keluar dari kafe, Ia pun dengan cepat menghampiri Aira.
"hai" sapa Ardhan, Aira yang terkejut, melihat sekelilingnya, takut salah orang.
"aku?" tanya Aira sambil menunjuk dirinya sendiri.
"iya kamu, hai ! aku harus Ardhan" kata Ardhan meyakinkan, tangannya terulur lalu di sambut ragu oleh Aira.
"Aira" balas Aira, sambil mencoba mengingat sesuatu,
"o ya, temennya bos Yoga ya ?" lanjut Aira
"ya, Aku temen nya Yoga" kata Ardhan
"masuk - masuk, bos ada di dalam kok," kata Aira ramah.
"eh enggak enggak. Aku kesini emang nyari kamu kok!" kata Ardhan,
"hah?" kata Aira terkejut.
"kamu bener bener gak ingat aku ya?" kata Ardhan, Aira hanya menggeleng pelan.
" gini deh gini, kamu kan mau pulang! aku anter ya, biar aku jelasin di mobil, yuk!" ajak Ardhan sambil menarik tangan Aira.
Aira menepis tangan nya perlahan.
"enggak enggak, saya bisa pulang sendiri kok," tolak Aira
"tapi aku pengen kamu inget siapa aku" kata Ardhan.
Aira terdiam, Aira merasa tidak pernah punya hubungan dengan laki laki di depannya, Aira hanya tau, laki laki ini teman bosnya, dan sepertinya sangat mubadzir jika ia melupakan seseorang setampan ini.
"udah, ikut aja yuk!" paksa Ardhan, karna Aira hanya terlihat diam.
Tanpa sadar, Aira mengikuti Ardhan, sepanjang jalan dari pintu keluar ke parkiran Ardhan tersenyum lebar, sementara Aira diam sambil mengingat ingat siapa orang di depannya ini.
Ardhan membuka pintu mobil nya dan mempersilahkan Aira masuk, dengan ragu Aira memasuki mobil Ardhan.
Ketika Ardhan akan menjalankan mobilnya, Aira melarang.
"tunggu, emmm lebih baik jelasin sama aku sekarang aja, siapa kamu?" tanya Aira, Ardhan tersenyum.
"jadi beneran gak inget ya ? Baiklah, aku ini orang yang pernah kamu tolongin bbrapa minggu yang lalu, inget? yang tas sama dompet nya ketinggalan di toko itu loh !" kata Ardhan menjelaskan. Aira sempat terdiam, namun beberapa saat kemudian ia ingat sesuatu.
"ah ya, duh, kok aku bisa lupa ya," kata Aira sambil melebarkan senyum di bibirnya, yang membuat Ardhan sejenak terpaku.
"terus ada apa mas?" tanya Aira
"hah,, eeeum cuma mau ngucapin makasih kok, dulu kan kamu sempet nolak pemberian dari aku!" jawab Ardhan
"ohh, padahal gak usah repot-repot, aku aja udah lupa, udah gak usah anterin aku pulang, aku ikhlas kok waktu itu" kata Aira dan hendak membuka pintu mobil
"eh jangan, aku orang nya gak enakan, udah, aku anterin aja ya, aku gak gigit kok, lagian pintunya udah aku kunci tuh, kalo tanpa seijin aku, pintunya gak bisa di buka juga" kata Ardhan memaksa.
"kamu tuh ada ada aja deh, ya udah sih, makasih ya sebelum nya" tukas Aira sambil tersenyum.
"no, no, no, jangan berterima kasih, kan aku lagi balas budi " tepis Ardhan sambil melajukan mobilnya.
Di perjalanan, Ardhan dan Aira mengobrol santai,
Satu hal baru yang Ardan tahu adalah Aira orang yang asik, dan seru di ajak ngobrol.
"eh sebentar deh, kok kamu tahu sih, jalan rumahku, kan aku belum ngasih tahu dari tadi" tanya Aira heran,
"euu,,, sebenernya aku beberapa hari ini selalu ngikutin kamu kemana-mana, jadi aku tahu di mana rumahmu !" aku Ardhan
"hah masa sih ? gak ada kerjaan emang?" tanya Aira setengah tak percaya,
"serius, aku tau, nih aku juga tau, kamu suka masuk masukin kue ke beberapa warung kan" kata Ardhan,
Aira terkejut, untuk urusan rumah, mungkin saja Ardhan bertanya pada bosnya, tapi jualan kue ? di kafe tidak ada yang tau kalo dia berjualan kue.
"ngapain kamu ikutin aku?" tanya Aira penasaran.
"karna aku suka sama kamu" jawab Ardhan enteng.
Seketika jantung Aira seakan berhenti berdetak, bagaimana mungkin seganteng dan sekaya dia suka sama Aira, pipinya bersemu merah. Namun buru buru ia tepis karna tak ingin terlalu PD, tapi boleh kah sejenak ia percaya diri??
"ada-ada aja sih, coba sekarang dimana rumah aku ?" tantang Aira basa basi
"ini bentar lagi juga nyampe tinggal belok kanan, sampe deh tuhh kan!" kata Ardhan, Aira tersenyum
"oh iya nyampe," kata Aira
Ketika Aira menoleh ke rumah nya, dia di buat terkejut, karna ternyata sebagian barang - barang di rumah nya berserakan di luar, ada si Renternir yang berkaca pinggang disana, dan 2 bodyguard nya, sesang menunjuk nunjuk ke arah orang tua Aira yang menangis sedih,
"Ibu ... Bapak" kata Aira langsung keluar dari mobil dan menghampiri kedua orang tuanya, di ikuti Ardhan.
"Ada apa ini?" tanya Aira, air matanya tak bisa di tahan, keluar tanpa henti sambil memeluk kedua orang tuanya
"kami mau menyita rumah ini" teriak sang Renternir
"bukannya masih ada waktu beberapa hari lagi?" tanya Aira
"halah, sekarang atau 4hari lagi sama sajakan, toh uang nya belum ada?" kata si Renternir
"tapi gak gini juga kan, kalian keterlaluan" kata Aira di iringi isak tangisnya
"halah, besok kita ke KUA, kita menikah !" kata Si Renternir
"tunggu-tunggu, ini ada apa Aira? KUA? nikah? kamu udah punya calon?" tanya Ardhan tak mengerti, yang di jawab gelengan lemah Aira.
"ini lagi, siapa kamu ? kamu gak berhak ikut campur!" bentak si Renternir
"saya pacar Aira, saya berhak tau !" kata Ardhan. Aira memandang tak percaya pada Ardhan, Si Renternir tersenyum sinis.
"orang tua Aira, sudah meminjam uang kepada saya. Sudah bertahun - tahun tidak di bayar!" kata Renternir dengan nada tinggi.
"berapa ?" tanya Ardhan serius.
"120 juta" jawab Renternir.
"eh, bukannya seratus juta?" kata Aira.
"Buat bunga !" bentak si Renternir, Aira dan kesua orang tuanya membelelakkan matanya
"Bunga apalagi ? 100 juta kan udah sama bunga, toh Ibu dan Bapak hanya meminjam 30 juta, yang sudah terkumpul tahun lalu, tapi kalian tolak kan, karna kekeuh harus ada bunga" kata Aira marah,
"Aira udah ! kalian tunggu disini, jangan ngapa ngapain" kata Ardhan memperingatkan, lalu pergi ke arah mobilnya.
Tak lama Ardhan kembali.
"ini cek 150 juta, bisa kalian cairkan di Bank mana saja"kata Ardhan sambil menyerahkan selembar cek pada si Renternir.
"tapi mas..."
"udah Aira gak papa, !" kata Ardhan lembut
"sekarang kalian pergi dari sini, dan ingat, jangan pernah kembali lagi, untuk mengganggu keluarga Aira" tukas Ardhan
"kan gini enak, gampang gitu... sayang ya Aira, kita batal menikah" kata sang Renternir sambil tertawa terbahak meninggal kan rumah Aira.
"Mas Ardhan, kamu ngapain ? uang segitu bukan uang yang sedikit!" kata Aira,
Ardhan menggeleng - gelengkan kepalanya, sambil meraih wajah Aira.
"Aira, aku udah bilangkan, aku suka sama kamu ? suka aku sama kamu tuh gak main main. Uang segitu gak ada apa apanya untuk perjuangin kamu. Udah ya jangan nangis, hapus air mata nya" kata Ardhan lembut, sambil menghapus air mata Aira.
Pipi Aira bersemu merah kembali, belum pernah ada laki laki memperlakukan nya selembut ini, jantung nya berdetak begitu cepat.
"sekarang mending kita beresin barang barang ini aja ya, tapi sebelumnya, kenalin aku dulu ke orang tua mu !"kata Ardhan
" oh iya, Bu, Pak, ini mas Ardhan. Mas Ardhan, ini Ibu Bapak ku" kata Aira malu malu.
Ardhan menyalami tangan orang tua Aira satu persatu.
"saya Ardhan, calon menantu Ibu Bapak" kata Ardhan
"mas ..." tepis Aira
"Apa sih, kan kamu gak jadi nikah sama yang tadi,, udah nikah sama aku aja!" kata Ardhan, mimik wajah nya di buat seolah olah risih dengan perkataan Aira. Sementara Aira? pipinya sudah sangat merah.
"Nak Ardhan, terimakasih sudah membantu kami, tapi bagaimana cara kami mengembalikannya?" tanya Ibunya Aira
"Gak usah di pikirin bu" jawab Ardhan enteng
"tapi kami gak enak nak, uang segitu gak sedikit untuk kami."tambah Bapanya Aira
"Bu, Pa, uang segitu gak ada apa - apanya buat Aira, bahkan kalau pun Aira minta rumah di bawah menara Eiffel, saya akan....."
"bakal di bikinin mas?" kata Aira antusias memotong.
"ya enggak lah Aira ! Mana mungkin rumah di bawah menara Eiffel" sergah Ardhan.
"iih, tadi kan kata mas.." kata Aira cemberut
"kan aku belum selesai ngomong, udah kamu potong aja !" kata Ardhan, orang tua Aira tertawa.
"duh, kaya nya kalian memang cocok ya. Ya sudah, Aira, bawa nak Ardhan ke dalam, biar ini Ibu sama Bapa yang bereskan" titah Ibu
"eh, jangan bu, kita beresin bareng bareng aja, saya kan calon menantu nya Ibu Bapak, masa gak bantu !" kata Ardhan, mereka pun tertawa bersama, di lanjut membereskan kekacauan di rumah orang tua Aira.